Insiden
viral malapraktik akademik di sebuah lomba cerdas cermat tingkat nasional
baru-baru ini telah membuka mata kita secara terang-benderang. Ketika seorang
peserta didik jenius menjawab dengan akurasi konstitusional yang absolut namun
justru ditekan, disalahkan, dan mengalami gaslighting oleh dewan juri,
kita sedang menyaksikan sebuah tragedi sosiologis. Ini adalah bukti betapa
rentannya tunas bangsa saat dilepaskan ke dalam ekosistem publik yang
terjangkit virus arogansi jabatan dan kejahiliyahan modern. Lantas, bagaimana
cara kita melindungi tunas-tunas cerdas ini agar tidak layu atau terpaksa
tunduk pada otoritas yang tiranik?
Jawabannya terletak pada pilar ketiga dari Rekonstruksi Peradaban Tauhid: kita harus membangun sistem perlindungan berlapis melalui konsep Darul Arqam dan Madrasah Kenabian.








