Selasa, Mei 05, 2026

002 Gugurnya Berhala di Mihrab Ilmu: Menggugat Feodalisme dan Menyelamatkan Marwah Pendidikan Kita


 

Opini kritis membongkar feodalisme pendidikan agama dan fenomena kiai predator melalui kacamata Tauhid dan kearifan Tunjuk Ajar Melayu.

"Kalau memberi petuah amanah, maniskan muka lembutkan lidah. Niat semata karena lillah, Mohonkan ampun bila bersalah."

Belakangan ini, batin kita terus-menerus dikoyak oleh rentetan berita tragis: kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik agama di berbagai lembaga pendidikan. Ironisnya, institusi yang seharusnya menjadi episentrum penyemaian Tauhid dan benteng perlindungan moral justru menjelma menjadi ruang gelap eksploitasi. Ini bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan sinyalemen krisis teologis berskala peradaban.

Mengapa kasus-kasus "kiai cabul" atau "ustadz predator" ini bisa subur dan sering kali sulit terungkap?

Akar masalahnya ada pada feodalisme beragama dan pengkultusan individu (Taqdis al-Asykhas). Dalam relasi kuasa yang sangat timpang ini, sosok guru sering diposisikan sebagai maksum (tanpa dosa), di mana setiap ucapannya dianggap mutlak. Ketaatan buta ini secara diam-diam telah melahirkan syirik khafi (syirik tersembunyi), di mana seorang manusia telah mengambil alih otoritas yang seharusnya hanya milik Allah.

Sabtu, Mei 02, 2026

Mengapa Produk Halal Riau Masih "Terjepit" di Singapura dan Malaysia? 5 Realita Pahit yang Wajib Diketahui Eksportir

5 realita pahit mengapa ekspor produk halal Riau terhambat di Singapura & Malaysia akibat isu regulasi, logistik, hingga hukum kontrak

 

Mengapa Produk Halal Riau Masih "Terjepit" di Singapura dan Malaysia? 5 Realita Pahit yang Wajib Diketahui Eksportir

1. Introduksi: Potensi Triliunan Dolar di Depan Mata, Tapi Jalurnya Berliku

Sebagai praktisi hukum bisnis syariah, saya sering melihat paradoks yang menyedihkan di Bumi Lancang Kuning. Riau secara geostrategis adalah "halaman depan" ASEAN, berhadapan langsung dengan urat nadi perdagangan dunia di Selat Malaka. Di hadapan kita, pasar halal global diproyeksikan mencapai nilai fantastis USD 3,2 triliun pada tahun 2024. Namun, bagi belasan ribu pelaku usaha di Riau, kedekatan geografis dengan Malaysia dan Singapura bukan berarti karpet merah.

Kenyataannya, ekspor produk halal bukan sekadar urusan memindahkan barang lintas batas, melainkan navigasi di dalam labirin hambatan Non-Tarif (Non-Tariff Measures/NTM). Meskipun kerangka kerja sama regional seperti IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle) dan forum MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) telah mengupayakan harmonisasi, realita di lapangan menunjukkan adanya "retorsi standar teknis" yang sering kali menjepit posisi tawar eksportir lokal kita.

Senin, April 27, 2026

001 Gelombang Baru Peradaban: Dari Buaian Teheran hingga Madrasah Gaza

 

Tinggalkan pragmatisme politik. Bangkitkan peradaban melalui pendidikan anak, berkaca dari sejarah Gaza dan Iran.

Ilusi Pragmatisme dan Hilangnya Kesadaran Sejarah

Saudaraku, hari ini kita menyaksikan sebuah ironi di tengah umat. Kita terlalu sering tergoda dan terjebak oleh ilusi kemenangan yang instan. Energi kebangkitan kita seakan terkuras dalam debat-debat politik yang dangkal, saling berebut panggung struktural, atau sekadar bermimpi tentang letupan revolusi besar yang datang tiba-tiba. Dalam pragmatisme yang rabun jauh ini, kita justru melupakan satu fondasi pertahanan yang paling esensial bagi sebuah peradaban: anak-anak kita.

Jika kita memiliki kesadaran sejarah dan keseriusan untuk membangkitkan kembali kejayaan umat ini, maka inilah saatnya kita meruntuhkan cara berpikir pragmatisme jangka pendek. Kita harus berani memutar arah pandang kita, kembali menoleh pada madrasah pertama kemanusiaan dan ruang-ruang kelas anak usia dini.

Kamis, April 23, 2026

Rebranding Gerakan: Waktunya KAMMI "Spin-Off" dan Berhenti Sekadar Jadi Anak Perusahaan PKS

 Rebranding Gerakan: Waktunya KAMMI "Spin-Off" dan Berhenti Sekadar Jadi Anak Perusahaan PKS

Rebranding Gerakan: Waktunya KAMMI "Spin-Off" dan Berhenti Sekadar Jadi Anak Perusahaan PKS


Salam Pergerakan, Adinda-Adinda seperjuangan. Sebagai orang yang punya saham emosional di dua entitas ini—pernah basah kuyup pakai jas almamater KAMMI di jalanan dan juga pernah aktif  duduk pakai pin PKS di lingkaran rapat partai—saya merasa kita butuh management audit besar-besaran.

Kita tahu persis, KAMMI dan PKS lahir dari spirit kesadaran dan kegundahan yang sama. Yakni kegundahan kolektif terhadap cengkeraman otoritarianisme Orde Baru yang selama puluhan tahun mengekang kebebasan sipil dan membungkam nalar kritis masyarakat. Dulu, di fase awal startup reformasi tahun 1998, relasi kita terbangun sangat organik dan emosional, bergerak menyatu memecah hegemoni rezim tersebut dengan DNA ideologis Syumuliyatul Islam yang identik. Tapi hari ini, realitas market politik sudah berubah, dan kita wajib melakukan transformasi.

Selasa, April 21, 2026

Master Plan Restrukturisasi "Holding Company" KAMMI di Era Disrupsi

 

Master Plan Restrukturisasi "Holding Company" KAMMI di Era Disrupsi


Musa Membelah Laut, Yusuf Menata Lumbung, Sulaiman Kepemimpinan Global Berdaulat: Master Plan Restrukturisasi "Holding Company" KAMMI di Era Disrupsi

Situasi pergerakan mahasiswa Indonesia hari ini sedang berada dalam fase bearish. Jika kita melakukan due diligence terhadap kondisi "kekinian dan kedisinian", kita akan menemukan bahwa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tengah mengalami depresiasi nilai ideologis yang cukup mengkhawatirkan. Sengkarut dualisme di Sumatera Utara dan Riau bukan sekadar drama aktivisme lokal, melainkan sinyal adanya malpraktik Corporate Governance di tingkat pusat yang gagal melakukan mitigasi terhadap perubahan landscape politik.

KAMMI harus sadar bahwa "mainan" dan "gaya main" lama sudah mencapai titik jenuh. Kita tidak bisa lagi terus-menerus menggunakan strategi Musa Muda—yang jago membelah laut perlawanan—ketika tantangan zaman menuntut kita menjadi Yusuf yang ahli manajemen krisis atau Sulaiman yang menguasai ekosistem global.

Senin, April 20, 2026

Krisis KAMMI bak Abbasiyah di Zaman Modern

 Krisis KAMMI bak Abbasiyah di Zaman Modern

Krisis KAMMI bak Abbasiyah di Zaman Modern


Ini bener-bener bikin 'gedeg'. Melihat konflik internal KAMMI, terutama sengkarut di Sumut dan Riau, rasanya persis seperti narasi keruntuhan Abbasiyah. Ibarat sebuah organisasi besar yang sedang dicabik-cabik beruang (kepentingan elit pusat), lalu datang serigala yang dikira mau menyelamatkan, eh ternyata cuma mau menghisap darah legitimasi (faksi tandingan).

📌 "Awal Petaka: CEO Pusat yang Terlalu Banyak Manuver dan Lupa Akar Rumput"

Sebelum kita bedah kenapa Sumut dan Riau sampai 'pecah kongsi', kita harus tahu dulu kenapa 'perusahaan' sebesar KAMMI bisa kena krisis kepercayaan.

Setelah sekian lama jadi market leader gerakan mahasiswa, para 'direksi' di tingkat pusat mulai kena sindrom terlalu asyik main di level elit politik. Mereka lupa kalau 'bisnis inti' KAMMI adalah pengaderan dan gerakan moral. Buat mengamankan posisi dan pengaruh, mereka mulai pakai gaya 'outsourcing' kepentingan politik luar ke dalam tubuh organisasi.

Selasa, Maret 21, 2023

Farid Nu’man: Ruhiyah sebagai Persiapan Utama Ramadhan



Tarhib Ramadhan, kata-kata tersebut kerap terlontar ketika umat hendak memasuki bulan suci Ramadhan. Dalam konteks ini, umat pun dinilai perlu melakukan sejumlah persiapan, terutama yang berkaitan dengan hal keimanan.

Jumat, Mei 13, 2022

Fil Harakah Barakah

 

Fil Harakah Barakah[1]

[Hal-4]

Gerak itu fitrah manusia hidup. Diam adalah simbol kematian. Gerak adalah lambang dinamika. Sementara diam adalah ciri kejumudan dan kemalasan. Para salafushalih sangat berhati-hati dari sikap diam. Mereka begitu berupaya agar standar gerak dan aktifitas mereka, tidak jatuh di bawah garis minimum. Mereka sangat berusaha agar kediaman mereka-jika harus terjadi adalah kediaman yang sangat sementara sifatnya, untuk kembali turun ke medan laga dakwah kembali. Maka, sahabat Rasulullah saw sekaliber Ibnu Mas'ud ra punmenitikkan air matanya, menjelang wafatnya. Seseorang bertanya, "Apa yang menyebab-kanmu menitikkan air mana wahai Abdullah ?

" Dengan sedih Ibnu Mas'ud mengatakan, "Aku berduka karena aku mengalami kema-tian mendatangiku ketika aku sedang meng-alami penurunan amal. Kenapa ia tidak men-datangiku ketika aku sedang giat beramal."


 

Begitu pulalah ilustrasi yang cocok untuk gerak dakwah kita. Roda dakwah ini harus terus berputar dan tak boleh berhenti. Mung.kin saja terjadi perputaran yang sedikit me-lemah, tapi tidak berarti putarannya berhenti. Gerak para kader dakwah juga tidak boleh berhenti. Intensitas dan gerak yang telah mereka lakukan pada masa-masa pemilu legislatif, tak boleh kemudian menjadi diam. Karena sikap cenderung diam dan tidak bergerak adalah racun yang akan membuat berbagai hasil gerak dakwah kita sebelumnya menjadi sia-sia. Karena diam, akan membawa orang pada kondisi sulit untuk bergerakkembali, pada saat ia harus bergerak. Karena diam setelah bergerak adalah candu yang akan semakin kuat terbuai dan membuat tubuh lebih lengket pada santai dan kelemahan. Karena diam setelah bergerak adalah penyakit yang bisa menular dan menyebar ke banyak orang di lingkungan pelakunya.

Allah swt merumuskan prinsip gerak ini di penggalan dua ayat terakhir surat Asy-Syarh.

"Dan bila kalian telah selesai (dalam satu urusan) maka bersungguh-sungguhlah (untuk melakukan urusan yang lain). Dan kepada Tuhan mulah kalian berharap."

(QS. Asy Syarh : 7-8)

 

Selama hidup, tak ada keadaan yang bisa dijadikan alasan untuk diam dan tidak bergerak. Karena diamnya seseorang dalam tidurpun pada hakikatnya adalah untuk gerak yang dilakukan setelah ia bangun dari tidur dan beraktifitas kembali. Itulah sebabnya dalam perputaran zaman dan perguliran masa keemasan dakwah pun terjadi siklus yang tidak pernah diam. Seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam hadits dengan sanad shahih, riwayat Abu Daud,

"Sesungguhnya Allah akan mengutus setiap perguliran 100 tahun kepada umat ini, orang yang kembali memperbarui agama-Nya.” Memperbarui dalam arti menghidupkan kembali agama ini dengan semangat dan ruh yang baru. Memperbarui dalam arti mengembalikan [Hal- 5] kembali agama ini seperti saat-saat baru dibawa oleh Rasulullah saw.

 

Kita harus mensyukuri, selalu ada momentum momentum yang kembali bisa memanaskan mesin para kader dakwah. Setelah tak beberapa lama kita melewati event pemilu yang begitu menguras tenaga, waktu, pikiran bahkan dana, kita menghadapi pemilihan presiden yang juga menguras hal yang sama

Maka gerak kita para kader pun menjadi dinamis kembali. Usai pemilihan presiden, kita kembali digerakkan dengan jihad menolong saudara-saudara yang menjadi korbantsunami di Aceh Sumatera Utara. Lalu dinamika kita pun meletup lagi. Konsolidasi dan kekompakan terbangun lagi. Tidak lama setelah tsunami, menyusul gempa di nias dan beberapa daerah yang juga mengusik kita kembali untuk tidak diam.

Lalu kini, kita yang ada di beberapa daerah tengah memasuk fase bergerak yang lain, menyongsong Pilkada. Pertemuan-pertemuan pun tergalang lebih intensif kembali. Silaturahim, dialog dan kebersamaan pun semakin sering kita rasakan. Sungguh, momen-tum-momentum itu sebenarnya karunia Allah untuk kita. Karena lewat itulah kita bisa lebih jauh dari sikap diam dan terusbergerak dalam dinamika dakwah. Maka, jika tak ada momentum-momentum luar yang menuntut kita bergerak, harusnya kitalah yang menciptakan momentum-momentum itu. Menciptakan sendiri ruang-ruang pertemuan yang memunculkan dinamika yang sehat bagi kita dan dakwah.

Sebagaimana para salafushalih yang sangat merasakan manfaat waktu dan menyadari begitu berharganya setiap detak jantung dan hirupan nafas yang harus mereka gunakan untuk maksimalisasi kebaikan selama hidupnya. Setiap detik yang berlalu takkan kembali. Itulah yang mengantarkan prinsip indah Hasan Al Banna, bahwa

"Al waqtu huwal hayah," waktu adalah kehidupan itu sendiri.



[1] Majalah Da’watuna Edisi 9/Th.01/Mei-Juni 2005

 

Kamis, September 03, 2020

Abdul Rauf Layak Menjadi Teman Perjuangan!

Menu tulisan kita pagi ini masih berkaitan dengan syekh @Abdul Rauf,A.Md mengapa beliau saya anggap layak untuk menjadi teman seperjuangan. Kami sering sekali berdiskusi segala tema sesuatu. Kadang serius, kadang ngalor-ngidul, kadang romantis dan kadang juga agak “naka.l” Ini adalah salah satu yang pernah saya rekam, mohon #Bersabar kalau agak panjang….



Pernahkah engkau wahai sahabat berpikir untuk menjadi orang biasa saja? Disaat beban datang begitu bertubi-tubi. Tekanan menambah  kesesakan di dada. Pernahkah engkau ingin menjadi orang biasa saja? Tinggal di tempat yang hijau, dekat dengan sebuah oase yang subur? lalu menikmati kehidupan yang bahagia tanpa gangguan seorang pun? Menikmati hembusan semilir angin setiap pagi dan sore. Menyambut sinaran mentari yang hangat tetapi tidak membakar. Alangkah indahnya. Bahagia. Inilah yang pernah diungkapkan oleh seorang sahabat sepulang dari perang Tabuk. Namun Syurga lebih indah dari semua itu. Yah syurga lebih indah dari semua itu. Syurga berada di bawah kilatan pedang. Syurga berada di dalam riuhnya perjuangan.

Kadangku  membayangkan bagaimanakah syurga itu ada di bawah kilatan pedang. Imajinasiku bermain dan seakan semua itu tergambar dengan jelas dihadapan mataku. Pemandangan permainan pedang yang indah. Menampakkan kilatan-kilatan cahaya dan percikan bunga api. Indah sekali.

Kita membutuhkan seorang teman, bahkan lebih dalam perjalanan panjang ini. Kita berjuang bersama bukan hanya untuk menghancurkan pasungan egoisme yang membelenggu kita. Karena kadang kapasitas kita untuk #Bersabar dalam perjuangan menipis. Sehingga kita  tak merasa kokoh dengan kesendirian kita. Berpikir  kita dapat berbuat apapun sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita inginkan. Tapi ingatlah wahai para saudara seperjuangan.Kita hanya akan berjalan-jalan di tempat saja. Seperti seekor keledai yang sedang memutar penggilingan gandum atau penggilingan tebu. Apakah engkau bisa membayangkannya.

Karena selain sebagai seorang hamba yang terikat dengan ketentuan Allah kita juga adalah makhluk sosial. Kalau kita berputar hanya di suatu tempat sampai membuat empat yang kita buat pijakan menjadi becek dan berlumpur. Sesungguhnya kita tidak kemana-mana. Walaupun keringat sudah membanjir dan engkau merasakan sudah melakukan perjalanan panjang. Engkau masih jalan di tempat. Pengetahuan kita tidak sebanding dengan pengetahuan Allah SWT. Rasa pengangungan kepada Allah yang akan membuat jiwa kita didominasi oleh ketenangan berada di hadapan Allah SWT. Beribadah untuk-Nya seperti apa yang disebutkan oleh Abu Faras :

 

Biarlah Engkau Bahagia

Sekalipun kehidupan ini begitu pahit

Biaralah engkau Ridha

Sekalipun semua orang marah

Biarlah antara Aku dan Engkau ada kemesraan

Sekalipun saya dan lainnya berjauhan

Asalakan engaku cinta

Maka segala sesuatunya akan enteng

Dan segala sesuatu yang ada di bumi adalah debu

 

Kalau mendapatkan seorang teman dalam perjuangan ini ingatlah apa yang diungkapkan oleh syair Hatim at –Thayib berikut ini :

 

Bila anda mengendarai seekor Unta

Jangan biarkan kawan anda yang berada di belakang hanya bisa berjalan

Rendahkanlah untamu dan naikkan dia

Bila unta itu sanggup naikilah berdua

Bila tidak maka saling bergantianlah

 

Saya memandang @abdul Rauf, A.Md persis seperti syair Hatim at-Thayib diatas. Tawadhu, rendah hati #Bersabar memperlakukan sahabat dan teman seperjuangannya. Sehingga ada kesan indah dan selesa setiap bertemu dengannya. Dan selalu teringat dengan senyuman manisnya. Saya berlindung kepada Allah SWT semoga ini penilaian yang tidak berlebihan. Kalau tidak percaya, cobalah bercengkerama dengannya.  

 

Namun apabila engkau meragukan ketulusan seseorang tanyakanlah dengan bijak kepadanya dan berlemah-lembut seperti syair Mustaqib al-“abdi berikut ini :

 

Jadilah saudaraku dalam arti sesungguhnya

Sehingga aku bisa membedakan keburukanku dan kebaikanku

Bila tidak

Jauhilah aku dan jadikan aku musuhmu

Sehingga aku mewaspadaiku

Dan engkau mewaspadaiku

 

 Manfaat seorang teman adalah memberikan pilihan di saat kita membutuhkannya. Walaupun yang mereka berikan itu bukan pemecahan masalah tetapi itu membuat kita berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah. Jadi teman bukanlah setiap orang yang sepakat dengan apapun yang kita inginkan. Itulah seorang teman  yang sejati. Orang yang selalu dapat mengingatkan kita di saat lupa. Teman sejati adalah orang-oraqng yang mengingatkan kita bahwa kita adalah hanya manusia biasa. Bahwa kita semua dalah hamba.

Siapa yang sepakat silahkan saya tidak memaksa. Siapa yang tidak sepakat tidak mengapa karena saya dan anda adalah orang-orang yang sedang mencari siapakah yang layak untuk dijadikan teman. Sehingga saling belajar untuk saling memahami. Tulisan ini adalah hanya tulisan hasil perenungan. Dan refleksi setelah saya membaca buku syaikh yusuf al-Qaradhawi yang berjudul : “ Syaikh al-Ghazali Kamaa Araftuhu : Rihlatu Qarnin “ ( ini judul aslinya : siapa yang ingin baca ada kok yang edisi Indonesia) Ini adalah tulisan apa adanya.  Jadi marilah jangan berpikir jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Selalu #Bersabar menghadapi serba-serbi kehidupan dunia ini.  Wallahu ‘alam.

 

Intanshurullaha yansurkum wayutsabbit aqdamakum

 

(Pekanbaru, Ruang Kerjaku, pagi 15 Muharram 1442 H, 03 September 2020H. 07.06 WIB)