Rabu, Maret 01, 2017

Manifestasi Kezaliman - 010 Berakhlak Bermasyarakat

Manifestasi Kezaliman   
Salah satu kezaliman yang paling berbahaya adalah merampas hak orang lain, baik berupa tanah, harta, kepemilikan, ataupun tidak mau membayar hutang. Semua ini dapat menimbulkan keresahan dan kegelisahan, merusak tatanan keadilan, dan menghambat nilai-nilai kebaikan di kalangan manusia. Banyak orang membaut kesalahan ketika menggasak harta orang lain dengan cara mencuri, merampok, atau mempermainkan hak orang lain, menunda-nunda pelaksanaanya, atau menghalalkan harta orang lain lewat penyuapan, penipuan, dan berbagai rekayasa lainnya. Tak ada cara lain bagi yang melakukannya, kecuali harus melunasi utang-utang atau hak orang lain sebelum disodorkan nanti pertanyaan berat di akhirat.

Allah SWT Berfirman,
“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman (QS. Al-Qashas [28]:59)

Sebaliknya Allah SWT Berfirman tentang orang-orang yang berbuat kebaikan,
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Hud [11]:117)

Allah SWT berfirman,
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata,”Aduhai kiranya, (dulu) aku mengambil jalanbersama-sama rasul.” (QS. Al Furqan [25]: 27)

Allah SWT berfirman,
“Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya maka Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu lebih mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 30)

Allah SWT berfirman,
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya merugilah orang yang melakukan kezaliman.” (QS. Thaha [20]: 111)

Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 188)

Itulah peringatan Al Quran tentang perbuatan zalim, memakan harta orang lain secara tidak benar, juga mengabaikan, merusak, dan tidak mengembalikan hak orang lain. Hal ini dipertegas oleh sejumlah hadis, antara lain diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Umamah Iyas bin Tsa’labah Al Harisi ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa saja merampas hak orang lain dengan tangan kanannya maka Allah pasti memasukkannya ke neraka dan mengharamkan surga baginya.” Seseorang bertanya,”Sekalipun sedikit, wahai Rasulullah?” Belia menjawab, “Meskipun sebatang pohon Arak.”

Hadis ini berbicara tentang larangan merampas hak orang lain, juga tentang tempat orang yang merampas hak orang lain adalah di neraka, meskipun yang dirampas hanya sedikit. Sebab, ia telah menghalalkan itu, lalu meninggal dan tidak sempat bertobat.

Bahkan, mati syahid di jalan Allah SWT dapat menebus semua dosa, kecuali utang yang berkaitan dengan hak keuangan manusia.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah Al Harits dari Rasulullah SAW,

“Beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu menjelaskan kepada mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman adalah amal perbuatan paling utama. Seseorang berdiri dan bertanya,”Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus? Rasulullah SAW menjawab,”Ya, jika kamu terbunuh di jalan Allah dan kamu sabar seraya mengharap ridha-Nya, berani maju pantang mundur.” Beliau balik bertanya,”Apa yang kamu tanyakan lagi?” Orang itu menjawab,”Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus?” Beliau menjawab,”Ya, jika kamu terbunuh di jalan Allah dan kamu sabar seraya mengharap ridha-Nya, berani maju pantang mundur, kecuali utangnya. Sebab, malaikat Jibril berkata kepadaku demikian.”

Betapa memilukan kondisi orang  yang zalim pada Hari Kiamat. Semua kebaikannya dibagikan kepada orang yang dizalimi, kemudian dosa-dosa mereka diambil ditimpakan kepada orang zalim, kemudian ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Tahukah kalian orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab,”orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.” Rasulullah SAW menjelaskan,”Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, dan memukul (mengintimidasi) orang lain. Selanjutnya, kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dianiaya. Ketika kebaikannya telah habis sebelum kewajibannya ditunaikan maka dosa-dosa mereka (orang-orang yang dizalimi) ditimpakan kepadanya, lalu ia pun dicampakkan ke dalam api neraka.”

Dalam hadis lain, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang Muslim senantiasa dalam kelapangan selama ia tidak membunuh nyawa yang diharamkan.”

Dengan kata lain, selama mukmin itu tidak membunuh nyawa dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan. Karena itu, menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Karena itu, menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan termasuk dosa besar.

Pengadilan atau hakim tidak boleh menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal. Oleh karena itu, barangsiapa diputuskan sesuatu yang ia tahu tidak benar, haram baginya mengambilnya. Jika tetap dilakukan, ia akan dijatuhi siksa di Hari Kiamat. Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Ash-shahihain dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa, dan kalian telah membawa masalah-masalah yang kalian perselisihkan kepadaku. Ada diantara kalian yang hujjah-nya sangat memukau daripada yang lain, sehingga aku putuskan sesuai dengan apa yang aku dengar. Oleh karena itu, barangsiapa yang aku putuskan untuknya hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya. Sesungguhnya yang aku putuskan bagi dirinya itu merupakan bagian dari api neraka.”

Maksudnya, seorang hakim biasa memutuskan perkara berdasarkan fakta, bukti, atau penjelasan, seperti saksi dan sumpah. Akan tetapi, apa pun keputusan yang diambil, tetap tidak bisa menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal.***



Tidak ada komentar: