Minggu, Maret 05, 2017

Membeberkan Kesalahan Tanpa Tujuan Yang Dibenarkan - 014 Akhlak Bermasyarakat

Membeberkan Kesalahan Tanpa Tujuan Yang Dibenarkan
Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan dan kelalaian yang tak disengaja. Oleh karena itu, orang tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya ia harus bersyukr kepada Allah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondongnya dengan segudang cacian, makian dan umpatan. Atau mengucapkan,”Semoga Allah memusnahkanmu.” Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat (QS. Al Nur [24]: 19)

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia dan akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak berguna ini sangat jelas.

Hadis berikut ini menganjurkan kita agar menutupi rahasia yang tidak boleh dibeberkan, atau mengucapkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Muhammad SAW bersabda,

“Tidak ada seorang hamba yang menutupi aib temannya, kecuali Allah menutupi segala aibnya di Hari Kiamat.”

Maksudnya, balasan menutupi kesalahan seseorang yang tidak disengaja, yaitu dengan tidak membeberkannya, kelak Allah SWT akan menutupi kesalahan orang tersebut. Artinya, bisa jadi Allah SWT menghapus dosanya. Bisa jadi pula Allah SWT menutupi sehingga tak seorang pun mengetahuinya.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah ra mengatakan aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Semua umatku selamat, kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk muhajarah adalah orang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian di pagi harinya berkata, “ Hai fulan, semalam saya berbuat ini dan itu. ‘padahal, Allah SWT telah menutupi dosa yang dilakukan semalam, tetapi ia justru menyingkap tirai Allah tersebut.”

Hadis ini menjelaskan betapa besar dosa yang membeberkan kesalahan yang diperbuat. Tindakan seperti itu mengundang murka Allah SWT. Orang seperti ini berarti tidak mengindahkan perasaan orang lain, merusak kesucian yang berlaku di masyarakat, serta melecehkan agama.

Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis lain tentang larangan omong kosong atau bicara berlebihan.

Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah ra dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Jikalau seorang hamba sahaya wanita nyata-nyata berzina maka cambuklah ia sesua dengan had yang ditentukan dan jangan mengolok-oloknya. Kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia sebagai had-nya dan jangan mengolok-oloknya. Selanjutnya, jika ia masih berzina untuk ketiga kalinya maka hendaklah ia dijual saja, sekalipun seharga seutas rambut.”

Dengan kata lain, hukuman bagi pelaku zina bertujuan untuk mendidik dan mengajaknya ke jalan yang benar. Jika pemilik ingin menjualnya maka ia harus menjelaskan kekurangannya kepada si pembeli. Sebab, menjelaskan kekurangan hukumnya wajib, tentu saja jangan sampai berlebihan.

Demikian pula dengan orang merdeka, sebagaimana disitir hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW Abu Hurairah berkata,

“diantara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya, bahkan ada yang memukul dengan pakaiannya.” Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata,”semoga engkau dihinakan Allah.” Rasulullah bersabda,”Janga berkata begitu. Jangan memberikan pertolongan kepada setan untuk menggodanya lagi. “

Maksudnya, penenggak minuman keras itu boleh dijatuhi hukuman cambuk dengan tangan, pakaian, sandal dan pelepah kurma. Akan tetapi, jangan mengutuknya, karena dengan begitu ia membantu setan. Doakan ia agar mendapat hidayah, kebenaran dan selamat dari kehinaan. Ungkapan-ungkapan yang tidak disertai umpatan atau cacian tersebut dapat memacu pelaku maksiat untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Begitulah arahan dan pendidikan Nabi Muhammad SAW, fokus pada penjatuhan hukuman dengan tidak menggembar-gemborkan, mencaci, atau mengumpat pelakunya. Begitulah Islam dalam bermuamalah dan menjatuhkan sanksi hukum; melebih-lebihkan, serta menyesuaikan dan menerapkan keadilan antara tindakan dan hukuman. Sudah selayaknya kita menghiasi diri dengan akhlak luhur seperti ini, yang sangat kontras dengan yang terjadi di zaman sekarang, di mana pelaku kesalahan di hujani berbagai  cacian, makian dan kutukan. ***

Tidak ada komentar: