Tampilkan postingan dengan label Serial Rekonstruksi Peradaban Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Rekonstruksi Peradaban Tauhid. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 05, 2026

002 Gugurnya Berhala di Mihrab Ilmu: Menggugat Feodalisme dan Menyelamatkan Marwah Pendidikan Kita


 

Opini kritis membongkar feodalisme pendidikan agama dan fenomena kiai predator melalui kacamata Tauhid dan kearifan Tunjuk Ajar Melayu.

"Kalau memberi petuah amanah, maniskan muka lembutkan lidah. Niat semata karena lillah, Mohonkan ampun bila bersalah."

Belakangan ini, batin kita terus-menerus dikoyak oleh rentetan berita tragis: kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik agama di berbagai lembaga pendidikan. Ironisnya, institusi yang seharusnya menjadi episentrum penyemaian Tauhid dan benteng perlindungan moral justru menjelma menjadi ruang gelap eksploitasi. Ini bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan sinyalemen krisis teologis berskala peradaban.

Mengapa kasus-kasus "kiai cabul" atau "ustadz predator" ini bisa subur dan sering kali sulit terungkap?

Akar masalahnya ada pada feodalisme beragama dan pengkultusan individu (Taqdis al-Asykhas). Dalam relasi kuasa yang sangat timpang ini, sosok guru sering diposisikan sebagai maksum (tanpa dosa), di mana setiap ucapannya dianggap mutlak. Ketaatan buta ini secara diam-diam telah melahirkan syirik khafi (syirik tersembunyi), di mana seorang manusia telah mengambil alih otoritas yang seharusnya hanya milik Allah.

Senin, April 27, 2026

001 Gelombang Baru Peradaban: Dari Buaian Teheran hingga Madrasah Gaza

 

Tinggalkan pragmatisme politik. Bangkitkan peradaban melalui pendidikan anak, berkaca dari sejarah Gaza dan Iran.

Ilusi Pragmatisme dan Hilangnya Kesadaran Sejarah

Saudaraku, hari ini kita menyaksikan sebuah ironi di tengah umat. Kita terlalu sering tergoda dan terjebak oleh ilusi kemenangan yang instan. Energi kebangkitan kita seakan terkuras dalam debat-debat politik yang dangkal, saling berebut panggung struktural, atau sekadar bermimpi tentang letupan revolusi besar yang datang tiba-tiba. Dalam pragmatisme yang rabun jauh ini, kita justru melupakan satu fondasi pertahanan yang paling esensial bagi sebuah peradaban: anak-anak kita.

Jika kita memiliki kesadaran sejarah dan keseriusan untuk membangkitkan kembali kejayaan umat ini, maka inilah saatnya kita meruntuhkan cara berpikir pragmatisme jangka pendek. Kita harus berani memutar arah pandang kita, kembali menoleh pada madrasah pertama kemanusiaan dan ruang-ruang kelas anak usia dini.