Fil
Harakah Barakah
[Hal-4]
Gerak itu fitrah manusia
hidup. Diam adalah
simbol kematian. Gerak adalah
lambang dinamika. Sementara diam adalah ciri kejumudan dan kemalasan. Para salafushalih
sangat berhati-hati dari sikap diam. Mereka begitu berupaya agar standar gerak dan
aktifitas mereka, tidak jatuh
di bawah garis minimum. Mereka sangat
berusaha
agar kediaman mereka-jika harus terjadi
adalah kediaman yang sangat sementara
sifatnya, untuk kembali turun ke medan
laga dakwah kembali. Maka, sahabat Rasulullah
saw sekaliber Ibnu Mas'ud ra punmenitikkan air matanya, menjelang wafatnya. Seseorang bertanya, "Apa
yang menyebab-kanmu menitikkan air mana wahai Abdullah ?
"
Dengan sedih Ibnu Mas'ud mengatakan, "Aku berduka karena aku
mengalami kema-tian mendatangiku ketika aku sedang meng-alami penurunan amal.
Kenapa ia tidak men-datangiku ketika aku sedang giat beramal."

Begitu pulalah ilustrasi
yang cocok untuk gerak
dakwah kita. Roda dakwah ini harus terus
berputar dan tak boleh berhenti. Mung.kin saja terjadi perputaran yang sedikit
me-lemah, tapi tidak berarti putarannya berhenti. Gerak para kader dakwah juga
tidak boleh berhenti.
Intensitas dan gerak yang telah mereka
lakukan pada masa-masa pemilu legislatif,
tak boleh kemudian menjadi diam. Karena
sikap cenderung diam dan tidak bergerak
adalah racun yang akan membuat berbagai
hasil gerak dakwah kita sebelumnya menjadi
sia-sia. Karena diam, akan membawa orang
pada kondisi sulit untuk bergerakkembali, pada saat ia harus bergerak. Karena diam setelah bergerak adalah
candu yang akan semakin
kuat terbuai dan membuat tubuh lebih
lengket pada santai dan kelemahan. Karena
diam setelah bergerak adalah penyakit
yang
bisa menular dan menyebar ke banyak orang
di lingkungan pelakunya.
Allah swt merumuskan
prinsip gerak ini di
penggalan dua ayat terakhir surat Asy-Syarh.
"Dan
bila kalian telah selesai (dalam
satu urusan) maka bersungguh-sungguhlah (untuk melakukan urusan yang
lain). Dan kepada
Tuhan mulah kalian berharap."
(QS. Asy Syarh : 7-8)
Selama hidup, tak ada
keadaan yang bisa dijadikan
alasan untuk diam dan tidak bergerak.
Karena diamnya seseorang dalam tidurpun
pada hakikatnya adalah untuk gerak yang
dilakukan setelah ia bangun dari tidur
dan
beraktifitas kembali. Itulah sebabnya
dalam
perputaran zaman dan perguliran masa keemasan
dakwah pun terjadi siklus yang tidak pernah
diam. Seperti apa yang disabdakan oleh
Rasulullah saw dalam hadits dengan sanad
shahih, riwayat Abu Daud,
"Sesungguhnya
Allah akan mengutus setiap perguliran 100 tahun kepada umat ini,
orang yang kembali
memperbarui agama-Nya.” Memperbarui dalam arti menghidupkan kembali agama ini dengan semangat dan
ruh yang baru.
Memperbarui dalam arti mengembalikan [Hal- 5] kembali
agama ini seperti saat-saat baru dibawa oleh Rasulullah saw.”
Kita harus mensyukuri,
selalu ada momentum momentum yang kembali bisa memanaskan mesin para kader
dakwah. Setelah tak beberapa
lama kita melewati event pemilu yang
begitu menguras tenaga, waktu, pikiran
bahkan
dana, kita menghadapi pemilihan presiden
yang juga menguras hal yang sama
Maka gerak kita para
kader pun menjadi dinamis
kembali. Usai pemilihan presiden, kita
kembali digerakkan dengan jihad menolong saudara-saudara yang menjadi korbantsunami
di Aceh Sumatera Utara. Lalu dinamika kita pun meletup lagi. Konsolidasi dan kekompakan terbangun lagi.
Tidak lama setelah tsunami, menyusul gempa di nias dan beberapa daerah yang
juga mengusik kita kembali untuk tidak diam.
Lalu kini, kita yang ada
di beberapa daerah tengah
memasuk fase bergerak yang lain, menyongsong
Pilkada. Pertemuan-pertemuan pun
tergalang lebih intensif kembali. Silaturahim, dialog dan kebersamaan pun semakin
sering kita rasakan. Sungguh, momen-tum-momentum itu sebenarnya karunia Allah untuk kita. Karena lewat
itulah kita bisa
lebih jauh dari sikap diam dan terusbergerak dalam dinamika dakwah. Maka, jika tak ada momentum-momentum luar
yang menuntut
kita bergerak, harusnya kitalah yang
menciptakan momentum-momentum itu.
Menciptakan sendiri ruang-ruang pertemuan yang memunculkan dinamika yang sehat bagi kita dan dakwah.
Sebagaimana para
salafushalih yang sangat merasakan manfaat waktu dan menyadari begitu
berharganya setiap detak jantung dan hirupan nafas yang harus mereka gunakan untuk
maksimalisasi kebaikan selama hidupnya. Setiap detik yang berlalu takkan kembali.
Itulah yang mengantarkan prinsip indah Hasan Al Banna, bahwa
"Al
waqtu huwal hayah," waktu adalah kehidupan itu sendiri.
Majalah Da’watuna Edisi
9/Th.01/Mei-Juni 2005