Rabu, April 28, 2010

Kitman-bab 3

3

WARISAN – WARISAN KITMAN ARAB DAN ISLAM

Bukan rahasia lagi bahwa mubaghatah ( serangan mendadak, blitzkrieg-pent ) adalah salah satu prinsip penting diantara berbagai prinsip – prinsip perang. Kitman merupakan satu sarana untuk merealisir mubaghatah itu. Sebab, musuh yang terlebih dulu tahu tentang rencana mereka yang akan memeranginya, tentu akan berusaha sekuat tenaga menggagalkan rencana itu.

Dan adalah kitman dahulu, kini, dan yang akan datang, tetap melekat sebagai atribut pada diri orang Arab tulen. Diatas semuanya, seorang muslim sejati wajib menggenggam kuat kitman baik dalam suasana damai maupun perang.

Jika kita ingin menggali apa yang terdapat dalam sastra Arab berupa puisi dan prosa tentang kitman, maka pembicaraan kita akan menjadi panjang dan bertele – tele. Oleh karena itu, saya akan membatasi dengan hanya menyebut beberapa pepatah – pepatah Arab populer.

Diantara pepatah – pepatah itu :

“ Berhati – hatilah jangan lidahmu menebah lehermu “.

“ Sesungguhnya dinding – dinding itu memiliki telinga “

“ Dadamu jatuh lebih lapang untuk menjaga rahasiamu “

“ Sifat hati – hati lebih sulit dari perang “

Allah telah berfirman dalam kitab-Nya :

“Dan apabila datang kepada mereka satu berita tentang keamanan ataupun ketakutan. Mereka lalu menyiarkannya. Dan lalu mereka menyerahkannya kepada Rasul ( Pemimpin ) dan cendikiawan diantara mereka, tentulah orang yang ingin mengetahui kebenarannya ( akan dapat ) mengetahuinya dari mereka ( Rasul dan cendikiawan ). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja ( diantaramu )” ( Surah An Nisa : 83 )

Inilah perintah Ilahi yang memberi peunjuk kepada kaum Muslimin, bukan sekadar urgensi kitman saja, bahkan kewajiban melaporkan setiap isyu yang bisa menimbulkan pengaruh buruk atas opini masyaraklat pada orang – orang berkompeten. Ini berguna untuk didengar pertimbangannya sekaligus menyetop penyebaran isyu itu. Sehingga titik bahaya tidak semakin membesar, sekaligus membuat pagar penghalang bagi oknum – oknum yang ingin mencapai tujuannya dengan jalan pintas lewat penyebaran isyu tersebut. Dalam konteks ini, bila cakupannya di seputar persoalan – persoalan pribadi yang ringan, tergolonglah ia pada tajassus ( mencari – cari kesalahan ) yang tidak dibolehkan sama sekali dalam Islam.

Dien Islam melarang keras penyiaran rahasia – rahasia militer Muslimin dan mencapnya sebagai tindakan orang – orang munafiq. Dien Islam mengharuskan kaum Muslimin agar selalu merujuk kepada pemimpin umum dan bersikap kritis terhadap berita – berita yang sampai pada mereka, sebelum berita itu dipercaya dan dilaksanakan.

“ Sesungguhnya jika tidak berhenti orang – orang munafiq, orang – orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang – orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah ( dari menyakitinya ) niscaya Kami perintahkan kamu ( untuk memerangi ) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu ( di Madinah ) melainkan dalam waktu yang sebentar”( Surah Al-Ahzab : 60 )

Dan Allah berfirman :

“ Wahai orang – orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti “ ( Surah Al- Hujurat : 6 )

Dan hadist, Rasulallah SAW pernah bersabda :

“ Semoga Allah memberi rahmat kepada seorang hamba yang berkata sopan hingga dia beruntung, atau bersikap diam hingga dia menjadi selamat”.

Berkata Ali bin Abi Tholib, “ Rahasiamu adalah lawanmu. Jika kamu mengungkapkannya jadilah kamu tawaannya”.

Dan berkatalah Umar bin Abd. Aziz,” Hati adalah wadah penyimpan rahasia. Mulut adalah gembalanya. Dan lidah adalah kuncinya.Maka hendaklah setiap manusia menjadi kunci rahasianya”.

Ini hanya sedikit dari sekian keterangan tentang kitman yang terdapat dalam ayat – ayat Al Qur’an, hadist Nabi, dan butiran – butiran hikmah. Secara keseluruhan ia menyuruh kita untuk bersikap tegas memegang rahasia ( kitman ) dan memperingatkan hasil – hasil buruk yang akan lahir akibat bocornya rahasia. Sesungguhnya rahasia itu merupakan amanah, barang titipan, dan janji. Tidak layak seorang muslim menghanati amanah, bersikap ceroboh terhadap barang titipan, atau melanggar janji.

Allah Azza Wa Jalla telah berfirman :

“ Dan tepatilah janji, sesungguhnya janji pasti dimintai pertanggung jawaban”. ( Surah Al-Isra : 34 )

Dan jika dalam pergaulan pribadi saja rahasia muslim itu merupakan amanah, barang titipan, atau pun janji yang jika di langgar seringkali mengusik ketenangan individu atau kelompok ; maka memegang rahasia militer adalah amanah yang besar, barang titipan yang berharga, dan perjanjian yang kuat, yang dalam pergaulan sosial bisa saja menimbulkan mudharat atas keselamatan ummat.

Orang yang menyiarkan rahasia – rahasia tentara dan ummatnya tergolong lalai akan hak tentara dan ummatnya. Dimuka mahkamah Allah dan manusia tidak ada kata ampun baginya.