Sabtu, Januari 14, 2017

Keangkuhan yang Rapuh - 11 Serial Pembelajaran

 Keangkuhan yang Rapuh

Majalah Tarbawi Edisi 215 Th. 11 Dzulhijjah 1430 H/ 19 November 2009 M

Karena dunia, dalam benak kita sebagai manusia, adalah lukisan yang  tak selesai, maka selamanya cara pandang kita tentang dunia dan hidup kita akan kenaifan yang permanen. Dan itu akan selamanya akan menurun pada sikap-sikap kita yang juga naif. Sebab sikap-sikap kita adalah buah dari cara pandang  dan pemahaman kita tentang sesuatu.

Sekarang, walaupun kita hidup di tengah sebuah peradaban ilmu dan tehnologi yang canggih, akses yang tak terbatas pada sumber informasi yang juga tak terbatas, bahwa setiap hari kita dicekoki dengan doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan, dimana apa yang ada di alas bumi, di perut bumi, dan di angkasa sana, semuanya masuk wilayah penjelajahan ilmu pengetahuan manusia modern; semua itu tidak dapat menghapus fakta bahwa lukisan kita tentang dunia ini tetaplah tak pernah selesai, dan karena kenaifan kita sebagai manusia tetap permanen. Begitulah Allah menitahkan:”Dan tiadalah kamu diberi ilmu kecuali hanya sedikit.”

Jumat, Januari 13, 2017

Lukisan yang Tak Selesai - 10 Serial Pembelajaran

Lukisan yang Tak Selesai

Majalah Tarbawi Edisi 214 Th. 11 Dzulqa’idah 1430 H/ 5 November 2009 M

Setiap saat, dalam perjalanan hidup yang panjang, kita selalu menemukan satu per satu rahasia kehidupan. Setiap satu rahasia yang kita temukan, menambah pengetahuan kita tentang hidup. Setiap kali pengetahuan kita bertambah, kita menjadi lebih arif dan bijaksana.

Situasi itulah yang terekam dalam salah satu warisan hikmah orang Arab. Mereka mengatakan, sebodoh-bodohnya manusia , umur akan tetap membuatnya lebih bijaksana. Kebijaksanaan terbentuk dari akumulasi informasi yang membentuk pengetahuan kita tentang hidup. Karena sifatnya yang akumulatif, maka kesadaran hidup kita tidak akan bisa terbentuk seketika. Karena tidak terbentuk seketika, maka sikap hidup kita berubah dari waktu ke waktu.

Kamis, Januari 12, 2017

Dunia Kita Hidup Kita - 09 Serial Pembelajaran

Dunia Kita Hidup Kita

Majalah Tarbawi Edisi 213 Th. 11 Dzulqa’idah 1430 H/ 22 Oktober 2009 M

Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu-persatu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati  bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk laindi dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada lampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari terang itu namanya siang da ketika hari gelap itu namanya malam ? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda ? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Rabu, Januari 11, 2017

Para Pencipta Kemakmuran - 08 Serial Pembelajaran

Para Pencipta Kemakmuran
Majalah Tarbawi Edisi 212 Th. 11 Syawal 1430 H/ 8 Oktober 2009 M
Lelaki kaya raya itu menangis tersedu-sedu, selama berhari-hari, menjelang kematiannya. Bukan karena ia takut mati. Atau sedih karena harus meninggalkan kekayaanya yang meJlimpah ruah. Ia justru sedih karena tak mengerti bagaimana menafsirkan kekayaan dan kemakmurannya.

Begini ia bertanya pada dirinya sendiri:”Ada sahabat Rasulullah saw yang jauh lebih baik dariku, yaitu Mus’ab bin Umaer, yang ketika wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun jugJa. Ia bahkan tidak punya cukup kain kafan untuk menutupi jasadnya, hingga jika kepalanya ditutup maka kakinya terbuka, jika kakinya ditutup maka kepalanya terbuka. Lalu apa artinya bawa mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah ini sementara mereka tidak? Tidakkah kekayaan ini malah akan mengantarkan aku ke neraka??”

Selasa, Januari 10, 2017

Perbedaan Amal Siyasi dan Kerja Politik

Perbedaan Amal Siyasi dan Kerja Politik

Perbedaan yang sangat mendasar dari amal siyasi dan keja politik berawal dari cara pandang,  sudut pandang aplikasi praktis di lapangan yaitu kepentingan masyarakat. Sebab dalam pembicaraan sehari-hari terutama di kalangan awam politik dan siyasah nyaris tidak berbeda. Pada kesempatan kali ini kita membatasi pembedahan kita dalam aspek Prinsip, orientasi dan cara kerjanya saja. Aspek yang lain akan kita bahas pada pembahasan lain Insya Allah.

Pertama, Prinsip Amal Siyasi  adalah perbaikan (Ishlah) sedangkan prinsip kerja politik adalah Ilmu dan seni mendapatkan kekuasaan. Dalam hal ini  Islam menjadikan Komponen Negara adalah “terminal”  (Jalan Masuk dan Jalan Keluar) sebagaimana Doa Rasulullah SAW ketika beliau berangkat  hijrah ke Yastrib yang nanti akan menjadi Madinah Al Munawwarah sebagaimana terdapat dalam Firman Allah SWT:

”Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar dan adakanlah untukku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolongku’”(QS. Al Isra’ : 80)

Senin, Januari 09, 2017

Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban - 07 Serial Pembelajaran

Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban
Majalah Tarbawi, edisi 194 /Th. 10 Muharram 1430 H-08 Januari 2009 M
Para penakluk imperium dari jazirah itu menyisakan satu realitas yang lucu. Mereka tumbuh di tengah gurun sahara dan tidak bisa berenang. Itulah yang yang jadi kendala pasukan Muslim saat akan menaklukkan Persia dimana mereka harus menyeberangi sungai Eufrat dan Tigris. Dalam waktu singkat kendala itu bisa dilalui. Sebab itu Cuma sungai. Begitu  juga ketika pasukan Muslim di bawah komando Amr bin Ash itu harus menaklukkan Mesir dari kolonialisme Romawi. Sebab masih ada jalur darat untuk sampai ke sana.

Kendala menjadi lebih besar ketika Syam, Irak dan Mesir sudah ditaklukkan. Sebab semua ekspansi setelah itu harus melewati laut. Itulah yang menggusarkan Umar bin Khattab. Itu terlalu berisiko. Apalagi ketika beliau bertanya kepada Amr bin ‘Ash tentang suasana diatas kapal di tengah laut. Amr yang cerdas dan humoris melukiskan suasana itu dengan cara yang agak dramatis. Bayangkan saja, ada sebatang pohon yang terapung diatas laut yang berombak, sementara ulat-ulat yang adalam dalam batang kayu itu berusaha untuk tetap bertahan dan tidak jatuh atau terseret ombak. Begitu juga manusia-manusia yang ada di atas perahu atau kapal.

Minggu, Januari 08, 2017

Mujahid Badui Penakluk Imperium - 06 Serial Pembelajaran

Mujahid Badui Penakluk Imperium

Majalah Tarbawi Edisi 193 Th. 10 Dhulhijjah 1429 H/ 25 Desember 2008 M
Apa penjelasannya, bahwa 3000 mujahid dari badui-badui gurun jazirah Arab, berani melawan 200,000 pasukan Romawi dalam perang Mu’tah?  Mereka tidak menang, memang, dalam pertempuran yang berlangsung tahun kedelapan hijriah itu. Tiga panglima mereka gugur sebagai syuhada; Zaid Bin Haritsah, Ja’far Bin Abi Thalib, Abdullah Bin Rawahah. Ketika Khalid mengambil alih kepemimpinan, yang ia lakukan adalah mundur teratur untuk menyelamatkan nayawa mujahidin yang tersisa.

Sementara anak-anak melempari mereka dengan batu saat kembali ke Madinah, karena dianggap melarikan diri, Rasulullah justru menggelari Khalid sebagai Saefullah Al Maslul. Pedang Allah yang terhunus. Menyelamatkan nyawa pasukan adalah keputusan bijak seorang pemberani. Berhasil mundur dari kejaran pasukan sebesar itu adalah keahlian tempur seorang jenius perang. Tapi berani melawan pasukan sebesar itu adalah pesan penting bagi Romawi; pertempuran sudah kita mulai, dan kami akan kembali.