Sabtu, Februari 04, 2017

Menafsir Peristiwa - 31 Serial Pembelajaran

 Menafsir Peristiwa
Majalah Tarbawi Edisi 239 Th. 12 Dzulhijjah  1431 H, 18 November  2010 M

Al-Quran Memaparkan peristiwa sejarah dengan kaidah-kaidahnya, bukan dengan rincian-rinciannya. Begitulah caranya. Maka teks selamanya akan abadi karena ia terlepas dari kekhususan ruang dan waktu. Lalu menjadi lentur hingga sanggup merengkuh keabadian.

Sebab yang penting dari sebuah peristiwa bukanlah pelaku, ruang atau waktunya. Rincian-rincian itu adalah hak buku-buku sejarah dan tugas para sejarawan. Misi teks ini adalah menemukan kaidah-kaidah yang mengatur jalannya sejarah hidup manusia, yang berlaku secara konstan dalam semua ruang dan waktu, serta oleh dan untuk semua manusia sebagai pelaku sejarah.

Jumat, Februari 03, 2017

Mutiara Kehidupan Para Tabi’in: Rabi’ Ibnu Khutsaim

Mutiara Kehidupan Para Tabi’in: Rabi’ Ibnu Khutsaim

Al-Ikhwan.net

Rabi’ Ibnu Khutsaim adalah seorang dari Bani Mudharr (Quraisy), beliau adalah seorang yang selalu tenggelam dalam ibadah pada ALLAH SWT, sehingga orang-orang mengatakan: “Ia adalah orang yang dari sejak jari-jarinya masih merah sudah ahli ibadah.” Dari sejak kecil Rabi’ dibesarkan dalam ibadah kepada ALLAH SWT, ia seorang yang terjaga dari perbuatan maksiat. Ketika usia masih kanak-kanak ia sudah sedikit sekali tidur di waktu malam, ibunya sering memergokinya di tengah malam sedang shalat diam-diam sementara suara tangis di dalam dadanya bagaikan air yang sedang mendidih di dalam kuali. Ketika ibunya bertanya kepadanya: “Mengapakah kamu tidak tidur?” Jawabnya: “Bagaimana aku bisa tidur, sementara malam telah makin larut dan musuhku senantiasa mengintaiku.” Kata ibunya: “Siapakah musuhmu itu anakku?” Jawab Rabi’: “Maut wahai ibu.”

Semakin remaja maka makin tambah-tambah taqwanya, sehingga setiap malam suara tangisnya makin memilukan, pagi dan siang haripun ia sering berlinangan air mata. Sampai-sampai ibunya menjadi bingung dan bertanya kepadanya:
“Anakku sayang, apakah kau pernah berbuat dosa besar?”
Jawab Rabi’: “Benar ibu, aku telah berbuat dosa yang sangat besar.”
Kata ibunya: “Inna liLLAHi… Dosa apakah itu?”
Jawab Rabi’: “Aku telah membunuh orang wahai ibu.”
Kata ibunya : “Ya RABB! Kalau begitu segeralah minta maaf dan kita mohonkan untuk bisa membayar diyat kepada
keluarganya.”

Memaafkan Dan Membebaskan Hutang - 65 Kiat Islam Membangun relasi

Memaafkan Dan Membebaskan Hutang

Memberi pinjaman atau hutang kepada sesama muslim adalah sikap yang sangat mulia, namun akan lebih mulia lagi jika ia sanggup memberi masa tangguh pembayarannya beberapa waktu karena yang bersangkutan belum mampu melunasi pada waktu yang dijanjikan.

Dan, sikap yang lebih mulia dari mulia dari dua sikap di atas adalah memberi maaf atas hutang seseorang lalu membebaskannya dari tanggungan hutang yang melillitnya.


Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Ada seorang pedagang yang meminjamkan hutang kepada orang-orang, lalu jika mendapati orang yang kesusahan dan tidak mampu melunasi hutangnya maka ia mengatakan kepada para pembantunya, ‘Bebaskanlah hutangnya, semoga Allah membebaskan kita semua’, Maka Allah pun membebaskannya.” (HR. Al Bukhari [1936]) 

Related Post 

Pintu-Pintu Kebenaran - 30 Serial Pembelajaran

Pintu-Pintu Kebenaran
Majalah Tarbawi Edisi 238 Th. 12 Dzulqa’dah  1431 H, 04 November  2010 M

Apa bedanya menyembah patung dengan mencium batu seperti Hajar Aswad? Keduanya adalah benda mati yang disembah atau dicium sebagai bentuk ibadah. Mencium hajar aswad dalam konteks ini jelas tidak masuk akal. Tapi Umar bin Khattab yang sangat rasional akhirnya menciumnya juga. Telah hilangkah rasionalnya? Tidak! Akallah yang telah mengantarnya pada hakikat kebenaran yang lebih besar. Yaitu hakikat tentang Allah dan Muhammad. Ia meyakini kebenaran itu. Ia tunduk dan pasrah pada kebenaran itu. Maka mencium hajar aswad hanya penampakan kecil dari penerimaan keyakinan, ketundukan dan kepasrahan kepada kedua hakikat besar itu.

Begitulah Umar bin Khattab menemukan  hidayah dari jalan akalnya. Ia mendengarkan adik perempuannya membaca teks ini:”Thahaa. Tiadalah kami menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu supaya kamu menderita.” Ayat itu menyentak akalnya. Lalu membuka hatinya. Maka ketika akhirnya ia harus mencium hajar aswad, ia hanya mengatakan:”saya tahu wahai batu bahwa kamu tidak memberi manfaat dan tidak juga membawa bahaya. Kalau bukan karena melihat muhammad menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.”

Kamis, Februari 02, 2017

Memberi Masa Tangguh Pembayaran Hutang - 65 Kiat Islam Membangun Relasi

Memberi Masa Tangguh Pembayaran Hutang

Kehidupan adalah kehidupan, ia selalu bergulir dan berputar. Bisa jadi hari ini seseorang meminjam sesuatu dari yang lain dan berjanji akan mengembalikannya pada hari anu dan jam sekian, namun ketika tiba saat yang dijanjikan ia tidak dapat memenuhi janjinya, hingga hal ini melahirkan kegelisahan hati saat malam dan kehinaan pada siang harinya.

Sikap terbaik yang seharusnya anda tampilkan saat orang lain tidak dapat membayar hutuang sesuai dengan yang dijanjikan adalah memaafkan dan memberi masa tangguh beberapa waktu, sebab dengan demikian pahala yang tersedia akan anda peroleh. Dan, seperti inilah yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Wajah-Wajah Kebenaran - 29 Serial Pembelajaran

Wajah-Wajah Kebenaran

Majalah Tarbawi Edisi 237 Th. 12 Dzulqa’dah  1431 H, 21 Oktober  2010 M

Menggunakan konteks untuk memaknai teks melalui proses rekonstruksi imajiner merupakan pintu yang membuka pemaknaan yang lebih luas. Dari sini lahir analogi ketika teks akan dimaknai kembali pada konteks yang lain. Yaitu upaya menurunkan teks ke dalam dua atau tiga atau lebih konteks yang berbeda. Sebab walaupun sejarah kehidupan rasulullah saw merupakan konteks yang legitimate untuk memaknai teks secara akurat, teap saja teks itu independen dan berdiri sendiri serta harus bisa menembus semua sekat ruang dan waktu.

Independensi teks itu perlu ditegaskan kembali. Karena terkait dengan doktrin tentang keabadian teks yang mengharuskannya terbebas dari kekhususan masa tertentu atau ruang tertentu atau apa yang kita sebut dengan konteks. Jadi dalam kerangka pemaknaan itu  konteks adalah salah satu alat bantu yang dapat mengikat makna tertentu pada teks tapi tidak membatasinya sampai disitu. Itu yang menjelaskan  mengapa ruang pemaknaan menjadi lebih luas dan memungkinkan munculnya kebenaran dalam banyak wajah.

Rabu, Februari 01, 2017

Teks dan Konteks - 28 Serial Pembelajaran

 Teks dan Konteks

Majalah Tarbawi Edisi 236 Th. 12 Syawal  1431 H, 07 Oktober  2010 M

Ketika teks sebagai content di insert ke dalam perangkap ruang dan waktu manusia, sebenarnya disitu terdapat sebuah aksioma yang melekat pada sifat teks itu. Yaitu kemampuan untuk menembus sekat-sekat ruang dan waktu manusia. Teks ini adalah narasi abadi. Kemampuan itu tersimpan rapih pada fakta bahwa ia menggabungkan antara keteguhan dan kelenturan. Ia teguh pada kebenaran dasarnya, tapi lentur pada proses manusiawinya.

Ruang dari sistem kehidupan yang terangkai dalam teks ini adalah bumi. Sementara waktunya adalah waktu manusia sejak mereka menghuni bumi. Jadi sejarah adalah waktunya. Bumi adalah panggungnya. Manusia adalah aktornya. Teks ini adalah skenarionya. Dari situ sebuah cerita kehidupan dirakit. Itu sebabnya mengapa dua pertiga dari isi teks ini adalah cerita kehidupan beragam manusia tentang bagaimana mereka melakoni hidup. Sisanya adalah hukum-hukum normatif yang jika diterapkan akan melahirkan sebuah cerita kehidupan yang indah.

Selasa, Januari 31, 2017

Pengosongan Jiwa - 27 Serial Pembelajaran

Pengosongan Jiwa

Majalah Tarbawi Edisi 235 Th. 12 Ramadhan-Syawal  1431 H, 23 September  2010 M

Datanglah kepada teks dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Itulah jalannya. Jika keangkuhan adalah kendalanya, maka jauh sebelum manusia mendatangi teks mereka harus terlebih dahulu belajar tentang kerendahan diri. Hanya dengan begitu teks menemukan tempatnya yang terhormat dalam jiwa kita. Dan hanya ketika ia menjadi terhormat maka ia akan dipandang utuh dan apa adanya.

Kerendahan hati sejatinya merupakan penampakan akhir dari iman. Sebab iman melahirkan pengakuan. Pengakuan membuahkan kepasrahan. Kepasrahan menampak dalam ketundukan. Ketundukan mengejawantah dalam kerendahan hati. Jadi begitu kita menerima keabsahan teks dan keabsahan pembawa teks, kita menyiapkan jiwa kita untuk menerima semua makna yang mencerahkan di balik teks tersebut.

Senin, Januari 30, 2017

Kendala Keangkuhan - 26 Serial Pembelajaran

Kendala Keangkuhan
Datang kepada teks dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Itulah syarat untuk menyatu dengan teks. Tapi itu juga sumber masalah manusia dengan teks. Karena sebagian besar mereka datang untuk mendebat teks. Mereka mempertanyakan keabsahan teks, atau mempertanyakan kebenaran makna teks. Itulah perdebatan antara Rasulullah SAW dengan manusia di zamannya. Itu pula yang selamanya akan menjadi perdebatan antara manusia dengan Tuhan.

Mempertanyakan keabsahan teks adalah sumber permasalahan yang melahirkan kekufuran dan kemusyrikan. Sementara mempertanyakan kebenaran makna teks adalah akar problem kaum munafiqin. Manusia cenderung mendatangi teks dengan angkuh sembari mengajukan dua pertanyaan. Pertama, benarkah ini teks dari Tuhan? Kedua, atas dasar apa seseorang bisa mengklaim diri sebagai pembawa teks dari Tuhan? Kedua pertanyaan inilah yang selamanya merintangi sebagian besar manusia untuk melihat cahaya kebenaran. Mereka mengingkari keabsahan teks dan keabsahan pembawa teks.

Minggu, Januari 29, 2017

Sikap Jiwa Pada Teks - 25 Serial Pembelajaran

Sikap Jiwa Pada Teks

Majalah Tarbawi Edisi 233 Th. 12 Sya’ban  1431 H, 29 Juli  2010 M

Teks memang sudah dimudahkan. Para pewaris nabi juga suda menjelaskan dan menafsirkannya. Para pembaharu dibangkitkan dari waktu ke waktu untuk memperbaharui memori, pemahaman dan juga komitmen. Tapi persoalan kita dengan teks tidak selesai hanya dengan itu semua.

Proses pembelajaran melalui teks bukan merupakan rangkaian perburuan pada makna-makna yang rumit. Seperti misalnya para arkeolog ketika mereka menerjemahkan sebuah naskah kuno. Atau seperti pergumulan para filosof untuk menemukan makna dari sebuah rangkaian kata yang gelap. Ini bukan sekedar pergumulan intelektual.