Sabtu, Desember 03, 2016

002 Menyambung Tali Silaturrahim - 65 Kiat Islam Membangun Relasi


Pada suatu hari saya mengunjungi rumah jompo, tiba-tiba saya mendapati seorang bapak yang telah berusia renta dan beruban, ia menangis karena kesedihan yang mendera, dalam isaknya ia berkata,”Tahukah kamu, bahwa anakku sudah dua tahun ini tidak lagi mengunjungi, padahal aku selalu mengunjungi keluarga sekali dalam seminggu.” Dan, demi Allah, jika kamu melihat kegembiraan dan keceriaan yang tersirat di wajah mereka, juga doa yang kupanjatkan untuk mereka, niscaya kamu akan menemukan sebuah kekerabatan dan keharmonisan.

Bukankah untuk mewujudkan cita-cita mulia ini Rasulullah SAW telah menganjurkan kita membangun silaturrahim.

Seperti diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Allah telah menciptakan para makhluk, lalu tatkala selesai dari penciptaannya tiba-tiba sang Rahim bangkit dan memegangi pinggang Ar-Rahman. Maka Allah bertanya kepadanya, ‘Kenapa engkau berbuat demikian? Ia menjawab, Ini adalah tempat perlindungan kepada-Mu dari keterputusan.’ Allah Berfirman,’Sudikah engkau jika Aku sambungkan orang yang menyambungmu dan Aku putuskan orang yang memutuskanmu?, Maka ia menjawab,’Iya, aku sudi wahai tuhan.’ Allah berfirman, ‘Maka begitulah.’” (HR. Bukhari  [4455])

001 Berziarah - 65 Kiat Islam Membangun Relasi

“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran [03]:159)

Tidak benar jika Islam dituduh sebagai agama yang mengajarkan untuk bersikap tertutup, terisolir dan mementingkan diri sendiri.

Lewat buku ini penulis membuktikan paling tidak dengan 65 kiat membangun, memperkuat dan memperluas relasi menjadi dalil bahwa anda sangat merugi jika hanya mendapati diri anda sendiri, tanpa ada kemampuan untuk bersosialisasi.

SYARIAT ISLAM BERMULA DARI DAERAH ? (Bagian 4 - Habis)

Daerah ( Bisa ) Menjadi Pelopor
 


Banyaknya urusan yang dilimpahkan pusat kepada daerah membuat daerah mempunyai wewenang untuk menyusun dan mensahkan berbagai peraturan daerah sesuai urusan yang dipegangnya. Peranan DPRD menjadi lebih besar dan posisinya tidak lagi sebagai pemerintah daerah seperti sebelumnya. Hubungan checks dan balances yang sebenarnya dapat dilakukan diantara DPRD II sebagai legislatif dan pemerintah daerah sebagai eksekutif. Melalui mekanisme pengambilan keputusan diantara kedua lembaga tersebut, inisiatif masyarakat dapat lebih terakomodasi. Seberapapun lemahnya kualitas anggota legislatif daerah dari menurut penilaian banyak pihak, potensi mereka wakil rakyat menjadi modal utama bagi tersalurnya keinginan komunitas lokal dan identitas serta ciri khas komunitas – komunitas lokal dapat diperkuat.

Salah satu bentuk output dari otonomi daerah adalah wewenang yang besar bagi DPRD II untuk membuat keputusan dalam bentuk Peraturan Daerah ( Perda ). Perda inipun tidak perlu mendapat persetujuan dari pusat terlebih dahulu sepanjang tidak menyentuh lima wewenang yang tetap dipegang oleh pusat. Perda – perda yang dihasilkan hanya memerlukan pemberitahuan kepada pusat. Perda ini mempunyai kekuatan hokum yang kuat karena mengikat seluruh warga yang tinggal di wilayah administratif suatu daerah. Kekuatan riil masyarakat lokal dapat diidentifikasi dari kemampuan mereka untuk mendesakkan peraturan – peraturan yang sesuai dengan keinginan masyarakat di suatu daerah. Peluang untuk mendesakkan perda – perda yang diinginkan masyarakat sangat besar, termasuk mendesakkan persoalan – persoalan yang sesuai dengan syariat Islam. Cukup banyak persoalan yang sebenarnya dapat didesakkan ke dalam bentuk Perda karena syariat Islam sendiri 80 – 90 persen isinya menyangkut masalah – masalah yang berkenaan dengan muamalah atau hubungan antara individu manusia secara sosial atau dalam istilah hukumnya hukum perdata atau hukum privat. Sedangkan di dalam kehidupan hampir seluruhnya mengatur hubungan antar individu dengan masyarakat. Dan di dalam suatu Negara, hukum privat itu merupakan mayoritas dari hukum yang berlaku di suatu Negara.

SYARIAT ISLAM BERMULA DARI DAERAH ? (bagian 3)

Syariat Islam di Gerbong Otonomi
Selama ini, akibat kekuasaan yang sentralistik, hampir seluruh pekerjaan dan fungsi pemerintah di Indonesia dilakukan secara ketat oleh pemerintah pusat. Penerapan desentralisasi di Indonesia dalam UU No. 5/1974 tidak memberikan distribusi kekuasaan yang cukup memadai bagi daerah. Pada pasal 7 UU mengenai Otonomi Daerah No. 22 tahun 1999 yang dirinci adalah bidang – bidang pemerintah pusat. Sisanya selain yang disebutkan secara tegas, diserahkan kepada daerah. Bidang – bidang itu antara lain politik luar negeri, hankam, moneter, fiskal, peradilan dan agama. Itulah sidang pemerintah pusat, dan itu berarti sampai kapanpun bidang – bidang itu tersentralisasi di tangan pusat.

Dalam kaitan syariat Islam, lima kewenangan yang tetap dipegang pusat itu menandakan bahwa agama tetap akan terpusat. Daerah tidak akan diberikan kewenangan untuk mengurusi masalah – masalah agama. Salah satu alasan adalah untuk menjaga keutuhan dan kesamaan penafsiran terhadap agama agar tidak terjadi perbedaan di tiap daerah. Untuk itu MUI masih akan menjadi institusi utamanya. Salah satu peran yang dijalankan oleh MUI belum lama ini adalah mengeluarkan fatwa berkenaan dengan produk makanan uamh dinyatakan haram. Juga sertifikasi halal yang dilakukan oleh LPPOM MUI. Dalam kerangka berfikir seperti ini, adalah satu hal akan membingungkan umat jika di setiap daerah memiliki kewenangan mengeluarkan fatwa dan fatwa yang dikeluarkan untuk satu masalah akan berbeda di setiap daerah.

SYARIAT ISLAM BERMULA DARI DAERAH ? (bagian 2)

Oleh :

Syahrul Hidayat, SIP
Antara Ya dan Tidak
            Suka atau tidak, umat dan para pemimpin yang berasal dari kalangan Islam sendiri tidak memiliki pandangan yang seragam mengenai si. Tidak hanya mengenai masalah penafsiran dan implementasinya tetapi perdebatan itu sudah dimulai pada soal apakah syariat Islam akan diterapkan secara formal atau tidak.
            Di tataran wacana belum terjadi kesepakatan yang bulat mengenai Islam dan Negara ataupun penerapannya dalam bentuk syariat Islam. Sepanjang sejarahnya, umat Islam, tidak hanya di Indonesia, terdapat keragaman dalam praktek dan pemahaman konseptual mengenai masalah itu. Perbedaan konsep dan pemikiran sebenarnya berangkat juga dari penafsiran yang tidak sama terhadap hubungan antara Islam dengan Negara dan pemerintahan baik yang terdapat dalam Al Qur’an maupun sunnah maupun praktek yang dijalankan oleh Nabi.

Jumat, Desember 02, 2016

Syariat Islam Bermula dari Daerah (Bagian 1)

SYARIAT ISLAM BERMULA DARI DAERAH ?
Oleh :

Syahrul Hidayat, SIP

Kesempatan datang kembali
Otonomi daerah secara resmi telah bergulir sejak tanggal  1 Januari 2001. Maka dimulailah sebuah era baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya pada masa Orde Baru dimana daerah memiliki kesempatan yang luas untuk mengatur dan mengelola berbagai macam urusannya sendiri. Inilah salah satu prestasi besar yang telah dilahirkan oleh pemerintahan pasca Orde Baru untuk memenuhi tuntutan reformasi.

U
U No. 22 tahun 1999 yang nengatur tentang otonomi daerah telah memberikan kesempatan yang sangat luas bagi daerah yang mengembangkan berbagai potensinya dan mengubah paradigma pemerintahan yang sangat sentralistis dan serba terpusat. Otonomi daerah tersebut akan memulai sebuah era baru penerapan manajemen pemerintahan yang lebih demokratis dengan didasarkan kepada prinsip – prinsip transparansi, akuntabilitas dan partisipatif. Ketiga prinsip ini dikenal dengan good governance.

Pengantar Memahami Perkembangan Syariat Islam di Indonesia Jurnal Politik Akses Edisi Perdana

Agar Kita Lugas Dan Cerdas Berbicara
R
eformasi telah mengubah segenap keadaan. Suasana kebebasan telah melingkupi keseharian hidup kita. Atmosfir baru yang memberikan optimism terhadap masa depan Indonesia. Koran, majalah, tabloid, portal – portal di internet, stasiun televise, dan stasiun radio baru bermunculan. Sebagian bahkan dengan berani menyatakan sebagai stasiun televisi atau radio khusus berita. Suatu hal yang menunjukkan bahwa informasi sudah menjadi kebutuhan yang mendekati kebutuhan manusia akan makan dan minum. Informasi telah menjadi keharusan bagi seseorang atau sebuah bangsa yang ingin memiliki eksistensi atau bahkan sekedar bertahan hidup.

Kamis, Desember 01, 2016

SUKSES TANPA MODAL




SUKSES TANPA MODAL
Serial Spiritual Rezeki
Oleh Arif Isnaini

Kesuksesan menjadi kata yang begitu didambakan oleh setiap orang, sementara kata kegagalan begitu dibenci dan menjadi dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Orang sukses menjadi bahan pembicaraan dimana-mana, sementara orang gagal menjadi bahan pergunjingan dan cemoohan. Cara menilai kegagalan inilah yang menyebabkan orang takut gagal dan tidak berani memulai sesuatu. Bukankah banyak keberhasilan dan kesuksesan lahir dari kegagalan sebelumnya.

Banyak orang ingin mendapatkan pujian dari sebuah kesuksesan dan ingin mendapatkan kesuksesan itu langsung tanpa melalui proses panjang apalagi kalau harus melalui kegagalan maka orang lebih memilih untuk tidak melakukan saja daripada harus menanggung malu akibat dari kegagalan.