Selasa, Maret 21, 2023

Farid Nu’man: Ruhiyah sebagai Persiapan Utama Ramadhan



Tarhib Ramadhan, kata-kata tersebut kerap terlontar ketika umat hendak memasuki bulan suci Ramadhan. Dalam konteks ini, umat pun dinilai perlu melakukan sejumlah persiapan, terutama yang berkaitan dengan hal keimanan.

Pembina Pesantren Alquran Subulun Najjah Ustaz Farid Nu'man mengatakan, umat Islam patut berbahagia ketika menyambut Ramadhan. Adapun yang perlu dipersiapkan, kata dia, adalah mulai melatih mengendalikan hasrat atau nafsu yang dapat membatalkan puasa. "Sehingga, di antara persiapan yang utama dilakukan adalah persiapan ruhiyah. Sebab, pertarungan pada bulan mulia ini (Ramadhan), tidak sebatas fisik, tapi lebih dari itu adalah mental spiritual," ucapnya menerangkan, Selasa (24/5).

Berikut ini kutipan wawancara lengkap Republika dengan Ustaz Farid Nu'man.

Apa makna tarhib Ramadhan?

Tarhib masih satu akar kata dengan kata marhaban, yang artinya selamat datang. Jadi, tarhib Ramadhan sederhananya adalah welcome Ramadhan atau sambutan terhadap datangnya bulan suci Ramadhan.

Bagaimana setiap Mukmin bersikap dalam menyambut Ramadhan?

Seorang Muslim dan Muslimah hendaknya berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan. Seperti dicontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang diceritakan Imam Ibnu Rajab dalam Al Lata'if Al Ma'arif, bahwa mereka sudah menyiapkan diri enam bulan sebelum Ramadhan. Yakni dengan cara  memprerbanyak doa agar ditemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Lalu, enam bulan setelahnya adalah masa-masa evaluasi dari Ramadhan sebelumnya. Jadi, bagi mereka, Ramadhan adalah porosnya. Tentunya tidak lupa bagi kita mengingatkan keluarga kita untuk menyambut kedatangannya dengan bahagia.

Bekal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam rangka menyambut Ramadhan?

Ramadhan oleh Nabi Muhammad SAW diistilahkan dengan syahrush shabr atau bulan kesabaran, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dengan sanad jayyid menurut Syekh Sayyid Sabiq.

Dari sini kita paham tentang apa itu puasa Ramadhan. Yaitu aktivitas menahan diri dari yang membatalkan (puasa), sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari. Juga tentunya menahan diri dari yang merusak kualitas puasa Ramadhan. Tentu semuanya membutuhkan kesabaran dan mujahadah.

Sehingga, di antara persiapan yang utama dilakukan adalah persiapan ruhiyah. Sebab, pertarungan pada bulan mulia ini, tidak sebatas fisik, tapi lebih dari itu adalah mental spiritual. Sebenarnya, persiapan ruhiyah ini sudah disediakan oleh syariat, yaitu dengan puasa di bulan Rajab dan Sya'ban, sebagai pemanasan menuju Ramadhan.

Adakah tantangan untuk mempersiapkan ruhiyah?

Ada, bahkan mungkin banyak. Ada dua jenis secara global. Pertama, tantangan dalam diri kita sendiri. Sebagaimana ayat faalhamaha fujuuraha wa taqwaaha - maka Kami ilhamkan kepada jiwa manusia jalan kejahatan dan jalan ketakwaan. Jadi, kita memiliki potensi keburukan dalam diri kita. Bulan Ramadhan adalah saat untuk menekannya. Tapi, di sisi lain itu sekaligus lawan yang akan mengganggu dan merusak puasa kita. Sebagian dari kita ada yang menang dan ada pula yang kalah melawan potensi buruk itu.

Kedua, tantangan dari luar diri kita. Seperti ayat yuwaswisufi shudurin naas, minal jinnati wan naas. Jadi, setan dengan bala tentaranya juga tidak tinggal diam. Mereka menganggu kita, termasuk saat kita ibadah saum ini. Dibuatnya kita malas, disibukkan dengan yang tidak bermanfaat dan sebagainya. Termasuk juga, gangguan dari manusia yang tidak mengindahkan kehormatan bulan Ramadhan, dengan berbagai sarana. Mereka mengganggu dengan tayangan yang juga tetap membuka aurat, pergaulan bebas, dan sebagainya.

Bagaimana menekan potensi gangguan saat Ramadhan?

Paling tidak ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri, bahkan serangan balik kepada potensi buruk tadi. Pertama, berkumpul dengan orang-orang saleh. Sebab berkumpulnya kita dengan mereka akan menjadi rem dan kontrol untuk diri kita dari keinginan berbuat buruk. Sebaliknya, akan melahirkan kebiasaan baik yang tertular dari mereka. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Keadaan seseorang tergantung bagaimana agama kawan dekatnya."

Kedua, tarbiyah dzatiyah, yaitu kemampuan seseorang dalam menempa dirinya sendiri. Yaitu dengan membuat agenda-agenda amal saleh yang disiplin, dengan kurikulum yang sesuai dengan sunah. Seperti wirid pagi dan petang, shalat sunah, tilawah Alquran, membaca sirah nabi dan shalihin. Semua ini merupakan nutrisi rohani yang kuat bagi kita sebagai power cadangan menghadapi tantangan saat Ramadhan.

Ketiga, sekarang ada media sosial, maka ajak saudara dekat, keluarga besar, teman sekantor untuk menjaga stamina Ramadhannya. Hal ini bisa dilakukan dengan saling membagi nasihat-nasihat ulama yang inspiratif untuk agama dan dunia.

Sumber: 

n c23 ed: hafidz muftisany

https://republika.co.id/berita/koran/news-update/16/05/27/o7u1868-farid-numan-ruhiyah-sebagai-persiapan-utama-ramadhan

diakses:  Friday, 29 Rajab 1440 / 05 April 2019

"Sebentar lagi Ramadhan tiba, waktu untuk memperbanyak kebaikan dan membantu mereka yang membutuhkan. Mari berpartisipasi dalam program donasi 'Berbagi Buka Puasa' dan memberikan donasi untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan
 

https://ummatmulia.com/campaign/paket-berbuka-puasa?ref=55d7i

    


Tidak ada komentar: