Sabtu, Juni 17, 2017

Puasa dan Pengendalian Lisan

hasanalbanna.com:
[Hikmah Ramadhan ke-19]

Puasa dan Pengendalian Lisan

Ustadz Rappung Samuddin, Lc MA

Termasuk faidah mulia yang diraih dari ibadah puasa, adalah kesungguhan hamba mengendalikan serta menjaga lisan untuk tidak berkata-kata sesuatu yang dimurkai Allah Ta'ala.

Sungguh, lisan itu ibarat pedang bermata dua. Kadang jika digunakan pelakunya dicela. Dan jika tidak digunakan pelakunya juga rendahkan. Karena itulah, Nabi memberi sebuah batasan; "katakan yang baik, atau diam".

Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata:

"الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ".

“Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu". (Ad- Da' wa Ad-Dawa, Ibnul Qayyim, hlm. 155).

Nah, terkait peran puasa dalam menjaga lisan tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ".

“Puasa bukan semata menahan makan dan minum. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok. Apabila ada seseorang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya: “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim, Shahih).

Dalam hadits ini jelas, bahwa puasa itu adalah sebuah proses pengendalian lisan dari perkataan yang tidak berguna. Dan ia merupakan salah satu jaminan bagi hamba untuk masuk ke dalam surga.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya) niscaya aku menjamin surga baginya”. (HR. Bukhari dan At-Tirmidzi).

Terakhir, sebagai tazkirah bagi kita, bahwa lisan yang terlepas tanpa kontrol kebanyakan menjadi sumber musibah. Kadang kata-kata yang munurut kita sepele, ternyata di sisi Allah besar dosanya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ".

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. (HR Bukhari). Wallahu A'lam.

Jumat, Mei 19, 2017

Beri Kami Rasa Rindu pada Ramadhan

Beri Kami Rasa Rindu pada Ramadhan[1]
Oleh Ahmad Zairofi AM

(Hal-4) Para salafusshalih dahulu, enam bulan berturut-turut sebelum datangnya Ramadhan, memohon kepada Allah agar bisa dipertemukan Ramadhan. Dan enam bulan sisanya, ia memohon dan berdo’a agar amal-amalnya di bulan Ramadhan di terima Allah.

(Hal-5) seorang laki-laki shalih menjual budak perempuannya kepada orang lain. Ketika ramadhan hendak tiba, majikan baru dai budak itu menyiapkan berbagai makanan. Maka budak itu berkata,”Mengapa engkau menyiapkan makanan seperti ini?” Majikan barunya menjawab,”Untuk menyambut puasa di bulan Ramadhan.”

(Hal-6) Maka budak yang beriman itu menjawab,”Apakah engkau sekeluarga tidak berpuasa kecuali bulan Ramadhan? Sungguh aku sebelum ini memiliki majikan yang merasakan sekan seluruh tahun adalah Ramadhan. Aku tidak mau majikan seperti engkau. Pulangkan aku ke majikanku yang pertama.”

Merasakan semua seakan semua Ramadhan, adalah capaian jiwa yang luar biasa. Itu adalah pupuk dan penyegar hati, agar kita terus-menerus merindukan Ramadhan. Seberapa besar kita rindu Ramadhan, seberapa besar pula kadar perasaan cinta kita akan keagungan bulan suci itu. Tidak ada iman tanpa cinta. Tidak ada cinta tanpa rindu. Maka orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, melebihkan cinta atas segala yang lain.

Kamis, Mei 18, 2017

Rasakan Hari Ini Seakan Sudah Ramadhan[1]

Rasakan Hari Ini Seakan Sudah Ramadhan[1]
Oleh Sulthan Hadi
(Hal-10) Hari ini kit sudah berada di awal Sya’ban; bulan yang tak ada jarak lagi dengan bulan sangat istimewa milik umat Muhammad SAW, yaitu Ramadhan. Dia berdiri bak pintu gerbang menuju taman yang sangat indah. Sebagian ulama mengistilahkan bulan ini sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Menurut mereka, para ulama itu, bulan Sya’ban ibarat latihan untuk menghadapi puasa Ramadhan, agar seseorang tidak terbebani dengan puasanya ketika Ramadhan tiba.”

Tapi realita itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita perlu merasakan Ramadhan di sini. Sya’ban adalah tempat kita mulai melangkah. Jika dia adalah gerbang sebuah taman yang indah, maka tentu dia pun memiliki keindahan (Hal-12) nya sendiri. Agar kita bisa memperoleh Ramadhan lebih sempurna, tentu kita perlu memulainya dari sini, dengan beberapa perenungan.  

Senin, Maret 06, 2017

Memenuhi Kebutuhan Orang Lain - 015 Akhlak Bermasyarakat

Memenuhi Kebutuhan Orang Lain 
(Hal-43) Salah satu karakteristik yang paling menonjol dalam masyarakat Islam adalah bekerjasama dalam kebaikan dan kebajikan. Sebab itu, siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah SWT akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim maka Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Siapa saja yang memberikan bantuan atau pelayanan kepada orang lain, berarti ia benar-benar layak disebut orang yang penuh kasih sayang dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi yang dapat menyatukan umat manusia dan menebarkan kasih sayang, cinta dan perlakuan baik serta akhlak terpuji.

Akhlak terpuji merupakan salah satu sifat luhur dalam Islam, salah satu etika yang mencakup semua etika manusia. Karena itu, setiap orang harus berpegang teguh padak akhlak ini, mengarahkan dan melatih diri untuk berbuat baik dan melayani kepentingan orang lain, selama masih terjangkau dan mudah dilakukan. Sebab itu, setiap sesuatu perlu dizakati, seperti : zakat dengan penyebaran ilmu, zakat jabatan dan kedudukan seperti zakat harta, dan zakat kesehatan agar senantiasa sehat. Perbuatan baik tidak akan pernah dilupakan sepanjang masa. Perbuatan baik akan membentengi keburukan.

Minggu, Maret 05, 2017

Membeberkan Kesalahan Tanpa Tujuan Yang Dibenarkan - 014 Akhlak Bermasyarakat

Membeberkan Kesalahan Tanpa Tujuan Yang Dibenarkan
Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan dan kelalaian yang tak disengaja. Oleh karena itu, orang tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya ia harus bersyukr kepada Allah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondongnya dengan segudang cacian, makian dan umpatan. Atau mengucapkan,”Semoga Allah memusnahkanmu.” Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat (QS. Al Nur [24]: 19)

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia dan akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak berguna ini sangat jelas.

Sabtu, Maret 04, 2017

Manifestasi Solidaritas - 013 Akhlak Bermasyarakat

Manifestasi Solidaritas     
Solidaritas sosial dalam Islam memiliki dua manifestasi; positif dan negatif. Manifestasi yang positif adalah saling tolong-menolong yang konstruktif, kasih sayang, cinta-mencintai, ramah, saling mengasihi, memenuhi hak, menjalin komunikasi dan kasih sayang antara yang muda dan yang kaya, antara lemah dan yang kuat, antara individu dan kelompok, antara lembaga dan karyawannya. Sementara itu, manifestasi yang negatif adalah menghentikan kezaliman, tidak menuruti kemauan musuh, nafsu, atau setan, mempermudah kesulitan,menghilangkan kegelisahan, menutupi khilaf atau kesalahan yang tak disengaja, tidak dusta dan memfitnah, meninggalkan perbuatan hina ketika mengalami situasi sulit dan susah, menahan diri dari melakukan penipuan dan rekayasa, korupsi, mengambil harta orang Muslim dengan cara tidak benar, dan menolong ketika terzalimi.

Allah SWT Berfirman,
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain (QS. Al Taubah [9]: 71)

Maksudnya, mereka saling bekerjasama dalam hal kebaikan, bukan dalam hal keburukan.

Allah SWT berfirman,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al Maidah [5]: 2)

Seluruh manifestasi dari sikap tolong-menolong akan dijelaskan dalam beberapa hadis berikut ini.

Jumat, Maret 03, 2017

Solidaritas Sosial Dalam Islam - 012 Akhlak Bermasyarakat

Solidaritas Sosial Dalam Islam    
Seorang mukmin harus menjaga dan menghormati hak-hak sosial orang lain. Selain itu, menjaga ketentuan yang Allah tetapkan bagi seluruh masyarakat. Penjagaan semacam ini harus didasarkan: rasa persaudaraan dan persatuan, tidak merugikan orang lain, dan menyayangi sesama. Barangsiapa menolak persatuan, menyakiti dan bersikap kasar terhadap orang lain, tidaklah layak  menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Dia telah membuat rekayasa, menghancurkan kemaslahatan serta menghilangkan kepribadian dan eksistensi masyarakat sendiri.

Sementara itu, orang yang bersikap baik, penuh kasih sayang, kelembutan, toleran, tidak mau merugikan orang lain, merasa menjadi bagian dari  sebuah masyarakat dan bertanggungjawab menjaga kepentingan mereka, berarti ialah yang pantas diandalkan dalam kesulitan, juga diharapkan kebaikannya dalam kondisi sulit.

Al Quran dan Hadis Rasulullah SAW berpesan agar faktor-faktor persatuan dan kekuatan internal dijaga dengan baik.

Kamis, Maret 02, 2017

Indikator Kezaliman - 011 Akhlak Bermasyarakat

Indikator  Kezaliman   
Kezaliman itu memiliki banyak indikator, ada yang terang-terangan, ada pula yang samar. Keduanya sama-sama haram. Kezaliman seorang penguasa termasuk bentuk kezaliman paling berbahaya. Orang yang sadar pasti akan takut kepada Allah SWT. Karena itu, ia tidak akan rakus mengumpulkan kekayaan tanpa memilah yang halal dan haram. Ia tidak akan tergoda penampilan dan kemilau dunia dengan mengumpulkan kekuasaan dan kemewahan, juga harta. Sebab, memanfaatkan kekuasaan dilarang dalam ajaran Allah SWT. Sementara Amirul Mukminin, Umar ra menerapkan undang-undang, “Dari mana kau dapatkan ini?” kepada para pegawai, Gubernur dan staf. Jika ditemukan hasil eksploitasi atau intimidasi, ia menyitanya. Sebab, jika mereka di dunia tidak mengembalikan barang hasil kezaliman kepada pemiliknya maka ia akan dijatuhi hukuman yang berat di akhirat.

Allah SWT mengingatkan dan mengancam dalam firman-Nya,
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik (QS. Al-A’raf [7]: 165)

Di dunia, hukuman Allah SWT tidak hanya menimpa orang-orang zalim, melainkan yang lain juga. Allah SWT berfirman,
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu  (QS. Al-Anfal [8]: 25)

Rabu, Maret 01, 2017

Manifestasi Kezaliman - 010 Berakhlak Bermasyarakat

Manifestasi Kezaliman   
Salah satu kezaliman yang paling berbahaya adalah merampas hak orang lain, baik berupa tanah, harta, kepemilikan, ataupun tidak mau membayar hutang. Semua ini dapat menimbulkan keresahan dan kegelisahan, merusak tatanan keadilan, dan menghambat nilai-nilai kebaikan di kalangan manusia. Banyak orang membaut kesalahan ketika menggasak harta orang lain dengan cara mencuri, merampok, atau mempermainkan hak orang lain, menunda-nunda pelaksanaanya, atau menghalalkan harta orang lain lewat penyuapan, penipuan, dan berbagai rekayasa lainnya. Tak ada cara lain bagi yang melakukannya, kecuali harus melunasi utang-utang atau hak orang lain sebelum disodorkan nanti pertanyaan berat di akhirat.

Allah SWT Berfirman,
“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman (QS. Al-Qashas [28]:59)

Sebaliknya Allah SWT Berfirman tentang orang-orang yang berbuat kebaikan,
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Hud [11]:117)

Allah SWT berfirman,
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata,”Aduhai kiranya, (dulu) aku mengambil jalanbersama-sama rasul.” (QS. Al Furqan [25]: 27)

Allah SWT berfirman,
“Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya maka Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu lebih mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 30)

Selasa, Februari 28, 2017

Antara Keadilan Dan Kezaliman - 09 Akhlak Bermasyarakat

Antara Keadilan Dan Kezaliman
Keadilan adalah mutlak sifat Allah SWT di dunia dan akhirat, sedangkan kezaliman adalah sifat yang Allah SWT haramkan bagi diri-Nya dan para hamba-Nya. Kezaliman berarti kegelapan pada Hari Kiamat, karena tidak ada yang menolong, memberi syafaat, membantu dan melindungi orang yang berbuat zalim. Ia akan menerima balasan yang setimpal. Salah satu bentuk kezaliman yang sangat berat adalah menghilangkan nyawa orang lain, merusak martabat seseorang, dan merampok. Orang cerdas yang ingin hisabnya diringankan tentu akan berusaha untuk tidak menzalimi hak-hak orang lain. Jika begitu, ia akan selamat dari semua keburukan. Ayat-ayat Al Quran maupun hadis nabi banyak menjelaskan larangan berbuat zalim. Bahkan mengancam mereka dengan azab yang amat pedih.

Salah satu ayat Al Quran yang menuturkan larangan berbuat zalim,

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya (QS. Ghafir [40]: 18)

Allah SWT berfirman,
“Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada penolong pun (QS. Al Hajj [22]: 71)  

Allah SWT berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. Akan tetapi, merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS. Al Ankabut [29]: 40)

Senin, Februari 27, 2017

Melaksanakan Amanah - 08 Akhlak Bermasyarakat

Melaksanakan Amanah  
Suka atau tidak suka, setiap orang harus melaksanakan, menjaga, dan menyampaikan amanah kepada yang berhak. Tidak boleh telat, tidak boleh menunda-nunda, karena amanah adalah hak orang lain. Memenuhi hak orang lain adalah kewajiban agama, sosial, dan kemanusiaan. Amanah adalah menjaga dan menyampaikan sesuatu kepada yang berhak. Amanah mencakup apa saja yang dipercayakan seseorang, baik perintah maupun larangan, baik yang berhubungan dengan agama maupun yang berhubungan dengan dunia. Oleh sebab itu, semua ajaran Islam adalah amanah. Umur itu amanah. Waktu itu amanah. Pekerjaan itu amanah. Penyimpanan itu amanah. Harga diri atau kehormatan itu amanah. Bahkan, penglihatan, pendengaran dan seluruh indra yang lain juga amanah. Dengan demikian, siapa saja yang menjaga amanah dan mengembalikan kepada pemiliknya jika diminta, atau mencegah agar tidak sia-sia atau rusak karena tenggelam, terbakar, dijarah, dan dirusak itu juga amanah. Yang jelas, amanah itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Allah Swt. berfirman,
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (QS Al-Nisa’[4]:58)

Allah Swt. berfirman,
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu, karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh (QS Al-Ahzab [33]:72)

Minggu, Februari 26, 2017

Berbuat Baik Sesuai Kemampuan - 07 Akhlak Bermasyarakat

Berbuat Baik Sesuai Kemampuan
Hidup ini akan terlihat indah, bunganya mekar merekah, dengan kesucian dan kebersihan yang menjadi dasar ibadah yang diwajibkan dalam Islam.  Peran manusia dalam kehidupan ini akan terlihat jelas dalam bentuk penghambaan yang tulus hanya kepada Allah SWT dengan melaksanakan ibadah wajib, seperti shalat, puasa, haji, zakat, zikir, dan syuukur nikmat. Nilai seseorang tergantung pada kebajikan dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain, seperti membantu memenuhi kebutuhannya. Semua itu ada pahalanya. Begitu pula ciri negeri Islamakan dikenal lewat syiarnya, seperti azan, iqomah, shalat Jum’at, shalat berjama’ah, membangun menara yang tinggi, masjid jami’, atau musala-musala kecil di kampung-kampung dan sebagainya. Semua itu demi menampilkan nilai-nilai dan kedudukan Islam yang sangat tinggi, serta menjelaskan risalahnya dalam kehidupan ini.

Allah SWT berfirman,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An-Nisa’ [4]:36)

Sabtu, Februari 25, 2017

Kebaikan Menghapus Dosa-Dosa - 06 Akhlak Bermasyarakat

Kebaikan Menghapus Dosa-Dosa
Hidup ini akan terlihat indah, bunganya mekar merekah, dengan kesucian dan kebersihan yang menjadi dasar ibadah yang diwajibkan dalam Islam.  Peran manusia dalam kehidupan ini akan terlihat jelas dalam bentuk penghambaan yang tulus hanya kepada Allah SWT dengan melaksanakan ibadah wajib, seperti shalat, puasa, haji, zakat, zikir, dan syuukur nikmat. Nilai seseorang tergantung pada kebajikan dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain, seperti membantu memenuhi kebutuhannya. Semua itu ada pahalanya. Begitu pula ciri negeri Islamakan dikenal lewat syiarnya, seperti azan, iqomah, shalat Jum’at, shalat berjama’ah, membangun menara yang tinggi, masjid jami’, atau musala-musala kecil di kampung-kampung dan sebagainya. Semua itu demi menampilkan nilai-nilai dan kedudukan Islam yang sangat tinggi, serta menjelaskan risalahnya dalam kehidupan ini.

Allah SWT berfirman,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An-Nisa’ [4]:36)

Jumat, Februari 24, 2017

Berbuat Baik Bukan Hanya kepada Sesama Manusia - 05 Akhlak Bermasyarakat

Berbuat Baik Bukan Hanya kepada Sesama Manusia    
Islam menggabungkan dasar-dasar akidah yang benar dengan ibadah, akhlak, serta moralitas sosial dan individu. Tujuannya, menempa jiwa manusia, membangun individu, sekaligus meluruskan masyarakat. Sinergi dan integrasi ini merupakan langkah pendidikan yang tinggi. Sebab, jiwa manusia perlu dilatih dan dibekali dengan berbagai macam spirit, stimulan dan rem. Salah satu spirit yang paling penting adalah keteguhan iman kepada Allah SWT dan tidak menyekutukannya. Salah satu moralitas individu adalah gaya hidup. Ia termasuk bagian iman. Adapun salah satu moralitas sosial adalah menjaga lingkungan, kebersihan dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan agar tidak ada orang yang tersandung atau celaka dan tersakiti karenanya.

Allah SWT berfirman,
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar (QS. Al Nisa’ [4]: 114)

Allah SWT berfirman,
“Dan pakaian takwa itulah pakaian yang baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat (QS. Al A’raf [7]: 26)

Kamis, Februari 23, 2017

Tersenyum Juga Kebaikan - 04 Akhlak Bermasyarakat

Tersenyum Juga Kebaikan   
Di antara anugerah dan rahmat Allah SWT, dia menciptakan ragam cara melakukan kebaikan, semuanya disesuaikan dengan keadaan masing-masing orang. Orang kaya yang pandai bersyukur mendermakan hartanya di berbagai kebaikan, seperti membantu orang yang sengsara atau membutuhkan, menolong janda atau orang miskin, membantu orang sakit atau orang lemah, menyelamatkan keluarga dari kemiskinan, atau mengawinkan pemuda yang ingin menjaga kesuciannya.

Orang miskin juga berhak mendapatkan kemuliaan dan pahala yang setimpal dengan orang kaya. Cara yang ia tempuh antara lain: bertasbih, bertahmid dan bertakbir kepada Allah SWT, serta shalat berjamaah. Kalangan menengah bisa menggabungkan keduanya. Caranya, bisa dengan bersikap baik terhadap orang lain, memasang wajah ceria ketika berjumpa sesame, membantu keperluan mereka, bertutur kata yang baik, tidak menyakiti seseorang atau kelompok, berkarya, menyuruh kebaikan atau mencegah kemungkaran. Semua ini termasuk jenis kebaikan.

Rabu, Februari 22, 2017

Lakukan Kebaikan Sekecil Apa Pun - 03 Akhlak Bermasyarakat

Lakukan Kebaikan Sekecil Apa Pun  

Islam mengajarkan kita semua agar menjadi orang-orang baik di dunia dan akhirat. Islam menjelaskan kepada kita tanda-tanda kebaikan, rambu-rambu kebajikan, dan dasar-dasar amal saleh yang bisa menyelamatkan kita di sisi Allah SWT. Peringkat amal saleh tertinggi: keimanan yang benar terhadap eksistensi Allah SWT dan mengesankan-Nya. Sementara itu, peringkat paling terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan. Allah SWT tidak menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun, baik berupa bimbingan, pembinaan, perbuatan, pengarahan, nasihat, kasih sayang, petunjuk, ungkapan, maupun satu kalimat yang baik.

Aturan kebaikan sangat jelas dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman,
“Dan Apa saja kebajikan yang kamu buat maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya (QS. Al Baqarah [2]: 215)

Allah SWT berfirman,
“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah [2]: 197)

Allah SWT berfirman,
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri (QS. Al Jatsiyah [45]: 15)

Selasa, Februari 21, 2017

Balasan Kejujuran - 02 Akhlak Bermasyarakat

Balasan Kejujuran
JUJUR  dalam kata dan perbuatan adalah modal yang paling kuat bagi individu maupun masyarakat, juga sikap yang paling tegar dalam memobilisasi, membangun kekuatan, memajukan umat, dan melestarikan garis-garis peradabannya. Ajaran Rasulullah SAW menekankan hal ini, karena selain mengandung keistimewaan, juga mendatangkan balasan bagi laki-laki dan wanita yang jujur berupa surge yang penuh keabadian, pengampunan dan pahala yang berlipat di sisi Allah SWT. Dia tidak akan menyia-nyiakan kebaikan, meskipun seberat atom, baik di dunia maupun di akhirat.

Salah satu fakta kita lihat di tengah masyarakat perkotaan yang jujur bekerja, tepat waktu, dan jujur melaksanakan akad kontrak, orang lain merasa nyaman bertransaksi dengan mereka. Pertama jelas mereka mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri, kemudian bagi masyarakatnya. Dakwah Nabi Muhammad SAW di dunia ini tidak akan berhasil tanpa kejujuran, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Allah SWT berfirman,

“Tetapi jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka (QS. Muhammad [47]: 21).

Senin, Februari 20, 2017

Kita Butuh Payung Dakwah

Kita Butuh Payung Dakwah [1]

Partai Keadilan Sejahtera memang fenomenal. Meski digebuk habis-habisan dan diprediksi banyak kalangan pengamat dan lembaga survey bakal terlempar dari panggung politik alias tidak lolos Parliamentary threshold, tapi nyatanya PKS tetap bertahan. Posisi ini menunjukkan PKS sebagai partai kader tetap solid.

Pada pemilu pilpres kali ini PKS memutuskan mendukung pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Untuk mengetahui lebih dalam alas an PKS mendukung Prabowo-Hatta, wartawan sabiliku Eman Mulyatman mewawancarai langsung KH Hilmi Aminuddin di kediamannya di Lembang Bandung Jawa Barat. Berikut Petikannya:

Dengan 8,4 juta raihan suara PKS dalam pemilu legislative kemarin apa pendapat ustadz?

Hampir setahun setengah PKS dipukuli habis di media. Tapi kalau saya sih melihatnya angka 8,4 juta itu anugerah dari sisi Allah. Karena untuk mencari dana saja kita kesulitan. Jadi pemilu ini benar-benar hasil kerja ikhwan dan akhwat dengan biaya dari kantong sendiri. Kita tidak bisa membiayai. Saya cari dana untuk saksi saja tidak dapat. Dapat uang kecil-kecilan untuk bantu biaya operasional itupun tidak seberapa. Jika kita perlu berusaha supaya prabowo menang sebagai mizhollah (payung politik). Sebenarnya ikhwah itu punya semangat oposisi. Terus saya bilang dengan ukuran kita yang menengah mini ini nggak efektif jadi oposisi. Makanya kita harus bergabung. Kalaupun kalah format oposisi kita jadi besar. Apalagi ada peluang untuk menang.  

Minggu, Februari 19, 2017

Jujur - 01 Akhlak Bermasyarakat

Jujur
Kejujuran adalah kesesuian dengan realita. Kejujuran termasuk ciri-ciri orang yang beriman, juga komponen keyakinan, ibadah, amal perbuatan, akhlak dan perilaku. Suatu keyakinan atau iman tidak akan tegak tanpa kejujuran. Suatu ibadah tidak akan diterima tanpa kejujuran. Dalam bingkai akhlak, moral, dan perilaku, kejujuran menempati tingkatan paling tinggi, bagaikan mahkota. Kejujuran adalah bukti adanya kekuatan kehendak dan kepribadian yang tegar, sedangkan dusta tidak akan bersanding dengan keimanan. Bahkan, menjadi salah satu sifat munafik yang menandakan kelemahan, kecemasan, dan ketakutan, tidak bersikap dewasa dan bimbang. Sebab itu, Allah SWT memerintahkan kita jujur dan akan memberikan ganjaran pahala. Sebaliknya, Dia melarang kita berdusta dan akan memberikan hukuman. Allah SWT berfirman,

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS. Al Taubah[9]: 119)

Sifat -sifat orang mukmin Allah SWT gambarkan dalam ayat,

“Laki-laki dan perempuan yang benar (QS. Al Ahzab [33]: 35)

Allah SWT juga mengingatkan kita agar tidak berdusta dan menjadi pendusta. Dia berfirman,

“Sesungguhhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung (QS. Yunus [10]: 69)

Sabtu, Februari 18, 2017

Terbelenggu

Terbelenggu [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Seorang petani tak seganja menemukan seekor anak gajah dekat rumahnya. Mungkin anak gajah itu tertinggal dari kumpulan teman-temannya. Lantaran iba, sang petani merawat anak gajah itu. Karena khawatir hewan itu akan berkeliaran dan merusak tanaman, si petani mengikatnya dengan rantai yang dipatok pada sepotong bambu.

Hari pn berlalu. Anak gajah itu mulai tumbuh. Sudah jadi naluri binatang untuk bebas. Si anak gajahpun berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai. Berulang kali ia mencoba, berulangkali juga gagal. Bahkan, ia pernah memberontak sampai kakinya terluka. Lama kelamaan, niat anak gajah untuk bebas itu melemah. Bahkan lama kelamaan hilang.

Jumat, Februari 17, 2017

Sang Inspirator

Sang Inspirator [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Natsir. Siapa yang tak kenal? Di tengah gelora kaumnya yang muda, Natsir bergabung dan mengetuai Kepanduan JIB (Jong Islamieten Bond) Cabang Bandung. Organisasi ini belakangan menjadi salah satu komponen sukses mencetuskan ikrar Sumpah Pemuda.

Natsir muda menjadi murid intelektual ulama terkemuka A Hassan dan politisi kawakan Haji Agussalim. Setelah lewat masa perjuangan panjang di jalur politik, Natsir melahirkan Dewan Dakwah. Natsir sukses menjadi inspirator, membina dai-dai muda, mengirimkannya ke segenap pelosok, memberikan suluh tuk menerangi nusantara dengan cahaya Islam.

Kamis, Februari 16, 2017

Pemimpin

Pemimpin [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Orang  yang bersikeras ingin diangkat menjadi pemimpin, akan cenderung mempertahankannya kala berkuasa.

Pemimpin yang naik secara tidak wajar bisa turun dengan tidak wajar juga. Kepemimpinan yang diwujudkan dengan cara menebar keculasan, menanam kebencian dan menabur fitnah, akan menuai badai penghinaan di akhir kepemimpinannya. Tidak hanya dirinya, tapi juga orang sekitar yang mendukungnya.

Dalam kerangka kaidah inilah, sejarah kebesaran Fir’aun menemukan fakta. Bahwa Fir’aun itu zhalim, bejat, amoral dan sombong, tak ada yang mengingkarinya. Tapi ia tak berdiri sendiri saja. Fir’aun bisa menjadi raja karena ada yang mau jadi hamba.

Rabu, Februari 15, 2017

Pertumbuhan Berkesinambungan - 39 Serial Pembelajaran

Pertumbuhan Berkesinambungan
Ketika Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya, ia hanya seorang diri. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 23 tahun saat beliau melaksanakan hajjatul wada’, kaum Muslim telah berjumlah sekitar 100 sampai 125 ribu orang dalam berbagai riwayat. Dengan jumlah penduduk dunia ketika itu sekitar 100 juta orang, maka rasio kaum Muslim terhadap penduduk dunia adalah 1 per 1000 orang.

Sekarang, sekitar 1500 tahun kemudian, jumlah kaum Muslim telah bertumbuh tanpa henti dan menjadi 1,5 milyar hingga 1,9 milyar. Bayangkanlah bagaimana rasio itu bertumbuh dari 1 per 1000 menjadi 1 per lima dalam kurun waktu 1500 tahun.