Sabtu, Januari 02, 2010

Kitman-Bab 9

9

FAKTOR-FAKTOR KITMAN YANG LAIN

A. Salah satu kebriliyanan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam bidang militer adalah aplikasi dari subyek kitman yang rapi. Selain itu, strategi-strategi militer Rasul lainnya tidak boleh dianggap lebih ringan atau kalah penting dari faktor-faktor kitman. Sesungguhnya kehidupan militer nabi penuh dengan “ibrah, nasehat, pelajaran dan hikmah yang seluruhnya perlu dikaji oleh para cendikiawan dan peneliti.

Maneuver-manuver Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam seewaktu menerapkan kitman, sangatlah mempesona. Pantaslah jika maneuver itu diteladani disetiap kurun waktu dan tempat. Beliau mempunyai anggota mata-mata yang berkeliaran dalam kota Madinah yang siap menyadap setiap bentuk informasi yang ringan ataupum penting yang membahayakan kemaslahatan umat, baik dalam keadaan damai atau perang.

Shahabat Huzaifah bin Yaman al-ibsi dikenal sangat mengetahui rahasia dari Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengenai orang-orang munafik yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Dengan ungkapan lain, dia adalah penyimpan rahaia Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam selama beliau hidup. Huzaifah dipilih oleh Rasulullah dari yang lainnya karena sangat ‘sarat” dengan teknik-teknik kitman sehingga tidak pernah membocorkan rahasianya sendiri kepada orang luar. Huzaifah mempunyai kepekaan otomatik (sensitifitas) yang tidak gamang menghadapi posisi sulit. Apresiasi beliau sangat tinggi terhadap urgennya merahasiakan informasi-informasi militer dari sadapan musuh hingga segala rencana-rencana dan tujuan kaum Muslimin tidak tersebar. Ia juga memilih kecakapan dan naluri yang tinggi untuk mengetahui setiap bentuk informasi. Semua sifat-sifat itu adalah sifat seorang mata-mata teladan. Dan terbukti, watak itu sungguh berpengaruh dalam hidup Huzaifah: setiap kali dia mendapatkan atau mendengar berita yang berdampak serius terhadap nasip hidup kaum Muslimin, dia melaporkan berita itu kepada orang yang berkompeten secepatnya.

Namun demikian kewajiban kitman tidak lantas terpikulkan atas pundak shahabat Huzaifah semata. Merupakan keharusan bagi setiap muslim untuk menunaikan kewajiban kitman. Mereka wajib mengawasi gerak langkah orang yang tidak jelas asal-usulnya, yang hoby dengan perilaku menyimpang, orang munafik, serta musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin secara keseluruhan.

Sekali waktu, shahabat Umair bin Sa’ad al-Anshary mendengar Jallas bin Suwaid bin Shamit dulunya dia tidak ikut dalam perang tabuk- mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seoarang muslim terhadap Rasulullah. Lalu Umair melaporkan hal tersebut kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Padahal Umair waktu itu dibawah tanggung jawab Jallas yang telah memperistrikan ibunya sesudah bapaknya wafat, “Demi Allah wahai Jallas! Kamu adalah orang yang saya sukai, paling dermawan, dan yang paling tidak saya senangi jika tertimpa musibah. Tetapi kamu telah mengucapkan kata-kata yang jika ku bocorakan akan membuatmu malu, tapi bila saya diamkan niscaya akan merusak dienku. Namun yang pasti, salah satunya lebih lebih ringan disbanding yang lain “.

Ketika dihadapkan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam, Jallas bersumpah, “Sungguh Umair telah menuduhku dengan bohong. Apa yang diucapkan Umair itu tidak pernah aku katakana!”

Lalu Allah Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya mengomentari kasus ini:

“ Mereka ( orang – orang munafik itu ) bersumpah dengan ( nama ) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan ( sesuatu yang menyakitimu ). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya ; dan mereka tidak mencela ( Allah dan Rasul-Nya ), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.Maka, jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka. Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan mereka sekali – kali tidak mempunyai pelindung dan tidak ( pula ) penolong di muka bumi “. ( Q.S. At-Taubah : 74 )

Dengan peringatan Allah ini, Jallas kemudian bertaubat dengan taubatan nasuha. Selanjutnya, ia tetap dikenang dengan kebaikan dan keislamannya yang terpuji.

Pada waktu ayat diatas turun, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam berkata kepada Umair ; “wahai pemuda Telingamu sungguh tajam dan sungguh Rabb-mu telah membenarkanmu”.

Seorang muslim sejati senantiasa waspada dan teguh memegang amanah rahasia dan juga terhadap seluruh kepentingan-kepentingan kaum Muslimin yang strategis.

B. Sebagaimana halnya Nabi Shollallahu Ailaihi Wa Sallam memiliki mata-mata dalam kota Madinah yang bertugas menjamin langgengnya kesatuan kekuatan dalam negeri dan mencegah bobolnya benteng-benteng pertahanan dalam kota; beliau pun memiliki mata-mata diluar kota Madinah, yaitu dikota Makkah, ditengah perkampungan kabilah-kabilah Arab yang oposan dinegeri Ramawi, dan di negeri Persia.

Para mata-mata itu selalu menginformasikan kepada Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam setiap bentuk berita, baik berita kecil, berita penting dan berbahaya, atau mungkin juga sesuatu yang berbahaya atau startegi bagi kepemimpinan Islam dan kaum Muslimin.

Hal-hal seperti itulah yang menjelaskan kepada kita sebab-sebab kemenangan beliau atas musuh - musuhnya yang begitu banyak. Beliau selalu berhasil mengetahui rencana-rencana musuh sedini mungkin. Beliaupun dengan mudah menggagalkan segala bentuk makar musuh yang ditujukan kepada Islam dan umat Islam.

Di sisi lain kenyataan diatas juga menerangkan kepada kita sebab-sebab tidak sanggupnya kaum musyrikin, bangsa Yahudi, dan musuh Islam pada umumnya melancarkan serangan mendadak atas pasukan Nabi. Sebaliknya, justru beliaulah yang berhasil merepotkan musuh-musuh Islam dengan gempuran dadakan yang mengejutkan dalam berbagai ghazwah (peristiwa perang yang beliau ikuti) atau sariyah ( yang tidak sempat beliau ikuti ). Adapun intel dan mata-mata beliau yang menyebar diluar kota Madinah terdiri dari pribadi muslim yang merahasiakan keislamannya atau juga berasal dari keluarga beliau sendiri.

Sebelum perang Uhud meletus, Abbas paman Nabi, mengirim sepucuk surat kepada beliau berisi jadwal keberangkatan pasukan musyrikin Quraisy untuk menggempur beliau, lengkap dengan jumlah anggota kekuatan perang tersebut. Dengan cepat sekali, kurir surat Abbas menyanpaikan surat tersebut kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Sampai-sampai jarak yang membentang Mekkah dan Madinah Cuma “dilahapnya’ dalam tempo 3 hari. Kurir tersebut mendapatkan Nabi Shollallahi Alihi Wa Sallam tengah beristirahat di dalam mesjid Quba. Selanjutnya surat itu diserahkan kepada Nabi. Begitu Abbas dan beberapa orang penduduk Mekkah melaporkan kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam seluruh manuver serta rencana Quraisy dan sekutu-sekutunya.

Apa yang telah terjadi pada diri Abbas, terjadi juga pada sebagian orang yang hidup menyelinap ditengah kabilah-kabilah yang oposan terhadap kaum Muslimin, atau juga mereka yang hidup di negeri Persia dan buni Romawi.

Saya tidak memandang perlu untuk menyebutkan bahwa Allah AzzaWa Jalla memang senantiasa bersama Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Tidak diragukan lagi Allah mendukung Nabi dengan berbagai kemenangan dan memberikan memberikan pertolongan-Nya. Akan tetapi Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam beserta seluruh prasayarat – prasayarat kemenangan yang telah beliau persiapkan sebelumnya hendaknya dijadikan teladan yang baik oleh umatnya kelak, dan juga sebagai realisasi dari ayat – ayat jihad yang terdapat dalam Islam. Seperti firman Allah :

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda – kuda yang ditambat untuk berperang ( yang dengan persiapan itu ) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang – orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkhkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya “. ( Q.S. Al – Anfal : 60 )

Dan boleh jadi kitman merupakan hal yang terpenting diantara sekian koleksi prasyarat – prasyarat perang Rasulallah. Sebuah kaidah cemerlang yang terkenal mengatakan bahwa bangsa yang sanggup menjaga rahasia – rahasia militernya adalah bangsa yang berpeluang untuk meraih kemenangan. Sebaliknya, bangsa yang tidak sanggup menjaga rahasia - rahasia militernya adalah bangsa yang sama sekali tidak berpeluang merauh kemenangan.

Apa yang berlaku pada level bangsa juga berlaku pada level individu, karena satu bangsa terdiri dari beberapa individu, persis sebagaimana satu bangunan terbuat dari beberapa rangkaian batiu bata.

Khusus untuk kalangan militer, mereka dituntut senantiasa berada di permukiman kitman yang ketat. Demikian juga, kalangan sipil dituntut berkitman yang rapi dikarenakan militer berasal dari rakyat dan di tambah lagi bahwa rencana – rencana militer terkadang tidak mungkin disembunyikan dari penglihatan rakyat. Seluruh pucuk pimpinan militer harus menjadi teladan yang terbaik dalam berkitman. Sebab pimpinan yang tidak memiliki sifat kitman pasti akan menggiring bawahannya ke jurang kebinasaan.

Adapun kasus percoboran rahasia militer yang dilakukan dengan sengaja, baik oleh kalangan militer maupun kalangan sipil, jelas tergolong tindakan pengkhianatan. Dan jika jika hal itu terjadi pada diri pucuk pimpinan militer dan sipil, maka itulah pengkhianatan besar.

Orang yang tidak mampu menjaga rahasia militer bangsanya, maka sesungguhnya kehadiran dia ditengah bangsanya hanya mendatangkan keuntungan bagi puhak musuh. Sesungguhnya suatu hal yang memalukan, manakala kehadiran seseorang di tengah bangsanya tidak memberikan manfaat, bahkan justru menguntungkan pihak musuh.

Alangkah banyaknya kata – kata terlontar yang dikira sepele, padahal dalam kenyataannya dia adalah rahasia militer yang jika dibocorkan akan mengakibatkan malapetaka terhadap pihak militer itu. Sejarah perang adalah bukti terbaik. Di dalamnya terdapat banyak ibrah bagi mereka yang ingin belajar.

Sesungguhnya kitman dalam pandangan Islam merupakan bagian dari dien yang langsung di ajarkan Al – Qur’an dan telah dipraktekkan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam kehidupan militer beliau.

Sungguh benar apa yang telah disinyalir oleh Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam ;

“ Diantara ciri baiknya kualitas Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa – apa yang tidak berguna baginya “

Seorang muslim yang sejati akan meneladani Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam sebab jika tidak , dia tidak lebih dari seorang muslim status ( muslim KTP ) atau seorang yang mengaku – ngaku muslim, sementara Islam sendiri jauh dari dirinya.

4 komentar:

muslim-kaya mengatakan...

Subhanallah, menarik sekali materi intelijennya akhi......., jazakumullah tlah berbagi inspirasi untuk hari ini....., smoga tetep istiqomah dalam berbagi hikmahnya, salam kenal dan smoga tetep terjaga silaturahimnya ya....amin ya robb....

muslim-kaya mengatakan...

Subhanallah, menarik sekali materi intelijennya akhi......., jazakumullah tlah berbagi inspirasi untuk hari ini....., smoga tetep istiqomah dalam berbagi hikmahnya, salam kenal dan smoga tetep terjaga silaturahimnya ya....amin ya robb....

Eddy Syahrizal mengatakan...

Semoga bermanfaat bagi kita semua, amin...

Eddy Syahrizal mengatakan...

ohya, versi lengkapnya bisa didownload di scribds.com