Sabtu, Juli 18, 2009

Adab Menjadi Ahli Ilmu



(Hepi Andi)

Agar ilmu bernilai manfaat bagi pemiliknya, ia harus dicari dengan adab dan kesopanan. Ilmu ibarat pisau. Ia bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Karenanya bagi seorang Muslim ketika hendak menuntut ilmu harus melandasinya dengan niat tulus karena Allah. Dengan demikian, semua ilmu yang didapat akan bernilai pahala. Niat yang tulus dalam menuntut ilmu juga bisa menjadi pemandu yang akan mengarahkan, kemana si pemilik ilmu itu akan bergerak.

Agar ilmu bernilai pahala, maka ia harus bermanfaat bagi pemilik ilmu dan orang lain. Hal ini akan berpengaruh pada niat seseorang saat menuntut ilmu. Orang yang menuntut ilmu dengan harapan ilmunya akan bermanfaat bagi orang lain akan berusaha mencari ilmu kebaikan.

Selanjutnya, ilmu hanya akan memberikan manfaat kalau ia diajarkan kepada orang lain. Inilah diantara makna sabada Rasulullah Saw yang menyebutkan, “sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat” (HR Muslim). Karenanya, diantara 3 hal yang tetap mengalirkan pahala meski pelakunya sudah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat.

Selain itu, ilmu juga harus digunakan untuk membela syariat Allah, bukan untuk mengacak-ngacaknya seraya menuhankan akalnya. Harus dipahami bahwa akal itu ciptaan Allah. Karenanya, ia juga terbatas dan harus tunduk di bawah “titah” sang penciptanya. Manusia adalah unsure kecil dari makhluk Allah yang mempunyai beragam keterbatasan.

Untuk itu, para penuntut ilmu tidak layak menganggap dirinya dan akalnya berada diatas segalanya. Bahkan harus siap menerima perbedaan dari orang lain khususnya yang termasuk dalam area ijtihad, bukan persoalan aqidah.

Termasuk juga adab yang paling penting bagi penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang didapatnya atau yang lebih kita kenal dengan tabayyun. Inilah tradisi yang diwariskan para ulama. Mereka tidak mau menerma begitu saja ilmu yang mereka dapat. Bahkan, ada diantara mereka yang rela melakukan perjalanan panjang berbulan-bulan hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadist. Dalam hal ini diperlukan kesabaran, tidak cepat bosan dan keluh kesah.

Dengan memperhatikan adab tersebut, ilmu tidak hanya akan bermanfaat bagi pemiliknya, tapi juga orang lain. Ia menjadi penerang bagi sekitarnya dan mengalirkan pahala bagi si empunya.

Sumber:

(Majalah Sabili , No.10 Thn.XII 20 Syawal 1425 H/3 Desember 2004 M Rubrik Tarqiyah, hal. 75)

(Kamar kostku,Rabu, 23 Rajab 1430 H/15 Juli 2009 M 21:09 WIB)

Jawaban Ali Bin Abi Thalib Ketika Ditanya Tentang ilmu



(Hepi Andi)

v Ilmu lebih utama dari harta. Ilmu pusaka para Nabi sedang harta pusaka Qarun dan Fir’aun.

v Ilmu lebih utama dari harta, karena ilmu menjagamu sedangkan harta engkau yang harus menjaganya.

v Harta itu kalau engkau berikan akan berkurang, sebaliknya ilmu jika engaku berikan malah bertambah.

v Pemilik harta itu musuhnya banyak, sebaliknya pemilik ilmu itu temannya banyak.

v Ilmu lebih utama dari harta, karena diakhirat nanti pemilik harta akan dihisab sedangkan pemilik ilmu akan mendapatkan syafa’at.

v Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, teapi ilmu tidak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.

v Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati bercahaya.

v Ilmu lebih utama dari harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedangkan orang ang berilmu justru mengaku sebagai hamba karena iilmunya.

Sumber:

(Majalah Sabili , No.10 Thn.XII 20 Syawal 1425 H/3 Desember 2004 M Rubrik Tarqiyah, hal. 75)

(Kamar kostku,Rabu, 23 Rajab 1430 H/15 Juli 2009 M 11:45 WIB)