Sabtu, Februari 18, 2017

Terbelenggu

Terbelenggu [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Seorang petani tak seganja menemukan seekor anak gajah dekat rumahnya. Mungkin anak gajah itu tertinggal dari kumpulan teman-temannya. Lantaran iba, sang petani merawat anak gajah itu. Karena khawatir hewan itu akan berkeliaran dan merusak tanaman, si petani mengikatnya dengan rantai yang dipatok pada sepotong bambu.

Hari pn berlalu. Anak gajah itu mulai tumbuh. Sudah jadi naluri binatang untuk bebas. Si anak gajahpun berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai. Berulang kali ia mencoba, berulangkali juga gagal. Bahkan, ia pernah memberontak sampai kakinya terluka. Lama kelamaan, niat anak gajah untuk bebas itu melemah. Bahkan lama kelamaan hilang.

Jumat, Februari 17, 2017

Sang Inspirator

Sang Inspirator [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Natsir. Siapa yang tak kenal? Di tengah gelora kaumnya yang muda, Natsir bergabung dan mengetuai Kepanduan JIB (Jong Islamieten Bond) Cabang Bandung. Organisasi ini belakangan menjadi salah satu komponen sukses mencetuskan ikrar Sumpah Pemuda.

Natsir muda menjadi murid intelektual ulama terkemuka A Hassan dan politisi kawakan Haji Agussalim. Setelah lewat masa perjuangan panjang di jalur politik, Natsir melahirkan Dewan Dakwah. Natsir sukses menjadi inspirator, membina dai-dai muda, mengirimkannya ke segenap pelosok, memberikan suluh tuk menerangi nusantara dengan cahaya Islam.

Kamis, Februari 16, 2017

Pemimpin

Pemimpin [1]
Oleh Hepi Andi Bastoni

Orang  yang bersikeras ingin diangkat menjadi pemimpin, akan cenderung mempertahankannya kala berkuasa.

Pemimpin yang naik secara tidak wajar bisa turun dengan tidak wajar juga. Kepemimpinan yang diwujudkan dengan cara menebar keculasan, menanam kebencian dan menabur fitnah, akan menuai badai penghinaan di akhir kepemimpinannya. Tidak hanya dirinya, tapi juga orang sekitar yang mendukungnya.

Dalam kerangka kaidah inilah, sejarah kebesaran Fir’aun menemukan fakta. Bahwa Fir’aun itu zhalim, bejat, amoral dan sombong, tak ada yang mengingkarinya. Tapi ia tak berdiri sendiri saja. Fir’aun bisa menjadi raja karena ada yang mau jadi hamba.

Rabu, Februari 15, 2017

Pertumbuhan Berkesinambungan - 39 Serial Pembelajaran

Pertumbuhan Berkesinambungan
Ketika Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya, ia hanya seorang diri. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 23 tahun saat beliau melaksanakan hajjatul wada’, kaum Muslim telah berjumlah sekitar 100 sampai 125 ribu orang dalam berbagai riwayat. Dengan jumlah penduduk dunia ketika itu sekitar 100 juta orang, maka rasio kaum Muslim terhadap penduduk dunia adalah 1 per 1000 orang.

Sekarang, sekitar 1500 tahun kemudian, jumlah kaum Muslim telah bertumbuh tanpa henti dan menjadi 1,5 milyar hingga 1,9 milyar. Bayangkanlah bagaimana rasio itu bertumbuh dari 1 per 1000 menjadi 1 per lima dalam kurun waktu 1500 tahun.

Selasa, Februari 14, 2017

Akumulasi Waktu Kebajikan - 38 Serial Pembelajaran

Akumulasi Waktu Kebajikan
   
Alun-alun Tahrir di Kairo tiba-tiba jadi saksi sejarah dari ledakan kemarahan para pemuda Mesir. Jutaan jiwa muda itu tumpah ruah dengan satu target: Mubarak harus turun! Dan Mubarak pun akhirnya memang turun. Di lapangan yang sama -sepekan setelah kejatuhan Mubarak- para pemuda mendengar khutbah Jumat dari seorang ulama Mesir yang pernah diusir oleh rezim Mesir puluhan tahun lalu: Syekh Yusuf Al Qardhawi.

Itu dua wajah sejarah dari dua orang pelaku yang tumbuh dan hidup dalam waktu yang sama. Yang satu mengakumulasi tirani. Yang satu mengakumulasi dakwah. Tapi keduanya menggunakan waktu yang lama. Lama sekali dalam hitungan umur individu. Akumulasi tirani itulah yang meledakkan pemuda Mesir di lapangan Tahrir, Kairo. Akumulasi dakwah juga yang menghadirkan Qardhawi kembali ke lapangan itu setelah pengusiran yang lama.

Senin, Februari 13, 2017

Mengenang Masa - 37 Serial Pembelajaran

Mengenang Masa.

Empat tahun lamanya Ibnu Khaldun (732-808 H/1332-1406) mengurung diri di pedalaman Afrika Utara untuk menuntaskan buku sejarah monumentalnya, Al ‘Ibar. Lima bulan diantaranya digunakan khusus untuk menulis kata pengantarnya, yang kelak dikenal dengan sebagai Al Muqaddimah. Empat tahun lagi sesudahnya ia gunakan untuk membaca ulang, mengedit dan memperbaiki buku itu hingga terbit. Di antara tahun 776-784 H, Ibnu Khaldun ‘menempatkan’ maqomnya dalam sejarah literatur Islam dan dunia sebagai filosof sejarah dan sosial, bahkan disebut sebagai pendiri ilmu sosiologi modern.

Seperti dalam dunia pengembaraan dan penulisan geografi, ilmu sejarah merupakan salah satu cabang ilmu yang paling banyak berkembang dalam sejarah pemikiran Islam. Ia juga merupakan buah dari perintah Qur’an untuk mengenal ruang dan waktu yang menjadi konteks di mana teks-teksnya akan diturunkan menjadi realitas. “Ketahuilah”, kata Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, “bahwa sejarah adalah ilmu sangat berharga, sangat bermanfaat dan sangat mulia dalam tujuannya. Ia menjelaskan kepada kita tentang perilaku-perilaku umat terdahulu, jalan hidup nabi-nabi serta cara raja-raja mengatur negara-negara mereka. Dengan itu kita dapat meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia.” Belajar sejarah adalah belajar tentang kehidupan dan seluruh aspeknya. “Sejarah”, lanjut Ibnu Khaldun, “membutuhkan banyak sudut pandang dan beragam pengetahuan serta kemampuan analisa untuk sampai pada kebenaran dan terbebas dari kesalahan.”

Minggu, Februari 12, 2017

Peta Para Pembebas - 036 Serial Pembelajaran

 Peta Para Pembebas
Majalah Tarbawi Edisi 244 Th. 12 Shafar 1432 H, 27 Januari   2011 M

Mimpinya belum rampung ketika Al Balazry menghembuskan nafasnya yang terakhir tahun 279 H. Ia telah mengembara ke seluruh wilayah yang telah dibebaskan Islam di zamannya dan mengumpulkan data sejarah peta geografi penyebaran Islam secara lengkap. Buku dengan judul fufuul buldan itu dalam perkiraan para sejarawan seharusnya terbit dalam 40 jilid.

Walaupun begitu, kita toh tetap bisa membaca ringkasan buku itu dan mendapatkan gambaran  pola penyebaran Islam secara geografis. Hampir semua penyebaran lewat darat dengan sedikit pengecualian pada wilayah yang dimasuki via laut sejak zaman Utsman bin Affan. Tapi dengan hanya mengandalkan kuda dan unta sebagai alat transportasi utama, hampir tidak dapat dipercaya bahwa Islam tiba-tiba telah menyebar ke tiga benua dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan konflik berdarah yang mengakhiri dinasti Umayyah di Damaskus pada dekade ketiga abad kedua hijriah membuahkan hasil wilayah teritori baru di utara Afrika kemudian di semenanjung Iberia. Abdurrahman Al Dakhil, satu-satunya anggota klan keluarga Bani Umayyah yang selamat dari pembantaian, berlari menyelamatkan diri ke Afrika Utara, lalu mendirikan kerajaan yang bertahan lebih dari setengah milineum.