Krisis KAMMI bak Abbasiyah di Zaman Modern
Ini bener-bener bikin 'gedeg'.
Melihat konflik internal KAMMI, terutama sengkarut di Sumut dan Riau, rasanya
persis seperti narasi keruntuhan Abbasiyah. Ibarat sebuah organisasi besar yang
sedang dicabik-cabik beruang (kepentingan elit pusat), lalu datang serigala
yang dikira mau menyelamatkan, eh ternyata cuma mau menghisap darah legitimasi
(faksi tandingan).
📌 "Awal Petaka: CEO Pusat yang Terlalu Banyak Manuver dan Lupa
Akar Rumput"
Sebelum kita bedah kenapa
Sumut dan Riau sampai 'pecah kongsi', kita harus tahu dulu kenapa 'perusahaan'
sebesar KAMMI bisa kena krisis kepercayaan.
Setelah sekian lama jadi market leader gerakan mahasiswa, para 'direksi' di tingkat pusat mulai kena sindrom terlalu asyik main di level elit politik. Mereka lupa kalau 'bisnis inti' KAMMI adalah pengaderan dan gerakan moral. Buat mengamankan posisi dan pengaruh, mereka mulai pakai gaya 'outsourcing' kepentingan politik luar ke dalam tubuh organisasi.
