Kamis, Maret 02, 2017

Indikator Kezaliman - 011 Akhlak Bermasyarakat

Indikator  Kezaliman   
Kezaliman itu memiliki banyak indikator, ada yang terang-terangan, ada pula yang samar. Keduanya sama-sama haram. Kezaliman seorang penguasa termasuk bentuk kezaliman paling berbahaya. Orang yang sadar pasti akan takut kepada Allah SWT. Karena itu, ia tidak akan rakus mengumpulkan kekayaan tanpa memilah yang halal dan haram. Ia tidak akan tergoda penampilan dan kemilau dunia dengan mengumpulkan kekuasaan dan kemewahan, juga harta. Sebab, memanfaatkan kekuasaan dilarang dalam ajaran Allah SWT. Sementara Amirul Mukminin, Umar ra menerapkan undang-undang, “Dari mana kau dapatkan ini?” kepada para pegawai, Gubernur dan staf. Jika ditemukan hasil eksploitasi atau intimidasi, ia menyitanya. Sebab, jika mereka di dunia tidak mengembalikan barang hasil kezaliman kepada pemiliknya maka ia akan dijatuhi hukuman yang berat di akhirat.

Allah SWT mengingatkan dan mengancam dalam firman-Nya,
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik (QS. Al-A’raf [7]: 165)

Di dunia, hukuman Allah SWT tidak hanya menimpa orang-orang zalim, melainkan yang lain juga. Allah SWT berfirman,
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu  (QS. Al-Anfal [8]: 25)


Allah SWT berfirman,
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman”(QS. Yunus [10]: 13)

Allah SWT berfirman,
“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu, “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Yunus [10]: 52)

Allah SWT berfirman,
“Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka. Akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. Al Rum [30]: 9)

Ayat-ayat ini menjelaskan nasib orang-orang zalim. Selain itu, menegaskan bahwa balasan yang bakal mereka terima sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan, seperti merusak, menyakit dan menzalimi orang lain. Ada banyak hadis yang mempertegas pengertian ini, antara lain yang menjelaskan diharamkannya pemerintah dan pemegang kekuasaan untuk berbuat zalim.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih dari abu Humaid Abdul Rahman bin Sa’ad Al Saidi ra berkata, “Nabi Muhammad SAW pernah memperkerjakan seseorang dari Azad[1] yang bernama Abu Lutbayyah untuk memungut zakat. Ketika datang orang itu berkata, ‘ini untuk kalian, sedangkan ini dihadiahkan untukku.’ Mengetahui hal ini Rasulullah naik ke atas mimbar. Setelah bertahmid kepada Allah beliau bersabda,

“Aku telah mengutus seorang petugas untuk melaksanakan perintah Allah yang di turunkan kepadaku berupa pengambilan zakat, kemudian ia kembali dengan mengatakan,”pungutan ini kuserahkan kepada kalian, sedangkan ini dihadiahkan kepadaku.” Jika benar, mengapa ia tidak lebih baik duduk saja di rumah ayah atau ibunya sampai hadiah itu datang kepadanya.Demi Allah yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tidak seorang pun dari kamu yang mengambil sesuatu tanpa alasan yang benar, kecuali pada Hari Kiamat akan datang membawanya ke hadapan Allah. Aku sama sekali tidak mengenal kalian yang menghadap Allah dengan membawa seeokor unta yang melenguh, atau seekor sapi yang juga melenguh, atau seekor kambing yang melenguh. Setelah itu, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kami dapat melihat ketiaknya yang berwarna putih. Beliau bersabda, “Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan?!”

Hadis ini menjelaskan bahwa tidak boleh memanfaatkan pekerjaan dan jabatan untuk kepentingan pribadi. Siapa saja yang mengambilsebagian harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan maka Allah SWT akan membeberkan aibnya di depan manusia pada Hari Kiamat untuk dijatuhi hukuman atas dosanya.

Bentuk pembalasan lain terhadap kezaliman dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“siapa saja yang menganiaya saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun yang lain hendaknya ia meminta kehalalan pada hari ini sebelum dinar dan dirham tidak berlaku lagi. Kalaulah ia memiliki amal saleh maka pahalanya diambil darinya sebesar kezaliman yang dilakukan. Dan kalaulah ia tidak memiliki pahala maka keburukan itu akan diambil dan dilimpahkan kepadanya.”

Tegasnya kezaliman dan penindasan harus dijauhi. Segeralah menebus hak-hak seseorang, karena amal saleh seseorang bisa dirusak kezaliman.

Jadilah Muslim yang tidak menyakiti sesama, juga taat dan tidak bermaksiat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Orang Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Sementara orang hijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.

Salah satu pesan Nabi Muhammad SAW yang berkesan dalam Haji Wada’ tentang deklarasi hak-hak wanita dan hak asasi manusia, larangan pertumpahan darah, serta penyalahgunaan uang dan pencemaran nama baik, dijelaskan dalam hadis muttafaq ‘alaih dari Abu Bukrah Nufa’i bin Al Harits ra Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, di bulan kalian ini. Kalian akan bertemu dengan Tuhan kalian dan  Dia akan menanyakan tentang amalperbuatan kalian. Ingatlah, jangan sampai kalian kembali menjadi kafir sehingga sebagaian di antara kalian membunuh sebagian yang lain. Hendaklah  orang yang datang menyampaikan kepada orang yang tidak datang. Hendaknya ada beberapa orang yang menyampaikannya untuk lebih menyadari atas sebagian yang ia ketahui. Setelah itu beliau bersabda,”Bukankah aku telah menyampaikan?! Bukankah aku telah menyampaikan?!” Kami menjawab,” Ya, benar.”Beliau bersabda,”Ya Allah, saksikanlah.” ***





[1] Suku Arab dari Yaman 

Tidak ada komentar: