Sabtu, Januari 02, 2010

Kitman-Bab 9

9

FAKTOR-FAKTOR KITMAN YANG LAIN

A. Salah satu kebriliyanan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam bidang militer adalah aplikasi dari subyek kitman yang rapi. Selain itu, strategi-strategi militer Rasul lainnya tidak boleh dianggap lebih ringan atau kalah penting dari faktor-faktor kitman. Sesungguhnya kehidupan militer nabi penuh dengan “ibrah, nasehat, pelajaran dan hikmah yang seluruhnya perlu dikaji oleh para cendikiawan dan peneliti.

Maneuver-manuver Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam seewaktu menerapkan kitman, sangatlah mempesona. Pantaslah jika maneuver itu diteladani disetiap kurun waktu dan tempat. Beliau mempunyai anggota mata-mata yang berkeliaran dalam kota Madinah yang siap menyadap setiap bentuk informasi yang ringan ataupum penting yang membahayakan kemaslahatan umat, baik dalam keadaan damai atau perang.

Shahabat Huzaifah bin Yaman al-ibsi dikenal sangat mengetahui rahasia dari Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengenai orang-orang munafik yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Dengan ungkapan lain, dia adalah penyimpan rahaia Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam selama beliau hidup. Huzaifah dipilih oleh Rasulullah dari yang lainnya karena sangat ‘sarat” dengan teknik-teknik kitman sehingga tidak pernah membocorkan rahasianya sendiri kepada orang luar. Huzaifah mempunyai kepekaan otomatik (sensitifitas) yang tidak gamang menghadapi posisi sulit. Apresiasi beliau sangat tinggi terhadap urgennya merahasiakan informasi-informasi militer dari sadapan musuh hingga segala rencana-rencana dan tujuan kaum Muslimin tidak tersebar. Ia juga memilih kecakapan dan naluri yang tinggi untuk mengetahui setiap bentuk informasi. Semua sifat-sifat itu adalah sifat seorang mata-mata teladan. Dan terbukti, watak itu sungguh berpengaruh dalam hidup Huzaifah: setiap kali dia mendapatkan atau mendengar berita yang berdampak serius terhadap nasip hidup kaum Muslimin, dia melaporkan berita itu kepada orang yang berkompeten secepatnya.

Namun demikian kewajiban kitman tidak lantas terpikulkan atas pundak shahabat Huzaifah semata. Merupakan keharusan bagi setiap muslim untuk menunaikan kewajiban kitman. Mereka wajib mengawasi gerak langkah orang yang tidak jelas asal-usulnya, yang hoby dengan perilaku menyimpang, orang munafik, serta musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin secara keseluruhan.

Sekali waktu, shahabat Umair bin Sa’ad al-Anshary mendengar Jallas bin Suwaid bin Shamit dulunya dia tidak ikut dalam perang tabuk- mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seoarang muslim terhadap Rasulullah. Lalu Umair melaporkan hal tersebut kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Padahal Umair waktu itu dibawah tanggung jawab Jallas yang telah memperistrikan ibunya sesudah bapaknya wafat, “Demi Allah wahai Jallas! Kamu adalah orang yang saya sukai, paling dermawan, dan yang paling tidak saya senangi jika tertimpa musibah. Tetapi kamu telah mengucapkan kata-kata yang jika ku bocorakan akan membuatmu malu, tapi bila saya diamkan niscaya akan merusak dienku. Namun yang pasti, salah satunya lebih lebih ringan disbanding yang lain “.

Ketika dihadapkan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam, Jallas bersumpah, “Sungguh Umair telah menuduhku dengan bohong. Apa yang diucapkan Umair itu tidak pernah aku katakana!”

Lalu Allah Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya mengomentari kasus ini:

“ Mereka ( orang – orang munafik itu ) bersumpah dengan ( nama ) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan ( sesuatu yang menyakitimu ). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya ; dan mereka tidak mencela ( Allah dan Rasul-Nya ), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.Maka, jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka. Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan mereka sekali – kali tidak mempunyai pelindung dan tidak ( pula ) penolong di muka bumi “. ( Q.S. At-Taubah : 74 )

Dengan peringatan Allah ini, Jallas kemudian bertaubat dengan taubatan nasuha. Selanjutnya, ia tetap dikenang dengan kebaikan dan keislamannya yang terpuji.

Pada waktu ayat diatas turun, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam berkata kepada Umair ; “wahai pemuda Telingamu sungguh tajam dan sungguh Rabb-mu telah membenarkanmu”.

Seorang muslim sejati senantiasa waspada dan teguh memegang amanah rahasia dan juga terhadap seluruh kepentingan-kepentingan kaum Muslimin yang strategis.

B. Sebagaimana halnya Nabi Shollallahu Ailaihi Wa Sallam memiliki mata-mata dalam kota Madinah yang bertugas menjamin langgengnya kesatuan kekuatan dalam negeri dan mencegah bobolnya benteng-benteng pertahanan dalam kota; beliau pun memiliki mata-mata diluar kota Madinah, yaitu dikota Makkah, ditengah perkampungan kabilah-kabilah Arab yang oposan dinegeri Ramawi, dan di negeri Persia.

Para mata-mata itu selalu menginformasikan kepada Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam setiap bentuk berita, baik berita kecil, berita penting dan berbahaya, atau mungkin juga sesuatu yang berbahaya atau startegi bagi kepemimpinan Islam dan kaum Muslimin.

Hal-hal seperti itulah yang menjelaskan kepada kita sebab-sebab kemenangan beliau atas musuh - musuhnya yang begitu banyak. Beliau selalu berhasil mengetahui rencana-rencana musuh sedini mungkin. Beliaupun dengan mudah menggagalkan segala bentuk makar musuh yang ditujukan kepada Islam dan umat Islam.

Di sisi lain kenyataan diatas juga menerangkan kepada kita sebab-sebab tidak sanggupnya kaum musyrikin, bangsa Yahudi, dan musuh Islam pada umumnya melancarkan serangan mendadak atas pasukan Nabi. Sebaliknya, justru beliaulah yang berhasil merepotkan musuh-musuh Islam dengan gempuran dadakan yang mengejutkan dalam berbagai ghazwah (peristiwa perang yang beliau ikuti) atau sariyah ( yang tidak sempat beliau ikuti ). Adapun intel dan mata-mata beliau yang menyebar diluar kota Madinah terdiri dari pribadi muslim yang merahasiakan keislamannya atau juga berasal dari keluarga beliau sendiri.

Sebelum perang Uhud meletus, Abbas paman Nabi, mengirim sepucuk surat kepada beliau berisi jadwal keberangkatan pasukan musyrikin Quraisy untuk menggempur beliau, lengkap dengan jumlah anggota kekuatan perang tersebut. Dengan cepat sekali, kurir surat Abbas menyanpaikan surat tersebut kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Sampai-sampai jarak yang membentang Mekkah dan Madinah Cuma “dilahapnya’ dalam tempo 3 hari. Kurir tersebut mendapatkan Nabi Shollallahi Alihi Wa Sallam tengah beristirahat di dalam mesjid Quba. Selanjutnya surat itu diserahkan kepada Nabi. Begitu Abbas dan beberapa orang penduduk Mekkah melaporkan kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam seluruh manuver serta rencana Quraisy dan sekutu-sekutunya.

Apa yang telah terjadi pada diri Abbas, terjadi juga pada sebagian orang yang hidup menyelinap ditengah kabilah-kabilah yang oposan terhadap kaum Muslimin, atau juga mereka yang hidup di negeri Persia dan buni Romawi.

Saya tidak memandang perlu untuk menyebutkan bahwa Allah AzzaWa Jalla memang senantiasa bersama Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Tidak diragukan lagi Allah mendukung Nabi dengan berbagai kemenangan dan memberikan memberikan pertolongan-Nya. Akan tetapi Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam beserta seluruh prasayarat – prasayarat kemenangan yang telah beliau persiapkan sebelumnya hendaknya dijadikan teladan yang baik oleh umatnya kelak, dan juga sebagai realisasi dari ayat – ayat jihad yang terdapat dalam Islam. Seperti firman Allah :

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda – kuda yang ditambat untuk berperang ( yang dengan persiapan itu ) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang – orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkhkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya “. ( Q.S. Al – Anfal : 60 )

Dan boleh jadi kitman merupakan hal yang terpenting diantara sekian koleksi prasyarat – prasyarat perang Rasulallah. Sebuah kaidah cemerlang yang terkenal mengatakan bahwa bangsa yang sanggup menjaga rahasia – rahasia militernya adalah bangsa yang berpeluang untuk meraih kemenangan. Sebaliknya, bangsa yang tidak sanggup menjaga rahasia - rahasia militernya adalah bangsa yang sama sekali tidak berpeluang merauh kemenangan.

Apa yang berlaku pada level bangsa juga berlaku pada level individu, karena satu bangsa terdiri dari beberapa individu, persis sebagaimana satu bangunan terbuat dari beberapa rangkaian batiu bata.

Khusus untuk kalangan militer, mereka dituntut senantiasa berada di permukiman kitman yang ketat. Demikian juga, kalangan sipil dituntut berkitman yang rapi dikarenakan militer berasal dari rakyat dan di tambah lagi bahwa rencana – rencana militer terkadang tidak mungkin disembunyikan dari penglihatan rakyat. Seluruh pucuk pimpinan militer harus menjadi teladan yang terbaik dalam berkitman. Sebab pimpinan yang tidak memiliki sifat kitman pasti akan menggiring bawahannya ke jurang kebinasaan.

Adapun kasus percoboran rahasia militer yang dilakukan dengan sengaja, baik oleh kalangan militer maupun kalangan sipil, jelas tergolong tindakan pengkhianatan. Dan jika jika hal itu terjadi pada diri pucuk pimpinan militer dan sipil, maka itulah pengkhianatan besar.

Orang yang tidak mampu menjaga rahasia militer bangsanya, maka sesungguhnya kehadiran dia ditengah bangsanya hanya mendatangkan keuntungan bagi puhak musuh. Sesungguhnya suatu hal yang memalukan, manakala kehadiran seseorang di tengah bangsanya tidak memberikan manfaat, bahkan justru menguntungkan pihak musuh.

Alangkah banyaknya kata – kata terlontar yang dikira sepele, padahal dalam kenyataannya dia adalah rahasia militer yang jika dibocorkan akan mengakibatkan malapetaka terhadap pihak militer itu. Sejarah perang adalah bukti terbaik. Di dalamnya terdapat banyak ibrah bagi mereka yang ingin belajar.

Sesungguhnya kitman dalam pandangan Islam merupakan bagian dari dien yang langsung di ajarkan Al – Qur’an dan telah dipraktekkan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam kehidupan militer beliau.

Sungguh benar apa yang telah disinyalir oleh Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam ;

“ Diantara ciri baiknya kualitas Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa – apa yang tidak berguna baginya “

Seorang muslim yang sejati akan meneladani Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam sebab jika tidak , dia tidak lebih dari seorang muslim status ( muslim KTP ) atau seorang yang mengaku – ngaku muslim, sementara Islam sendiri jauh dari dirinya.

Kitman-Selesai

KHATIMAH

Jika sikap kitman wajib dimiliki oleh seluruh bangsa di mana setiap individu yang terdapat dalam kelompok bangsa itu harus komitmen dengan kitman; maka persoalan kitman dalam Islam lebih dari sekedar itu. Kitman adalah persoalan Dien ( agama ) yang wajib ditaati oleh setiap muslim yang memiliki iman yang tulen !!

Seorang muslim yang sejati pasti kokoh dalam menjaga rahasia. Ini bisa terealisasir karena dia patuh terhadap Sabda Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam,

“ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau sekalian diam saja “.( H.R. Bukhari Muslim )

Jika kehadiran kitman dalam kisah – kisah perang zaman lampau adalah suatu yang urgen bagi personel pasukan, maka sifat kitman dalam perang modern lebih dari sekedar mendesak melihat inovasi alat – alat penyadap informasi dan instrumen – instrumen canggih untuk mengumpulkan berita – berita.

Ada instrumen elektronik yang sanggup mengirim informasi apa saja ke pihak lawan sekejap mata. Juga ada pesawat – pesawat pengintai yang mampu meleset ke udara tanpa pilot, kapal selam mata – mata bertenaga nuklir, dan alat – alat penyadap yang bisa memberitahukan musuh dengan kilat setiap bisikan yang terucap dibalik dinding, Mungkin saja orang yang pernah mengucapkan“Dinding itu mempuyai kuping “ telah mengetahui dari balik tirai kegaiban akan lahirnya, kelak alat – alat spionase elektronik yang berfungsi memindahkan informasi ke pihak musuh dalam waktu yang sangat singkat.

Kita harus mengkaji kitman dan mengajarkannya kepada anak – anak dan istri – istri kita agar kitman itu mengental menjadi kebiasaan dalam sifat kita. Hanya itu jalan satu – satunya yang bisa meluputkan kita dari sentuhan jari – jari tujuan spionase musuh.

Sebenarnya kita masih banyak memiliki bahan – bahan percakapan dimana kita bisa menghabiskan waktu dengannya tanpa harus menjerumuskan diri dalam pembicaraan soal – soal militer yang boleh jadi berakibat terbukanya peluang bagi musuh mengetahui dan tentu saja bisa berbuat apa saja atas nasib kita

Segala puji – pujian bagi Allah; semoga senantiasa tercurah atas junjungan dan pemimpinku Rasulallah beserta seluruh keluarga dan shahabatnya.

SELESAI

Kitman-Bab 10

10

BAGAIMANA KITA MENJAGA RAHASIA ?

Masalahnya sekarang ; bagaimana caranya menjaga rahasia – rahasia militer kita?

Jawabannya sendiri sangatlah gampang. Tapi untuk meletakkan jawaban itu di atas bingkai realitas, sungguh membutuhkan perjuangan yang berat!

Gejala doyan ngomong ( hobbi bicara ) telah menjadi adat yang mengakar pada kebanyakan manusia. Dan itulah salah satu kelemahan kita yang harus kita basmi tanpa kenal sedikit pun belas kasih !

Mereka yang respek terhadap nilai pentingnya menjaga rahasia, harus memperingatkan mereka yang senang mengumbar rahasia di mana – mana, hanya untuk mengeyangkan jiwanya yang lapar popularitas ( syahwatul kalaam ).

Mereka yang paham tentang keistimewaan kitman berkewajiban menyuruh bungkam setiap orang yang mengetahui rahasia gerakan Islam, baik berasal dari keluarga jauh ataupun kerabat dekat.

Adapun jika dia bersama orang lain, mendengar dan membiarkan saja orang membocorkan rahasia – rahasia militer Islam; kemudian dia tidak mengucapkan satu kata pun larangan yang tegas , maka dia tergolong berkomplot dengan pembocor itu dalam menyebarkan rahasia.

Demikian juga personil – personil militer beserta komandan – komandannya harus dilatih agar memiliki sifat kitman yang semakin baik mungkin.

Sungguh di antara faktor – faktor kekalahan bangsa Arab dalam perang Juni 1967, adalah bahwa Israel - sebagaimana yang telah diutarakan oleh para pemimpinnya – mampu meraup detail – detail rahasia militer Arab dari satu segi, dan sekaligus sukses menyembunyikan rahasia – rahasia militernya pada segi yang lain. Sangat mengherankan, bagaimana mass - media Arab menyediakan “ pelayanan gratis “ tentang informasi rahasia militer mereka yang seharusnya tetep rapi dalam pengawasan yang rapat.

Bukanlah tergolong dalam lingkaran kitman ( menjaga rahasia ) bila membeberkan dan menyiarkan kabar evakuasi kesatuan – kesatuan pasukan dari satu tepat ke tempat lain!

Bukanlah tergolong dalam lingkaran kitman ( menjaga rahasia ) bila membocorkan kabar transaksi pembelian senjata, baik menyangkut jumlah senjata, gudang – gudang penyimpanan ( arsenal )!!

Bukanlah tergolong dalam lingkaran kitman ( menjaga rahasia ) bila menyiapkan gambar – gambar senjata itu, menceritakan seluruh rencana dan tujuan di lapangan !!

Orang yang ingin menumpas habis musuhnya, tidak mungkin mengatakan kepada musuhnya mengatakan kepada musuhnya itu saban hari, “ Saya ingin menghabisimu…saya ingin membunuhmu …!!

Justru yang paling bisa dicerna bila ia memendam rapat – rapat niatnya. Bahkan bila perlu ia berkamuflase sehingga timbul kebingungan dalam diri musuhnya itu.

Maka bagaimanaa pula halnya dengan bangsa yang berniat menghancurkan musuhnya, mungkin sebagai tindakan balasan atas hak – haknya yang terampas, selalu dan selalu mengatakan kepada musuhnya itu secara terbuka , “ Saya akan mnghancurkan kalian, saya akan menteror kalian…!!

Untuk itu wajib menjadi slogan atas tiap individu Arab dan Muslim, bahkan atas seluruh bangsa Arab dan umat Muslin, “Saya tidak mendengar… saya tdak berkomentar” !!

Kondisi – kondisi yang dewasa ini sesungguhnya menurut kita untuk komitmen dan seni kitman yang sholid .Dan kita semuanya telah menyaksikan bagaimana sikap komitmen tersebut telah membuahkan kemenangan gemilang bagi generasi awal kaum Muslimin. Yang tersisa , apakah kita sanggup mengambil ‘ibrah dari cerira – cerita tentang kitman yang telah dipraktekkan oleh Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam pada 14 abad yang lalu itu? Ataukah kita masih tetap butuh kepada malapetaka dan kehancuran???

Jumat, Januari 01, 2010

Kitman-Bab 8

8

PELAJARAN BERHARGA DARI FATHU MAKKAH

A. Pada peristiwa Fathu Makkah yang terjadi di bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, praktek kitman Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mencapai puncak pesonanya. Sedemikian briliannya cara itu sehingga perang itu terkategorikan satu teladan terbaik dalam sejarah kitman.

Nabi telah mengomando shahabat – shahabatnya untuk bersiap – siap bergerak, beliau juga telah mengutus utusan kepada kabiah – kabilah yang telah masuk Islam, memberi tahu mereka agar bersiap –siaop. Selanjutnya beliau menyuruh keluarganya berkemas kemas mempersiapkan segala kebutuhan beliau dalam perjalanan. Namun demikian , beliau sama sekali tidak memberitahu seorang pun dari kaum Muslimin, baik yang ada di dalam kota Madinah maupun yang berada di luar ; tentang rencana, cita – cita, dan arah tujuan beliau. Bahkan, beliau merahasiakan semua itu dari orang _ orang yang paling dekat dengan beliau . Selain itu , beliau juga telah mengirim 1 regu pasukan di bawah komando Abu Qatadah Al- Anshari ke lembah Adham untuk menambah tebalnya kabut rahasia rencana dan tujuan beliau yang sesungguhya.

Satu waktu, shahabat Abu Bakar Shiddiq Radliyallahu Anhu datang menemui putri beliau Aisyah. Saat itu Aisyah sedang mengemasi perlengkapan – perlengkapan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam.– orang yang paling dekat dengan beliau. Selain itu, beliau juga telah mengirim 1 regu pasukan dibawahkomando Abu Qatadah Al- Anshari ke lembah Adham untuk menambah tebalnya kabut rahasia rencana dan tujuan beliau yang sesungguhnya.

Satu waktu, shahabat Abu Bakar Shiddiq Radliyallahu Anhu datang menemui putri beliau Aisyah. Saat itu Aisyah sedang mengemasi perlengkapan – perlengkapan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Abu Bakar berkata kepada putrinya ; “ Wahai putriku, apakah Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam telah menyuruh kamu untuk berkemas – kemas ? Aisyah menjawab, “ Benar, dan sebisanya ayahanda berkemas – kemas juga ! “

Abu Bakar bertanya , “ Tahukah kamu kemana gerangan arah yang diinginkan Rasulallah ? “

Aisyah menjawab, “ Demi Allah saya tidak tahu ! “

B. Saat bergerak menjelang dekat, Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam baru mengumumkan bahwa beliau ingin menuju Mekkah. Namun jauh sebelum itu, beliau telah mengirim mata – mata dan intel untuk mencegah bocornya berita tentang tujuan bergeraknya beliau ke tangan Quraisy. Ternyata , seorang shahabat bernama Hatib bin Abi Baltaah mengirim sepucuk surat yang dititipkan pada seorang perempuan yang sedang mengadakan perjalanan menuju Mekkah. Dalam surat itu dia secara tidak langsung dapat membocorkan rahasia kepada bangsa Quraisy tentang rencana kaum Muslimin menaklukan kota Mekkah. Setelah Nabi mengetahui kasus surat itu, beliau segera mengutus Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam untuk mengejar wanita itu. Keduanya berhasil menyusul si pembawa surat dan lalu merampas surat tersebut darinya. Kemudian Rasulallah memanggil Hatib dan bertanya kepadanya , Apa yang mendorong kamu hingga berbuat seperti ini ? “

Hatib menjawab, “ Wahai Rasulallah , demi Allah sungguh saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan saya tidak sedikitpun bergeser dan berubah dari keyakinan itu. Tapi saya ini adalah seorang lelaki yang sama sekali tidak memiliki keluarga dan kerabat. Ditengah bangsa Quraisy itu terdapat anak – anak dan keluargaku. Saya melakukan semua itu untuk melunakkan hati Quraiy demi keselamatan keluargaku “.

Umar in khattab berkata, “ Wahai Rasulallah , izinkanlah saya menebas lehernya, sungguh dia telah berlaku nifak ! “

Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam berkata, “ Boleh jadi dia berkata jujur kepada kalian, tetapi bukankah Allah telah berfirman kepada orang – orang yang telah ikut dalam perang Badar : ‘ Berbuatlah sesukamu! ‘. “

Ternyata masa lalu Hatib yang penuh dengan warna jihad telah menyelamatkan jiwanya. Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam memaafkan Hatib dan menyuruh kaum Muslimin untuk menyebut hal – hal yang baik saja tentang shahabat Hatib.

Begitulah puncak kesiapan dan kehati-hatian Rasulallah dalam membendung bocornya informasi – informasi tentang kaum Muslimin kepada orang – orang musyrikin. Ini merupakan bukti nyata dari realisasi pola kitman yang rapi. Dan lihatlah puncak komitmen shahabat – shahabat yang mulia seperti Umar bin Khattab berani “ tampil “ ke depan minta persetujuan dari Rasulallah untuk menghabisi nyawa Hatib bin Abi Baltaah karena dia telah gagal menjaga kitman.

C. Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam sangat menginginkan agar seluruh rencananya tidak bocor saat hendak berangkat untuk menaklukan Makkah. Jalan untuk mewujudkan cita – cita itu adalah dengan kitman yang ketat. Beliau tidak menceritakannya hatta kepada orang paling beliau cintai dan sayangi – Abu Bakar As- Shiddiq. Bahkan beliau juga tidak membeberkan rencana tersebut kepada istrinya yang paling dicintai – Aisyah binti Abu Bakar. Seluruh rencana itu tetap saja tersembunyi rapat hingga beliau selesai menyempurnakan seluruh persiapan pemberangkatan, dan hingga isyarat peringatan dari beliau telah tersebar merata pada seluruh kabilah muslim yang bertempat tinggal di luar kota Madinah untuk segera menyiapkan segala pembekalan. Beliau baru menceritakan rencana untuk bergerak ke arah kota Makkah , di saat tidak ada lagi alasan untuk meneruskan kitman. Karena rencana berangkat sudah dekat, dan karena waktu yang dibutuhkan bagi bocornya informasi keberangkatan beliau ke kota Makkah sudah tidak memungkinkan lagi. Namun beserta semua tidak memungkinkan lagi. Namun beserta semua hal tersebut diatas, beliau tetap saja mengirim intel dan mata – mata yang bertugas mencegah tersebarnya informasi tentang gerak beliau menuju bangsa Quraisy. Beliau menempatkan beberaopa orang mata – mata dalam kota Madinah untuk memberantas habis segala kemungkinan bocornya informasi gerakan beliau lewat mulut penduduk kota Madinah ke penduduk kota Mekkah. Anda telah mengetahui bagaimana shahabat Hatib bin Abi Baltaah kepergok sewaktu mengirim surat ke Mekkah yang mana surat itu akhirnya berhasil direbut sebelum tiba pada tujuanya. Selainitu, beliau juga menyebar regu – regu spionase di dalam dan di luar kota Madinah untuk mencegah orang – orang Quraisy menyadap rencana kaum Muslimin sekaligus menutup peluang bagi orang – orang munafik dan orang – orang yang punya loyalitas kepada bangsa Quraisy mengirim informasi kepada mereka.

Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam tetap waspada penuh hingga beliau berhasil meraih sukses besar lewat petunjuk – petunjuk preventif sebelumnya guna mencegah bangsa Quraisy dan sekutu – sekutunya mengetahui rencana kaum Muslimin . Pasukan Muslimin telah tiba di Marra Dzahran, sebuah tempat yang telah 12 mil dari arah kota Makkah. Disanalah mereka mendirikan perkemahan.

Selanjutnya Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam menginstruksikan kepada setiap tentara kesatuannya masing – masing menyalakan obor api di malam hari agar orang Quraisy bisa menyaksikan dahsyatnya kekuatan militer Islam tanpa diberi peluang untuk memahami hakekat dari tujuan kedatangan kaum Muslimin sedikitpun. Manuver itu tentu saja membawa pengaruh buruk terhadap semangat juang Quraisy dan – boleh juga – mereka akan menyerah tanpa peran. Lewat manuver itu, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam telah menegaskan adanya jaminan keamana bagi seluruh rencana militer beliau untuk menerobos masuk ke dalam kota Mekkah tanpa harus diselingi pertumpahan darah.

Lalu pasukan berkekuatan 10.000 Tentara itu menyulut obor – obor api mereka. Bangsa Quraisy menyaksikan lidah – lidah api yang tak terkira banyaknya memenuhi seluruh cakrawala luas.Tiba – tiba terlihat Abu Sufyan bin Harb, Budail bin Warqa Al-Khuzai, dan Hakim bin Hizam tergopoh – gopoh meninggalkan meninggalkan kota Mekkah menuju arah sumber api – api itu. Ketika mereka melihat dari markas perkemahan kaum muslimin , berkata Abu Sufyan kepada rekannya Budail, “ Aku tidak pernah menyaksikan jumlah obor dan tentara yang begitu banyak seperti malam ini “, Budail mengomentari perkataan Abu Sufyan , “ Demi Allah, itu adalah kabilah Khazanah yang marah dan telah bergerom,bol untuk perang “. Tapi Abu Sufyan tidak puas dengan komentar Budail. Dia lalu berkata, “ Kabilah Khazanah terlalu besar kepala dan terlalu bangga untuk mamiliki obor api sebanyak ini “.

Sebenarnya bangsa Quraisy sejak lama mendengar bahwa kaum Muslimin akan menyerbu kota Mekkah. Namun mereka tidak tahu kapan, bagaimana, dan di mana awal serbuan yang akan datang itu. Ternyata sukses itu sepenuhnya milik kitman yang rapi. Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tidak pernah lengah sedikit pun dari kitman pada saat terjadinya problematika militer yang serius. Hal itu berlangsung karena rencana kaum Muslimin untuk menyerbu dan menaklukkan kota Mekkah jika diketahui Quraisy tentu mereka akan punya waktu untuk menyusun kekuatan, mengundang kembali konco – konconya, sekaligus merancang strategi militer yang ampuh untuk menggagalkan rencana penyerbuan kaum Muslimin Dan boleh jadi, mereka sebisanya akan melancarkan perlawanan dalam waktu yang lama. Ini akan melahirkan kerugian jiwa dan materiil yang tidak perlu pada pasukan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

D. Selain merahasiakan rencana dan waktu penyerbuan Makkah, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam berhasil merahasiakan jumlah pasukan beliau yang sedang bergerak bersiap – siap menaklukkan kota Makkah.

Paman Nabi – Abbas, dengan perencanaan Nabi keluar meninggalkan tempat berkemahnya kaum keledai tahu bangsa Quraisy perihal tibanya sebuh pasukan besar yang tidak bisa ditandingi. Tujuannya agar semangat juang mereka goyah dan terpaksa takluk menyerah tanpa perlu berperang. Dengan demikian darah – darah mereka tetap terjaga dan bisa memperoleh jaminan keamanan lewat jalan damai dengan kaum Muslimin, sekaligus terhindar dari kehancuran total yang tidak akan lahir kecuali dari sikap fanatisme jahiliyyah.

Dalam perjalanan menuju kota Makkah malam itu, Abbas mendengar perbincangan Abu Sufyan dan Budail bin Warqa. Lalu dia memanggilnya dan menginformasikan kedatanan pasukan kaum Muslimin. Abbas menyarankan agar Abu Sufyan menghadap langsung kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam untuk memnta petimbangan dia dan bangsanya tidak mendapat hukuman, sebelum pasukan Muslimin memasuki kota Makkah esok pagi. Rupanya Abu Sufyan setuju dengan saran Abbas itu. Lalu keduanya naik ke atas punggung keledai Nabi, sama – sama menuju arah tempat berkemahnya kaum Muslimin.

Setibaya di perkemahan kaum Muslimin, Abbas dengan tenang berjalan sambil melewati obor – obor api Muslimin menuju kemah Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Kaum Muslimi melihat Abbas tapi tidak mengusiknya karena mereka telah mengenal baik siapa Abbas. Tatkala mereka lewat di depan obor Umar bin Khattab , rupanya Umar mengenal Abu Sufyan dan paham bahwa Abbas ingin memberi perlindungan kepada Abu Sufyan. Dengan cepat Umar bin Khattab berlari kearah kemah Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Sesampainya disana, dia memohon agar diperkenankan Nabi untuk memenggal saja leher Abu Sufyan. Tetapi Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam meminta dari paman beliau untuk membawa Abu Sufyan ke dalam kemahnya dan menghadapkannya esok hari.

Tatkala mentari pagi telah terbit, Abu Sufyan telah dibawa kehadapan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Abu Sufyan lalu mengumumkan ke-Islamannya. Akhirnya Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam memaafkan dia dan menjamin kemanannya. Abbas Radliyallahu Anhu berkata, “ Wahai Rasulallah! Sesungguhnya Abu Sufyan senang dengan penghormatan ini, ( maksudnya ampunan dari Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ) untuk itu anugerahkan kepada dia sesuatu “.

Lalu Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda ,” Baiklah ! Barang siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan maka dia aman. Barang siapa yang menutup pintu maka dia aman. Dan barang siapa masuk ke dalam mesjid el-Haram maka dia aman”.

Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam ingin sekali melihat segala sesuatu berjalan lancar. Beliau berusaha mencegah terjadinya perang antara kaum Muslimin dan bangsa Quraisy. Untuk itu beliau menugaskan Abbas menahan Abu Sufyan di leher sebuah lembah yang kelak akan di lewati pasukan Muslimin. Taktik ini dimaksudkan agar Abu Sufyan bisa menyaksikan langsung seluruh kekuatan kaum Muslimin hingga tidak lagi tersisa dalam benaknya keinginan untuk melawan.

Berkata Abbas,

“ Aku keluar bersama Abu Sufyan dan menahannya di lereng yang sempit pada sebuah lembah sesuai instruksi Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Tak lama kemudian lewatlah kabilah – kabilah kaum Muslimin dengan membawa panjinya masing – masing. Tiap satu kabilah berlalu Abu Sufyan bertanya ; “ Wahai Abbas, siapakah mereka itu ? “, Aku menjawab; “ Itulah kabilah Sulaim ”. Kemudian dia berkata ; Ada apa gerangan antara aku dan kabilah Sulaim ? “. Kemudian lewat lagi satu satu kabilah, dia bertanya; “ Siapakah mereka itu?” Aku menjawab “ Kabilah Muzainah “. Lalu dia berkata ; “ Ada apa gerangan antara aku dengan kabilah Mauzainah ? “. Demikian hingga tidak lewat satu kabilah kecuali Abu Sufyan menanyakan kepadaku siap mereka itu,ada apa gerangan antara aku dengan kabilah fulan itu. Akhirnya lewatlah Rasulallah bersama rombongannya yang besar, di dalam barisan itu terdapat kaum Muhajirin dan Anshor semuanya membawa tombak – tombak besi . Abu Sufyan berkata , “Maha Suci Allah ! Wahai Abbas siapakah mereka itu gerangan ? “. Aku menjawab, Inilah Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersama kaum Muhajirin dan Anshor “. Abu Sufyan berkata; “ Tidak satu kekuatan pun yag mampu menandingi mereka! Demi Allah wahai Abu Fadhal ( panggilan Abbas ) sungguh keponakanmu itu telah menjadi raja yang perkasa!”. Aku berkata, “ Wahai Abu Sufyan, sesungguhnya itulah bikti ke-Nabian”. Abu Sufyan menjawab, Ya betul!”. Kemudian aku berkata kepadanya, cepatlah kamu kembali ke kaummmu !” Dengan bergegas Abu Sufyan menuju kota Makkah. Lalu dia memasukinya dengan perasaan penuh kebingungan dan ketakutan”.

E. Bagi sebuah pasukan berkekuatan 10.000 orang barangkali terdiri dari seluruh kabilah Arab – bergerak dari kota Madinah ke arah Makkah tanpa Quraisy dan sekutu – sekutunya mampu mendeteksi waktu keberangkatannya, gemuruh hentakan barisannya,tujuannya, besar pasukannya dan logistiknya, hingga kaum Muslimin yang jaya itu sampai di bukit – bukit kota Mekkah bukanlah perkara yang enteng sama sekali. Akibatnya jelas sekali, di hadapan Quraisy dan sekutunya tidak tersisa lagi harapan kecuali menyerah!.

Sesungguhnya kitman Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam seluruh rencana – walaupun untuk orang terdekat beliau – dan kitman beliau saat bergeraknya pasukan beserta seluruh persiapan, pengaturan dan pembekalan senjatanya itulah yang melahirkan Fathul-Qarib ( kemenangan yang dekat ).

Sesungguhnya pelajaran – pelajaran kitman dalam kasus Fathul-Makkah- sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas termasuk satu cotoh mengagumkan dalam memegang teguh sifat – sifat kitman secara total. Perang ini ( Fathul Makkah ), serta seluruh persoalan kitman yang dikandungnya, merupakan satu bahan studi yang layak di ajarkan di bangku – bangku akademi militer Arab dan dunia Islam, lewat telaah sejarah perang. Ini dimaksudkan agar tentara – tentara Arab dan Islam mengetahui bagaimana praktek Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam berkitman, bagaimana beliau mampu mengalahkan musuh – musuhnya dengan memakai faktor yang sangat vital ini – diantaranya sekian faktor dalam menentukan prinsip serangan mendadak ( mubaghatah ).