Sabtu, Juli 11, 2009

Mencari Ilmu



(Thoriq)

Mencari ilmu wajib bagi setiap Muslim. Namun, sebelum melakukannya, seseorang perlu mengetahui adab-adabnya, sehingga ilmu yang diperoleh berkah dan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan para penuntut Ilmu:

Ikhlas

Sabda Rasulullah SAW:”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya,...(H.R Bukhari).

Imam Nawawi menyatakan, para ulama memiliki kebiasaan menulis Hadist ini di awal pembahasan, guna mengingatkan pencari ilmu agar meluruskan niat mereka sebelum menelaah kitab.

Mengutamakan yang wajib

Hendaknya penuntut ilmu mengutamakan ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain untuk dipelajari terlebih dahulu, semisal masalah aqidah, halal-haram dan kewajiban yang dibebankan kepada Muslim, maupun larangannya.

Setelah mempelajari fardhu ‘ain, boleh mempelajari ilmu-ilmu yang fardhu Kifayah, seperti menghapal Al-Qur’an dan Hadist, Nahwu, Ushul Fiqh dan lainnya. Selanjutnya, ilmu-ilmu yang bersifat sunah, seperti penguasaan salah satu cabang ilmu secara mendalam.

Meninggalkan yang tidak bermanfaat

Tidak semua ilmu boleh dipelajari, karena ada ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. Bahkan ada ilmu yang bisa menjerumuskan orang yang mempelajarinya kepada keburukan, misalnya ilmu sihir. Sebab, bisa menjadi jalan menuju kekufuran.

“ Dan mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak Kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Harud dan Marut,… (Q.S Albaqarah [2]: 102).

Menghormati ulama

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka aku telah mengumandangkan perang kepadanya (HR Bukhari).

Imam Syafi’I dan dan Abu Hanifah menafsirkan yang dimaksud dengan wali dalam hadist itu adalah para ulama. Sehingga jangan sampai seorang penuntut ilmu melecehkan mereka, Karena perbuatan tersebut mengundang murka dari Allah SWT.

Tidak Malu

Sifat malu dan gengsi bisa menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh ilmu. Karena itu, para ulama menasehati aar kedua sifat itu ditanggalkan, hingga pengetahuan yang bermanfaat bisa di dapat.

Memanfaatkan waktu

Hendaknya pencari ilmu tidak menyia-nyiakan waktu hingga terlewatkan kesempatan belajar. Ulama besar seperti Imam Bukhari, bisa dijadikan contoh dalam hal ini. Diriwayatkan bahwa beliau menyalakan lentera lebih 20 kali semalam untuk menyalin hadist yang telah beliau peroleh. Artinya, beliau amat menghargai waktu, malam haripun tidak beliau lewatkan kecuali untuk menimba ilmu.

Bermujahadah

Para ulama terdahulu tidaklah bersantai-santai dalam mencari ilmu. Tentu, kalau seorang Muslim menginginkan memiliki ilmu sebagaimana ilmu yang mereka miliki, maka harus bersungguh-sungguh, seperti kesungguhan yang telah mereka lakukan.

Ada yang mengatakan kepada Imam Akhmad saat beliau tidak kenal lelah dalam mencari ilmu,”Apakah engkau tidak beristirahat?” Beliau hanya mengatakan,” Istirahat hanya di Surga.”

Menghindari Maksiat

Bagi para pencari ilmu, nasihat Imam Al-Waqi’ kepada Imam As-Syafi’i mengenai sulitnya menghapal amatlah berharga. Imam Waqi’ menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah SWT, sehingga tidak akan pernah bersatu dengan jiwa yang suka bermaksiat.

Mengamalkan ilmu

Setiap ilmu yang dipelajari harus diamalkan. Para pencari ilmu hendaknya bersegera mengamalkan apa yang telah ia ketahui dan pahami, jika hal itu berkenaan dengan amalan yang bisa segera dikerjakan. Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan,” Wahai pembawa ilmu, beramallah denganilmu itu, barangsiapa yang sesuai antara ilmu dan amalannya, maka mereka akan selalu lurus.” (Riwayat Ad-Darimi).

Sumber:

(Majalah Hidayatullah, No.2 Thn.XXII Jumadil Tsani 1430 H/ Juni 2009 M Rubrik Adab, hal. 80)

(Kamar kostku, 9 Rajab 1430 H/ 11 Juli 2009 M 09:52 WIB)