Jumat, Maret 03, 2017

Solidaritas Sosial Dalam Islam - 012 Akhlak Bermasyarakat

Solidaritas Sosial Dalam Islam    
Seorang mukmin harus menjaga dan menghormati hak-hak sosial orang lain. Selain itu, menjaga ketentuan yang Allah tetapkan bagi seluruh masyarakat. Penjagaan semacam ini harus didasarkan: rasa persaudaraan dan persatuan, tidak merugikan orang lain, dan menyayangi sesama. Barangsiapa menolak persatuan, menyakiti dan bersikap kasar terhadap orang lain, tidaklah layak  menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Dia telah membuat rekayasa, menghancurkan kemaslahatan serta menghilangkan kepribadian dan eksistensi masyarakat sendiri.

Sementara itu, orang yang bersikap baik, penuh kasih sayang, kelembutan, toleran, tidak mau merugikan orang lain, merasa menjadi bagian dari  sebuah masyarakat dan bertanggungjawab menjaga kepentingan mereka, berarti ialah yang pantas diandalkan dalam kesulitan, juga diharapkan kebaikannya dalam kondisi sulit.

Al Quran dan Hadis Rasulullah SAW berpesan agar faktor-faktor persatuan dan kekuatan internal dijaga dengan baik.

Allah SWT berfirman,
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya (QS. Al Hajj [22]: 30)

Dengan kata lain, siapa saja yang memuliakan hukum-hukum Islam secara umum, juga memuliakan sesuatu yang tidak boleh di rusak, berarti ia mencari kebaikan untuk dirinya di sisi Allah SWT.

AllahSWT berfirman,
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al Hajj [22]: 32)
Yang dimaksud syiar Allah SWT adalah kewajiban dan tempat manasih haji, atau pemberian-pemberian kepada tanah Haram, karena termasuk bagian dari ibadah haji.

Allah SWT berfirman,
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya (QS. Al maidah [5]: 32)

Dengan kata lain, melukai satu nyawa, sama artinya melukai seluruh umat manusia. Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja akan mendatangkan murka dan siksa Allah SWT.

Dalam rangka menjaga keseimbangan sosial secara umum, baik di pasar, jalan umum, maupun tempat bekerja, Nabi Muhammad SAW memperingatkan untuk tidak menaruh ujung tombak dan panah di jalan. Dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa Al As’ary ra beliau bersabda,

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa melewati masjid-masjid kami, atau pasar-pasar dengan membawa tombak maka hendaklah ia memegang bagian ujungnya supaya tidak melukai sesama Muslim.”

Hal yang sama juga berlaku untuk semua jenis besi, kayu yang membahayakan, tongkat panjang dan sebagainya. Hadis di atas menjelaskan etika membawa senjata dalam Islam agar tidak membahayakan.

Nabi Muhammad SAW mengumpamakan Umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebuah hadis muttafaq’alaih dari An Nu’man bin Basyir ra menyebutkan beliau bersabda,
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang, cinta-mencintai, dan mengasihi sesama seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit sehingga tidak bisa tidur dan demam.”

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya sifat-sifat kemanusiaan, kasih sayang terhadap anak-anak dan sebagainya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra diceritakan Nabi Muhammad SAW mencium Hasan bin Ali ra, di samping beliau ada Aqra’ bin Habis, Ia berkata, “Aku punya sepuluh orang anak, tak seorangpun yang pernah ku cium.”
 Mendengar itu, Rasulullah SAW menoleh dan bersabda,

“ Barangsiapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”

Dalam riwayat muttafaq ‘alaih yang lain, Aisyah ra berkata,”Sejumlah Arab Badui menemui Rasulullah SAW, sebagian dari mereka bertanya,”Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Yang lain menjawab,”Ya, Benar.” Mereka berkata,”Demi Allah, kami tidak pernah mencium mereka.” Rasulullah SAW bersabda,
“Apa dayaku apabila Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian.”
Hadis muttafaq ‘alaih yang lain diriwayatkan Jarir bin Abdillah ra bahwa 

Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa pun yang tidak menyayangi orang lain maka Allah tidak akan menyayanginya.”

Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi anak-anak, samapai-sampai beliau mempercepat shalat ketika mendengar salah seorang dari mereka menangis. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Qutadah Al Harits bin Rib’i ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Ketika Aku memulai shalat dan ingin memanjangkan bacaan, tiba-tiba aku mendengarkan suara tangisan anak kecil. Maka, kupercepat shalatku, khawatir menyusahkan ibunya.”

Orang tua, orang sakit, dan orang-orang yang memiliki kebutuhan tertentu, tidak berbeda dengan anak-anak; perlu diurus dan diperlakukan dengan santun. Rasulullah SAW sampai mempercepat shalat demi mereka, sebagaimana di sitir dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila salah seorang diantara kamu menjadi Imam shalat, hendaklah ia memendekkan bacaan karena diantara mereka ada yang lemah, sakit dan tua. Namun, bila shalat sendirian, boleh memperpanjang shalatnya sesuka hati.”
Hati Nabi Muhammad SAW sangat lapang bagi seluruh umatnya. Beliau ingin memberikan keringanan pada mereka, karena khawatir ada yang tidak mampu, sebagaimana dijelaskan dalam hadis muttafaq ‘alaih dari Aisyah ra berkata,
“Rasulullah SAW rela meninggalkan suatu amal, meskipun beliau menyukainya, jika khawatir di kira wajib oleh umatnya.” ***


Tidak ada komentar: