Tampilkan postingan dengan label Renungan SPD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan SPD. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 14, 2007

Optimis Bagian dari Kemenangan

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh As-shalatu was salamu ala Rasulillah saw.
Ikhwati fillah…

Dalam kelelahan, ketegangan dan kekalutan kaum muslimin masih memiliki secercah harapan meraih kemenangan. Itulah yang terjadi pada saat kaum muslimin dikepung oleh pasukan Ahzab. Bahkan dalam situasi yang menegangkan dan jauh dari perhitungan untuk menang itu mereka masih berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Tidaklah bertambah dalam diri mereka kecuali keimanan dan kepasrahan pada Allah SWT.” Dalam kesiapan penuh, menghadapi kepungan musuh dan kondisi medan yang begitu berat, Rasulullah SAW. Memompa semangat dengan menjanjikan bahwa mereka akan dapat menundukkan Romawi, Persia, Iskandariyah dan negeri-negeri lainnya. Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan pada perang Ahzab tersebut tanpa pecahnya peperangan lazimnya dan Allah SWT. membuktikan janji-Nya menaklukkan negeri-negeri besar pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA.

Lihatlah pula nasihat yang teduh bagai air di padang pasir, taujih dan janji Rasulullah SAW. yang amat menyejukkan hati keluarga Ammar bin Yasir. ‘Sabarlah wahai keluarga Yasir tempat yang dijanjikan Allah bagimu adalah syurga’. Seuntai kalimat dari seorang murabbi akan mampu meredam sakitnya penderitaan, menahan gejolak kesakitan dan membangkitkan semangat berbuat meski tidak dapat merayakan kemenangan.

Wahai saudaraku yang kucintai di jalan Allah.
Perjalanan hidup umat teladan hendaknya menginspirasi aktifitas yang kita lakukan saat ini. Betapa banyak pengalaman mereka dapat kita jadikan cermin hidup agar rambu-rambu perjalanan menjadi jelas dan terang. Seperti jelasnya perjalanan generasi terbaik dalam sejarah umat ini sehingga mereka mendapatkan harapannya di dunia dan akhirat tanpa takut kerugian sedikit pun.

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah.
Kemenangan umat terdahulu banyak kita temukan bermula dari optimisme yang tinggi untuk meraih kemenangan. Optimisme yang stabil menghantarkan mereka cepat atau lambat menuju kegemilangan. Karena optimisme bagian dari kemenangan itu sendiri. Baik kemenangan di dunia ataupun di akhirat.

Optimisme orang-orang beriman sangat melekat pada jiwanya karena mereka yakin bahwa mereka bersama Allah SWT. Dengan kebersamaannya bersama Allah itulah mereka meyakini perbuatannya, proses dan prosedurnya serta keberhasilannya mencapai kesuksesannya. Dengan optimisme itu segala yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana.

Ketika optimisme sudah merasuk ke jiwa maka dorongan besarlah yang muncul, dorongan untuk melakukan sebuah cita-cita agar meraih kejayaan. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW. ‘Bagaimana nasib saya bila maju ke medan peperangan yang sedang berkecamuk itu’, beliau menjawab: ‘kamu akan mendapatkan syurga’ maka sahabat itu segera maju ke depan bahkan membuang kurma yang sedang dikunyahnya seraya bergumam: ‘ini akan memperlambat saya mendapatkan syurga’. Subhanallah begitulah sebagian dari kisah generasi teladan.

Saat optimisme membumbung tinggi dalam sanubari seorang mukmin ia akan bergerak, bersikap, berjalan dan berkorban meskipun ia belum tentu dapat merasakan nikmatnya kemenangan. Karena sesungguhnya dengan jiwa optimis itu mereka sudah mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Paling tidak ia terdorong untuk memberikan sumbangsih mulianya demi keyakinan yang ia imani.

Wahai saudaraku seiman.
Saat ini hal-hal yang menghadang perjalanan kita menuju kejayaan amatlah banyak. Rintangan, gangguan cobaan datang silih berganti. Baik yang datang dari luar ataupun yang ada dalam diri sendiri. Sepertinya mereka tidak pernah lelah dan berhenti. Mereka tidak menghendaki kemenangan ada di tangan kita. Apabila kita pun lelah dan jenuh menghadapinya maka selamanya kita tidak akan pernah mencicipi rasa kemenangan itu. Tatkala kita lelah muncul bisikan-bisikan nista sambil mengatakan untuk apa berkorban apakah pengorbanan yang kamu lakukan akan kamu dapati hasilnya. Apakah pengorbanan itu akan kita rasakan. Jangan-jangan kita yang berkorban malah orang lain yang menikmatinya. Dan sedihnya lagi apa yang sudah kita lakukan akan dipungkiri dan digugat. Mereka juga akan menutup mata pada apa yang kita perbuat. Bisikan-bisikan ini sering kali mampir di telinga kita. Seakan-akan mereka ingin menyetop lajunya langkah kaki-kaki kita.

Wahai saudaraku yang kukasihi karena iman.
Gangguan yang menggelayuti kita mesti kita lawan, karena kita mempunyai iman, kita mempunyai keyakinan dan kita bersama keberkahan Allah SWT. Dan itu berangkat dari jiwa optimis yang ada dalam diri kita. Marilah kita hayati dan yakini sabda Rasulullah SAW. Di saat menghantarkan para sahabat dalam perang ahzab:
‘Fasiruu bi barakatillah wa antum fa’izuun, Berangkatlah kalian dengan keberkahan Allah dan kalian akan menang’.
Allahu akbar… walillahilhamd. Amien.

Motivasi Beramal

Menanam pohon amal dengan pondasi yang kokoh
Wahai mujahid muda atau Kepada siapa saja yang selalu merasa masih muda
Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa kita: Ya Allah berikan keberkahan di dunia dan di akhirat kepada kami. Bahagia adalah buah dari sebuah amal dan keridhaan Allah, namun sebelum memetik buah atau hasil kebahagiaan tersebut orang harus mulai menanam. Tanam itu adalah tanaman amal kebaikan. Tanaman yang baik akan menghasilkan buah yang baik, tanaman yang memiliki akar yang kuat maka akan membuat tanaman lebih subur.

Setiap amal memiliki motif

Akhi fillah,
Semua petani amal dapat memetik buah yang sama, yaitu seperti setiap akhir bulan orang mendapatkan gaji. Namun kalau kita lihat lebih jauh, maka motif kenapa seseorang mau bekerja dan berusaha untuk mendapatkan gaji memiliki motif, alasan dan nilai-nilai keyakinan yang berbeda-beda.

Ada orang ingin mendapatkan gaji dengan berbagai motif. Kemungkinan motif kenapa orang bekerja, pertama karena untuk mencari makan semata, kedua ada yang ingin membeli HP baru setelah mendapatkan uang lebih, ketiga ada yang ingin membeli sesuatu, keempat ada yang lain untuk berfoya-foya mengumbar nafsu, tetapi ada orang yang rela bekerja dan berkorban karena penuh kepahaman, kesadaran dan tumbuhnya tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang harus bekerja untuk menghidupi keluarga sebagaimana diperintahkan Allah.

Akhi fillah, camkan: ‘innam al ‘amalu bin niyati’. Ini pentingnya dalam beramal memiliki sihhatun niyah dan sihatul ghoyah.
Kekokohan niat

Akhi fillah,
Dalam kondisi tidak ada halangan dan cuaca baik, maka pohon tidak memiliki akar yang kuat pun akan tetap tumbuh dengan baik. Namun jika dalam kondisi lingkungan buruk dan banyak angin maka hanya pohon yang kuat akan tetap tumbuh.

Akhi fillah. Semakin kuat akan motivasi seseorang dalam bekerja, maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. Memang akar dalam pohon, atau motif dalam beramal tidak terlihat. Namun kita akan dapat menerka bagaimana niat dari kondisi pohon atau ketika pohon itu harus beradaptasi dengan cobaan. Ketika ada angin besar datang, maka kita baru melihat apakah akan pohon kuat atau tidak. Jika akarnya kuat maka pohon tidak akan tumbang apalagi tercabut akarnya. Jika akar pohon kuat, sementara ujian dari luar sangat kuat, maka sering pohon akan patah rantingnya dan tidak sampai pohon roboh karena tercabut akarnya.

Dalam kondisi yang sulit dan antum masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan niat antum dan kekokohan akar antum.
Pada umumnya jika orang beramal kurang kuat niat dan prinsipnya, maka dalam kondisi sulit cenderung orang akan pasif dan hanya menunggu. Mari kita kuatkan niat kita untuk mencari keridhaan Allah.

Menguatkan akar pohon

Akhi fillah
Pohon tidak tiba-tiba kuat akarnya, itu merupakan suatu proses. Untuk itu dalam rangka menguatkan akar tersebut, maka pohon harus mendapatkan nutrisi dari dalam tanah yang sangat mengandalkan pohon itu sendiri untuk terus mencari makanan baru dan bantuan dari pihak eksternal berupa cahaya matahari sebagai fungsi control.

Akhi fillah, untuk menguatkan motivasi amal kita, maka kita membutuhkan keterbukaan diri, selalu belajar dari pengalaman pribadi, menajamkan kecerdasan fitrah diri, kecerdasan spiritual melalui penelusuran sumber nilai-nilai kebenaran yang abadi kitab Allah dan sunah Rasul. Nilai ini dapat kita cari melalui apa yang telah bertebaran di muka bumi sebagai ayat kauniyah maupun ceramah para alim ulama atau kita dapat membukanya sendiri dari buku sumbernya. Ini mengandalkan mutabaah dakhiliyah kita kepada hati nurani dan kekuatan hubungan kita dengan Allah.

Namun cahaya matahari adalah bagian dari control yang sangat kita butuhkan untuk menguatkan akar. Ini merupakan kekuatan mutabaah kharijiyah kita dari ikhwah yang lain untuk mengontrol aktivitas amal kita.

Pesan ikatan amal dan amal

Akhi fillah, jangan biarkan jika antum melihat ikhwah kita bagaikan pohon yang tidak tumbuh amalannya, tidak berbuah pohonnya. Jadilah antum seperti sinar matahari yang selalu memberikan kebaikan kepadanya sebagai fungsi control. Ikatan kita adalah ikatan kebaikan yang saling menutup kekurangan dan bukan mencari kekurangan.

Untuk sukses kerja pribadi, maka camkan berikut ini
  • Bekerjalah dengan kekuatan spiritual kita dengan penuh kerja ikhlas (miliki kekuatan aqidah –salimul aqidah (arkanul Islam), kekuatan ibadah – shahihul ibadah (arkanul Islam) dan kekuatan diri (mati’nul khuluq)
  • Bekerjalah dengan kekuatan emosional kita dengan penuh kerja mawas (serius, sungguh-sungguh – munazham fii syu’nihi)
  • Bekerjalah dengan kekuatan intelektual dan skill kita dengan penuh kerja cerdas (kreatif, cerdik dan mampu memecahkan kesulitan hidup – mustaqoful fikr, qodirun ‘ala kasbi)
  • Bekerjalah dengan penuh kekuatan fisik kita dengan penuh kerja keras (qowiyul jism)
  • Bekerjalah dengan penuh kekuatan idari dan teknologi yang dibutuhkan (manajerial) kita dengan penuh kerja tuntas (munazham fii syu’nihi –manajemen aktifitas, harisun ‘ala waqtihi – manejemen waktu).

SEMOGA ANDA MENJADI POHON YANG BANYAK BERMANFAAT DAN MEMBERIKAN KEBERKAHAN BAGI ORANG LAIN (nafi’un li ghoirihi).
Selamat beramal agar dapat membuahkan hasil yang diridhai oleh Allah SWT. Sukses selalu. Dan kepada Allah kita semua dikembalikan.

Siapakah yang layak di sebut Teman Perjuangan ?

Pernahkah engkau wahai sahabat berpikir untuk menjadi orang biasa saja ? Disaat beban datang begitu bertubi-tubi. Tekanan menambah kesesakan di dada. Pernahkah engkau ingin menjadi orang biasa saja ? Tinggal di tempat yang hijau, dekat dengan sebuah oase yang subur ? lalu menikmati kehidupan yang bahagia tanpa gangguan seorang pun? Menikmati hembusan semilir angin setiap pagi dan sore. Menyambut sinaran mentari yang hangat tetapi tidak membakar. Langkah indahnya. Bahagia. Inilah yang pernah diungkapkanoleh seorang sahabat sepulang dari perang tabuk. Namun Syurga lebih indah dari semua itu. Yah syurga lebih indah dari semua itu. Syurga beraada di bawah kilatan pedang.

Kadangku ku membayangkan bagaimanakah syurga itu ada di bawah kilatan pedang. Imajinasiku bermain dan seakan semua itu tergambar dengan jelas dihadapan mataku. Pemandangan permainan pedang yang indah. Menampakkan kilatan-kilatan cahaya dan percikan bunga api. Indah sekali.

Kita membutuhkan seorang teman, bahkan lebih dalam perjalanan panjang ini. Kita berjuang bersama bukan hanya untuk menghancurkan pasungan egoisme yang membelenggu kita. Sehingga kita merasa kokoh dengan kesendirian kita. Karena kita dapat berbuat apapun sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita inginkan. Tapi ingatlah wahai para saudara seperjuangan.Kita hanya akan berjalan-jalan di tempat saja. Seperti seekor keledai yang sedang memutar penggilingan gandum atau penggilingan tebu. Apakah engkau bisa membayangkannya.
Karena selain sebagai seorang hamba yang terikat dengan ketentuan ALLAH kita juga adalah makhluk sosial. Kalau kita berputar hanya di suatu tempat sampai membuat empat yang kita buat pijakan menjadi becek dan berlumpur. Sesungguhnya kita tidak kemana-mana. Walaupun keringat sudah membanjir dan engkau merasakan sudah melakukan perjalanan panjang. Engkau masih jalan di tempat. Pengetahuan kita tidak sebanding dengan pengetahuan ALLAH. Rasa pengangungan kepada ALLAHlah yang akan membuat jiwa kita didomonasi oleh ketenangan berada di hadapan ALLAH. Beribadah untuk-Nya seperti apa yang disebutkan oleh Abu Faras :

Biarlah Engkau Bahagia
Sekalipun kehidupan ini begitu pahit
Biaralah engkau Ridha
Sekalipun semua orang marah
Biarlah antara Aku dan Engkau ada kemesraan
Sekalipun saya dan lainnya berjauhan
Asalakan engkau cinta
Maka segala sesuatunya akan enteng
Dan segala sesuatu yang ada di bumi adalah debu

Kalau mendapatkan seorang teman dalam perjuangan ini ingatlah apa yang diungkapkan oleh syair Hatim at –Thayib berikut ini :

Bila anda mengendarai seekor Unta
Jangan biarkan kawan anda yang berada di belakang hanya bisa berjalan
Rendahkanlah untamu dan naikkan dia
Bila unta itu sanggup naikilah berdua
Bila tidak maka saling bergantianlah

Namun apabila engkau meragukan ketulusan seseorang tanyakanlah dengan bijak kepadanya dan berlemah-lembut seperti syair Mustaqib al-“abdi berikut ini :

Jadilah saudaraku dalam arti sesungguhnya
Sehingga aku bisa membedakan keburukanku dan kebaikanku
Bila tidak
Jauhilah aku dan jadikan aku musuhmu
Sehingga aku mewaspadaiku
Dan engkau mewaspadaiku
Manfaat seorang teman adalah memberikan pilihan di saat kita membutuhkannya. Walaupun yang mereka berikan itu bukan pemecahan masalah tetapi itu membuat kita berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah. Jadi teman bukanlah setiap orang yang sepakat dengan apapun yang kita inginkan. Itulah seorang teman yang sejati. Orang yang selalu dapat mengingatkan kita di saat lupa. Teman sejati adalah orang-oraqng yang mengingatkan kita bahwa kita adalah hanya manusia biasa. Bahwa kita semua dalah hamba.

Siapa yang sepakat silahkan saya tidak memaksa. Siapa yang tidak sepakat tidak mengapa karena saya dan anda adalah orang-orang yang sedang mencari siapakah yang layak untuk dijadikan teman. Sehingga saling belajar untuk saling memahami. Tulisan ini adalah hanya tulisan hasil perenungan. Dan refleksi setelah saya membaca buku syaikh yusuf al-Qaradhawi yang berjudul : “ Syaikh al-Ghazali Kamaa Araftuhu : Rihlatu Qarnin “ ( ini judul aslinya : siapa yang ingin baca ada kok yang edisi Indonesia) Ini adalah tulisan apa adanya. Jadi marilah jangan berpikir jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Wallahu ‘alam.

Kamis, Desember 13, 2007

Memperbesar Ruang Jiwa (Tanggapan adakah lokus diri )

Kembara waktu telah menghantarkan kita di titik-titik persinggahan jiwa. Ya ALLAH engkau tahu jiwa ini seringkali gelisah dan resah. Sungguh kehidupan adalah waktu pengabdian. Pengabdian abadi. Pengabdian Hakiki. Pengabdian sejati. Pengabdian pada-Mu ya Ilahi. Pengabdian yang didasari cinta. Cinta suci nan sejati. Cinta yang murni. Sebening embun pagi yang disinari mentari pagi.

Ya ALLAH beruntun masalah dan guncangan yang kami hadapi.Beruntun pula nampaknya permasalahan yang sedang dan akan kami hadapi. Sungguh berat rasanya mengalami kehidupan yang penuh guncangan. Kelihatan tenggelam dan ditenggelamkan. Namun, Jannah- Mu begitu indah.

Datanglah ….. datanglah ….. ke taman surga
Taman kediamanmu semula, taman tempat bersuka ria
Walau kita merasa lemah dan tak berdaya dihadapan musuh …
Haruskah kita pulang ke rumah dan menyerah …

Kawan … harus kita sekarang pulang dan menyerah? Ke rumah mana kita kan pulang ? kawan sambutlah semua guncangan itu. Sungguh watak kepemimpinan itu akan tumbuh ditengah konflik yang berat.

Apabila seseorang biasa menghadapi badai- topan yang dahsyat
Gelombang besar baginya hanyalah permainan belaka
Riak gelombang adalah senda-gurau
Pengobat resah dan gelisah
Disaat kalbu sedang mendesah

Kawan sesungguhnya setiap guncangan itun akan meniup balon ruang jiwa kita semakin besar. Semakin luas untuk menerima setiap permasalahan. Ruang jiwa kita akan terus mengembang dan memberikan ketentraman kepada relung kalbu kita. Saya sepakat dengan SPK ada lokus diri dalam jiwa kita. Saya hanya akan membuat bayan ( penjelasan mengenai lokus perasaan, lokus jiwa dan lokus emosional).

Saya namakan mereka itu ruang jiwa. Pernahkah kita mempelajari bagaimana foto sintesis itu terjadi. Fotosintesis itu terjadi butir-butir hijau daun. Di dalam butir-butir daun itu ada kloroplas. Di dalam kloroplas itu banyak sekali membran-membran. Baik yang permeable maupun yang semi permeable. Membran inilah yang bekerja. Jadi di dalam ruang jiwa ada lokus perasaan, lokus jiwa dan lokus emosional. Mereka itu satu tetapi tidak tercampur. Tetapi mereka bekerja dengan satu kesatuan.

Pernahkah antum nonton film kartun Three Musketer. Mereka punya semboyan. ONE FOR ALL. ALL FOR ONE. Satu untuk semua dan semua untuk satu. Apabila ini terjadi maka kita akan saling meneguhkan.

Bagi mereka yang meneguhkan diri
Mendapatkan keteguhan hati …
Bagi mereka yang mulia
Dianugrahi perbuatan yang mulia

Dimata yang lemah …
Sedikit kemalangan terlihat dahsyat
Dimata mereka yang kuat …
Kekurangan sungguh suatu kesukaran ….

Kita lihat bagaimana tanah islam ini subur dan menumbuhkan. Memberikan hasil sepanjang zaman. Bersama kita lihat para pemuda yang shaleh. Insya ALLAH kita termasuk di dalamnya tumbuh dan terus tumbuh bertunas dan berdaun.Kita ibarat kumpualan bunga dan kepala putik bakal buah yang sedang disinari cahaya Allah .

Sungguh celupan ALLAH, maka celupan ALLAH lah yang terbaik
Mereka ingin memadamkan cahaya ALLAH tetapi cahaya itu tetap gemilang
Cahaya diatas cahaya, bagaikan minyak zaitun
Bercahaya dan memancarkan cahaya
Cahaya diatas cahaya
Mulia diatas mulia
Seharusnya ruang jiwa kita
Seperti minyak zaitun
Sehingga kehidupan ini berguna
Tidak seperti punggur di tengah hutan
Yang gugur layu sendirian
Dalam ketermanguan
Melamunkan angan dalam lamunan
Bukan mimpi yang akan membawa kepada kenyataan

Subhanallah, kata-kata ini terlontar begitu saja. Mungkin ini adalah curhat dan ungkapan perasaan ane kepada antum semua. Terutama untuk SPK KAMMI DAERAH RIAU.
Wahai saudara seperjuangan, kita tumbuh dan mekar bersama ditempa riuhnya medan pertempuran. Sehingga nantinya kita akan menjadi buah yang masak dan ranum. Bunga yang cantik, tampan dan gagah, ramah, sederhana, sopan, lemah lembut, penuh dengan sifat terpuji. Subahanallah !!!

Kawan … marilah arahkan pandangan kita pada sebuah negeri ..
Negeri yang telah membuat lidah kelu dan hati terkunci …
Kawan … dinegeri mana sekarang ini kita berada..
Negeri hantu yang penuh dengan syetan durjana…
Dipenuhi kebohongan dan dusta
Banyak sumpah serapah yang bersepah
Membuat negeri ini semakin parah dan renta
Tapi mungkin buah dan bunga ini merubah asa
Meninggalkan benih pengganti yang akan membangun kembali asa yang hampir sirna
Kawan… mari kita bergerak bersama
Walaupun Indonesia sudah tiada dan hancur karenanya
Insya ALLAH kita akan tetap berdakwah… !!!

Kawan … jangan salahkan musuh yang datang ….
Datang berbekal kekuatan dan persiapan
Sedangkan kita hanya seorang Ghuraba
Sedang kita hanya punya jiwa kita dan ALLAH
Ketika musuh mencengkram dan merampas …
Jalan kita adalah bersiap dan bangkit
Bangkit …. Lawan …. Hancurkan … Tirani ….

Kawan… betapa puitisnya syair yang didendangkan oleh Al-ja’di menanggapi harapan istrinya untuk tetap tinggal dirumah disaat jihad memangil :

Duduk menghabiskan malamnya, ku teringat akan ALLAH…
Deras mengalir air mata, bercucuran bagikan air bah …
Wahai jantung hatiku! Kitabullah memerintahkan ku untuk maju …
Haruskah aku menentang ALLAH atas apa yang dianugerahkan ALLAH …?
Jika aku kembali…
Tuhan maha penciptalah yang akan mengembalikanku
Jika aku menghadap-Nya…
Ditempatku akan digantikan orang lain
Engkau takkan sendiri …
Tidaklah aku cacat…
Tidaklah ALLAH membebaskanku dari kewajibanku…
Juga tidaklah sakit menyebabkan aku tak mampu …

Sangupkah kita sekarang mengucapkan syair ini dihadapan saudara dan keluarga kita ..? tak usah dijawab… hati kitalah yang akan berbicara dengan selaksa makna.

Saudaraku … ku ingin bertanya bukankah cambuklah yang menodai kewibawaan seorang raja..? lalu kepada siapakah kilauan pedang ini mau kita arahkan ? jangan berpikir kejayaan adalah didapat dengan bersenang hati dan bersukaria. Namun, saudaraku yang mulia, kejayaan harus kita rengkuh dengan sengitnya pertempuran.

Saudaraku … marilah kita berangkat menantang bahaya yang mulia …
Kawan …. Janganlah tujuan kita hanya sebatas tingginya bintang..
Karena tujuan kita adalah ALLAH yang lebih tinggi dari bintang….
Kawan … mari kita belajar mencintai kematian …
Karena kematian adalah urusan yang fana dan remeh …
Saudaraku ingatkah kita saat sang Khalilullah
Ibrahim alahissalam dikala ajal menjemput berkata …
Tegakah seorang kekasih mencabut nyawa seorang kekasihnya…
Kekasih itu menjawab :” Tidakkah seorang kekasih merindukan pertemuan dengan kekasih-Nya?”

Saudaraku yang mulia, sungguh kematian adalah pintu perjumpaan dengan sang kekasih abadi, kekasih hakiki, kekasih sejati yang dilandasi cinta. Cinta yang yang jernih dan suci. Mahabbah ….
Akh mahabbah hanya didapat pabila kita bisa memperluas ruang jiwa kita. Ku tutup rangkaian kata ini dengan doa semoga ALLAH meridhai semua langkah kita. Salam untuk sang pujangga kebenaran. Wallahu’alam.

Saudaramu pujangga dakwah yang sedang kesepian.
Abu Jundii

Markazud jihad, Ahad 6 Juni 2004
01. 22 WIB

Rabu, Desember 12, 2007

Wahai Mujahid Marilah Bersenandung !!

Amanah bisa jadi adalah beban yang berat
Amanah boleh jadi adalah sesuatu yang menyesakkan dada
Amanah boleh jadi ada yang melukai jiwa
Amanah boleh jadi mambuat pikulan itu patah dan rengkah
Oh … amanah boleh jadi menyakitkan menyusahkan raga
Oah amanah tanpa mu diri hidup ini bagai tak bermaya
Oh amanah engkaulah yang menjadi pelita
Oh amanah setiap saat kita selalu bersua
Bergumul bersama dalam suka dan duka
Amanah bolehkahkah ku bertanya mengapa dikau selalu turut serta
Amanah mengapa engkau selalu turut serta ?
Amanah untuk apakah engkau dicipta
Oh amanah jawablah daku ingin bertanya
Amanah aku ingin bertanya
Mengapa kerja ini tidak pernah selesai ?
Setiap ku buka sebuah pintu
Berjumpa dengan pintu berikutnya
Amanah kadang ku merasakan kelelahan yang luar biasa
Karena aku memang hanya manusia biasa
Manusia yang terbiasa dengan keluh kesah
Amanah salahkah kalau aku bertanya
Sedangkan engkau bukanlah sebuah dosa ?
Amanah marilah kita melangkah bersama
Membuat suatu pekerjaan yang bermakna
Amanah marilah kita bergandengan bersama
Sampai perjanjian itu menjadi nyata
Amanah marilah kita menghadap-Nya
Dengan senyum yang penuh makna
Amanah… amanah …. Oh amanah …
Engkau ajarkanku kehidupan dengan penuh bijaksana
Dalam musim dan tingkap kehidupan yang senantiasa pancaroba
Karena kita inginkan Jannah dan keridhaan-Nya
Amanah marilah kita bersenandung bersama
Lupakan duka dan lara
Sampai waktu perjanjian itu sampai sudah
Amanah ……………………………
Sunguh terkadang engkau memberikan senandung
Senandung sendu dengan selaksa makna dan asa
Amanah karena jiwa dan raga ini memang terasa renta dan papa
Amanah inilah senandung kita
Senandung yang di dasari dengan mahabbah
Amanah akan kuterima engkau sebagai sahabat dengan lapang dada
Amanah mari kita belangkah bersama menghadap-Nya
Amanah karena kita selalu jadi Ghuroba

Sang pujangga dakwah yang sedang mengurai makna amanah
Abu Jundii
Markazud jihad saat kelelahan melanda
Ahad 13 Juni 2004 18.09 WIB

Mencari Arah, Menapakkan Langkah, Mewujudkan Cita

Bismillahirrahmanirrohim

Yaa ayyuhal Ikhwatifillah
Attentions :
Don’t believe your eyes , … Don’t believe what you see
Don’t believe what you read ,… Don’t believe what you hear
Just believing God, ALLAH Swt and The Messenger
And your Heart

Sahabat yang sedang kebingungan, ALLAH Swt berikan kita kekuatan menentang kezaliman
Amanah yang diberikan kepada kita adalah bagian dari rahmat-Nya.
Dipundak ini begitu besar tanggung jawab yang kita pikul.
Di dada kita terdengar gemuruh semangat yang begitu dahsyat.
Terlihat wajah yang menyejukkan pandangan.
Yang lisannya sarat dengan untaian doa dan ajakan kebaikan.
Satu diantaranya adalah kita.
Semoga kita tidaklah lagi bingung serta senantiasa berada dalam hidayahnya.
Sampai kematian menghampiri kita.

Sahabat seperjuangan sungguh, kematian adalah sesuatu yang harus direncanakan dengan sempurna dan paripurna. Akhirnya adalah kebaikan, awalnya adalah perjuangan dan tengahnya adalah ujian, fitnah dunia.
Duh, sahabat yang mulia yang sedang kebingungan, Ane rindu dengan Rasulullah. Mungkinkah kita akan bersama beliau di Jannah-Nya?

Saudaraku, yang kucintai karena ALLAH Swt !! Perputaran roda kehidupan begitu cepat berlalu.Sehingga tak terasa akhir perjalanan kehidupan akan segera berakhir. Sungguh, kuulangi kembali, Kehidupan adalah penggalan waktu pengabdian. Pengabdian sejati. Pengabdian hakiki. Pengabdian yang didasari mahabbah. Dilandasi tadhiyah tanpa henti. Sampai waktu perjanjian yang pasti datang menghampiri. Disitulah kangkah kaki ini akan terhenti. Langkah kaki ini akan dilanjutkan sang generasi pengganti. Sebaik-baik generasi pengganti menurutku adalah yang berasal dari sulbi sendiri.

Saudaraku, pertolongan ALLAH Swt itu sangat dekat kepada orang yang bertakwa. Sebaliknya kekalahan itu sangat dekat … maka berhati-hatilah saat kebingungan melanda. Sepertinya kita harus mengingat kematian agar niatan dakwah kita terjaga sarananya. Sarana Qiaymullail, I’tikaf dan dialog dua hati dengan sang pendamping hidup. Namun di saat pendamping hidup belum datang menghampiri. Cukuplah ALLAH Swt sebagai penawar duka di hati.

Janganlah bingung sahabat, mari kita cari arah kematian yang indah, lalu kita kokohkan tapak langkah ini. Sehingga semua cita kita dapat kita wujudkan. Agar tidak terjadi distorsi sejarah kehidupan karena tidak adanya kesamaan persepsi.

Ya ALLAH Swt jadikanlah kami orang-orang yang mencintai kematian.


Sang pujangga dakwah yang semakin kesepian disaat ada yang kebingungan
Abu Jundii
Markazud jihad, Rabu 9 Juni 2004 09.35 WIB

GURATAN IRAMA JIWA

Kata adalah sepotong hati. Inilah ungkaan yang indah dan menawan dari seorang mujahid dakwah Abul Hasan An-Nadwi . kata adalah sepotong hati … !!! seorang pejuang, seorang mujahid sangat berhati-hati dalam memaknai sebuah kata. Benarlah kiranya ungkapan dari Imam Ibnul qoyyim yang menyatakan kebenaran sebuah kata dari seseorang dapat kita lihat dalam situasi apa ia mengucapkan kata tersebut. Sehingga, bisa saja semua orang mengungkapkan satu kata yang sama, tetapi berbeda kebenarannya karena berbeda maksud dan tujuan mengapa kata itu di ucapkan.

Banyak kita bisa mengetahui keunggulan pribadi seseorang dari susunan kata yang ia suguhkan. Bagaikan hidangan yang bisa kita nikmati. Sehingga dapat dijadikan makanan hati dan penyejuk jiwa. Sehingga menggeloralah semangat saat memaknainya. Kadangkala kata yang mereka ucapkan itu sangatlah sederhana dan tidaklah terlalu tinggi bahasanya. Namun, dapat menghunjam begitu dalam dan terpatri begitu erat dalam kalbu seorang anak manusia.

Seorang orientalist Robert Mitchel memberikan tanggapan yang menawan dalam bukunya “Masyarakat Al-Ikhwan Al-muslimun” mengenai pribadi ustadz Hasan al-Banna.”Ia berbicara dan mengungkapkan kata-kata setelah mengetahui makna yang tersembunyi dibalik kata tersebut. Sehingga kata-katanya merasuk lembut dalam perasaan, menghidupkan jiwa yang hampir mati dan menggelorakan semangat yang mulai pudar”.

Wahai jiwaku yang berkata-kata! Sering kali dirimu menghamburkan kata-kata yang bisa memprovokasi, membangkitkan pertentangan selama ini dalam aktivitas dakwahmu. Apakah engkau tidak sadar dalam dakwah ini bukanlah penokohan pribadi sehingga engkau bisa mengarahkan orang lain mengikuti instruksimu. Membawa mereka ikut dalam kafilahmu? Walaupun itu dianggapsebagai prestasi ketahuilah engkau masih muda. Ajakanmu lebih bersifat pengaruh emosional. Bukan karena kafaah syar’iyyah yang engkau punyai. Sehingga kadangkala di saat engkau diam mereka juga diam dan kebingungan. Itu bukanlah cinta. Itu adalah racun yang di baluti madu.

Kata-kata yang berasal dari hakikat keimanan akan mempunyai ruh. Ruh ini akan melekat selamanya walaupun penyerunya sudah mati berkalang tanah. Kata-kata seperti inilah seharusnya yang engkau punyai. Kata-kata yang berasal dari kedalaman ruhani yang merupakan air yang menyegarkan. Mata airnya berasal dari hidayah 4JJI SWT. Kata-kata dari Jundii Imani. Bagaikan auman keperkasaan dari singa dakwah yang kokoh dan kuat.

Maka kata yang kita ucapkan seharusnya mengandung pikiran dan emosi keyakinan yang menggelora, menciptakan gelombang semangat perjuangan seperti api membara, atau gelombang yang membadai.Membuat setiap jiwa terpesona dan akal yang menantangnya tertunduk karena logika dan ruh keimanannya. Karena kata seharusnya dapat menjadikan kita menjadi ruh baru dalam umat ini. Maka bangunlah kesadaranmu wahai diriku mengapa kadang kala ucapan kita seakan hilang begitu saja ditiup angin. Hampa ? karena kita masih banyak dosa dan maksiat itu jawaban yang pastinya.

Maka dapatlah disimpulkan kata-kata, etika dan metoda adalah suatu pola dan potongan pribadi sang jundii Imani. Sangat unik mempengaruhi sisi-sisi insani seseorang. Sehingga lontaran katanya bisa menguatkan iman, menyegarkan pemikiran, menajamkan pemahaman, mengikhlaskan amal, meningkatkan tadhiyah, menguatkan diri dalam jihad, tsabat dalam sikap tajarrudnya melaksanakan amanah, tsiqoh dengan keimanan dan nilai-nilai ukhuwah.

Sehingga walaupun dirimu dalam kesakitan wahai Jundii Imani ! ranjang kepedihan memenuhi hatimu karena musuh yang datang membunuh segala jenis burung, mencabut segala jenis rumput serta bunga.Mengambil cahaya hidayah dari mata hati umat Islam. Aumanmu bisa mengbangkitkan rasa takut pada musuh yang masih bermil jauhnya. Dan memberikan motivasi serta semangat bagi saudaramu yang lain.

Seteguh syekh Ahmad Yassin yang lumpuh. Bukti keteguhan kata dan sikap. Syahid yang menghidupkan. Sehingga engkau menyadari wahai diriku yang lemah, muhasabah yang terbaik adalah kata hati dari diri kita sendiri. Kata hati yang mendapatkan pancaran dan naungan cahaya dari mukjizat abadi Al-Qur’an. Sehingga kata-kata kita adalah kumpulan potongan hati yang membentuk kalimat. Manifestasi dari guratan irama jiwa dalam diri kita masing-masing. Wallahu’alam.

“4JJI adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thagut, mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah Penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya (Q.S Al-Baqarah :257)

Ada sebuah kisah yang menarik dapat kita jadikan contoh bagaimana seorang kakek menuliskan guratan irama jiwa seorang cucunya yang dibesarkan dalam naungan tarbiyah Rabbani. DR. Mahmud Jami’ dalam bukunya yang berjudul :” Wa’raftu al-Ikhwan “ ( Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal terbitan Pustaka Al-Kautsar) menuliskan sebagai berikut :

“CUCUKU YANG MENGAJARIKU PELAJARAN”

Cucuku, Thariq Jami’ baru berusia dua belas tahun, kelas dua I’dadiyah (2SMP) dan dilahirkan di Inggris. Dia selalu bolak-balik Mesir-Inggris setiap datang musim panas untuk menghadiri muktamar-muktamar Ilmiah di luar Mesir. Pada Minggu yang lalu, dia menghadapi ujian mengarang. Judul yang disodorkan dalam soal itu adalah siswa disuruh mengungkapkan kecintaannya kepada negerinya dan keindahan negerinya. Maka dia menulis dengan mengatakan :” saya tidak mempunyai kata-kata untuk mengungkapkan keindahan negeriku. Negeri ini berada pada kondisi yang buruk. Setiap kali saya berusaha untuk merasakan keindahannya, saya tidak menemukannya. Udaranya tercemar, airnya tercemar, jalan-jalannya tercemar, generasinya sakit, negaranya ricuh dan pemuda-pemudanya selalu untuk bekerja di negara-negara asing untuk mencari pekerjaan yang tidak pantas. Saya melihat sendiri, mereka berdesak-desakan di pintu kedutaan dan mereka memperlakukannya dengan buruk.

Gurunya kaget ketika mengoreksi jawaban anak ini. Lalu dia mendiskusikan tulisannya itu dengannya dan menghadirkan salah seorang guru lainnya. Cucuku tetap pada pendapatnya dengan penuh kepuasan dan pantang menyerah. Dia berkata kepada gurunya : “Saya tidak menulis kecuali dengan kebenaran dan saya tidak mau berbohong.” Maka guru itu menyobek kertas jawabannya dan membuangnya. Saya mengetahui kejadian itu pada hari itu juga dan saya kaget. Namun, saya hadapi masalah itu dengan tenang dan mengajaknya berdiskusi. Dia berkata kepadaku :” Wahai kakekku, apakah engkau bisa mengingkari realitas yang tampak jelas di depan kita dalam masyarakat Mesir.Apakah engkau merasakan apa yang saya renungkan di tengah malam karena awan hitam dan udara yang tercemar yang saya rasakan di dada saya seperti racun yang menghentikan nafasku, merusak jantungku dan memucatkan wajahku. Saya hampir tercekik hingga engkau menolong dengan tabung pernafasan. Bahkan, saya selalu disuntik dengan cortezon di urat setiap hari untuk menyelamatkan hidupku. Mengapa krisis ini masih terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu dan mengapa sekarang pemerintah tidak mampu memecahkan masalah ini ? Karena sekarang adalah sekarang.

Apakah engkau bisa melihat pesawat di langit Kairo yang kesulitan mendarat di Bandara Kairo ?Mengapa langit menutupinya dan menutupi pemandangannya yang indah dengan awan hitam tebal ketika datang kepada kita ? Apakah ada perbedaan antara keindahan langit Kairo dan langit Eropa yang jernih ?

Apakah Engkau lupa wahai kakekku ?Tentang nyamuk-nyamuk jahat yang menggigit kita di malam hari dan membangunkan kita tidur di Ajma’, Marina, atau di kota kita, Tonto. Ingatkah kamu tentang kegagalan racun-racun pembunuh nyamuk yang kita gunakan, walaupun bahan-bahan kimia itu membahayakan kesehatan dan jantung kita ?

Apakah engkau lupa nasehat-nasehatmu yang berulangkali kepada saya agar tidak minum air langsung dari kran karena tercemar dengan mikroorganisme, bercampur dengan kuman, kotoran dan garam yang berbahaya, yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan hati ?

Apakah engkau lupa pemandangan sebagian orang yang membuang sampah, kencing dan mandi bersama hewan-hewan mereka di sungai Nil serta mencemarkannya ?

Apakah engkau membaca apa yang ditulis oleh salah seorang wartawan beberapa hari lalu bahwa seorang warga menemukan coro mati di air yang keluar dari kran dan setelah para ahli kimia meneliti air tersebut dengan mikroskop, ternyata penuh dengan mikroorganisme, zat garam yang berbahaya dan zat-zat aneh lainnya.

Bagaimana menurutmu wahai kakekku tentang jalan-jalan yang tergenang air karena banjir di musim dingin dan panas ?A palagi terjadi hujan beberapa hari. Seakan-akan tidak ada usaha untuk menyelesaikan permasalahan ini, sehingga kejadian ini terjadi di jalan-jalan kita.
Begitu juga anarkisme yang terjadi di jalan-jalan,tikus-tikus yang berlarian di jalan-jalan, naik di atas dinding hingga sampai ke rumah tingkat atas,masuk ke dalam rumah melalui jendela-jendela dan teras-terasnya.

Sedangkan pemandangan warganya saya dapati selalu gaduh di depan kios-kios roti dan keramaian karena adanya keributan dan pertengkaran. Hal ini seakan-akan menjadi drama-drama sinetron harian yang saya lihat dan saya dengar sejak pagi.

Dia berkata kepadaku:”Wahai kakekku, saya punya dua teman di kelas yang mengatakan bahwa mobil kami tidak akan ditilang oleh polisi sama sekali, sehingga bebas melanggar lalu lintas, karena pada mobil itu ada plat hakim atau polisi di bagian depan dan belakangnya. Karena salah seorang dari anak itu adalah anaknya anggota DPR dan yang satunya lagi anaknya perwira polisi.”

Akhirnya dia berkata kepadaku dengan tajam : “wahai kakekku, setiapkali saya ke Mesjid untuk belajar menghapal al-Qur’an dan melaksanakan shalat Jum’at. Saya mendengar imam mengingatkan jamaah sebelum shalat dengan keras agar setiap orang meletakkan sandal di depannya agar tidak dicuri orang. Saya juga menemukan pamplet-pamplet yang bertuliskan di atas dinding masjid, pintu-pintu san tiang-tiangnya agar berhati-hati dari pencuri sepatu. Namun, demikian wahai kakekku, masih ada juga sepatu yang dicuri.”

Akhirnya selesai sudah dialog saya dengan cucu saya yang berterus-terang dan sadar itu. Jujur kepada dirinya dengan penuh keberanian. Akhirnya, saya melihatnya berpegangan pada pundakku dalam keadaan tenang dan kasih sayang. Dia merangkulku dan memelukku seraya berkata :”Wahai kakekku, jangan banyak berpikir dan jangan banyak capek, tidakkah engaku melihatku, semua tidak ada gunanya. Sesungguhnya hanya Islam-lah jalan pemecahannya.”

Subhanallah, lama diri ini tercenung dan tiba-tiba tetesan air bening bergulir di pipi. Guratan irama jiwa seorang cucu yang dididik dalam rumah tangga dakwah yang rabbani mampu mengungkapkan kata yang polos melampaui usianya. Tidakkah kita ingin punya generasi seperti ini ? ku bertanya pada diriku. Ingin sekali.

Buah yang manis dan lezat berasal dari pohon yang sehat, kokoh dan kuat. Pohon itu juga berasal benih yang mantap. Sudahkah diri kita menyiapkan diri sebagai benih itu. Sehingga, melahirkan buah berupa generasi yang Rabbani ? jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Maka marilah selalu menyiapkan diri.

Sesungguhnya kata-kata kita tidak akan ada artinya, hingga kita meninggal di jalan-Nya, maka ruh akan masuk di dalamnya dan memberinya kehidupan. Sesungguhnya kata-kata yang dikeluarkan dari mulut dan belum tersambung dengan sumber ilahi yang maha hidup, hanya akan melahirkan kematian. Wallahu’alam


HUD-HUD.Revisi terakhir selasa, 23 Agustus 2005. 10:38 WIB. Markazud Jihad.

Inilah Saatnya Menangis Wahai Mujahid !

Sahabat ! setiap bait yang antum semua tuliskan mampu meneteskan airmata ini mejadi kristal bening lalu membeku. Kristal beku itu akhirnya menjadi berlian yang sangat keras dan mampu menghancurkan apa saja yang menghadang di hadapannya. Bak berlian yang merupakan senyawa yang paling kuat dan bening. Sedangkan ia terjadi dari rangkaian ikatan rantai karbon yang padu. Bukankah ikatan rantai karbon itu memenuhi ruang empat dimensi. Jika hanya dua atau tiga dimensi yang terlihat adalah kehitaman dan kebeningan yang buram. Ruang dimensi akal. Ruang dimensi emosi dan perasaan ruang dimensi spritual yang dlingkupi dimensi keempat yaitu wahyu dan ra’yu dari ALLAH Swt.

Sahabat! Bagiku hanya tiga kesempatan seorang Mujahid pantas untuk menangis!
Pertama, Saat ia melihat kondisi yang tidak sesuai mimpi besarnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kelalaian ataupun keterbatasan dari kekuatan dirinya untuk melakukan kerja dan amal dalam menggapai mimpi tersebut.
Kedua, saat ia mengadu kepada Kekasihnya yang hakiki tentang kelemahannya, serta meminta tambahan kekuatan untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Ketiga, saat mimpi –mimpi yang dirajutnya diperlihatkan 4JJI. Walaupun tidak terwujud sepenuhnya.

Saat itulah kempat dimensi itu bergerak dan berputar membentuk rotasi dalam kehidupannya, dalam ruang jiwanya dimana terdapat lokus-lokus diri sehingga tanpa sadar tangisannya keluar membentuk berlian yang akan digunakan untuk merajut mimpi yang selanjutnya.

Bukankah ALLAH Swt menyatakan apabila engkau telah selesai dengan satu pekerjaan maka bersiaplah untuk melakukan pekerjaan selanjutnya?

Oh jiwa yang bertualang dalam kesepian
Sekarang engkau sudah mendapatkan teman
Sunguh perjuangan ini sangat panjang jalannya
Ia tidak seusia satu generasi
Ia seusia bumi yang makin renta menuju kematian

Kawan seperjuangan ! boleh jadi tangisan kita ada karena kebencian. Boleh jadi tangisan kita karena ada kecemasan. Boleh jadi tangisan kita karena kesakitan. Boleh jadi tangisan kita karena kelalain. Bahkan boleh jadi tangisan kita karena kemaksiatan yang tak tertahankan. Kawan ini lah pertarungan. Kawan kita hidup dalam riuhnya pertempuran. Pertempuran untuk mencapai suatu kejayaan. Seperti yang dikatakan Sayyid Quthb dengan ungkapan “parade mulia lintas zaman”.

“ Parade mulia lintas zaman ini, sejak dahulu kala, menghadapi sebagaimana tampak jelas di bawah naungan al-Qur’an. Berbagai sikap dan pengalaman sepanjang masa, disetiap waktu, meskipun berlainan tempat dan beragam bangsa. Menghadapi kesesatan, kebutaan hati dan pikiran, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, penindasan, peneroran dan pengusiran. Tetapi ia tetap berjalan di jalurnya dengan langkah yang teguh, hati yang lapang, penuh keyakinan akan pertolongan ALLAH, penuh harap pada-Nya,dan senantiasa membenarkan janji 4JJI yang pasti benar dan pasti terjadi. “

Subhanallah! Ungkapan yang begitu dalam, begitu padu dan menyentuh seluruh relung yang ada dalam diri ini. Memenuhi semua ruang jiwa ini.

Pembelajaran demi pembelajaran diberikan oleh ALLAH Swt untuk semua insan yang memdambakan keridhaannya. Jam dinding berdetak dan memberikan kita suatu makna yang menyiratkan betapa banyaknya kebenaran yang selalu tersiakan. Betapa banyak waktu yang tersiakan oleh beberapa insan. Perjalanan waktulah yang sebenarnya membuat kita berkumpul dan berpisah. Ada yang mengatakan ini takdir.

Takdirlah yang telah mempertemukan kita dan membuat kita bekerja bersama. Takdir … akh apa lagi yang ingin kutuliskan.Mungkinkah takdir itu memang sudah dituliskan dan tidak dapat dirubah lagi? … akh jiwa mengapa engkau bertanya dengan pertanyaan yang begitu pelik dan menggelitik? Apakah pertanyaaan ini perlu mendapatkan jawaban? Pernahkah pertanyaan ini mendapatkan jawaban. Pertanyaan ini selalu mengembara di ruang asa dan seakan tidak bermaya meninggalkan sejumput keraguan.

Tidak boleh ada keraguan dalam memahami sebuah takdir. Karena takdir adalah ketetapan dari yang telah menuliskan takdir tersebut. Takdirlah yang telah membuatku membuat tulisan yang pada awalnya hanyalah suatu pengisi waktu senggang saja? tadinya saya juga tidak tahu untuk apa saya menghidupkan komputer ini. lalu mencoba untuk mengetuk tuts-tuts ini untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang dapat menghasilkan paragraph-paragraph yang dapat bisa memberikan sedikit kesejukan di dalam jiwa yang sedang resah dan merana ini.

Akh terlalu dipolitisir nampaknya. Namun, inilah takdir dari penulisan ini. Menulislah sebelum menulis itu dilarang. Menulislah… karena dengan menulis banyak asa yang terungkap, banyak makna yang tersingkap. Duh, semakin tidak jelas ke arah mana sebenarnya tulisan ini mau di tujukan. Setelah itu apa sih targetnya.

Biarkan …. Dan biarlah pena ini akan selalu bergerak
Biarkan … dan biarlah tinta ini akan terus menetes
Memberikan tetesan makna
Memberikan tetesan suatu perjuangan
Tetesan yang akan menjadi saksi
Di hadapan sang azali
Dimana semua tanggung jawab kembali
Akh… rupanya semuanya telah padu
Padu dalam kebersamaan yang membawakan sebuah nyanyian
Nyanyian jiwa yang sedang kelana kembara
Menjemput keridhaan Rabbnya.

Sahabat! Sebentar lagi subuh menjelang daku teringat sebuah syair yang sering dilantunkan ibundaku saat memasak di dapur!

Dari jauh terdengar suara azan
Terdengar menjelang subuh
Dari jauh aku kan datang
Membawa diri yang penuh debu zaman

Kalaupun tak sanggup lagi daku berenang
Kurelakan diri hanyut tenggelam ….

Biasanya kami langsung bangun dan menunaikan shalat subuh berjamaah. Akh Aba dan bunda tak terasa air mata ini menetes. Sungguh di saat seperti ini ananda merindukan semua nasehat yang menyejukkan dan menambah ghirah perjuangan. Sehingga kudapat membuktikan. Bila ingin menakar sebuah kasih sayang maka jadilah orang tua. Bukan ku ingin menuliskan kenanganku dengan orang tuaku dengan nada cengeng sahabatku. Masih ku ingat bagaimana ungkapan sayyid Quthb yang mendeskripsikan ibunya sebagai orang yang paling ingin melihat sayyid quthb hanya berbicara tentang al-Qur’an. Dan ayahnya yang senantiasa menceritakan dan memahamkannya tentang keindahan hari akhirat dan pertemuan dengan 4JJI. Maka jadilah sayyid Quthb menjadi sang mujahid dakwah yang senantiasa di bawah naungan al-Qur’an dan rindu akan kematian. Di dalam sebuah buku menyelami keindahan al-Qur’an.

Sahabat kalau ingin menangis, sekaranglah saatnya. Karena dalam perjuangan tidak ada tempat lagi untuk menangis.Marilah kita rubah air mata kita menjadi berlian yang akan menerobos segala tantangan dan hambatan. Sehingga kita keluar sebagai pemenang. Walalhu’alam.

Sang pujangga dakwah yang terbangun di penghujung malam
Markazud jihad , saat subuh menjelang
16 Juni 2004 04.45 WIB

MENIMBANG SABAR DAN PROFESIONALITAS

Masa transisi peralihan generasi dakwah. Perpindahan estafet perjuangan merupakan situasi yang genting dan mencekam dalam sebuah wajihah dakwah. Apalagi wajihah sayap dakwah yang dipenuhi oleh orang muda yang bergelora. Duh… pemuda penjaga dan pemelihara dakwah, inilah seruan dari pembangun kembali tatanan dakwah abad ini. Imam asy-syahid hasan al-Banna yang mengemukakan suatu ungkapan yang menggelorakan jiwa :

“ Ada sebuah risalah masa lalu penuh kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan … Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan … Untuk masa depan yang penuh cahaya … Wahai para pemuda … Wahai mereka yang punya cita-cita luhur … Untuk membangun kehidupan … Wahai kalaian yang rindu kemenangan agama 4JJI … Wahai semua yang turun ke medan juang … Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Rabb-Nya… di sinilah petujuk itu, disinilah bimbingan-Nya … di sinilah hikmah-Nya dan di sinilah pengorbanannya … dan kenikmatan jihadnya … …”

pagi ini seorang asatidz menyatakan sebuah mutiara hikmah kepadaku :
“ Cukuplah dakwah kita jadikan sebagai sekolah kehidupan “

Ungkapan ini beliau ucapkan saat ane mendesaknya untuk memberikan satu kalimat yang bisa membuatku puas dan tenang si tengah kebimbangan mengambil keputusan untuk tetap mengayunkan langkah atau mengikuti “qoror” dari orang-orang yang sangat menyayangi sosok yang ringkih ini.

Dari awal telah kukatakan kepada dunia hidup ini adalah pilihan. Setiap pilihan pasti punya resiko. Ingin kukatakan sepenuh hati dan kupatrikan kalimat ini dalam jiwaku :
“ Orang yang sukses adalah orang yang bersabar melewati kesulitan demi kesulitan dengan hati lapang, ikhtiar dan doa. Karena bumi selalu berputar dan selalu berubah.”

Masa transisi merupakan tikungan tajam dalam dakwah. Kepemimpinan dan pemimpin memang tidaklah sesederhana sebuah parody orkestra dalam panggung kehidupan yang serba terbatas. Terbatas luas ruangannya. Terbatas waktu pertunjukannya. Terbatas personilnya. Terbatas kapasitas kursi pengunjungnya. Serta terbatas alat musik dan peralatannya. Lalu apakah tepuktangan dari penonton itu adalah pertanda kesuksesan ? tidak juga …. ?!

Ohya, tadi malam ane dapat mengambil pelajaran dari Film “We are Soldiers” yang mengisahkan kedekatan antara panglima perang Amerika dengan pasukannya di saat berperang dengan tentara Vietnam dan juga di sana diperlihatkan juga bahwa kedekatan panglima Vietnam dengan pasukannya. Adu strategi perang diantara mereka terjadi. Dan tidak ada yang mendapatkan kemenangan. (itu menurut ane) tapi karena filmnya buatan Amerika disana digambarkan pasukan amerika bisa mengalahkan banyak pasukan musuh lalu meninggalkan medan pertempuran sebelum balabantuan Vietnam datang. Sehingga kejadian ini memberikan pukulan yang sangat besar di hati panglima Vietnam. Ketika melihat para mayat pasukannya dikumpulkan menjadi satu dan diletakkan bendera Amerika diatasnya.

Di pihak panglima Amerika juga sempat meledakkan tangisnya di hadapan seorang wartawan perang dengan mengatakan :” kita tidak menang hari ini, seharusnya sayalah yang gugur bukan pasukan ini,” sambil menyadari ini kesalahan komando dari pusat komando yang ambisius.

Ada beberapa beberapa hal yang dapat dijadikan pelajaran yaitu :
1. Setiap orang harus menjaga orang yang bersamanya.
2. Seorang panglima adalah yang pertama maju ke medan pertempuran dan yang terakhir meninggalkannya ( ini dijelaskan ketika sang panglima ingin maju dengan pasukan pembuka jalan seorang serdadu menariknya dan mengatakan kalau panglima tewas akan membuat down anggota pasukan lainnya. Lalu ketika pusat komando menyuruh sang panglima meninggalkan pasukannya, sang panglima mengatakan saya akan tetap bersama pasukan saya. Sehingga moral pasukannya naik kembali. Dan ketika mencari 2 anggota pasukan yang hilang sang panglima yang mencari langsung dan membawa mayatnya. Selain itu, panglima ingin anggota pasukannya diangkut pulang semua baik hidup atau mati dan tidak mau ada yang tertinggal.)
3. Diperlihatkan juga bagaimana kekukuhan hati istri sang panglima ketika harus memberikan telegram yang mengabarkan bahwa anggota pasukan suaminya gugur. Memang pada seorang pahlawan ada wanita besar di belakangnya.
4. Teladan yang paling baik adalah perbuatan.
5. Rasa persaudaraan adalah kekuatan yang sangat efektif dalam menghadapi mihnah yang besar.
6. Ketaatan kepada pemimpin adalah kekuatan yang memersatukan di dalam kekalutan.

Semoga tulisan ini memberikan sesuatu yang berharga bagi ane kedepan dan nonton filmnya bukanlah sesuatu yang sia-sia sehingga tidak ada pelajaran yang didapat daripadanya. Wallahu’alam.

Dari dari dua fenomena ini dihubungkan dengan keluhan seorang ikhwah yang memberikan sms ngajak makan bareng karena katanya ada yang mau dikonsultasikan. Ane langsung sepakat karena tempatnya mengingatkanku dengan sebuah keluarga dalam dakwah yang sering mengajakku ke sana. Namun, sekarang kita dipisahkan untuk sementara. Muncul pertanyaannya yaitu : “ Di manakah beda antara sabar dan profesionalitas ?” seraya mengerutkan keningnya. Ane senyum. Menatapnya dalam-dalam. Lalu kukatakan, “ Akhi ane merasakan apa yang antum rasakan, ane pernah mengalaminya. Sebagai qiyadah kita memang harus mengambil keputusan dalam keadaan yang sangat susah. Mengambil keputusan saat ada kondisi lain yang harus kita pertimbangkan.” Ia mendengarkan dengan tertunduk, setelah menarik nafas baru kulanjutkan lagi.

“Kita bukan hanya pemimpin eksekutif dalam suatu organisasi. Kita adalah pemimpin yang tarbawi. Pemimpin yang mendidik. Maka kesabaran yang kita perlukan adalah memahami kondisi dakwah dan jamaah kita. Bagaimana penilaiannya, sejauh mana perhatiannya dan sebatas apa daya dukungnya kepada kita. Kondisi dakwah sebenarnya memang belum bisa mendukung secara kuat. Namun, tuntutan publik juga harus diakomodir. Marilah kita selesaikan permasalahan kita sendiri, karena saudara kita juga merasakan beban yang mugkin lebih berat dari kita. Bersabar itu bukan menyerah. Bekerjalah dengan cinta dan keimanan. Karena cinta dan keimanan sangat berhubungan erat. Dan sangat menyejukkan.”

Jika iman itu adalah api maka cinta adalah panasnya
Jika iman adalah air maka cinta adalah kesegarannya
Jika iman adalah sungai maka cinta adalah arusnya
Jika cinta adalah samudra maka cinta adalah badainya



Akhirnya kami berbincang-bincang seputar masalah yang dihadapi dan senyumnya mulai mengembang. Ingin kucapkan dan kupatrikan ucapan sang ustadz tadi di dalam hati dalam-dalam :
“ Cukuplah dakwah kita jadikan sebagai sekolah kehidupan “

HUD-HUD.Revisi terakhir selasa, 23 Agustus 2005. 00:21 WIB. Markazud Jihad.