Selasa, Februari 28, 2017

Antara Keadilan Dan Kezaliman - 09 Akhlak Bermasyarakat

Antara Keadilan Dan Kezaliman
Keadilan adalah mutlak sifat Allah SWT di dunia dan akhirat, sedangkan kezaliman adalah sifat yang Allah SWT haramkan bagi diri-Nya dan para hamba-Nya. Kezaliman berarti kegelapan pada Hari Kiamat, karena tidak ada yang menolong, memberi syafaat, membantu dan melindungi orang yang berbuat zalim. Ia akan menerima balasan yang setimpal. Salah satu bentuk kezaliman yang sangat berat adalah menghilangkan nyawa orang lain, merusak martabat seseorang, dan merampok. Orang cerdas yang ingin hisabnya diringankan tentu akan berusaha untuk tidak menzalimi hak-hak orang lain. Jika begitu, ia akan selamat dari semua keburukan. Ayat-ayat Al Quran maupun hadis nabi banyak menjelaskan larangan berbuat zalim. Bahkan mengancam mereka dengan azab yang amat pedih.

Salah satu ayat Al Quran yang menuturkan larangan berbuat zalim,

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya (QS. Ghafir [40]: 18)

Allah SWT berfirman,
“Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada penolong pun (QS. Al Hajj [22]: 71)  

Allah SWT berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. Akan tetapi, merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS. Al Ankabut [29]: 40)

Ayat-ayat ini menjelaskan keputusasaan orang-orang zalim. Sebab, mereka tidak mempunyai pembantu, penolong, pelindung, dan perantara. Hukuman yang mereka terima bukanlah kezaliman. Sebab, mereka telah berbuat zalim terhadap diri sendiri hingga terjerembab ke dalam jurang.

Sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Takutlah kamu dari zalim, karena itu adalah kegelapan pada Hari Kiamat. Dan takutlah kalian terhadap sikap kikir, karena kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian dan mendorong mereka untuk saling mengalirkan darah mereka sendiri, serta menghalalkan kehormatan mereka.”

Hadis tersebut mengingatkan dua penyakit serius, yaitu kezaliman dan kikir yang  disertai keserakahan. Cukuplah kikir dan serakah itu sebagai penyakit. Keduanya telah menghancurkan orang-orang yang terdahulu karena kerakusan terhadap dunia. Alhasil, menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa dan kemungkaran. Kezaliman adalah dosa besar yang menjerumuskan pelakunya ke dalam azab yang sangat pedih pada Hari Kiamat.

Dalam hadis ini kita diingatkan agar menghindari kezaliman dengan merampas hak orang lain, lalu menyiksanya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Kalian benar-benar akan tunaikan hak-hak itu kepada pemiliknya yang berhak pada hari kiamat, sehingga kambing yang tidak bertanduk diberi hak untuk membalas (menanduk) kepada kambing yang bertanduk.”

Dengan kata lain, balasan dan pemberian hak seseorang akan dilaksanakan pada Hari Kiamat di tengah kerumunan manusia, begitu juga dengan binatang. Bahkan kambing yang tidak bertanduk akan membalas kambing yang bertanduk hingga menjadi debu, sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Hal ini merupakan peringatan serius tentang betapa pentingnya menyampaikan sesuatu kepada yang berhak.

Salah satu bentuk hukuman atas kezaliman merampas tanah orang lain dalam Ash-shahihain yang diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan sewenang-wenang maka ia akan dikalungkan sejengkal tanah itu seberat tujuh lapis bumi.”

Dengan kata lain, Allah SWT membuat hukuman tujuh kali lipat, seperti kalung yang melilit orang zalim. Itulah bukti yang menunjukkan bahwa merampas tanah orang lain termasuk dosa besar dengan konsekuensi yang berat.

Allah SWT sengaja menunda hukuman bagi orang yang zalim agar terbuka kesempatan baginya untuk bertobat. Pun agar ia segera menyampaikan hak orang lain. Apabila Allah SWT menjatuhkan hukuman maka hukuman-Nya sangat berat. Kalau pun hukuman-Nya tidak dipercepat, bukan berarti orang zalim akan terbebas darinya. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al Asyari ra bahwa Rasululah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah benar-benar mengabaikan orang zalim, namun apabila Dia telah memegangnya maka Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian beliau membaca ayat,”Apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud [11]: 102)

Ketika Mu’adz bin Jabal ra diutus sebagai hakim dan guru ke Yaman Rasulullah SAW berpesan kepadanya agar tidak berbuat zalim. Sebuah hadis muttafaq ‘alaih dari Mu’adz ra, berkata, ketika Nabi Muhammad SAW mengutusku, beliau bersabda,

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Ajaklah mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Jika dalam masalah ini mereka menaatimu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika dalam masalah ini mereka menaatimu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada kau fakir di kalangan mereka. Jika dalam masalah ini mereka menaatimu maka hati-hatilah terhadap harta-harta milik mereka, dan waspadalah doa orang yang dizalimi. Sebab, antara dosa tersebut dengan Allah tidak ada penghalang apa pun.”

Maksudnya, hadis ini menjelaskan bahwa seorang gubernur atau penguasa tidak boleh timbang pilih dalam menarik zakat, atau menarik zakat hanya kepada orang-orang kaya saja. Jika itu dilakukan, berarti ia telah berbuat zalim. Ia harus waspada terhadap kezaliman, sebab doa orang yang dizalimi pasti diterima Allah SWT. ***


Tidak ada komentar: