Tampilkan postingan dengan label Izinkan Aku Berturur Jilid II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Izinkan Aku Berturur Jilid II. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 31, 2020

#Bersabar lah! Syekh!

 

#Bersabar lah! Syekh!

 

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Terutama menulis dengan meluahkan emosi yang menjadi bergejolak di dada. Tulisan ini ku peruntukkan untuk seorang sahabat, teman dan saudara.  yang mengisi suatu relung khusus di dalam ruang Hati dan kamar jiwaku. Namanya @AbdulRauf,A.Md yang saat sekarang ini resmi menjadi calon wakil Bupati kabupaten Kepulauan Meranti 2021-2026. Mohon maaf agak melankolis sedikit,  ya he….he… mohon yang lain #Bersabar seperti tidak kita sapa ya…  



Syekh, sungguh sangat banyak makna yang pernah kita rangkai bersama. Masih ingatkah engkau duhai sahabat tulisan berantai isi hati kita dengan nama pena SPD dan SPK. Kurasa saat ini daku harus meminta izin dengan penuh takzim untuk berganti peran menjadi SPK dan engkau menjadi SPD. Saat ini engkau ibarat siang yang terang benderang, sedangkan daku ibarat malam yang agak mencekam dan temaram. Melangkahlah dengan kokoh dan berwibawa di tengah teriknya mentari perpolitikan negeri kita yang tercinta ini. Sedangkan malamnya serahkan saja kepada kami-kami ini yang selalu ingin agar siang selalu terjaga cerianya.

Generasi kita adalah harapan masa depan negeri kita bahkan dunia saat sekarang ini. Generasi muda dengan keluarga muda kelahiran 80-90-an. Generasi milineal. Karena kita adalah generasi yang sangat berjiwa independen, mandiri, cepat menerima kebenaran, merindukan perubahan, merindukan kebahagiaan manusia, suka melestarikan alam (dunia tanam-menanam, pertanian, urban farmer), rindu akan keharmonisan di segala bidang, dan juga kerinduan akan keharmonian kesejatian kebenaran secara apa-adanya, sangat siap berkolaborasi dalam komunitas, tanpa pamrih dan target yang macam-macam.

Kita adalah orang-orang lugu yang sering dimanfaatkan. Namun kita senantiasa #Bersabar. Yah… karena kita saat sekarang ini harus memikul beban sejarah puncaknya kezhaliman dunia, para ahli menyebutnya (Worst Crisis) dengan empat indikatornya VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambigue). Pertama, Volatile (Bergejolak); perubahan dinamika dunia saat ini sangat cepat khususnya di bidang sosial, ekonomi dan politik. Sehingga dinamika politik apapun di muka bumi ini harus memperhatikan dinamika isu Internasional, regional, nasional dan lokal. Intinya berwawasan global bertindak lokal. Kedua, Uncertain (tidak pasti); semua hal sulit diprediksi apa yang akan terjadi. Berkaitan dengan dirimu wahai sobatku, Bismillah saja Insha Allah, Allah SWT akan membimbing kita, mari kita dekatkan hubungan kita kepada Allah SWT semakin dekat. Doa sebelum ikhtiar itu sangat penting. Dunia ini unik wahai sobat, kita pasti akan diberi, tapi berapa banyak bagiannya,  itu adalah keunikan paling natural yang dirahasiakan oleh Allah SWT kepada kita. Maka #Bersabar sajalah, lalui saja, dan nikmati saja perjalanannya. Ketiga, Complex (komplek, rumit); selalu ada gangguan dan ujian disepanjang perjalanannya. Sebagai seorang aktivis ini hal yang biasa ya sobatku, hari-hari kita di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang pernah kita jalani bersama dulu adalah hari-hari yang berat, tidak akan seberat hari-hari yang akan kita hadapi ke depan Insha Allah. Dan kita senantiasa #Bersabar.Bak kata pepatah Melayu kita, “Siapa yang biasa menghadapi topan badai, gelombang besarnya baginya hanya permainan saja.” Keempat, Ambigue (Tak jelas). Panggung politik di negeri kita ini memang tak jelas he…. he…. Siapa yang oposisi juga tak jelas. Bahkan ada oposisinya oposisi. Jadi urus sajalah perahu kita sendiri. Ingatkah dikau dulu ku sering bersenandung syair ini ?

Wahai muda arif budiman

Kayuh pengayuh dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Di sanalah jalan memperbaiki Insan

 

Perbaikilah jua alat perahumu

Siapkan bekal air dan kayu

Dayung pengayuh taruhlah di situ

Supayalah laju perahmu itu

Wahai sahabat, generasi kita ini,  berada di puncak zaman kezhaliman, dan ketidakadilan. Beberapa waktu lalu daku bercengkerama dengan iparmu @AlamTerkembang, ia menyatakan,”Benar bang, kita saat sekarang ini adalah generasi yang mempersiapkan generasi akhir zaman. Generasi yang sedang mendidik para pejuang dan pahlawan.” Inilah generasi kita itu duhai sahabat, dan di saat puncak kezhaliman inilah Allah akan melahirkan para pahlawan hebat (The great Leader) yang akan mengembalikan kemuliaan umat dengan banyak menebar rahmat dan berkah, Insha Allah!!!

Qum Faanzir wa Robbaka Fakabbir

In Youth We Trust!

Sahabatmu SPK

Eddy Syahrizal (Presidium KA KAMMI RIAU)

(Pekanbaru, ba’da Maghrib, Senin, 12 Muharram 1442H, 31 Agustus 2020M)

 

Selasa, Juli 05, 2011

Apa Ya, Hadiah Pernikahan Yang Cocok?



Saya ingat pengalaman unik ketika akan digelar walimahan ursy (Pesta pernikahan) al-Akh Muhammad Fauzan Fathoni. Kami n de Gank diskusi cocoknya memberikan apa Ya? Terinspirasi dari kisah ust. Sofyan siroj yang memberikan tikar permadani kepada salah saudara, saya mengajukan usul memberikan barang yang bermanfaat. Alasan ust. Sofyan meberikan Tikar permadani sebagai kado karena saudara tersebut banyak kelompok pengajiannya. “antum bayangkan setiap ia memimpin pengajian setiap itu pula pahala mengalir kepada kita, sampai hari kiamat.”

Saudara yang lain manggut-mangut saya ceritakan ini. “yah, kita belikan permadani saja, akh Fauzankan juga banyak binaaannya.” Tapi ada celetukan,” sepertinya tak bisa deh, rumah beliau itu kecil....(Maaf akh Fauzan,tapi memang bilang begitu kok) nanti ndak muat kan rugi, di kasihnya keorang  lain yah, kurang dong berkahnya.”

“Eh, waktu kecil, saya nonton film Ateng, dia sama teman-temannya, ngasih closet ke dosennya. Karena di rumah dosennya tak ada WCnya. Itu juga setelah mereka survey rumahnya. Gimana kalau kita survey rumahnya, mana tahu memang tak ada closetnyaa (he...he.... ada dunk)” canda saya. Semua pada ketawa. Dan melemparkan segala sesuatu yang bisa dilempar.

Akhirnya semua pandangan tertuju ke rak buku yang ada disekretariat Mesjid Ar-Faunnas UR (Universitas Riau), tempat kami sering mangkal dan diskusi. “yap, kita kasih rak buku saja.” Kata saya.  “Wah, gimana bawanya Bang Eddy?” saya jawab,”Masukkan saja dalam amplop”. Semuanya tercengang. “Maksud saya Bonnya masukkan dalam amplop, habis itu kita minta tokonya ngantarkan ke rumahnya Akh Fauzan, lalu kita kasih tahu akh Fauzannya, tunggu di rumahnya. Masa’ kita gotong ke pestanya kan malu?
Akhirnya rencana berjalan sempurna. Kami beli rak bukunya di Giant dekat Kampus UR. Hikmah yang dapat kami ambil adalah berikanlah hadiah yang menyenangkan bagi saudara kita dan bisa mendatangkan ladang pahala bagi kita.
(Sekretariat KAMMI Wilayah Riau, Selasa, 03 Sya’ban 1432 H/ 05 Juli 2011 M, 11:19:48 WIB)

Izinkan Aku bertutur II (01): Malam Mingguan di Gramedia



oleh Eddy Syahrizal pada 03 Juli 2011 jam 16:55
Sore menjelang Magrib (Sabtu 02/07/11) saya menyibukkan diri dengan laptop ini surfing dan searching bahan-bahan bacaan.Sebuah tepukan ringan tanpa saya sadari mendarat di pundak saya, "Wah, lagi asyik Bang Eddy." "Yah begitulah, cari kesibukan di sore ini," kata saya. Saya tidak menyadari kedatangannya. ini penyakit lama. kalau saya baca, saking seriusnya saya tidak akan sadar dengan kondisi sekelling. Saya jadi rindu Bunda. Biasanya Bunda akan mencubit kecil saya kalau sudah terlalu serius. sekedar lewat saja. Semoga beliau selalu sehat dengan kesibukannya.

"Kalau tidak ada agenda malam ini, saya ajak ke Gramedia, saya mau beli buku Ayah karya Tere Liye." katanya. "Tere Liye ya kata saya. saya juga punya koleksi beberapa Ebooknya. kalau tidak salah yang paling saya suka yang menceritakan soerang anak buta yang berjuang untuk memahami hidup dan lingkungannya, tapi kalau ke Gramedia tak beli buku rasanya tak enak saja, asal antum tahu dana beli bukuku sudah minus 47.800." kata saya panjang lebar.

Ia tersenyum, "Survey saja dulu, tapi pakai motor Abang ya," katanya." Sebaiknya berangkat Shalat ba'da Shalat Maghrib, kita shalat Isya dekat Masjid Ar-Rahman saja", jelasnya lagi. "Ok, antum tunggu saja di rumah", tutup saya.

Sosok itu adalah adalah Wamdi ketua FLP Riau.Teman diskusi yang enak. singkat cerita kami berangkat. wuih jalannya macet karena jl. Sudirman ada proyek jalan layang untuk PON. lama juga di sana sampai tutup lagi Gramedianya. Kami searching buku, saya selalu bawa buku catatan kecil untuk mencatat buku yang bagus. Sehingga kalau ada pitih nanti bisa langsung beli.

bukunya Ayah itu kami dapatkan dengan cepat sekali. Minta tolong sama Mas-Mas di sana. Kami lihat banyak buku baru lho. Hm... saya sengaja cuma bawa dana 50.000 biar tidak habis. Biasalah wiraswasta seperti kita ini pendapatannya tidak tetap. sekali dapat bisa untuk 5 bulan. setelah itu tak dapat apa-apa sampai berbulan-bulan. Maka segala pencatatan pengeluaran saya ketat sekali. Sifat ini warisan Bunda sebenarnya. Tahu tidak sodara-sodara saya lebih mudah minta duit sama Aba dari Bunda. Kalau Aba butuh berapa, langsung di kasih. Tapi sama Bunda. Untuk keperluan apa. penting nggak. hm... bisa lebih kecil tak.

akhirnya saya juga tidak tahan beli buku juga satu yang harganya 32.500. Setelah itu kami malah diskusi mengenai buku-buku itu di tengah ramainya pengunjung. Saling menilai dan merekomendasikan buku ini bagus. ini kekurangnnya ini dan itu. pokoknya kami setengah berdebat. pengunjung yang lain mungkin heran. memangnya sedang ada acara bedah buku.Kami tidak peduli. cuek.

Akhirnya kita diusir secara halus, oleh suara-mbak-mbak Gramedia, bahwa Gramedia segera tutup. Baru saya nyadar saya belum makan malam. Kami Pulang. Macet. Beli Bensin. Makan.Ke rumah Wamdi. (tepatnya rumah Bibinya). sudah jam 10.30 Malam. Tidak Ada orang di rumah. Kami diskusi lagi sampai jam 12 malam.

yang kami diskusikan Buku Totto-Chan. Gadis Cilik di Jendela. kisah Sekolah Tomoe Gosen yang sangat luar biasa. Saya janji nanti saya akan ceritakan. Saya membacanya seringkali berkaca-kaca. (lebih banyak berembunnya, lalu hujan deh) bukan menangis cuma mengeluarkan air mata. sangat Inspiratif, lucu dan polos. (Not Novel, but True Story).

Ok, Sohib sekalian setelah ini kemungkinan saya akan tuliskan Resensi Totto-Chan versi saya sendiri. doakan saya istiqomah menulis untuk saling berbagi. Wassalam