Rabu, Januari 18, 2017

*Jiwa Guru Jauh Lebih Penting*

Menebar Manfaat:
*Jiwa Guru Jauh Lebih Penting*

(sebuah nasehat dari Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.)

Oleh: Febry Suprapto


Dalam sebuah forum di GSG (Gedung Serba Guna)  PP Al Ishlah Bondowoso,  saya bertanya kepada pemateri saat itu, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. Salah satu Pimpinan PP Modern Darussalam Gontor Ponorogo: "Adakah amalan-amalan khusus yang dilakukan oleh para pimpinan Gontor sehingga Gontor menjadi Pondok Modern yang sangat maju dan memiliki banyak cabang resmi seperti saat ini?" (Waktu itu,  cabang resmi Gontor sudah  berjumlah 9 di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk ratusan pondok yang didirikan oleh para alumninya)

Selasa, Januari 10, 2017

Perbedaan Amal Siyasi dan Kerja Politik

Perbedaan Amal Siyasi dan Kerja Politik

Perbedaan yang sangat mendasar dari amal siyasi dan keja politik berawal dari cara pandang,  sudut pandang aplikasi praktis di lapangan yaitu kepentingan masyarakat. Sebab dalam pembicaraan sehari-hari terutama di kalangan awam politik dan siyasah nyaris tidak berbeda. Pada kesempatan kali ini kita membatasi pembedahan kita dalam aspek Prinsip, orientasi dan cara kerjanya saja. Aspek yang lain akan kita bahas pada pembahasan lain Insya Allah.

Pertama, Prinsip Amal Siyasi  adalah perbaikan (Ishlah) sedangkan prinsip kerja politik adalah Ilmu dan seni mendapatkan kekuasaan. Dalam hal ini  Islam menjadikan Komponen Negara adalah “terminal”  (Jalan Masuk dan Jalan Keluar) sebagaimana Doa Rasulullah SAW ketika beliau berangkat  hijrah ke Yastrib yang nanti akan menjadi Madinah Al Munawwarah sebagaimana terdapat dalam Firman Allah SWT:

”Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar dan adakanlah untukku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolongku’”(QS. Al Isra’ : 80)

Senin, Januari 09, 2017

Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban - 07 Serial Pembelajaran

Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban
Majalah Tarbawi, edisi 194 /Th. 10 Muharram 1430 H-08 Januari 2009 M
Para penakluk imperium dari jazirah itu menyisakan satu realitas yang lucu. Mereka tumbuh di tengah gurun sahara dan tidak bisa berenang. Itulah yang yang jadi kendala pasukan Muslim saat akan menaklukkan Persia dimana mereka harus menyeberangi sungai Eufrat dan Tigris. Dalam waktu singkat kendala itu bisa dilalui. Sebab itu Cuma sungai. Begitu  juga ketika pasukan Muslim di bawah komando Amr bin Ash itu harus menaklukkan Mesir dari kolonialisme Romawi. Sebab masih ada jalur darat untuk sampai ke sana.

Kendala menjadi lebih besar ketika Syam, Irak dan Mesir sudah ditaklukkan. Sebab semua ekspansi setelah itu harus melewati laut. Itulah yang menggusarkan Umar bin Khattab. Itu terlalu berisiko. Apalagi ketika beliau bertanya kepada Amr bin ‘Ash tentang suasana diatas kapal di tengah laut. Amr yang cerdas dan humoris melukiskan suasana itu dengan cara yang agak dramatis. Bayangkan saja, ada sebatang pohon yang terapung diatas laut yang berombak, sementara ulat-ulat yang adalam dalam batang kayu itu berusaha untuk tetap bertahan dan tidak jatuh atau terseret ombak. Begitu juga manusia-manusia yang ada di atas perahu atau kapal.

Minggu, Januari 08, 2017

Mujahid Badui Penakluk Imperium - 06 Serial Pembelajaran

Mujahid Badui Penakluk Imperium

Majalah Tarbawi Edisi 193 Th. 10 Dhulhijjah 1429 H/ 25 Desember 2008 M
Apa penjelasannya, bahwa 3000 mujahid dari badui-badui gurun jazirah Arab, berani melawan 200,000 pasukan Romawi dalam perang Mu’tah?  Mereka tidak menang, memang, dalam pertempuran yang berlangsung tahun kedelapan hijriah itu. Tiga panglima mereka gugur sebagai syuhada; Zaid Bin Haritsah, Ja’far Bin Abi Thalib, Abdullah Bin Rawahah. Ketika Khalid mengambil alih kepemimpinan, yang ia lakukan adalah mundur teratur untuk menyelamatkan nayawa mujahidin yang tersisa.

Sementara anak-anak melempari mereka dengan batu saat kembali ke Madinah, karena dianggap melarikan diri, Rasulullah justru menggelari Khalid sebagai Saefullah Al Maslul. Pedang Allah yang terhunus. Menyelamatkan nyawa pasukan adalah keputusan bijak seorang pemberani. Berhasil mundur dari kejaran pasukan sebesar itu adalah keahlian tempur seorang jenius perang. Tapi berani melawan pasukan sebesar itu adalah pesan penting bagi Romawi; pertempuran sudah kita mulai, dan kami akan kembali.

Sabtu, Januari 07, 2017

Memberi Pinjaman (14 - 65 Kiat Islam Membangun Relasi)

Memberi Pinjaman

Kondisi kehidupan manusia silih berganti, terkadang senang dan gembira, namun terkadang sedih dan sengsara.berapa banyak orang kaya tiba-tiba jatuh miskin yang bertambah misin dan sengsara.

Kondisi demikian menuntut adanya sikap saling bahu membahu di antara sesame manusia. Teman sejati adalah yang selalu ada saat kita dalam keadaan duka tak berdaya, hingga bantuan dan pertolongan yang diberikan membuat hati mejadi tenang, hingga terbangunlah hubungan erat antar sesamanya.

Jumat, Januari 06, 2017

Gotong Royong (13 - 65 Kiat Islam Membangun Relasi)

Gotong Royong
Tidak ada seorang pun yang sangat cinta kepada kekasihnya melebihi cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW. Faktor utamanya adalah karena beliau senantiasa ikut merasakan suka dan duka bersama mereka, tidak segan-segan membantu mereka dan mengulurkan tangan untuk bergotong royong demi kemaslahatan mereka.

Al Barra’ bin Azib RA menceritakan, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW ikut mengangkat tanah pada waktu penggalian parit Madinah, (yang dikenal dengan perang Khandaq), sampai-sampai perut beliau yang putih bertabur debu.”
Al Barra’ kemudian melantunkan bait-bait syair beikut,

Kamis, Januari 05, 2017

Kepemimpinan Para Pembelajar - 05 Serial Pembelajaran

Kepemimpinan Para Pembelajar
Umar Bin Khattab termenung lama.  Lama sekali. Apakah ini kebaikan atau musibah ? Begitu ia bertanya pada dirinya sendiri tentang fenomena kemenangan –kemenangan besar yang ia peroleh. Tiba-tiba ia tersadar bahwa eranya terlalu jauh berbeda dengan era kedua pendahulunya: Rasulullah Saw dan Abu Bakar As Siddiq.

Di era Umar teritori Khilafah menjadi lebih dari 18 negara kalau dikonversi dengan era sekarang. Populasi umat Islam juga bertambah begitu pesat. Lahirlah sebuah masyarakat yang mulitikultur yang sangat besar. Lalu ada kemakmuran dan kesejahteraan serta kekayaan yang melimpah ruah. Ini semua belum ada di era Nabi dan Khalifah pertama. Itu meresahkan Umar. Apakah ini kebaikan ? Atau malah musibah ? Kalau ini kebaikan, mengapa ini tidak terjadi pada masa sebelumnya? Kalau ini musibah, Apakah Allah hendak memisahkan aku dari kedua pendahulu?

Rabu, Januari 04, 2017

Peradaban Para Pembelajar - 04 Serial Pembelajaran

Peradaban Para Pembelajar
(Tarbawi Edisi 191 Th.10 Dzulqa’idah 1429 H/ 27 November 2008 M)
Akal-akal besar itu selalu mampu mengunyah semua masalah zamannya. Tak jarang bahkan akal mereka menembus dinding waktu zaman mereka, dan merengkuh semua masalah yang terjadi berpuluh bahkan berates tahun sesudah mereka pergi. Bukan karena ilmu yang dating bagai embun pagi yang diteteskan di atas daun otak mereka maka mereka tahu semuanya. Bukan, mereka mengunyah semua masalah zaman mereka melalui upaya memahami yang tidak pernah berhenti. Maka mereka selalu sanggup merespon semua masalah yang muncul di zaman mereka.

Mereka bukan orang yang tahu segala hal. Tapi mereka adalah pembelajar yang konstan yang selamanya dipicu oleh rasa ingin tahu yang tak habis-habis. Maka realitas menyediakan tantangan. Dan mereka memberikan solusi. Qur’an dan hadist sebagai sumber utama Islam dijaga Allah sepanjang zaman melalui akal-akal besar itu. Al Qur’an dikumpulkan di zaman Abu bakar lalu ditulis secara formal di zaman Utsman dan dijadikan sebagai standar bacaan  serta digandakan dalam lima mushaf. Ini yang kemudian dikenal sebagai mushaf utsmani. Dengan begitu kemurnian Al Qur’an terjaga dari semua bentuk penyimpangan sepanjang masa. Selamanya.

Selasa, Januari 03, 2017

Awalnya Pembelajaran, Ujungnya Kesempurnaan - 03 Serial Pembelajaran

Awalnya Pembelajaran, Ujungnya Kesempurnaan

Lelaki buta huruf itu tiba-tiba disuruh membaca. Bukan. Bukan disuruh. Tepatnya dipaksa. Sampai tiga kali. Dan pecahlah peristiwa itu salam sejarah manusia; lelaki buta huruf itu lantas diangkat menjadi nabi, bahkan penutup mata rantai kenabian hingga akhir zaman.


Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah swt menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan:”Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku sempurnakan pula nikmat Ku untuk mu dan aku ridho Islam sebagai agamamu.”

Senin, Januari 02, 2017

Mendaki Sejarah - 02 Serial Pembelajaran

Mendaki Sejarah

Di alam batin para pahlwan, pencinta dan pembelajar sejati, hidup selalu dimaknai dengan pendakian sejarah. Kita akan sampai ke puncak kalau kita selamanya mempunyai energi dan rute pendakian yang jelas. Pendakian kita akan terhenti begitu kita kehabisan nafas dan kehilangan arah. Energi dan rute, nafas dan arah, adalah kekuatan fundamental yang selamanya membuat kita terus mendaki, selamanya membuat hidup terus bertumbuh.


Semakin tinggi gunung yang kita daki, semakin panjang nafas yang kita butuhkan. Begitu kita kehabisan oksigen, kita mati. Semakin kita berada di ketinggian semakin kita kekurangan oksigen. Itu sebabnya kita harus merawat dan mempertahankan semangat kepahlawanan kita. Karena dari sanalah kita mendapatkan nafas untuk terus mendaki.