Kamis, Mei 18, 2017

Rasakan Hari Ini Seakan Sudah Ramadhan[1]

Rasakan Hari Ini Seakan Sudah Ramadhan[1]
Oleh Sulthan Hadi
(Hal-10) Hari ini kit sudah berada di awal Sya’ban; bulan yang tak ada jarak lagi dengan bulan sangat istimewa milik umat Muhammad SAW, yaitu Ramadhan. Dia berdiri bak pintu gerbang menuju taman yang sangat indah. Sebagian ulama mengistilahkan bulan ini sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Menurut mereka, para ulama itu, bulan Sya’ban ibarat latihan untuk menghadapi puasa Ramadhan, agar seseorang tidak terbebani dengan puasanya ketika Ramadhan tiba.”

Tapi realita itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita perlu merasakan Ramadhan di sini. Sya’ban adalah tempat kita mulai melangkah. Jika dia adalah gerbang sebuah taman yang indah, maka tentu dia pun memiliki keindahan (Hal-12) nya sendiri. Agar kita bisa memperoleh Ramadhan lebih sempurna, tentu kita perlu memulainya dari sini, dengan beberapa perenungan.  

Agar Kita Tidak Termasuk Orang-Orang yang Lalai

Berulang kali Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, tapi berulang kali kita merasa gagal meraih sesuatu yang membanggakan dari bulan suci itu. , seringkali Ramadhan yang kita masuki sudah melewati separuh perjalanannya tapi kita masih diliputi kebingungan dan ketidakpastian, karena belum melakukan apa-apa kecuali hanya menahan lapar dan dahaga. Dan kegagalan itu, mungkin saja bermula dari kegagalan kita menyiapkan diri sebelum ia datang. Sebab faktanya, tidak jarang Ramadhan menyapa kita namun suasana jiwa, batin dan hati yang kita bawa mengarungi hari-harinya, adalah suasana seperti ketika kita masih berada di bulan-bulan yang lain; tidak ada kesadaran yang terbangun, melainkan kita masih dalam keadaan yang lalai.

Karena itu, merasakan kehadiran bulan Ramadhan yang penuh rahmat itu hendaknya dimulai dari sini, di hari-hari Sya’ban ketika kebanyakan orang belum menyadari kedatangannya sejak dini. Di sinilah orang seringkali lupa untuk memulai jadwal yang baik, tidak melakukan pembekalan untuk menambah kekuatan ketaaatannya kepada Allah SWT. Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi SAW,

“Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan yang lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab,”Itulah bulan yang manusia melalaikannya yang posisinya antara Rajab dan Ramadhan.”

Hadist ini menyimpan sebuah isyarat penting, yaitu bahwa ada anjuran untuk mengefektifkan waktu dengan ketaatan kepada Allah ketika orang lain sedang lalai. Sebagaimana sebagian salafusshalih suka mengisi waktu antara maghrib dan Isya dengan shalat. Mereka mengatakan, waktu ini sering dilalaikan banyak orang. Begitu pula, mereka menganjurkan untuk banyak berdzikir ketika berada di pasar, karena di sanalah orang-orang seringkali lupa dan terpedaya.

Tindakan ini tentu saja memiliki banyak manfaat. Diantaranya melatih diri untuk menyembunyikan amal-amal sunnah yang memiliki keutamaannya sendiri, terlebih ibadah puasa yang merupakan ibadah rahasia antara hamba dengan Rabbnya. Sebab itu, sebagian salaf ada yang berpuasa dalam setahun dan tak seorangpun dari keluarganya yang mengetahuinya. Misalnya, ada seorang diantara mereka yang ketika pagi keluar ke pasar dengan membawa roti. Ketika tiba di pasar, roti itu ia sedekahkan, sementara dia sendiri sedang berpuasa sehingga keluarganya mengira dia sendirilah yang memakan roti itu. Mereka menyembunyikan amal dengan tetap berpenampilan yang segar. Seperti kata Ibnu Mas’ud, “Jika kalian berada di pagi hari dalam keadaan berpuasa maka pakailah minyak rambut (agar tidak terlihat lusuh).”

Begitupun juga, bahwa beramal shalih di saat-saat yang terlalaikan lebih sulit dilakukan dan berat di jiwa. Karena diantara keutamaan suatu amal (Hal-13) adalah karena tingkat kesulitannya di dalam diri kita. Ketika suatu amal dikerjakan oleh banyak orang secara berjamaah naka akan terasa mudah. Tapi ketika banyak orang yang mengabaikan maka di situlah munculnya rasa sulit itu. Ma’qil bin Yasar mengatakan, “Ibadah di saat terjadi kekacauan dan fitnah, bagiku seperti melakukan hijrah.”

Membangun kenikmatan suasana di hari ini dengan berpuasa, misalnya, ini usaha kita menyadarkan diri agar keluar dari kelalaian kita, dan agar memiliki kesinambungan semangat spiritual ketika nanti kita, telah memasuki bulan Ramadhan, selain bahwa berpuasa di hari-hari ini tentu saja memiliki pahalanya sendiri di sisi Allah SWT.

Ibnu Rajab mengatakan, “Puasa di bulan Sya’ban lebih utama dari puasa di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Hijjah dan Muharram), dan sebaik-baik amalan sunnah yang dekat dengan Ramadhan, sebelum atau sesudahnya. Kedudukannya di sisi Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat-shalat rawatib di sisi shalat-shalat fardhu, qabliyah maupun ba’diyah, Dia adalah penyempurna dari kekurangan-kekurangan amal-amal fardhu kita. Maka demikian pula puasa sebelum atau sesudah Ramadhan, dia lebih utama dari puasa-puasa yang jauh dari Ramadhan.

Ada Amal-Amal Kita yang Sedang Diangkat di Sini

Diantara hikmah Allah SWT, dia menjadikan dunia sebagai lahan bertanam dan medan untuk saling berlomba. Lalu Allah menghamparkan keutamaan-keutamaan-Nya di sana kepada hamba-hamba-Nya; memberi ganjaran yang besar terhadap  yang kecil dan sederhana, dan menyediakan untuk mereka momen-momen tertentu di mana Dia melipatgandakan pahala mereka. Maka berbahagialah orang yang mampu memanfaatkan momen-momen berharga itu,untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan beragam ketaatan, sehingga mereka mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan, yang akan menyelematkan mereka dari api neraka.


Dalam firman Allah SWT,
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS. Al Furqan [25]: 62)

Hasan Al Bashri memberi penjelasan,”Siapa yang tidak mampu melakukannya di waktu malam, dia meminta keridahaan Tuhannya di waktu siang. Dan siapa yang tidak sanggup mengambilnya di waktu siang, dia mencarinya di waktu malam. Dia berusaha mengambilnya di waktu lain dari apa yang ditinggalkannya.”

Sekarang ini, sesungguhnya kita sedang berada di momen yang penting, yaitu bulan Sya’ban, sebelum kita bertemu dengan momen yang lebih penting, yaitu Ramadhan. Momen ini penting karena Rasulullah SAW bersabda,

“Dialah (Sya’ban) bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb seluruh Alam. Maka aku senang jika amalku diangkat sementara aku sedang berpuasa.”

Hadist ini jelad memberi pemahaman lain kepada kita, bahwa ternyata puasa-puasa Rasulullah di bulan Sya’ban yang banyak itu, tidaklah sekadar latihan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Tapi lebih dari itu, Rasulullah ingin ketika malaikat melaporkan amalnya, beliau (Hal-14) sedang melakukan hal-hal yang baik dan terpuji. Beliau sedang mengabdi kepada Rabbnya. Beliau ingin membuat kesan yang baik kepada makhluk langit tentang dirinya.

Momen ini seolah seperti momen di waktu subuh dan asar, atau di saat hari Kamis, di mana Rasulullah menjelaskan bahwa saat-saat itu, juga ada pengangkatan dan pelaporan amal-amal kebaikan ke langit sana, kepada Allah SWT, melalui pergantian malaikat. Dan karena itu, Rasulullah pun memperbanyak amal di sana.

Rasanya, hadist ini sudah cukup untuk memotivasi kita memperbanyak amal; puasa, sedekah, dzikir atau apa saja, agar ruhiyah kita terbantu untuk merasakan suasana Ramadhan sebelum waktunya. Maka di hari-hari ini, mari kita mengajak diri kita sendiri untuk menghadirkan perasaan itu, bahwa sebelas bulan yang telah berlalu dan kita tidak banyak melakukan amal shalih untuk bekal diri, dan saatnya kembali bersemangat menambal kekurangan-kekurangan itu agar yang ketika nanti malaikat membuat laporan tentang kita, adalah hal-hal yang baik yang membuat Allah bangga dengan kita, menjelang turunnya Rahmat-Nya yang agung, yaitu bulan Ramadhan.

Ada Hidayah Allah yang Selalu Harus Dipelihara di Sini

Allah SWT telah memberi kita karunia yang tak terkira, dan segala puji bagi-Nya atas semua karunia itu. Karunia-Nya yang terbesar adalah ketika Allah menjadikan kita sebagai Muslim, dimana dengan karunia itu kita mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya. Karunia terbesar berikutnya adalah ketika Allah mengaruniai kita taufiq untuk selalu taat kepada-Nya.

Lihatlah, ada begitu banyak orang yang mengaku Muslim tapi tidak melaksanakan shalat, tidak berpuasa, dan tidak mengeluarkan zakat. Sebab itu, sekali lagi, kita harus memuji-Nya karena karunia taufiq yang mengantarkan kita untuk selalu taat kepada-Nya. Maka Renungkanlah Firman-Nya,

“Dan Dia mendapati mu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS. Adh-Dhuha [93]: 7)

Muqatil mengatakan, ayat ini mengajak kita mensyukuri karunia-Nya yang diberikan kepada kita, yaitu hidayah setelah kesesatan, dan menyantuni anak yatim setelah sebelumnya adalah orang-orang miskin.

Itulah karunia yang paling besar yang Allah berikan pada kita. Dan Rasulullah SAW telah berjuang sekuat tenaga, menghadapi segala rintangan dan siksaan, tidak siang dan malam, rela terusir dari kampung  halamannya, agar kita mendapatkan karunia ini. Allah menegaskan,

“Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura [42]:52)

Karunia inilah yang harus kita periksa, khususnya di saat-saat seperti ini, dihari-hari kita menjelang Ramadhan. Sebab karunia ini masih menguasai jiwa kita, itulah keberuntungan yang besar dan kegembiraan yang tiada tara. Allah mengatakan,

“Katakanlah (Muhammad), ‘ Dengan Karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah dengan, dengan itu itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (Hal-15)” (QS. Yunus [10]: 58)

Imam As Sa’di berkata, “Karunia agama yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak ada sesuatu yang sebanding dengannya dari apapun di dunia ini, karena semua itu bersifat sementara dan akan segera lenyap.”

Tak lama lagi, Ramadhan segera datang membawakan kita hidayah yang telah diperjuangkan Nabi yang mulia itu, seperti yang dijelaskan Allah,

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Allah menurunkan taufiq-Nya kepada banyak orang di hari-hari penuh berkah itu, untuk taat, beribadah, dan tunduk atas segala perintah dan larangan-Nya; di mana syetan dipenjarakan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup. Kerinduan seorang Muslim begitu besar menyambut datangnya hari-hari berselimut iman itu, untuk kembali memperlihatkan ketaatannya dan rasa takutnya kepada Allah, serta mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, dimana sebelumnya ia merasa jauh dari-Nya.

Itulah kelezatan yang kita harus sambut gembira. Dialah jalan menuju Allah, sebuah tekad yang jujur untuk kembali taubat dan istiqomah atas perintah-Nya. Berkumpul di gerbong orang-orang shalih adalah mimpi kita semua, mimpi orang-orang berakal. Jika saja para nabi alaihimussalam, berdoa kepada Allah untuk mendapatkan itu, padahal mereka adalah pemimpin gerbong itu, sungguh kitalah yang paling layak dan paling butuh mengimpikan kesertaan bersama mereka. Mari kita renungkan permohonan mereka, yang diwakili Yusuf As,

“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan Pencipta Langit dan Bumi, engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkan aku dengan orang yangshalih (QS. Yusuf [12]: 101)

Ada Rasa Gembira yang Melahirkan Motivasi

Ramadhan adalah kerinduan. Dia ibarat kekasih dengan kenangan-kenangan indah saat bersamanya. Dia mengingatkan kita tentang puasa, shalat tahajjud, shalat tarawih, makan sahur, tilawah Al Qur’an, Infaq dan sedekah, zakat fitrah dan sebagainya. Semua itu memberi kesan yang indah pada diri seorang Muslim. Dan karena itu ia selalu merindukannya.

Hari ini kita sedang jelang bulan yang agung itu kembali. Bulan yang Rasulullah SAW sangat mendambakan perjumpaan dengannya, seperti tercermin dalam sebuah riwayat,

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukan kami dengan Ramadhan.”

Beliau memperlihatkan kerinduan yang sangat, jauh sebelum bulan itu datang. Begitu pula dengan para sahabat dan pengikut-pengikut beliau yang shalih. Al Ma’alli bin Fadhl mengatakan, “ orang-orang salaf, dahulu berdoa kepada Allah enam bulan sebelumnya agar mereka dipertemukan dengan Ramadhan.”

Kerinduan kita dengan Ramadhan sesungguhnya adalah motivasi. Sebuah kenangan (Hal-16) indah kita saat bersamanya, akan mengingatkan kita pada kekurangan-kekurangan kita pada hari ini. Setelah sebelas bulan berpisah, kita telah banyak lalai. Berapa banyak kebaikan dalam puasa yang hilang bersama ghibah, berapa banyak kebaikan dalam Al Qur’an telah hilang bersama kemalasan untuk duduk dalam lingkaran-lingkaran dzikir. Betapa banyak kebaikan shalat malam lenyap oleh kebiasaan kita berlama-lama dalam tidur.

Di hari-hari kita sebelum hari ini, mungkin kita merasa jauh dari Allah. Tapi kedatangan Ramadhan yang semakin dekat mudah-mudahan segera melahirkan kerinduan. Ya, kerinduan yang mendekatkan kita dengan Allah SWT; kerinduan yang mengingatkan kita kembali kepada amal-amal kebaikan yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan; kerinduan yang menghadirkan suasana Ramadhan sebelum ia benar-benar tiba; kerinduan orang-orang terpilih dari generasi pertama umat ini, yang selalu berangan-angan dipertemukan Ramadhan, berdoa kepada Allah untuk kembali merasakan kelezatan dan keberkahannya.

Apakah kita gembira menyambut Ramadhan ? sebagai orang yang beriman, pertanyaan ini mestinya selalu kita tanyakan kepada diri sendiri. Terlebih ketika kita semakin dekat dengan hari-hari yang penuh dengan cahaya itu, hari-hari yang diliputi keberkahan, yang merupakan pemberian spesial Allah kepada umat ini yang tak diberikan kepada siapapun umat terdahulu.

Ada perjalanan Usia Kita yang Harus Selalu Dimaknai

Tentu diantara kita tak ada yang memungkiri keagungan Ramadhan. Sebab kita telah lama tahudan paham tentang keistimewaan-keistimewaannya. Dialah keutamaan yang Allah berikan untuk kita, hanya bagi orang-orang yang beriman. Karena itu kita harus menyambutnya dengan suka cita, seperti yang Allah perintahkan,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan Karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)

Sayangnya tidak semua kita yang dipertemukan Ramadhan mengerti dan tahu memanfaatkan hari-hari dan malamnya yang penuh berkah. Memang banyak diantara kita yang sibuk dengan ti (Hal-17) lawah Al Qur’an, melakukan shalat Tarawih dan Qiyamullail, serta berdzikir kepada Allah. Namun tidak sedikit yang asik dengan kelalaiannya, menghabiskan waktu dengan perbuatan sia-sia, padahal kesempatan berharga itu belum tentu bisa menyapa usia kita kembali.

Shalafusshalih mengingatkan kita, “Betapa banyak orang yang mengharapkan masa depan namun mereka tidak dapat menggapainya, dan betapa banyak orang yang bercita-cita melakukan sesuatu di esok hari tapi ia tak lagi sampai kepadanya. Sungguh jika kalian melihat ajal itu dan perjalanannya, engkau pasti benci untuk bercita-cita dan segala keindahannya.”

Allah telah menakdirkan umur setiap manusia untuk hidup di permukaan bumi ini. Dan umur itu adalah periode ujian kita sebagai makhluk Allah SWT; periode yang terdiri dari hari-hari dan malam-malam, yang membentuk usia kita secara keseluruhan. Hasan Al Bashri mengingatkan, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah sekumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga ikut berlalu.”

Suatu hari, ketika sedang mengantar jenazah, Hasan Al Bashri memegang tangan sahabatnya lalu berbisik,”Apa yang akan dilakukan jenazah itu jika ia ditakdirkan hidup kembali di dunia ?” Antara sedih dan kaget, sahabat tersebut menjawab, “Tentu ia akan berbuat lebih baik dari sebelum matinya.” Hasan Al Bashri berkata, “Jika dia tidak dapat melakukannya, jadilah kamu seperti yang kamu katakan itu.”
Ujung dari umur ini tidak seorang pun yang tahu, seperti yang telah ditegaskan Allah,

“ Dan tidak ada seorang pun yang dapat memastikan di bumi mana ia akan mati.” 

 Maka apakah yang bisa memastikan bahwa kita masih bisa merasakan hari-hari seperti ini kembali? Apakah yang bisa meyakinkan kita bahwa ajal kita masih mampu menjejaki Ramadhan esok? Tidak ada. Karena usia kita terbatas, maka rasakanlah hajat dan ketergantungan kita yang besar kepada Allah. Jadikan usia kita hari ini menjadi hari-hari yang bermanfaat, melakukan banyak amal, sebelum Allah SWT memberikan kita yang lebih baik; hari-hari Ramadhan. Renungkanlah kalimat dari Ibnu Umar ra, “Aku tidak menyesali sesuatu seperti aku menyesali hariku yang ditelan matahari dan mengurangi usiaku, sedang amalku tidak bertambah.” ***



[1] Majalah Tarbawi Edisi 233 Th. 12, Sya’ban 1431  H, 29 Juli 2010 

Tidak ada komentar: