Jumat, Mei 19, 2017

Beri Kami Rasa Rindu pada Ramadhan

Beri Kami Rasa Rindu pada Ramadhan[1]
Oleh Ahmad Zairofi AM

(Hal-4) Para salafusshalih dahulu, enam bulan berturut-turut sebelum datangnya Ramadhan, memohon kepada Allah agar bisa dipertemukan Ramadhan. Dan enam bulan sisanya, ia memohon dan berdo’a agar amal-amalnya di bulan Ramadhan di terima Allah.

(Hal-5) seorang laki-laki shalih menjual budak perempuannya kepada orang lain. Ketika ramadhan hendak tiba, majikan baru dai budak itu menyiapkan berbagai makanan. Maka budak itu berkata,”Mengapa engkau menyiapkan makanan seperti ini?” Majikan barunya menjawab,”Untuk menyambut puasa di bulan Ramadhan.”

(Hal-6) Maka budak yang beriman itu menjawab,”Apakah engkau sekeluarga tidak berpuasa kecuali bulan Ramadhan? Sungguh aku sebelum ini memiliki majikan yang merasakan sekan seluruh tahun adalah Ramadhan. Aku tidak mau majikan seperti engkau. Pulangkan aku ke majikanku yang pertama.”

Merasakan semua seakan semua Ramadhan, adalah capaian jiwa yang luar biasa. Itu adalah pupuk dan penyegar hati, agar kita terus-menerus merindukan Ramadhan. Seberapa besar kita rindu Ramadhan, seberapa besar pula kadar perasaan cinta kita akan keagungan bulan suci itu. Tidak ada iman tanpa cinta. Tidak ada cinta tanpa rindu. Maka orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, melebihkan cinta atas segala yang lain.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]: 165)

Rasa cinta kepada iman merupakan benih-benih, yang ditanam dan disuburkan oleh Allah sendiri, untuk orang-orang yang ia pilih. Bahwa ada usaha, ada pencarian, ada ikhtiar dan kemauan yang kuat dari setiap kita untuk bisa terhidayahi. Tapi itu tidak menyelesaikan semua proses kita untuk mengenal lebih dalam dan mencintai iman. Ada kuasa Allah yang menentukan. Maka Allah berfirman,

“Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat  kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu, jika kamu adalah orang-orang yang benar. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hujurat [49]: 17-18)

Allah pula yang menjadikan iman itu terasa indah, menyenangkan, menyejukkan, dan memenuhi relung hati orang-orang beriman. Sebagaimana firmannya,
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman (Hal-7) itu indah didalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat  dari Allah. Dan Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hujurat [49]: 7-8)

Karena itu, Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada nikmat di dunia yang mirip nikmat di akhirat kecuali iman.” Sementara Imam Ahmad mengatakan,”Jika engkau menginginkan Allah melanggengkan untuk mu apa yang engkau cintai, maka langgengkanlah pula untuk-Nya apa yang Dia cintai.”

Maka untuk mencintai seluruh ajaran-Nya, merindukan ajaran-jaran itu, yang terikat dalam satuan waktu atau pun tempat, kita harus meminta kepada-Nya. Seperti juga bulan yang sangat istimewa, bulan suci penuh keagungan, Ramadhan, kita juga harus meminta sejak sekarang, “Ya Allah, beri kami rasa rindu pada Ramadhan.”

Cinta dan rindu kepada ajaran Allah itu, pusat utamanya adalah cinta dan rindu kepada Allah sendiri. Karena itu, salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah adalah,

“..., Dan aku memohon kenikmatan melihat wajah-Mu, rindu bersua dengan-Mu dalam keadaan tidak ada kesulitan yang membahayakan, tidak juga fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasi kami dengan hiasan iman, dan jadikan kami bisa memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.”

Doa dalam hadist yang dishahihkan oleh Al Abani itu, merupakan sari pati yang sangat kuat dalam mengekspersikan iman. Ujung dari segala penyembahan kita, ibadah kita, kepasrahan kita, adalah keinginan untuk berjumpa, bertemu dengan Allah SWT, dalam keadaan yang menggembirakan, tiada aral yang menghalangi.
Tapi modal utama bersua dengan Allah, kita dapatkan dengan menabung amal-amal utama yang diperintahkannya. Modal utama kita membangun kerinduan kita kepada momen-momen penting ibadah dan amal-amal shalih. Seperti ibadah haji, umrah atau kesempatan mengisi bulan suci Ramadhan.

Dalam haji dan umrah, siapapun yang (Hal-8) berpamitan dari tanah suci, melakukan thawaf perpisahan, memandangi kakbah yang mulia, pasti memendam rindu dengan perasaannya yang paling mendalam, untuk bisa kembali bersua dengan rumah Allah yang menggetarkan bila dipandang itu. Siapapun yang akan meninggalkan kota suci Madinah, berpamitan kepada Rasulullah, dengan menyampaikan shalawat dan doa, pasti menyimpan rindu yang sangat kuat, untuk bisa kembali berziarah ke kota suci Rasulullah, bermunjat di Raudhah, berziarah kepada Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan melakukan shalat lima waktu dan shalat sunnah di Masjid Nabawi.

Siapapun yang pernah dan bisa merasakan manisnya Ramadhan, puasa siangnya, shalat di malamnya. Tilawah Al Qur’an di hari-harinya, suasana batin yang terasa utuh, akan selalu merindukan tibanya bulan indah itu. Saat segala jiwa menyatu dengan kemuliaannya, dan bahkan alam pun dengan harmoninya turut tunduk menghormati Ramadhan. Kita pasti merindukan semua itu.

Rasa rindu akan kehadiran momen-momen istimewa seperti itu, memberikan kita gairah untuk terus berharap, terus meminta dan terus memohon. Maka hubungan kita dengan Allah tidak terputus. Dan bahwa kita akan menyiapkan diri untuk kedatangan saat-saat istimewa tersebut.

Karena itu, para shalafusshalih dahulu, enam bulan berturut-turut sebelum datangnya Ramadhan, memohon kepada Allah agar bisa dipertemukan Ramadhan. Dan enam bulan sisanya, sejak Ramadhan tiba, mereka memohon dan berdoa agar amal-amalnya di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Maka tiada hari tanpa kerinduan. Tiada bulan tanpa permohonan. Untuk sebuah bulan yang sangat mulia, Ramadhan.

Cinta kepada Allah, sebagai energi utama, harus secara aktif kita tunjukkan kepada Allah SWT. Dahulu ada seorang shalih yang mengisi malam Ramadhan dengan membaca Al Qur’an. Ketika ia sampai pada ayat di surat Maryam yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang,”

Ia terus-menerus mengulang mengulangi ayat tersebut hingga subuh tiba. Tanpa disadari, seorang muridnya, menyaksikan gurunya itu sejak semula dan heran, mengapa ia baca berulang-ulang hingga subuh. Ia penasaran dan menemui gurunya untuk bertanya.

“Berjanjilah untuk tidak menyampaikan kepada orang lain, mengapa aku melakukan ini”,jawab gurunya ketika murid itu bertanya.

“Ya, aku berjanji menjaganya sebagai rahasia, selama engkau masih hidup, tetapi beritahu aku apa yang engkau rasakan dengan mengulang-ulang ayat itu”, lanjut muridnya.

“Ketika aku mengulang ayat itu, terasa dalam hatiku perasaan cinta antara hamba dengan Tuhannya. Maka aku begitu menikmati perasaan itu. Dan, setiap kali aku mengulang lagi ayat itu, bertambah pula perasaan cinta itu di dalam hatiku.”
Siapapun yang sampai derajat ini, bisa merasakan situasi ini, pasti merindukan kembali saat-saat seperti itu. Siapapun, yang bisa merasakan cinta mendalam dari dan untuk Allah, dengan mengulang-ulang ayat cinta di surat Maryam tersebut, di malam-malam Ramadhan yang khidmat, (Hal-9) pasti sangat dan sangat rindu akan hadirnya Ramadhan.

Tidak ada yang merugi, melebihi mereka yang tidak memiliki rasa rindu kepada pusaran-pusaran ibadah dalam Islam. Baik itu pusaran ibadah yang diikat oleh tempat, seperti haji dan umrah ke tanah suci. Maupun yang diikat waktu seperti shalat, puasa sunnah maupun puasa satu bulan di bulan suci Ramadhan.

Pada ujung semua itu, kerinduan terbesar seorang Mukmin yang harus terus dipupuk, adalah kerinduan untuk berjumpa dengan Allah, dalam keadaan beriman, berhati bersih, dan dapat melihatnya dengan mata kepala kelak di surga.
Kita membiasakan diri memupuk rasa rindu itu. Menguatkan rasa harap. Memperbesar keinginan untuk bisa menikmati saat-saat indah dalam beribadah. Hati kita punya karakter sendiri. Jiwa kita punya kekhususan. Ada konsumsi jiwa yang harus terus kita penuhi dengan baik. Agar tidak sampai lapar jiwa dan haus hati, karena kita tidak memberikan makanan untuknya.

Maka, merasakan hari ini seakan sudah Ramadhan, hanyalah cara sederhana untuk kita membuktikan cinta kepada Allah, kepada ajarannya. Sebab, di atas jalan cinta itu, kita akan memohon agar bisa tersambung dengan harapan akhir yang lebih besar, rindu dan cinta untuk bersua dengan Allah, melihat wajah-Nya, tanpa ada aral dan fitnah yang menghalangi.***




[1] Majalah Tarbawi  Edisi 233 Th.12, Sya’ban 1431 H, 29 Juli 2010 

Tidak ada komentar: