Sabtu, Januari 28, 2017

Para Pewaris Nabi - 23 Serial Pembelajaran

 Para Pewaris Nabi
Majalah Tarbawi Edisi 230 Th. 12 Rajab  1431 H, 29 Juni  2010 M

Seperti kita mencari alamat tertentu, kita biasa bertemu dengan banyak  orang di sepanjang jalan yang dapat kita tanyai. Kita tetap memerlukan orang-orang seperti itu sekalipun ada peta di tangan kita. Bahkan sekalipun peta sudah sangat jelas dan mudah.

Allah mengerti kebutuhan itu. Dan orang-orang yang kita tanyai di sepanjang jalan itu adala para ulama. Sebagai peta jalan kehidupan, Allah telah membuat semua petunjuk dalam Al-Qur’an begitu mudah dan jelas. Sebegitu mudah dan jelasnya, hingga Ibnu Taymiah mengatakan bahwa sebagian besar isinya dapat oleh sebagian besar manusia dengan hanya menggunakan akal sehat. Hanya sedikit sekali yang tidak kita pahami. Dan wilayah para ulama.

Jumat, Januari 27, 2017

Yang Tersisa adalah Teks - 22 Serial Pembelajaran

Yang Tersisa adalah Teks
.   
Wahyu dari langit sudah terputus ketika Muhammad SAW menghembuskan nafas terakhirnya. Tak ada lagi nabi. Tak ada lagi kitab suci. Tapi pembelajaran melalui wahyu tidak berakhir. Karena ada jaminan Allah bahwa kitab suci terakhir itu, Al-Qur’an Al-Karim, akan menjadi kitab yang abadi, yang autentitasnya selamanya akan terjaga, kata dan hurufnya takkan terjangkau oleh perubahan dan penyimpangan, kebenaran substansinya akan menembus semua batas ruang dan waktu hingga kiamat.

Jika sahabat-sahabat yang beriman dan hidup bersama Muhammad SAW berinteraksi dengan wahyu secara langsung bersama penerima wahyu, maka pembelajaran mereka menjadi jauh lebih mudah dan sempurna. Karena mereka mendengarkan teks, mendengarkan penjelasan atas teks, dan yang lebih penting dari itu semua, adalah melihat contoh hidup yang menerapkan teks itu. Ada kaidah ada contoh. Ada teori ada praktek. Ada ide ada gerak. Ada berita ada peristiwa. Ada bunyi ada rupa. Ada yang terdengar ada yang terlihat. Itu karunia yang merupakan takdir mereka. Takdir kita mungkin tidak sebagus mereka. Kita sekarang kehilangan satu aspek dari proses dan metode pembelajaran itu, yaitu contoh hidup yang bersanding bersama teks. Tapi kekurangan itu bisa tertutupi oleh fakta bahwa semua gerak dan kata contoh hidup tersebut tetap sampai kepada kita melalui riwayat dan metodologi periwayatan yang sangat akurat yang tidak pernah ada dalam sejarah peradaban manapun di dunia. Sedemikian akuratnya metodologi periwayatan itu, sehingga jika ia diterapkan, misalnya, pada sejarah bangsa Yunani, maka semua riwayat tentang Plato atau Aristoteles atau Socrates, takkan kita percayai seperti sekarang kita mempercayainya.

Kamis, Januari 26, 2017

Pengajaran Langit - 21 Serial Pembelajaran

Pengajaran Langit

Jika ratusan ribu nabi dan rasul harus diturunkan untuk satu pekerjaan yang sama, yaitu mengjar manusia, maka itu tidak hanya meyakinkan kita betapa pentingnya pengetahuan dalam kehidupan kita, tapi juga menyimpan sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana sebenarnya cara Allah mengajar kita?

Kita tentu berangkat dari sebuah aksioma paling mendasar bahwa Allah adalah sumber dari segala sumber pengetahuan. Allah kemudian mengajar manusia dengan dua cara: langsung dan tidak langsung. Pengajaran langsung itu dilakukan dengan dua cara: yang satu melalui wahyu dan lainnya melalui ilham. Selain itu ada pengajaran yang tidak langusng yang dilakukan melalui dua cara: yang satu melalui penalaran dan lainnya melalui penginderaan. Jadi itulah empat sumber pengetahuan kita: wahyu, ilham, nalar, dan indera.

Rabu, Januari 25, 2017

Bangsa Petualang Penutur - 20 Serial Pembelajaran

Bangsa Petualang Penutur

Majalah Tarbawi Edisi 226 Th. 11 Jmumadil Awal  1431 H/ 22 April  2010 M

Orang ramai berkumpul seperti layaknya semua pasar. Sebab itu memang pasar. Tapi tanpa aksi jual beli. Tidak ada perdagangan di situ. Mereka datang untuk bertutur. Bukan berdagang. Itulah pasar Okaz: pasar para penyair yang sangat terkenal di jazirah Arab pada masa jahiliyah.

Para penyair datang ke pasar itu dan menyampaikan puisi-puisi mereka dari atas kuda atau onta secara langsung dan spontan. Mereka tidak merekam puisi  mereka dalam tulisan. Mereka menuturkan apa yang terekam dan terbetik seketika di kepala dan hati mereka tanpa proses edit seperti semua puisi yang sekarang kita baca. Puisi-puisi itu abadi serta terus dipelajari hingga saat ini.

Selasa, Januari 24, 2017

Penutup Nubuwwah - 19 Serial Pembelajaran

 Penutup Nubuwwah

Majalah Tarbawi Edisi 224 Th. 11 Rabiul Akhir 1431 H/ 25 Maret  2010 M

Umar marah besar. “Siapa yang mengatakan Muhammad sudah mati”, katanya saat mendengar kematian itu, “niscaya akan ku penggal lehernya”. Ali terdiam tidak sanggup bicara, Ustman tergagap tidak sanggup berkata. Hanya Abu Bakar yang masuk membuka kafan yang menutupi tubuh Muhammad. Setelah melihat wajahnya, Abu Bakar lantas mencium keningnya lalu berkata:”Alangkah baiknya kamu saat hidup dan saat wafat”. Setelah keluarlah beliau sambil berkata:”Siapa yang menyembah Muhammad, maka kini Muhammad sudah mati. Dan siapa yang Menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan mati”.

Sang Nabi telah wafat. Berita kematian itu segera mengguncang seluruh Madinah, jazirah Arab bahkan dunia. Tapi ada peristiwa yang jauh lebih penting dari itu: kematian Muhammad juga menjadi penutup mata rantai kenabian yang panjang yang telah mengisi lembar kehidupan umat manusia. Itu adalah kesedihan diatas kesedihan.

Senin, Januari 23, 2017

Narasi Muhammad - 18 Serial Pembelajaran


Majalah Tarbawi Edisi 223 Th. 11 Rabiul Awal 1431 H/ 11 Maret  2010 M

“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”

Itu dialog Nabi Muhammad dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Allah mengembalikan penglihatannya. Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan:”Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Allah tidak mengembalikan penglihatanku.”

Tangan Isa - 17 Serial Pembelajaran

Tangan Isa

Majalah Tarbawi Edisi 222 Th. 11 Rabiul Awal 1431 H/ 25 Februari  2010 M

Mereka semua gusar. Tuan rumah, tetamu dan seluruh penghuni rumah itu yang umumnya kaum fakir miskin dan nestapa. Pasalnya, tuan rumah kehilangan uangnya dalam rumahnya. Tentu saja sang tamu, seorang ibu dan anak lelakinya, yang paling gusar diantara mereka. Karena kejadiannya bertepatan dengan kedatangan mereka. Dan anak lelaki kecil itu menangkap kegusaran yang hebat di wajah ibunya, selain keharusan di wajah tuan rumah dan segenap penghuni rumah lainnya. Ia pun segera bertindak.

Diantara para penghuni itu ada seorang lelaki buta dan seorang lelaki lumpuh. Tiba-tiba anak kecil itu mendatangi mereka berdua dan berkata pada si buta:”Ambil tangan sahabatmu yang lumpuh itu. Lalu bawa dia ke tempat kalian mengambil uang itu.” Si buta terhenyak lalu menjawab:”Aku tidak bisa melihat dan sahabatku tidak bisa melihat”. Tapi anak kecil itu terus mendesak mereka dan berkata:”Kamu pasti bisa. Sebab tadi kalian berdua yang mengambil uang itu.” Akhirnya si buta dan si lumpuh mengakui perbuatan mereka dan segera mengembalikan uang itu. 

Minggu, Januari 22, 2017

Integritas Modal Kita Bermusyarakah Siyasiyah

Integritas Modal Kita Bermusyarakah Siyasiyah

“Resapi kembali ajaran keberanian dan keadilan. Karena kamu akan dipanggil kembali untuk memimpin kembali bangsa-bangsa di dunia  (Muhammad Iqbal)

Keutuhan pribadi adalah dasar integritas. Tidak ramai dengan dirinya sendiri adalah tiangnya. Amanah adalah atapnya. Sikap rendah hati dan lemah lembut penuh cinta adalah dinding-dindingnya. Rendah hati! Bukan rendah diri. Sekali lagi rendah hati bukan rendah diri. Karena kewibawaan Dien dan Dakwah ini jauh lebih digjaya jika diukur dengan kapasitas pribadi kita. Al Islamu A’la wala yu’la alaih.