Sabtu, Juni 27, 2009

Tuntutlah Ilmu Sepanjang Hayat



(Hepi Andi)

Islam pernah jaya dengan ilmu. Namun sayangnya kejayaan itu kini ditelan sejarah. Menggali ilmu berarti menggali kejayaan itu sendiri.

Menuntut ilmu itu wajib. Kadang kita tak menyadari betapa pentingnya kedudukan ilmu. Kadang kita lebih mengutamakan harta ketimbang ilmu. Padahal, harta bisa habis bahkan dapat menjadi malapetaka bagi pemiliknya. Ilmu akan bertambah terus. Pemilik harta harus menjaga hartanya. Sedangkan ilmu akan menjaga pemiliknya.

Karenanya, ketika diminta meminta memilih antara ilmu, kerajaan dan harta, Nabi Sulaiman AS memilih ilmu. Rasulullah SAW bersabda,” Nabi Sulaiman pernah diminta untuk memilih antara harta, kerajaan dan ilmu. Dia memilih ilmu, akhirnya dia diberi pula kerajaan dan harta benda.” (H.R Ad-Dailami.

Karena itu, diwajibkan bagi kaum muslimin untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain, maupun ilmu-ilmu yang menyangkut kemaslahatan umum yang hukumnya fardhu kifayah.

Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk mencari ilmu, di mana pun berada, sebagai kunci membuka segala sesuatu. Dalam hadist lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda,” Barangsiapa yang melalui suatu jalan guna mencari ilmu pengetahuan, niscaya Allah memudahkan baginya jalan ke surge.” (H.R Muslim)

Kita harus sadar, setiap manusia diberikan jatah usia yang tidak diberitahu sedikit pun berapa lama kita bertahan hidup. Ini berarti kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untuk itu, ilmu-ilmu keagamaan sebagai dasar membina jiwa, membentengi dari sifat-sifat tercela, harus didahulukan.

Islam memberikan pilihan kepada kaum Muslimin dalam perihal menuntut dan mengamalkan ilmu, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “ jadilah kamu seorang pengajar, atau pelajar atau mendengarkan (ilmu), atau mencintai (ilmu), dan janganlah kamu menjadi orang kelima, kamu pasti menjadi orang yang celaka.” (H.R Imam Baihaki).

Maksud orang ke lima di sini adalah janganlah menjadi orang yang bodoh, yang akan celaka di dunia dan akhirat kelak, sehinga dapat terjerumuskan kepada hal-hal keburukan.

Dengan demikian sudah saatnya hari ini dan seterusnya para umara, cendikia, ulama dan dermawan untuk lebih memperhatikan nasib anak-anak yang belum mampu engambil haknya dengan memberikan faslitas agar mereka dapat menikmati hidup yang ditaburi oleh berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Mereka adalah generasi penerus bangsa kita, apalah daya nasib bangsa ini apabila anak-anak kita tidak mengenyam pendidikan.

Islam menghargai ilmu. Allah sendiri lewat al-Qur’an meningikan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S al-Mujadilah [58]: 11).

Dalam surat Ali-Imran [3]: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan diri-Nya, lalu malaikaitnya dan kemudian orang-orang yang berilmu. Jelaslah Allah menghargai orang-orang berilmu. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga yang menyatakan demikian itu).” (Q.S Ali Imran [3]: 18).

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmulah orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia.

Ðan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yan berilmu (Q.S al-‘Ankabut [29]: 43)

Allah juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapatkan petunjuk al-Qur’an.

Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyatadalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (Q.S al-‘Ankabut [29]: 49).

Sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri juga sangat menghargai orang yang berilmu.

“Ulama itu adalah pewaris para Nabi (H.R Abu Dawud)

Bahkan Nabi tidak tanggung-tanggung lebih menghargai seorang ilmuwan daripada satu kabilah (satu suku). “Sesungguhhnya matinya saru kabilah itu lwbih ringan dari matinya seorang alim (HR Thabrani).

Seorang alim juga lebih tinggi dari seorang ahli ibadah yang sewaktu-waktu bisa tersesat karena kurangnya ilmu. “keutamaan seorang alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari seorang sahabatku (H.R At-Tirmidzi).

Dengan prinsip ini tidak heran kalau pada masa kejayaan Islam, ilmu mendapatkan penghargaan yang luarbiasa. Saat itulah, kaum Muslimin berhasil menemukan beragam hal baru. Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad tahun 800. Perpustakaan berhasil mereka dirikan. Direktur Observatorium Maragha, Nasiruddin at-Tousi memilikik kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Qordoba (Spanyol) pada abad 10, ada perpustakaan yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya, Raja Perancis Charles, hanya memiliki koleksi 900 buku. Bahkan, Khlifah al-Aziz di Mesir memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku. Diantaranya, 16.000 buah tentang Matematika dan 18.000 tentang filsafat. Pada masa awal Islam dibangun badan pendidikan terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Para ilmuwan Islam seperti Khawarizmi memperkenalkan “angka arab”(Arabic Numeral) untuk menggantikan system bilangan Romawi yang kaku. Kita dapat membayangkan bagaimana ilmu Matematika atau akunting bisa berkembang tanpa system “Angka Arab” yang diperkenalkan umat Islam.

Al-Khawarizmi juga meperkenalkan ilmu algoritma (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra). Omar Khayam menciptakan teori tentang angka-angka “irrational” serta menulis buku sistematik tentang Mu’dalah (equation). Dalam ilmu astronomi umat Islam juga maju. Al-Batani menghitung enklinasi ekleptik (23.35 derajat) pengukuran sekarang (23.27 derajat). Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya al-Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone yang sampai zaman Renaisance tetap menjadi text book di Fakultas Kedokteran Eropa.

Ar-Razi (Razes) adalah seorang Jenius Multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli teologi dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyd (Avverroes) yang ahli dalam filsafat. Masih banyak lagi kemajuan yang dicapai umat Islam di bidang ilmu pengetahuan.

Itu dulu. Umat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan. Tak heran jika mereka menjadi bangsa yang terbelakang. Padahal, ilmu adalah cahaya. Ia baai obor yang menjadi suluh bagi pemiliknya.

Sumber:

(Majalah Sabili No. 10 Th.XII 20 Syawal 1425 H/ 3 Desember 2004 M kolom Tarqiyyah hal. 70-73)

(Kamar Kostku, Sabtu, 5 Rajab 1430 H/ 27 Juni 2009 M, 11:24 WIB)

Intelektual



(Herry Nurdi: Redaktur Majalah SAbili)

Apa jadinya jika kita semua kehilangan ingatan ? Bayangkan, pada suatu pagi, ketika semua bangun dari tidurnya, tidak ada ingatan lagi dalam kepala manusia. Bukan gila. Tapi ingatan yang kita miliki menguap sirna, seperti hilangnya setetes air di sahara.

Kita tidak lagi memiliki kemampuan bahasa. Kita tak punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan sesame. Kita tidak bisa membaca. Padahal buku-buku masih menumpuk seperti sediakala. Bahkan kita lupa bagaimana cara berjalan dan makan. Padahal semua peradaban masih utuh di sekitar kita . listrik masih ada. Komputer juga. Mobil dan semua peradaban material tetap terjaga. Apa yang kita pikirkan ? apa yang kita lakukan ? apakah mungkin kita bertahan ? bagaimana cara kita bertahan ? bagaimana kita mengatasi masalah, sedangkan satu referensi pun tidak tinggal dalam ingatan.

Dan jangan lupa, ada pertanyaan yang sangat fundamental. Bagaimana cara kita mengenali kebenaran? Tentu saja ini hanya bayangan saya, mungkin tak pernah terjadi, bahkan nyaris tidak mungkin menemukan kemungkinannya. Tapi yang sangat mungkin terjadi, bahkan saya melihatnya sudah terjadi adalah kita kehilangan kemampuan memanfaatkan kemampuan yang kita miliki demi mengidentifikasi kebenaran.

Ilmu sebagian manusia hari ini sangat tinggi. Bahkan diantara mereka mampu menguasai beberapa beberapa bahasa sekaligus. Bacaan mereka sangat luas, apalagi ditambah dengan internet dan teknologi informasi, juga komunikasi, pengetahuan manusia tentang kehidupan sepertinya sudah mencapai puncaknya dalam peradaban.

Tapi paradoksnya adalah, semakin tinggi ilmu yang dimiliki tampaknya semakin relatif kebenaran yang bisa dipahami. Seolah-olah, setelah kita memiliki ilmu yang sangat tinggi, maka segala ilmu itu mengantarkan kita pada satu pemberhentian, bahwa tidak ada kebenaran sejati. Tak ada yang obyektif, semuanya dalam kerangka subyektif.

Maka dengan mudahnya kita bisa mendapati manusia-manusia yang bisa berganti identitas, pemikiran, bahkan kepercayaannya kepada Tuhan. Dengan sangat mudah ia mengubah definisi dan sikapnya pada kebenaran.

Pemeran Shalahuddin al-Ayyubi dalam film Kingdom of Heaven, Ghassan Massoud sangat terkesan dengan pembuatan film kingdom of Heaven dan sikap yang ditunjukkan oleh Ridley Scott sanga sutradara.

Baginya sikap Ridley Scott cukup adil menempatkan posisi Islam-Kristen dalam sejarah Perang Salib tersebut. Sehingga, ketika Ridley Scott menawarkan proyek pembuatan film baru yang berjudul The Body of Lies, Massaoud sangat antusias.

Tapi, setelah membaca script tersebut, betapa masgul hatinya. Sang sutradara yang dianggapnya cukup adil, dalam fil barunya justru menggambar kan Islam dan Muslim sebagai teroris besar yang biadab. Muslim dalam film The Bodies of Lies digambarkan tidak memiliki hati, hanya punya semangat menjunjung tinggi agama dengan cara membunuh manusia lainnya. Karena mati berarti syahid. Dan status syahid berarti double victory alias kemenangan ganda; masuk surga dan terbunuhnya orang-orang kafir.

Betapa mudahnya manusia berubah. Apakah pengetahuan, intelektual, pemahaman dan proses belajar yang semama ini dilalui justru mengantarkannya pada relativitas sedemian rupa? Tak penting lagi benar dan salah, karena keduanya pada akhirnya dilibas oleh perubahan yang dilahirkan manusia itu sendiri. Apakah memang begitu seharusnya? Lalu apa tugas para intelektual dan apa manfaat intelektualitas?

Semakin tinggi intelektualitas, seolah-olah semakin tinggi pula keraguan yang dihasilkan. Tesis selalu melahirkan anti-tesis, kemudian berlanjut lagi dengan sintesis. Begitu seterusnya. Jika balasan akhir dari intelektualitas adalah relativitas yang seolah tanpa batas, maka saya akan memilih menjadi orang yang sederhana.

Sederhana dalam berfikir. Sederhana dalam mengambil keputusan. Sederhana dalam menyimpulkan dan sederhana menjalani setiap konsekuensi kehidupan.

Sepatutnya referensi pengetahuan yang luas, tinggi dan dalam, mengantarkan manusia pada keyakinan. Karena untuk itulah ilmu pengetahuan diciptakan. Menjadi guidance, menjadi petunjuk dan juga penerang. Selanjutnya, para intelektual berperan menjadi pemain utama yang membangun jalan terang untuk umat manusia. Tapi jika hari ini peran intelektual hanya menambah pertanyaan dan pekerjaan tak pernah terselesaikan , apa guna ilmu pengetahuan? Bangkitlah para pemegang waris para nabi dan Rasul. Kuala lumpur Maret 2009.

Sumber :

(Majalah Sabili No. 18 Th. XVI 29 Rabiul Awal 1430 H/ 26 Maret 2009 M, Rubrik Muhasabah, hal. 12-13)

(Bangkinang, Rabu, 2 Rajab 1430 H/ 24 Juni 2009 M 20:40 WIB)

Selasa, Juni 23, 2009

Membaca dengan Nama Tuhan



(KH Athian Ali M. Da’i, MA Ketua Umum Forum Ulama Ummat Islam (FUUI))

“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q,.S al-Alaq [96]: 1-5)

Perkembangan sains dan teknologi dunia terasa semakin pesat. Manusia yang hidup di abad modern ini sangat dimanja oleh produk-produk ilmu, baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dunia seakan semakin sempit. Sebab, semua peristiwa pada saat yang sama bisa diikuti oleh masyarakat manusia dimanapun mereka berada.

Segala yang ada di permukaan bumi, bahkan yang berada di perut bumi, telah diteliti dan dikuras guna memelihara dan mengangkat eksistensi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dari sisi ini, manusia dapat dikatakan telah terpanggil oleh seruan Allah SWT yang pertama kali melalui Rasul-Nya: “Bacalah. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” (Q.S al-Alaq [96]: 1). Tujuan membaca ini adalah agar kita memahami berbagai hakikat maupun fenomena alam semesta dengan segala isinya.

Harus kita sadari bahwa kita belum mampu membaca alam ini dengan niat semata-mata mencari ridha Allah SWT dan melaksanakan syariat-Nya. Akibatnya, kita hanya mampu menjejali perut-perut yang laparyang merupakan cerminan kebutuhan fisik manusia. Umat Islam masih jauh untuk disebut berhasil menjejali rohani-rohani yang dahaga, sebagai cerminan kebutuhan spiritual.

Dampak logis dari semua ini amat terasa. Negara-negara yang maju dalam sains dan teknologi malah dihadapkan pada penyakit jiwa yang mengerikan. Ini disebabkan oleh kehampaan manusia dari norma-norma Rabbani. Angka kriminalitas di Negara-negara maju maupun di Negara-negara berkembang tak pernah menunjukkan penurunan.

Kemajuan sains dan teknologi kadang oleh sementara orang hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi dan melampiaskan hawa nafsu, dimana pada dasarnya manusia cenderung memuaskannya (Q.S Ali Imran [3]: 14). Kecenderungan manusia memuaskan hawa nafsu sebenarnya positif, namun menjadi negatif jika sudah tidak terkendali lagi. Yang timbul kemudian adalah ketidakpuasan, kegelisahan, tamak dan berkeluh-kesah (Q.S al-Balad [90]: 4, al-Ma’arij [70]: 19.

Jika manusia kembali ke sifat dasarnya itu, sulit dihindari merosotnya deraja manusia dari makhluk yang memiliki “ bentuk penciptaan yang terbaik” (ahsan takwin), yang paling mulia, ke tingkat “derajat yang terendah” (asfala safilin), seperti yang digambarkan dalam surat at-Tin [95]: 4-5. Yang akhirnya tampil, manusia yang satu menjadi serigala bagi yang lainnya. Semua itu terjadi bukan disebabkan oleh otak manusia yang tumpul, tapi semata karena tidak menggunakan akalnya dijalan yang diridhai Allah.

Bukan juga karena ketidakmampuannya membaca kenyataan hidup yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, namunkarena mereka tidak mempergunakan mata dan penglihatannya dengan baik. Mereka berusaha menutup mata mata dari berbagai kenyataan kehidupan. Mereka tidak mau mendengar jeritan dan pekikan orang-orang yang teraniaya akibat mengikuti hawa nafsu mereka. Itu lantaran mereka tidak menggunakan pendengarannya dengan baik dan pura-pura tidak mendengarnya (Q.S al-A’raf [7]: 179).

Setelah terjadinya situasi ini, tampillah sosok-sosok yang merusak dan menumpahkan darah sesamanya (Q.S al-Baqarah [2]: 30). Segala cara ia halalkan demi kepuasan “nafsu” yang telah menjadi “tuhannya.” (Q.S al-Furqan [25]: 43, al-Jatsiyah [45]: 23).

Dengan kemampuan akalnya ia putarbalikkan segala-galanya, sehingga nilai dan norma pun menjadi kabur. Garis pemisah antara hak dan batil, antara yang halal dan haram pun musnah dengan sendirinya. Seperti pernah disinyalir Rasulullah SAW bahwa suatu masa kelak akan tiba suatu masa yang penuh dengan tipudaya, dimana si pendusta dipercaya, sedang orang yang benar malah didustakan. Si pengkhianat dipercaya, sedang orang yang tadinya dipercaya malah mulai berkhianat. Sebaliknya, orang yang tidak mengerti apa-apa malah berbicara urusan umat. Masa itu, semua serba terbalik. Yang hak dikatakan batil dan yang batil dikatakan hak. Yang halal dikatakan haram dan yang haram dikatakan halal.

Pada abad 21 ini, banyak ilmuwan yang mempertanyakan kembali slogan yang menyatakan sians adalah sumber kekuatan yang sangat dahsyat. Nyatanya, akibat saintisme telah menimbulkan berbagai masalah yang cenderung jadi boomerang bagi peradaban manusia ketika manusia kehilangan eksistensi dirinya. Kegelisahan mereka cukup kiranya terwakili Alexis Carel, dalam Man the Unknown, dimana manusia modern yang hidup pada abad ini mencari kembali eksistensi dirinya yang hilang.

Semuanya terjadi akibat kelalaian kaum sekular yang tidak lagi menghayati bahwa keberhasilan pembangunan bidang material akan membawa dampak perubahan norma dan nilai-nilai ilahi yang hidup dalam masyarakat. Ini pula yang harus dibayar mahal oleh masyarakat yang sedang membangun, jika kemajuan dalam sisi materi tidak segera disertai oleh kemajuan spiritual yang bercermin pada norma dan nilai-nilai ilahi.

Sukses yang dicapai sains dan teknologi jika tidak disertai dengan sukses dalam nilai-nilai ruhaniyah, bisa berdampak lahirnya kesan bahwa masa depan masyarakat dan umat manusia terletak pada kemajuan yang berhasil dicapai sains dan teknologi. Seperti dalam ungkapan mereka,” Pilihlah ilmu jika ingin maju, atau berpegang terus pada agama kalau mau mundur.”

Sebagai bangsa yang mayoritas Muslim, seharusnya kita menadari sepenuhnya pentingnya aspek-aspek norma dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, norma-norma agama di samping berfungsi sebagai pengontrol terhadap perubahan yang terjadi akibat pembangunan. Jangan sampai aspek positif pembangunan melesat maju, sedangkan aspek normatifnya tertinggal jauh di belakang. Kita harus meyelamatkan kehidupan yang sudah kehilangan arah ini. Caranya dengan menata kembali kehidupan ini dengan membaca berlandaskan bimbingan dan syari’at Allah SWT. Wallahu a’lam.

Sumber :

(Majalah Sabili, No.10 TH.XII 20 Syawal 1425 H/3 Desember 2004 M, Rubrik Tadabbur hal. 38-39)

(Kamar Kostku, Selasa 1 Rajab 1430 H/ 23 Juni 2009 M 14:51 WIB)

Tips Membangun Tradisi Keilmuan



(Ainur Rofiq: Anggota Dewan Syura Hidayatullah)

Setelah turunnya lima ayat pertama yang dimulai dengan iqra’ , Allah SWT menurunkan lagi ayat yang diawali dengan kalimat, “Nun, wal Qolami wamaa yasthuruun.” (Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis).”

Ayat tersebut berada dalam surat Al Qolam yang berarti pena. Ini menunjukkan betapa tingginya perhatian Islam terhadap aktivitas membaca dan menulis. Keduanya adalah pilar ilmu. Dan, ilmu adalah pilar peradaban.

Itulah sebabnya, tradisi ilmiah telah begitu melekat pada generasi terbaik Islam pada masa lalu. Sayangnya, kini tradisi itu tergerus seiring merajalelanya peradaban jahiliah.

Bagaimana umat Islam dapat mengembalikan tradisi ilmu sebagaimana generasi Islam terdahulu ? Berikut beberapa tips dalam lingkup pribadi, keluarga dan masyarakat.

Tumbuhkan kesadaran akan keutamaan ilmu

Kebanyakan masyarakat lebih memilih hal-hal pragmatis dan instan untuk memperoleh kesenangan dunia yang sifatnya sesaat, seperti kekuasaan dan banyaknya harta. Padahal, Allah SWT telah menegaskan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu dibanding hal-hal yang bersifat duniawi.

Diantara kemuliaan itu adalah memperoleh derajat yang tinggi (Q.S Az-Zumar [39]: 9 dan Al-Baqaarah [2]: 269), mampu memahami ayat-ayat Allah SWT (Q.S Al-Ankabut [29]: 43), dan lebih takut kepada Allah SWT (Q.S Al-Fathir [35]: 26).

Dari semua keistimewaan ini seharusnya umat Islam sadar akan pentingnya ilmu dan perlunya mencari ilmu, baik bagi diri, keluarga maupun masyarakat.

Kembangkan kemampuan menulis

Sedari awal, Islam memberi perhatian pada aktivitas menulis. Buktinya, salah satu surat Al-Qur’an diberi nama Al-Qolam, yang berarti pena. Al-Qur’an juga meminta kaum Mukmin untuk mencatat saat melakukan transaksi pinjam-meminjam.

Bukti lain adalah Piagam Madinah. Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa piagam ini berkategori sebagai konstitusi pertama yang dibuat secara tertulis. Rasulullah SAW juga memiliki beberapa orang sekretaris yang bertugas untuk menulis.

Para salafus shaleh dan ulama-ulama kita merupakan generasi yang sangat produktif dalam membuat karya tulis. Ribuan kitab yang menjadi rujukan umat Islam dalam hal tafsir, hadist, fiqih, aqidah, akhlak, serta ilmu penetahuan alam merupakan buah karya dari tradisi ilmu yang dimiliki oleh ulama-ulama kita di masa lalu dan hingga kini menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Hormati ilmu dan orang-orang yang berilmu

Imam Malik pernah dipanggil oleh Khalifah Harun al-Rasyid ke istana untuk mengajari putranya kitab al-Muwatha’ . Imam Malik datang ke istana, tetapi tidak untuk mengajar.

Imam Malik malah menasehati Khalifah. Katanya,” Rasyid , Hadist merupakan ilmu yang dihormati dan dijunjung tinggi oleh leluhur anda. Bila sebagai Khalifah anda tidak menghormatinya maka tidak seorangpun yang akan menaruh penghormatan lagi. Manusialah yang mencari ilmu dan bukan ilmu yang mencari manusia.”

Akhirnya khalifah menyadari bahwa ia mesti memuliakan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Khalifah dan kedua putranya datang ke tempat Imam Malik untuk mengikuti kuliah al-Muwatha’ bersama masyarakat banyak.

Mengingat kedudukan ilmu sangat tinggi dalam Islam, selayaknya kaum Muslim memberikan penghargaan yang tinggi kepada ilmu dan orang-orang yang memiliki ilmu. Penghargaan itu tidak selalu dalam bentuk materi tetapi juga menempatkan kedudukan ulama (orang-orang yang berilmu) pada maqam yang terhormat.

Memberi hadiah dengan buku

Memberi hadiah adalah salah satu tradisi dalam Islam. Bahkan, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan perasaan saling mencintai diantara sesama muslim.

Nah, alangkah baiknya bila hadiah ini berwujud barang yang bisa menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Apalagi kalau bukan buku.

Menyediakan perpustakaan

Perpustakaan merupakan sumber belajar bagi setiap orang yang haus akan ilmu. Selayaknya setiap keluarga memiliki perpustakaan keluarga.

Sediakanlah buku-buku yang memuat pengetahuan wajib buat kaum Muslim, seperti terjemahan al-Qur’an, buku aqidah, fiqih, akhlak, dan sirah Nabi SAW. Lebih bagus lagi jika dilengkapi buku-buku Islam Kontemporer dan ilmu pengetahuan lain yang bermanfaat.

Demikian juga di setiap sekolah dan lembaga pendidikan selayaknya menyediakan perpustakaan yang jauh lebih lengkap dari perpustakaan keluarga.

Di era digital seperti saat ini, perpustakaan bisa dibangun dengan cara yang lebih efisien dan biaya murah. Yaitu, lewat komputerisasi.

Hanya dengan sebuah komputer kita dapat menyimpan jutaan kitab, berlembar-lembar dokumen, film foto-foto dan berbagai informasi lain yang diperlukan. Belum lagi bila kita menambahkan akses internet pada komputer tersebut.

Mengutamakan hujjah dari pada adu fisik

Mukmin diperintahkan Allah SWT untuk menyeru manusia secara hikmah dan membantah mereka dengan hujjah yang kokoh.

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S an-Nahl [16]: 125)

Ayat tersebut menyebutkan bahwa umat Islam harus memiliki hujjah (argument) yang kuat dalam dakwah. Hujjah yang kuat dalam pandangan Islam terdiri dari Kitabullah (al-Qur’an), kemudian as-Sunnah (Hadist Rasulullah SAW), barulah ijtihad orang-orang yang memiliki ilmu di bidangnya.

Kendala dan Solusi

Ada sejumlah kendala membangun tradisi keilmuan pada diri Kaum Muslim, atau masyarakat yang lebih luas. Namun, kendala tersebut bukan tanpa jalan keluar. Berikut adalah sejumlah kendala tersebut.

Kurangnya kesadaran terhadap ilmu

Harus kita akui, kesadaran umat Islam terhadap tradisi keilmuan saat ini sangat rendah. Mereka menjadikan pendidikan sebagai urusan kesekian, kalah dengan urusan hiburan. Akibatnya, persoalan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, tak kunjung terpecahkan hingga saat ini.

Seharusnya, setiap keluarga Muslim sadar akan pentingnya ilmu. Bahkan, jauh lebih sadar dibandingkan mereka yang tidak pernah bersyahadat. Bukan malah sebaliknya, ilmu lebih banyak dikuasai oleh orang-orang non-Muslim.

Jadi, setiap keluaraga Muslim selayaknya menjadi teladan untuk membangun tradisi ilmu, bukan malah mengekang atau membatasi diri.

Malas berusaha

Sifat malas masih banyak menjangkiti masyarakat kita. Mereka tidak mau berusaha keras dan bersusah payah untuk mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu.

Hal ini karena memerlukan biaya yang tidak kecil, waktu yang lama dan kemauan yang keras.

Umumnya, masyarakat kita lebih memilih sesuatu yang bersifat instan untuk mengubah nasibnya. Sesuatu yang menjanjikan keuntungan besar dengan pengorbanan yang kecil.

Kurangnya tanggung jawab pemimpin

Para pemimpin kita masih lebih mementingkan pembangunan fisik ketimbang meningkatkan kualitas manusia. Boleh jadi ini disebabkan pembangunan fisik lebih nyata terlihat hasilnya dibandingkan pembangunan manusia. Membangun manusia tidak dapat dilihat langsung hasilnya. Padahal, pengaruhnya sangat besar bagi kemajuan bangsa.

Dengan kata lain, posisi pemimpin menjadi sangat penting. Pemimin yang tidak paham dengan pentingnya ilmu tidak akan mendukung terbangunnya tradisi keilmuan di tengah masyarakat. Apalagi pemimpin yang tidak memiliki ilmu, akan mengambil kebijakan yang menyesatkan.

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ Sesungguhnya Alllah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga apabila tidak ada lagi orang alim, maka manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang bodoh. Tatkala mereka ditanya, mereka member fatwa dengan tanpa ilmu, maka mereka itu sesat lagi meyesatkan.” (H.R Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Maka, menjadi wajib bagi kita untuk memilih pemimpin yang berilmu dan mencintai ilmu, utamanya ilmu yang bersifat syar’i. Wallahu a’lam.

Sumber:

Majalah Hidayatullah, No.2 Thn.XXII Jumadil Tsani 1430 H/ Juni 2009 M (Kajian Utama, hal. 20-21)

(Kamar kostku, 29 Jumadil Tsani 1430 H/ 22 Juni 2009 M 21:31 WIB)