Kamis, September 04, 2008

Intropeksi diri


بسم الله الرحمن الرحيم

Mari Kita bertanya tentang makna kehidupan ke pribadi kita !

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?

2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?

3. Apa yang paling besar di dunia ?

4. Apa yang paling berat di dunia ?

5. Apa yang paling ringan di dunia ?

6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya....

Pertama : “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".

Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Kedua : "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".

Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang - bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga : "Apa yang paling besar di dunia ini?".

Murid-muridnya menjawab, "gunung, bumi dan matahari". Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179).

Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat : "Apa yang paling berat di dunia ini?".

Ada yang menjawab "besi dan gajah". Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72).

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima : "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...

Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Membangun Generasi Rabbani


بسم الله الرحمن الرحيم

1. Mengusahakan pendidikan agama yang baik (تربية حسنة) bagi anak-anak dan generasi mendatang, merupakan suatu kewajiban syar’i sekaligus suatu kebutuhan.

قَالَ رَسُوْلُ الله s: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يَنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. {رواه الأسود بن سريع}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Setiap anak (manusia) itu dilahirkan dalam keadaan suci hingga dia dapat berbicara. Maka orang tuanyalah yang menjadikan ia menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Aswad bin Sari’).

Imam Ghazali mengatakan: لَوْلاَ التَّرْبِيَّةُ لَكَانَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ (Kalaulah tidak karena pendidikan, pasti manusia (perilakunya) seperti hewan).

2. Para Nabi dan Rasul Allah, selalu mengharapkan dan berdo’a kepada Allah SWT agar mendapatkan anak keturunan yang shaleh, yang kuat, bahkan menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. {البقرة : 128}.

”Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128).

قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ. {ال عمران : 38}.

”Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." (QS. Ali Imran: 38).

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. {الفرقان : 74}.

”Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Anak yang shaleh (dalam pengertian luas) disamping bermanfaat di dunia ini juga akan mengalirkan pahala bagi kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: إِذَا مَاتَ ابنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.{رواه أبو داود}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan (kedua orang tuanya).” (HR. Abu Dawud).

3. Diantara materi pendidikan yang menjadi kewajiban orang tua mengajarkannya pada anaknya, antara adalah sebagai berikut:

1. Pengenalan tahuhit/keimanan à QS. Luqman [31]: 13.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ. {لقمان : 13}.

”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

2. Akhlaqul karimah Orang tua

Keluarga

Sesama

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24). {الإسراء : 23-24}.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra’: 23-24).

قَالَ اللهُ تَعَالََى: وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فيِ الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فيِ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19). {لقمان : 18-19}.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. LUqman: 18-19).

3. Menegakkan shalat

قَالَ اللهُ تَعَالَى: فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. {مريم : 59}.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: إِذَا عَرَفَ الْغُلاَمُ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ فَمُرُّوْهُ بِالصَّلاَةِ. {رواه أبو داود}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seorang anak (kecil) sudah mengetahui (membedakan) antara tangan kanan dan tangan kirinya, maka perintahlah dia untuk mengerjakan shalat.” (HR. Abu Dawud).

4. Membaca Al-Qur’an

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: أَدِّبُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّ حَمَلَةَ الْقُرْآنِ فيِ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَأَصْفِيَائِهِ. {رواه الديلمي عن علي}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Berilah tiga macma pendidikan kepada anak-anak kalian: Cinta pada nabinya, cinta pada keluarganua, membaca Al-Qur'an, dan membaca Al-Qur'an. Barangsiapa yang hafal Al-Qur'an, maka kelak dia akan berada pada naungan-Nya, ketika tidak anak naungan kecuali naungan-Nya, bersama para nabi dan kekasih-Nya.” (HR. Daelamiy dari Ali).

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik: a) contoh dan suri tauladan, b) Memberikan rizki yang halal.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيــُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فيِ الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنُّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ. {البقرة : 168}.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Rizki yang haram berpengaruh Do’a à Tidak akan dikabulkan

Ibadah à Tidak akan diterima

Berpengaruh pada perilaku

Menumbuhkan Jiwa Agama (Tauhid) Pada Diri Anak


سم الله الرحمن الرحيم

1. Pada Bulan Agustus 2003, kita sempat dikejutkan oleh berita bunuh dirinya siswa kelas VI SD yang bernama Heryanto akibat menanggung rasa malu tidak mampu membayar iuran sebesar Rp. 2.500,- untuk kegiatan ekstra kurikuler.

Berita tersebut sempat mengisi berbagai surat kabar di Indonesia dan sempat ramai dibahas di televisi, bahkan tidak hanya itu berita tersebut telah menjadi sorotan dunia internasional sebagai kasus psikologi unik yang meimpa anak-anak. Belum sempat berita bunuh diri Haryanto hilang dari ingatan kita, tiba-tiba kembali kita dikejutkan kasus bunuh dirinya siswa yang bernama Ihfan Khairul Fazrim siswa kelas dua SMP PGRI Setu, Bekasi pada tanggal 25 Mei 2004 akibat belum membayar uang SPP selama lima bulan berturut-turut.

Kasus bunuh diri ini juga terjadi pada anak-anak yang lainnya:

Data Anak yang Bunuh Diri

15 Februari 2003

Kanita (15)

Tewas gantung diri di rumahnya, Jakarta Selatan

25 Agustus 2003

Heryanto (12)

Mencoba gantung diri, murid kelas VI SD di Garut itu malu tidak mampu membayar iuran Rp. 2.500,- untuk kegiatan ekstrakuler di sekolah

7 Oktober 2004

Bambang Surono (11)

Murid kelas V SD di Semarang ditemukan tewas gantung diri

27 Januari 2004

Usuf Ambari (13)

Tewas gantung diri di rumah orang tuanya di Cianjur karena keinginannya untuk memiliki televisi tidak kesampaian

8 Februari 2004

Nurdin bin Adas (12)

Tewas gantung diri di plafon dapur rumah kakaknya di Garut. Ia diduga tidak kuat menahan rindu kepada mendiang ibunya

14 Februai 2004

Nazar Ali Julian (13)

Warga Kabupaten Cianjur mencoba bunuh diri dengan menusukkan pisau dapur ke perutnya karena tidak kuat memikul beban akibat perceraian kedua orang tuanya.

2. Kasus anak bunuh diri ini menjadi suatu bukti bahwa saat ini banyak orang tua yang mengabaikan pendidikan akhlaq atau moral anak, selain itu tidak hanya orang tua saja, namun lingkungan sekitar anak tinggal juga mempunyai andil, salah satunya tayangan televisi. Anak menjadi terobsesi ingin seperti yang ia tonton, seperti pergaulan yang glamour, gengsi yang tinggi pada teman, sehingga bila hal itu tidak terpenuhi membuat anak menjadi minder atau malu. Solusi yang bisa kita ambil agar anak terhindar dari sikap itu yakni perlu memandang penting tumbuhnya jiwa agama (tauhid), keharmonisan keluarga, pentingnya sikap syukur ni’mat ditanamkan, dan juga kepekaan sosial harus dilatih.

3. Jiwa tauhid yang merupakan hal yang paling fundamental dalam hidup keberagaman, sesungguhnya sudah ada pada setiap diri anak (manusia). Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-A'raf : 172.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى ءَادَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَآ أَنْ تَقُولُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِيْنَ. {الأعراف : 172}.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al-A'raf : 172).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ, فَأَبَوَاهُ يهَوِّدانَهُ أَوْ يُنَصِّرَانَهُ أَوْ يُمَجِّسَانَهُ

“Rasulullah Saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid), maka tergantung pada kedua orang tuanya, apakah akan menjadikannya Yahudi, Nashrani ataukah Majusi”.

Pengenalan tauhid ini bisa dilakukan oleh para orang tua/guru dengan melalui berbagai macam cara, antara lain:

a. Dengan menjelaskan sifat-sifat Allah yang baik (الأسمآء الْحُسنى) agar tumbuh kecintaan anak kepada-Nya.

هُوَ اللهُ الَّذِى لآإِلهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ (22) هُوَ اللهُ الَّذِى لآإِلهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكُبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَآءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (24). {الحشر : 22-24}.

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (22), Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan (23), Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (24)”. (QS. Al-Hasyr : 22-24).

b. Dengan mendidik anak dapat membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah wahyu dan kalam Allah yang jika dibaca akan memperkuat keimanan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِم ءَايَتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. {الأنفال : 2}.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al-Anfal : 2).

c. Dengan mendidik anak terbiasa beribadah dan hal-hal yang positif dalam hidupnya, seperti shalat, do’a, shaum dan infaq.

إِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كَتَابَ اللهِ وَأَقَامُوْا الصَّلَوةَ وَأَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَّةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُورٍ. {فاطر : 29}.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fathir : 29).

d. Mengemukakan kisah-kisah/sejarah tentang orang-orang yang baik dan berhasil dalam hidupnya, baik kisah-kisah Qur’ani, para sahabat Nabi atau sejarah hidup orang-orang yang ada disekitarnya.

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةً لأُوْلِى الأَلْبَابِ مَاكَانَ حَدِيْثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلِ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ. {يوسف : 111}.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf : 111).

Tentu masih banyak cara menumbuhkan jiwa tauhid dan mengenal Allah secara baik pada diri anak-anak, agar mereka menjadi insan dan generasi yang kuat keimanannya, sehingga mampu mengatasi masalah hidupnya dengan kuat dan tegar. Sudah barang tentu cara mendidiknya dengan penuh kasih sayang, rasa cinta dan tanggungjawab.

Taqwa dan Kecerdasan


بسم الله الرحمن الرحيم

Masih amat membekas di benak kita kisah tentang keteladanan seorang penggembala kambing di zaman Khalifah Umar ra. Inilah sosok pemuda yang akan terus menjadi ‘icon’ dakwah sepanjang masa. Betapa tidak, di tengah himpitan dan kerasnya pergulatan hidup ini tidak sekeping pun dari keimanannya, keyakinannya digadai, ditukar atau bahkan dijual demi mendapatkan kenikmatan hidup yang sesaat ini.

Yang menarik dari kisah ini adalah kata kunci yang menjadi eye catching dari keseluruhan kisah ini yaitu “fa aina Allah?”. Kalimat sederhana itu mengalir dari lidah tegar penuh optimis seorang mukmin sejati. Kalimat “fa aina Allah”’ itu tidak dialamatkan untuk mencuri perhatian Khalifah Umar RA atau sengaja ditujukan untuk mencari muka –carmuk—seperti yang sering dipertontonkan kebanyakan masyarakat di negeri ini saat kunjungan para pejabat ke mereka. Dia tidak lahir begitu saja, akan tetapi kalimat spektakuler ini dilafalkan dari sanubari hati yang paling dalam karena mahabbah kepada Allah SWT.

Demikianlah sikap kita dalam menjalani kehidupan dakwah ini. Sepanjang kultur “fa aina Allah” telah meresap dalam-dalam pada diri kita, inilah modal awal kita membangun optimisme dakwah. Bayangkan, seorang penggembala kambing yang hidup di tengah gurun, jauh dari pantauan siapa pun, tidak tersentuh teknologi tinggi –350 tahun lalu—mampu merekonstruksi ma’iyatullah begitu indah.

Sudah barang tentu tidak sulit bagi kita merekonstruksi dan menghayati nilai-nilai ma’iyatullah di era teknologi informasi sekarang ini. Allah SWT sudah pasti dan selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beramal, bergerak, berjuang, dan berjihad demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Keyakinan ini sudah selayaknya menghujam pada diri kita, “Intanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.” (Q.S. 47/Muhammad: 10); “Alladziina jaahadu fiina lanahdiyannahum subuulana wa innalaaha la ma’al muhsinin .”(Q.S. 29/Al-Ankabut: 29).

Ibadah à Tujuan à Mendidik Mu’min à Muttaqi à QS. 2 : 183, QS. 49 : 13, QS. 7 : 96.

MUTTAQI: Orang yang memiliki kecerdasan:

Þ Intelektual

Þ Emosional à SUKSES/BAHAGIA


Þ Spiritual

Þ Sosial DUNIA AKHIRAT

Þ DSB

1. Intelektual

à Ibadah mengajarkan à Hakikat & Tujuan hidup à Mengabdi kepada Allah SWT.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: اِبْن آدَمَ أَطِعْ رَبَّكَ فَتُسَمَّى عَاقِلاً وَلاَتَعْصِهِ فَتُسَمَّى جَاهِلاً.{رواه أبو نعيم عن أبى هريرة}.

“(Wahai) Anak Adam, taatlah engkau pada Tuhanmu niscaya engkau akan disebut sebagai orang yang berakal (cerdas), dan janganlah engkau berbuat ma’shiyyat kepada-Nya, maka engkau akan disebut sebagai orang yang bodoh”. (HR. Abu Na’im dari Abu Hurairah).

TAAT à Cerdas

MA’SHIYYAT à Bodoh

Mengajarkan tadabbur ayat

à Ibadah Menuntut Ilmu

Melaksanakan pekerjaan dengan optimal

2. Emosional

à Ibadah à Sabar à الصَّوْمُ جُنَّةٌ (Puasa itu adalah perisai).

à Ibadah à Mampu mengendalikan diri

إِذَا شَتَمَكَ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

Seseorang marah tanpa sebab: Dijawab “Saya Sedang Berpuasa”

3. Spiritual

à Shaum mengajarkan Kedekatan dengan Allah

Keyakinan akan pengawasan Allah

Kejujuran

Kekuatan Kalbu untuk mengendalikan hawa nafsu.

Kekuatan ذِكْرُ اللهِ التسبيخ التحميد التهليل الدعاء

4.

Ibadah, seperti shaum, shalat, haji, dsb mengajarkan.

Sosial

à Kepekaan & Tanggungjawab Sosial

Kasih sayang Kepada قوم ضعفاء

Kesediaan berkorban untuk à Masyarakat

Ukhuwwah dan Jama’ah

DSB