Kamis, Desember 31, 2009

Kitman-Bab 7

7

KITMAN YANG METODIK

A. Bani Lahyan adalah suku yang telah membokong korps da’i kaum Muslimin di telaga Raji’ pada tahun 3 Hijriah. Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam bermaksud menghukum Bani Lahyan akibat keculasan tindakan mereka itu. Saat itu Nabi sudah mengetahui rencana ulang kaum Quraisy dengan sekutu – sekutunya untuk memerangi kaum Muslimin. Karenanya beliau bermaksud menghancurkan semangat juang bangsa Quraisy dan kabilah – kabilah lain, sekaligus memerangi Bani Lahyan yang telah menipu da’i – da’i kaum Muslimin dulu.

Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam menampakkan diri seolah – olah akan bergerak kearah Syam agar beliau dengan leluasa mampu mengadakan serangan mendadak ( mubaghatah ) atas Bani Lahyan tanpa sepengetahuan mereka. Pada awalnya, Rasulullah bersama seluruh kekuatannya menuju kearah utara. Ketika beliau yakin berita perjalanan ke utara ( Syam ) telah menyebar ke mana – mana, tiba – tiba beliau dengan sangat cepat, memutar haluan ke arah selatan menuju Makkah Al – Mukarramah. Akhirnya beliau berhasil menyelamatkan diri dengan lari ke puncak – puncak gunung beserta harta – harta mereka.

Nabi merahasiakan arah tujuan serangan beliau. Beliau memang bergerak ke utara, tapi secara tiba – tiba membalik ke arah selatan. Perang ini telah memberikan kemenangan moril kepada kaum Mualimin atas Bani Lahyan. Dan, tentu saja, kemenangan moril tidak kurang pentingnya dibandingkan kemenangan materil.

B. Perang Khaibar terjadi pada bulan Muharram tahun 7 Hijriah. Perang ini disebabkan karena bangsa Yahudi Khaibar telah mengadakan persekutuan dengan Bani Ghatfan yang telah berjanji untuk menolong mereka jika di serang kaum Muslimin.

Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersama shahabat – shahabatnya bergerak ke arah Raji’ yang juga termasuk wilayah kekuasaan Bani Ghatfan, dengan maksud membuat pagar penghalang dari terjadinya koalisi antara Bani Ghatfan dengan Yahudi Khaibar dalam memerangi kaum Muslimin. Dengan strategi ini, Nabi sengaja membentuk kesan seolah – olah beliau ingin menyerang mereka. Tetapi dengan tiba – tiba Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan pasukannya berbalik menghantam Khaibar.

Sebelum menyerang Khaibar, beliau terlebih dahulu mengirim satu regu shahabat, khusus untuk mengadakan serangan mendadak terhadap perkampungan Ghatfan yang telah ditinggalkan oleh kekuatan militernya yang turut membantu bangsa Yahudi Khaibar. Regu khusus ini berhasil melahirkan rasa takut disekitar perkampungan Bani Ghatfan yang memaksa tentara – tentara kabilah ini bergegas pulang untuk melindungi rumah – rumah dari gempuran kaum Muslimin . Dengan strategi inilah, rencana Rasulallah untuk memisahkan kekuatan Khaibar dari bantuan Bani Ghatfan berhasil dengan sukses.

Faktor yang terpenting dari kemenagan kaum Muslimin atas Yahudi Khaibar dalam perang tersebut adalah kitman ( menyimpan rahasia ). Kitman lah yang mambuat Bani Ghatfan tertipu karena mengira bahwa Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ingin memerangi mereka.

Kitman-Bab 6

6

KITMAN INDIVIDU

A. Pada waktu perang Ahzab ( disebut juga perang khandaq ) yang meletus pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah, Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengetahui bahwa Bani Quraizah dari bangsa Yahudi telah menghianati perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum Muslimin. Kasus penghianatan itu terjadi setelah kota Madinah di kepung 10.000 prajurit Quraisy – Bani Ghatfan, Bani Asyja’, Bani Sulaim dan Bani Asad.Kaum Muslimin terjepit pada posisi yang sungguh menghawatirkan. Waktu itu tentara kaum Muslimin berjumlah 3000 orang. Setelah Bani Quraizah membatalkan perjanjian mereka secara sepihak, lalu Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengutus seorang Muslim ke perkampungan Bani Quraizah untuk mengecek kebenaran berita berkoalisinya Bani Quraizah ke dalam tubuh pasukan sekutu ( Ahzab ). Selain itu sang utusan juga diperintahkan jika sudah kembali kehadapan Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam agar menyamar – nyamarkan suaranya dan tidak berbicara dengan keras tentang penghianatan Bani Quraizah itu. Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam khawatir semangat juang kaum Muslimin akan merosot jika mereka mengetahui berita penghianatan itu. Juga agar mereka dapat menyelesaikan penggalian parit serta tetap tenang menyusun persiapan – persiapan militer, sebelum kabar penghianatan itu diberitahukan kepada mereka. Setelah kaum Muslimin selesai mempersiapkan segala sesuatunya termasuk pembekalan, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengabarkan kepada mereka apa yang terjadi pada Banu Quraizah dengan tujuan menegaskan tanggung jawab mempertahankan Islam. Seandainya Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengijinkan penyiaran kabar penghianatan Bani Quraizah sebelum kaum Muslimin menyelesaikan tugas mempersiapkan peralatan – peralatan perang, maka bisa dipastikan semangat juang kaum Muslimin akan merosot karena marabahaya telah mengepung mereka di setiap sudut kota Madinah.

B. Masih dalm perang Ahzab, kehadapan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam menghadap Nu’aim bin Mas’ud untuk menyatakan ke Islamannya. Dia mengabarkan kepada Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bahwa ia telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan kuamnya. Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam berkata padanya,

“ Cegahlah ( perang ini ) dari kami sebisa kamu, sesungguhnya perang itu adalah ( ajang ) tipu daya “.

Nabi merahasiakan berita keislaman Nu’aim. Karena itu, Bani Ghatfan ( kabilah dari mana Nu’aim berasal ) dan bangsa Quraisy tidak tahu sedikitpun tentang masuknya Nu’aim ke dalam Islam.

Kemudian Nu’aim meninggalkan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan menyelinap masuk di tengah – tengah Bani Quraizah. Di masa lalu, Nu’aim adalah teman mabuk – mabukan Bani Quraizah. Nu’aim berkata kepada mereka, “ Kalian telah mengetahui betapa dalamnya cinta saya kepada kalian, sungguh kalian telah membantu bangsa Quraisy dan Ghatfan untuk memerangi Muhammad. Padahal mereka itu ( Quraisy dan Ghatfan ) tidak seperti kalian. Negeri ini adalah negeri kalian : di dalamnya berserakan harta, anak, dan istri kalian. Sementara itu kalian tidak tega berpisah dengan mereka. Sesungguhnya bangsa Quraisy dan Bani Ghatfan jika ada kesempatan dan menyaksikan harta sebanyak itu, pasti mereka menjarahnya. Jika bukan karena harta dan menunggu kesempatan, pasti mereka pulang ke negeri masing – masing dan membiarkan kalian berhadapan langsung dengan kekuatan Muhammad. Padahal kalian tidak memiliki kekuatan apa – apa untuk menandinginya. Karena itu, janganlah kalian turut berkoalisi dalam perang ini sampai kalian memperoleh jaminan dari pemimpin – pemimpin mereka ( Quraisy dan Ghatfan ). Setelah itu kalian memerangi Muhammad “.

Bani Quraizah berkata : “ Sungguh ini merupakan nasehat yang sangat berharga. Apalagi kamu bukanlah orang yang mencurigakan bagi kami “

Kemudian Nu’aim menuju barisan bangsa Quraisy. Setelah tiba disana, dia pun berkata kepada bangsa Quraisy ; “ Telah sampai kabar kepada saya bahwa Bani Quraizah telah menyesali dirinya sendiri. Mereka telah mengirim berita kepada Muhammad dan berkata kepada padanya : ‘ Apakah kamu senang kepada kami, jika senang kami mengambil beberapa orang pemimpin Quraisy dan Ghatfan, lalu kami berikan kepada kamu untuk ditebas lehernya? Selanjutnya kita bersekutu untuk menggempur orang – orang yang tersisa diantara mereka’. Dia ( maksudnya Muhammad ) ; ‘ Ya !‘. Maka jika Bani Quraizah meminta dari kalian jaminan dari anggota pasukan kalian, janganlah kalian berikan meskipun hanya satu orang ! “

Selanjutnya Nu’aim mendatangi Bani Ghatfan. Dia berkata kepada mereka ; “ Kalian adalah keluargaku dan kaumku….dst.” Selanjutnya Nu’aim bercerita kepada mereka persis seperti apa yang dia peringatkan pada bangsa Quraisy.

Abu Sufyan bin Harb beserta pemuka – pemuka Ghatfan mengutus beberapa orang Quraisy. Utusan pasukan Ahzab itu berangkat ke perkampungan Bani Quraisy pada malam sabtu, di bawah pimpinan Ikrimah binAbi Jahal. Mereka meminta Bani Quraizah bersiap – siap untuk mengempur kaum Muslimin dihari sabtu siang. Bani Quraizah tentu saja tidak bersedia memenuhi permintaan itu, karena mereka tidak boleh berperang pada hari sabtu. Lalu Bani Quraizah menuntut jaminan dari pihak Quraisy dan Ghatfan sebelum mereka dikomando untuk terlibat perang ! Orang Quraisy dan Ghatfan berkata, “ sungguh Nu’aim telah berkata jujur “. Sebaliknya, saat tuntutan jaminan beberapa orang dari pihak Quraisy dan Ghitfan ditolak, orang – orang Banu Quraisy berkata pula, “ Sungguh Nu’aim telah berkata jujur” .Akhirnya persatuan pasukan sekutu itu menjad retak. Hilanglah rasa saling percaya diantara mereka. Dan selanjutnya, pasukan sekutu itu hengkang kaki menuju negerinya masing – masing tanpa bisa merealisasikan cita – cita mereka menghancurkan kaum Muslim.

Isyu – isyu yang disebarkan shahabat Nu’aim, untuk memecah belah kekuatan pasukan sekutu, sungguh berefek parah terhadap semangat juang bangsa Quraisy dan konco – konconya dari kabilah Arab dan Yahudi Banu Quraizah. Perang modern sekarang pun sanat mengandalkan ekses dari isyu – isyu provokatif semacam itu untuk melabrak habis dinding solodaritas barisan perjuangan musuh serta menumbulkan menimbulkan distorsi pada perencanaan – perencanaan mereka.

“ Kesatuan penyebar isyu “ adalah unsur terpenting diantara sekian kesatuan – kesatuan intelejen pada struktur puncak dalam organisasi militer.Yang menjadi pertanyaan sekarang : Kalau saja Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan shahabat Nu’aim tidak menggunakan metode kitman yang ketat; apakah shahabat Nu’aim sanggup melaksanakan misi memecahkan barisan kekuatan sekutu, dan melempar jauh – jauh rasa saling percaya dari hati – hati mereka yang semangat menentukan ini ?

Rabu, Desember 30, 2009

Kitman-Bab 5

5

KEAMPUHAN KITMAN DALAM MUBAGHATAH

A. Sesudah 2 bulan terjadinya perang Uhud ( terjadi pada bulah Syawal Tahun 3 H ) kepada Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam telah sampai bahwa Thulaihah dan Salmah ( keduanya anak Khuwailid ) menghasut kaumnya, Bani Asad dan Bani Khuzaimah. Hasutan itu untuk bertujuan untuk menyerang kota Madianah dan menjarah seluruh harta kaum Muslimin yang ada di dalamnya.

Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam memutuskan mengirim satu regu pengintai sekaligus regu penyerbu berkekuatan 150 orang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Pasukan terdiri dari pasukan kavaleri dan pasukan infantri. Di dalam pasukan tersebut terdapat nama Abu Ubaidah el-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqash dengan komandan Abu Salmah bin Abdul Asad. Pasukan ini di tugaskan untuk menumpas habis kekuatan Bani Asad sebelum mereka sempat menyerbu kota Madinah. Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam menginstruksikan pasukannya bergerak pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Agar jalur bergerak rencana mereka tidak tercium musuh, mereka menempuh jalan – jalan yang terjal lagi sulit. Dengan harapan dapat menyerbu Bani Asad secara mendadak pada saat yang tidak di duga – duga.

Komandan Abu Salamah bergerak ( malam hari ) dan bersembunyi ( siang hari ) sehingga ia berhasil menembus masuk ke dalam perkampungan Bani Asad. Bani Asad tidak mengetahui sedikitpun ihwal gerak kaum Muslimin. Pada subuh harinya, Bani Asad terkepung hingga tak seorang pun dari kaum musyrikin itu sanggup bertahan. Bani Asad akhirnya lari terbirit – birit. Lalu komandan Abu Salamah mengirim 2 regu pasukan dari seluruh kekuatan yang ada untuk mengusir Bani Asad. Kedua regu tersebut berhasil pulang dengan membawa harta ghanimah

B. Pada peristiwa perang Daumatul Jandal, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam memimpin 1000 tentara kaveleri dan infantri yang merupakan gabungan dari kaum Muhajirin dan Anshar. Tujuannya untuk mencegah kabilah – kabilah Arab liar menjadikan Daumatul Jandal sebagai markas. Juga untuk mencegah kejahatan mereka merampok dan menyerang kafilah – kafilah dagang, sekaligus memberangus rencana konsentrasi kekuatan kabilah liar itu dari menyerang kota Madinah.Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan kaum Muslimin meninggalkan kota Madinah bulan Rabi’ul Awal tahun 5 Hijriah. Pada siang hari Rasulallah dan pasukannya menerapkan strategi kitman, dan pada malam hari mereka bergerak. Pasukan Islam menempuh jarak kurang lebih 70 km yang memisahkan kota Madinah dan Daumatul Jandal. Ketika kaum muslimin tiba di tempat tersebut kabilah – kabilah liar dan penduduk Daumanatul Jandal telah melarikan diri karena gentar berkonfrotasi dengan pasukan Islam. Akhirnya kaum muslimin tidak menjumpai satu orang pun dari kekuatan musuh. Kaum Muslimin bergerak pulang meninggalkan Daumatul Jandal setelah mereka bermukim di tempat itu beberapa hari.

C. Sesungguhnya dirahasiakannya gerak kaum Muslimin pada malam hari itulah yang menjadikan mereka berhasil menang atas musuh – musuh mereka.Kendati musuh – musuh kaum Muslimin memiliki keunggulan kuantitas dan logistik, namun kitman justru telah melahirkan kemenangan kelompok kecil atas kelompok besar dengan seizin Allah.

Adapun pelajaran berharga yang bisa ditarik adalah wajibnya merahasiakan seluruh gerak – gerik kekuatan kita dari jangkauan musuh; mulai dari yang pokok hingga tujuan – tujuannya, dan melarang publikasi berita mengenai kakuatan itu di radio, televisi, koran, majalah, dan media masa lainnya. Hal ini harus dilaksanakan karena pihak musuh selalu saja menguntit dan mengintai kita. Tidak layak bagi kita menceritakan rencana – rencana kita pada siapapun. Karena bila ini bocor terhadap musuh, tentu mereka akan melakukan persiapan – persiapan yang logis untuk menggagalkan rencana militer kita pada tempat dan saat yang tepat.

Selasa, Desember 29, 2009

Kitman-Bab 4

4

KITMAN DALAM PERISTIWA

Pelajaran yang dapat di petik kaum Muslimin dari Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dalam seni kitman tidak terbilang jumlahnya. Saya akan membatasi diri dengan sedikit contoh dari berbagai pelajaran nyata yang tersimpan dalam peristiwa – peristiwa perang yang langsung diikuti Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam ( ghazwah ) dan terutama ketika berpatroli ( sariyah ). Ini dimaksudkan agar tentara – tentara dan kalangan sipil Muslim bisa mengerti bagaimana Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam sangat mengandalkan kitman di dalam operasi – operasi militernya. Sebab boleh jadi, peristiwa – peristiwa itu merupakan ‘ibrah untuk kalangan militer pada khususnya, dan kalangan sipil pada umumnya.

Nabi pernah mengirim satu regu Sariyah yang terdiri dari 12 orang shahabat Muhajirin, di bawah komando Abdullah bin Jahsy el-Asady, untuk melaksanakan operasi intelejen. Ditangan komandan pasukan itu terdapat sepucuk surat yang oleh Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam diwanti – wanti agar tidak di buka kecuali setelah lewat 2 hari perjalanan. Sebab , jika surat itu di buka dan di pahami segala isinya, tentu komandan pasukan akan mematuhi surat tersebut. Padahal diinstruksikan sang komandan tidak memaksa satu orang pun dari anggota pasukannya tetap setia menyertainya. Adapun bunyi surat itu adalah :

“ Jika engkau telah membaca surat saya ini, maka lanjutkanlah perjalananmu hingga tiba di Nakhlah yang terletak antara kota Mekkah dan Thaif. Disanalah kamu intai bangsa Quraisy itu dan selanjutnya laporkanlah kepada kami tentang kabar mereka”.

Setelah lewat 2 hari meninggalkan kaum Muslimin di kota Madinah, Abdul bin Jahsy membuka surat rahasia tersebut. Kemudian memperlihatkan isinya kepada anggota pasukannya dan mengabarkan bahwa Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam melarang dia memaksa seorang pun di antara mereka agar setia menemaninya. Ternyata tidak ada satu pun anggota pasukan yang mengundurkan diri, bahkan mereka bergegas menunaikan perintah dalam surat itu”.

Rasulallah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mempelopori strategi surat rahasia guna menjaga dan memupuk tradisi kitman yang kuat, agar informasi penting mengenai gerak – gerik dan tujuan kaum Muslimin tidak bocor pada pihak musuh. Dengan strategi demikian, beliau berhasil merahasiakan berbagai rencananya dari jangkauan pengetahuan lawan dan kawan.

Sebenarnya kaum Muslimin lebih awal menemukan strategi kitman yang rapi dari yang lainnya, jauh sebelum bangsa Jerman menemukannya dan menggunakannya pada masa perang dunia kedua ( 1939 – 1945 ). Dan bangsa Jerman perlu diberi maaf karena mengakui dirinya sebagai pelopor dan perintis strategi kitman itu disebabkan motif – motif tertentu. Tapi, apa dalih kaum muslimin meniru – niru bangsa Jerman mendakwakan diri bahwa memang Jerman bangsa paling awal menemukan strategi tersebut?

Kaum Muslimin, sungguh telah melupakan warisannya sendiri dan hanya mengunyah tulisan orang asing bahkan dalam tema warisan tradisi Arab dan Islam sekalipun.