Sabtu, Desember 10, 2016

Drama

Drama[1]

Sejak semula hidup memang drama. Dalam maknanya yang nyata, kita tak kekurangan kisah dan cerita. Berjuta cerita memenuhi hari-hari yang pernah datang. Di sana, di sini, di situ dan di mana saja. Bermacam suasana datang dan pergi menghampiri setiap jiwa.

Kita hidup di era industri drama. Begitu banyak realitas yang direkaulang untuk kepentingan panggung. Beragam unsur dan kepentingan tumpah ruah di sana: uang, popularitas, rating, kue iklan, penokohan, adrenalin, tren gaya, citra, pesan titipan, misi tersembunyi, perang media, persaingan akses, dan seterusnya. Maka hidup tidak cukup dipotret sebagai drama nyata apa adanya. Tapi diciptakan dramatisasi yang bahkan dramatis.

Rahasia Itu Beban

Rahasia Itu Beban[1]

Tak mudah memegang rahasia orang. Bisa jadi itu beban. Bukan pada cara dan sarana apa yang bisa kita gunakan untuk menyimpannya. Tapi pada mentalitas dan perangai kita dalam menyikapinya. Sebab dalam kadar tertentu, rahasia-rahasia tentang orang lain yang kita bisa menyuntikkan suasana kompulsif ke dalam perasaan dan pikiran kita. Itu berbahaya. Hanya karena memegang rahasia pihak lain, orang memang bisa berulah: merusak karakter, menebar ancaman kekerasan, hingga melakukan pemerasan.

Kini, di era teknologi yang serba canggih, orang bisa mendapatkan rahasia orang lain bahkan dengan jalan rahasia. Bukan karena orang lain itu membagi rahasianya secara sukarela. Rahasia kini bisa didapat dengan mencuri akun, atau membobol identitas. Ada juga rahasia yang dengan sangat istimewa bisa didapatkan oleh sebagian aparat, seperti mereka yang ditakdirkan duduk di KPK.

Bulan Berkaca

Bulan Berkaca[1]

Ini sangat baik untuk berkaca. Mengenali lebih dekat dan dekat lagi, tentang siapa kita. Hidup dalam segala bentuk perburuan seringkali membuat kita lupa. Alih-alih kita berhasil menaklukkan realitasyang kemudian berbalik memburu kita. Dunia yang kian rata – The World is Flat, kata Friedman misalnya, kini semakin mempersempit batas-batas hirarki. Kecuali bila benar-benar berfungsi. Orang tidak bisa mudah lagi bersembunyi di balik jabatannya, statusnya, pangkatnya, bila secara individu terlalu cacat prilaku. Setiap kali seorang rela menjadi atasan bagi segala jenis bawahan untuk beragam pekerjaan, kini bebannya tidak semata bagaimana memutar roda-roda peran. Tapi juga harus memastikan bahwa dirinya memang punya integritas.

Tanpa integritas, jabatan akan menjadi pembunuh karakter sendiri, lambat atau cepat. Terlebih di zaman baru di mana manusia bumi terkoneksi dari ujung ke ujung. Apa yang ganjil di ujung barat, bisa tersebar dengan cepat hingga ke ujung timur. Apa yang aneh di timur jauh, bisa dengan singkat tersiar sampai ke barat.

Mengakali Undang-Undang TKI

Mengakali Undang-Undang TKI[1]

Nyaman nian menjadi TKI. Itu bila kit abaca Undang-undangnya. Di pasal 7, Undang-undang No. 39 Tahun 2004, dinyataka berbagai kewajiban pemerintah. Salah satu kewajiban itu adalah “ Memberikan perlindungan kepada TKI selama masa sebelum pemberangkatan, masa penempatan, dan masa purna penempatan.”

Itu kalimat yang sangat sempurna. Tetapi faktanya tidak sepenuhnya begitu. Terlampau banyak akal-akalan yang dilakukan berbagai pihak, hingga merugikan para tenaga kerja Indonesia.
Tenang nian menjadi TKI. Itu bila kita membaca undang-undangnya. Salah satu kewajiban pemerintah adalah,”membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon TKI di luar negeri.” Tetapi di beberapa Negara, pemerintah belum memiliki data yang akurat tentang berapa jumlah riil TKI kita, di sektor apa saja mereka bekerja dan di daerah mana saja mereka ditempatkan. Akibatnya, berbagai masalah yang muncul seringkali terlambat diantisipasi. Padahal, pada saat yang sama, para TKI itu juga diwajibakan memiliki kartau identitas lain, Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri, atau KTKLN. Selembar kartu itu harus diurus di Indonesia dan banyak menjadi ajang pemerasan. Meski digembar-gemborkan kartu itu gratis, praktiknya tidak seperti itu. Para pemungut itu disebut oknum atau bukan, itu tidak penting.

Magma Kebencian

Magma Kebencian[1]

Sebuah ledakan bom adalah hamburan pesan. Di era Perang Dunia Kedua, hujan bom di laut pasifik adalah pertaruhan untuk tetap bernafas, adu gengsi, dan penaklukan tiada akhir. Bahkan ketika Jepang terjepit, hunjaman pesawat mereka di cerobong kapal sekutu, dengan para pilot berani mati, adalah ledakan pesan yang heroic, setidaknya dalam kaca militer. Pesannya jelas, para pelaku kamikaze itu berharap bisa memberi kehidupan dengan mempersembahkan kematian yag dianggap aneh dan tak disangka oleh Amerika dan konco-konconya.

Tetapi di zaman ketika penjahat tak lagi jantan, sebuah gelegar bom adalah ledakan kesumat. Dari dan oleh siapa saja. Yang ingin mengguncang stabilitas pemerintahan, ia ledakkan bom. Yang tak puas dengan atasannya, ia ledakkan bom. Yang marah karena pacarnya lari dari Bali dan menikahi perempuan asing, mengancam akan meledakkan bom. Yag ingin membunuh karakter umat Islam, ia ledakkan bom. Begitulah. Bahkan yang ingin menikmati kepuasan membunuh tanpa diketahui, ia ledakkan bom.