Selasa, Juni 30, 2009

Menemukan Motivasi Agung



(Dilara Larasati)

Manusia berkarya digerakkan oleh bermacam motivasi di belakangnya. Harta dan tahta menjadi motivasi paling populer diantaranya. Tapi ada motivasi yang lebih besar dari kedua[nya], yang hidup di alam bawah sadar manusia.

Sahabat,

Eropa sedang menunjukkan kepada kita pergerakan yang luar biasa. Jika dibuat rata-rata, di Perancis saja setiap minggu ada 12 orang yang bersyahadat. Begitu juga di Amerika. Islam menjadi agama kedua terbesar di negara itu. Fenomena ini ditafsirkan oleh Syeikh Yusuf al-Qaradhawi sebagai, jika dulu Konstantinopel dibebaskan dengan pedang, maka Vatikan akan dibebaskan murni tanpa pedang sama sekali.

Basis peradaban Barat sudah sangat rapuh. Konsep-konsep Kapitalisme semakin kian hari kian dekat dengan nilai-nilai Islam. Di dalam al-Qur’an banyak fakta-fakta yang dibuka oleh Allah. Rangkaian fakta yang dimiliki Allah, sangatlah besar dan tidak terbatas. Sebagian kecilnya, dibuka secara mencicil kepada manusia. Sebagian lagi hanya isyarat-isyarat saja. Tapi kenapa banyak manusia yang tidak beriman?

Karena banyak manusia yang melampaui batas. Setelah diajar dan mengetahui berbagai fenomena, manusia merasa bahwa semua itu dia dapatkan denan caranya sendiri. Kemudian mulai sombong, merasa tidak butuh.

Sahabat,

Ketika Qarun memiliki kekayaannyadi mulai berkata, “ Saya mendapatkan kekayaan ini karena saya memiliki ilmu untuk mendapatkannya.”

Dia lupa bahwa ilmu itu diberikan Allah dan begitu pula harta yang dimilikinya. Merasa pintar membuat manusia merasa istaghna, tidak membutuhkan Tuhan. Ini yang kita dapati pada orang-orang Ateis.

Jika kita telusuri, pertanyaan penting kaum Ateis sesungguhnya hanya satu. Apa pentingnya keberadaan Tuhan ? Jika manusia bisa mengatur hidupnya dengan otaknya sendiri. Apa perlunya agama? Manusia mampu mengatur hidupnya sendir dengan menciptakan nilai-nilai. Mengapa perlu ada pendata? Manusia bisa mengatur semuanya tanpa mereka. Apalagi mereka mendapatkan fakta bahwa negara-negara yang tidak diatur dengan agama, jauh lebih makmur dibanding negara-negara yang diatur berdasarkan aturan agama. Mereka mulai merasa tidak butuh pada Tuhan.

Sebagian besar yang menghambat manusia menerima Islam adalah keangkuhan di dalam hatinya. Selain itu, kepentingannya pada hal-hal yang bersifat dunia. Sifat keangkuhan bertemu dengan kepentingan, maka semakin lengkaplah alasan untuk menjauhi Islam.

Jika Allah berkehendak, sungguh tidak ada manusia yang susah mendapatkan petunjuk. Tapi yang diberikan Allah kepada kita adalah, Allah memberikan pilihan pada permulaan, tapi tidak memberikan pilihan pada akhiran. Di dunia manusia boleh memilih agama apapun yang dia suka. Tapi kelak jika kematian datang, dan setelah kematian ada kebangkitan, kemudian setelah kebangkitan ada surga dan neraka. Dan ketika itu hanya Allah yang berhak menentukan.

Sahabat,

Karena itu, banyaknya hukum dalam agama Islam tidak dapat kita pahami tanpa keyakinan dan iman. Dan salah satu iman yang besar adalah, beriman pada hari akhir. Tidak ada yang mampu memotivasi seperti kuatnya motivasi surga dan nereka. Jika tidak ada surga dan nereka, apa pentingnya kita berusaha menjadi orang baik?

Hanya karena kita beriman kepada neraka, kita tidak ingin menjadi orang jahat. Dalam al-Qur’an setelah kata surge dan neraka yang paling banyak disentuh adalah ketakutan dan harapan.

Dalam masyarakat sekuler, orang yang paling sehat akalnya dalah orang yang paling banyak melakukan maksiat. Karena mereka tidak memiliki keimanan pada hal-hal seperti surga dan nereka, atau baik dan buruk. Salah satu ukuran kemakmuran di dunia modern sekarang ini adalah, usia harapan hidup. Makin panjang usia harapan hidup, makin tinggi indikator kemakmurannya. Yang bisa membuat manusia sujud adalah keimanannya. Tapi seringkali manusia tidak sujud dikarenakan nafsu dan akalnya. Mereka selalu melakukan hitung-hitungan di hadapan Allah.

Hambatan paling besar manusia untuk menyembah Tuhan adalah merasa pintar. Karena tidak merasa butuh dengan Tuhan. Sedangkan yang kedua adalah kepentingan, jika masuk Islam. Keangkuhan dan kepentingan, adalah kedua hal yang seringkali menggelincirkan manusia dari jalan yang benar.

Tapi ada pertanyaan yang seringkali mengganggu. Kalu umat Islam memiliki nila-nilai yang begitu luhur dan tinggi, mengapa kualitas hidup mereka seringkali malah rendah. Negatanya miskin. Ekonominya lemah dan sebagainya.

Sahabat,

Eropa 1000 tahun yang lalu seperti apa mereka? Hdiup dalam zaman kegelapan. Dibandingkan dengan bangsa Arab. Sebaliknya, 500 tahun yang lalu, Turki adalah penguasa Eropa dengan peradaban yang tinggi. Siapa yang mengenal Jepang 1000 tahun yang lalu? Tidak ada. Abad 18 dan 19 adalah era kekuasaannya Perancis. Sedangkan abad 20 adalah eranya Amerika.

Coba bandingkan lagi fenomena Eropa Barat dan Eropa Timur. Daratan yang mereka huni sama. Otak di dalam kepala mereka sama. Tapi mengapa nasibnya berbeda? Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sama-sama sebagian besar rumpun Melayu. Hidup di daerah regional yang sama. Tapi lagi-lagi, nasibnya kenapa berbeda?

Kaidah-kaidah yang berlaku pada kehidupan manusia, disebut sunnatullah.dan sunnatullah ini berlaku baik untuk Muslim, maupun non Muslim. Berlaku umum.

Sahabat,

Pemerintah yang adil meski kafir akan bertahan lebih lama dibanding pemerintah zalim, meski Muslim. Makin adil sebuah rezim, makin panjang umurnya. Makin zalim sebuah rezim, makin pendek umurnya.

Mengapa Komunisme lebih cepat runtuh dari kapitalisme? Karena Kapitalisme belajar lebih baik dibanding Komunisme. Kapitalisme menyelesaikan masalah lebih baik dibandingkan Komunisme. Mekanisme pemelajaran menentukan umur kehidupan ideologi ini.

Keadilan dapat diwujudkan dengan atau tanpa agama. Itulah beda mereka dengan kita. Kita menegakkan keadilan karena motivasi agaung menuju cinta dan ridha Allah SWT. Sedangkan mereka, menegakkan keadilan hanya sekedar menegakkan, bahkan dalam beberapa kasus, mereka menegakkan keadilan demi mendapatkan dunia yang mereka impi-impikan.dan inilah kelemahan mereka. Sampai kapan mereka mampu menutupi ketamakan mereka dengan regulasi-regulasi yang sesungguhnya mereka ciptakan untuk keuntungan mereka sendiri? Mereka bisa bertahan lama dengan cara seperti itu.

Sahabat,

Malik Bennabi, seorang sejarawan Aljazair mengatkan kaidah tumbuhnya suatu peradaban. Pada masa paling bagus dari sebuah peradaban, kita bisa melihat genarasinya didominasi nilai-nilai spritual. Lalu ketika mereka jaya, nilai-nila yang dominan adalah rasional. Kelak, jika sebuah peradaban menuju keruntuhannya, maka ketika itu yang dominan adalah nilai-nilai nafsu, syahwat dan materi, mendominasi generasinya.

Ketika menanjak, nilai yang dominan adalah spritual. Ketika datar nilai yang dominan adalah rasional. Dan ketika sedang turun, nilai yang dominan adalah material.

Sepanjang oran tidak percaya pada akhirat, maka ia tidak akan bertahan lama menjadi orang baik. Kita tidak bisa bertahan menjadi baik terus-menerus kecuali karena percaya, kita akan mendapatkan kompensasi lain atas seluruh perbuatan baik yang kita lakukan. Itulah bedanya kita dengan mereka.

Sumber:

(Majalah Sabili No. 12 Th.XVI 4 Muharram 1430 H/ 1 Januari 2009 M Kolom Tarqiyyah hal. 14-18)

(Sekretariat KAMMI Daerah Riau, Selasa, 8 Rajab 1430 H/ 30 Juni 2009 M 11:56 WIB)