Sabtu, Juli 28, 2018

Kujadikan Ust Sofyan Siroj sebagai penterjemah Sekaligus Pensyarah. "Moderasi Islam Dalam Keluarga"



Muhibah kami kali ini dengan Ust Sofyan Siroj adalah ke Nusa Tenggara Barat.  Konferensi Ulama Internasional dengan tema: “Moderasi Islam Perspektif Ahlussunnah Wal Jama’ah.” Acara ini di taja oleh Organisasi Ikatan Alumni Al Azhar (OIAA). Kami sampai di Bandara Lombok dekat-dekat waktu Maghrib, langsung ke hotel registrasi dan sholat. Sekitaran pukul 20.30 WITA ada “Welcome Dinner” .

Ust Profesor, DR. Ibrahim Sholah Hudhud (Mantan Rektor Al Azhar University Kairo Mesir) dalam sambutan mewakili tamu undangan, memaparkan bentuk moderasi dalam Islam salah satunya dalam keluarga. Beliau memaparkan makna rijal. Karena beliau memakai bahasa Arab saya cuma mendengarkan dan menangkap semangatnya.

Inilah nasib badan  kalau belum bisa bahasa Arab. Saya belum bisa menikmati pemaparan dalam makna yang terkandung dalam bahasa Arab. Di sinilah peran Ust Sofyan Siroj menerjemahkan,  memberikan penjelasan  dan menggambarkan cita rasa secara kebahasaan Arab kepada  kepada saya. Sehingga tidak saja transfer ilmu secara ansich, namun juga transfer ruh dan semangat yang ada dalam pemaparan-pemaparan yang disampaikan dalam bahasa Arab.

Inilah salah satu keistimewaan dari Ust Sofyan Siroj tidak saja mampu menerjemahkan sekaligus beliau dapat mentransfer ruh dan semangat dari pembicara- pembicara tersebut.


Baik sobat semua beginilah kira-kira yang bisa saya  saya tangkap dan tuliskan berdasarkan terjemahan dan penjelasan ust Sofyan Siroj.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء
Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisaa : 34)

Ada seorang  bertanya  bahwa agama  kamu atau Al Quran kamu itu menghina  perempuan. Salah satu yang diungkap itu ada “arrijaalu qawwamuna ‘alan Nisa” (bahwa laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita). Sehingga akibatnya dalam Islam itu dikekang hak dan kebebasannya. Tidak boleh kemana-mana dan beraktivitas di luar rumah.  Ust Ibrahim Sholah Hudhud  menyatakan bahwa yang kamu katakan tadi itu benar dari Al Quran, tapi cara berpikir dan pemahaman anda terhadap Maksud dari Al Qur'an ini yang salah.

Rijal itu bukan jenis. Bentuk fisik laki-laki atau perempuan. Tapi rijal itu adalah sifat, karakter. Pada diri seorang muslim itu ada sifat Rijal. Mempunyai dua ciri khas pokok yaitu ri'ayah dan imayah. Ri'ayah itu penjagaan pemeliharaan, pendidikan pemanduan yang sifatnya mendidik dan membina. Apa yang dibinanya akalnya, jiwanya, fisiknya, perasaannya dan kebutuhannya. Sedangkan rijal pada sisi imayah adalah  penjagaannya, pertolongan dan bantuannya.

Bentuk penjagaan, pertolongan dan bantuannya adalah  kepada isteri, anak dan keluarga serta masyarakatnya. Orang yang memiliki sifat inilah yang dinamakan rijal. Dalam Islam semua sifat itu adalah kewajiban laki-laki. Sehingga laki-laki wajib bisa menjaga dan mengayomi wanita yang secara fisik, akal, pikiran dan perasaan memang diciptakan Allah berbeda berbeda dengan laki-laki.

Sedangkan wanita (Nisa’),   dibayangkan Rasul sebagai  bagian utuh dari laki-laki. Tulang rusuk laki-laki. Tulang  rusuk itu tulang paling  bengkok dalam tubuh manusia fungsinya menjaga selurah organ dalam yang vital dalam tubuh manusia. Maka laki-laki harus bisa menjaga  wanita. Rasulullah mewasiatkan bahwa wanita itu tulang yang bengkok, jangan karena bengkok lalu dipaksakan diluruskan, maka ia akan patah. Dan jangan dibiarkan bengkok, karena ia akan bengkok terus.

Akar kata nisa’ ada dua yaitu ins dan uns. Kata uns mengandung arti keintiman, persahabatan dan perlindungan. Sedangkan akar kata ins berhubungan dengan kata nasiya,  yang memiliki arti lupa. Makanya seorang laki-laki yang sudah kehilangan sifat rijal dalam dirinya akan dibuat lupa kepada Allah SWT oleh wanita. Sebaliknya seorang laki-laki yang wujud sifat rijal  di dalam dirinya maka ia akan dekat dengan Allah SWT karena wanita dapat memberikan ketenangan dan ketentraman.

Inilah fungsi wanita dalam Islam memberikan ketenangan dan ketentraman kepada pemimpin (rijal). Selain itu, wanita juga menjadi penjaga dan pelindung.  apa yang dijaga dan dilindunginya? Suaminya, anaknya, keluarga besarnya dan masyarakatnya.

Hubungan ini yang dirusak oleh para orientalis dan musuh Islam saat sekarang ini. Keluarga. Penghancuran keluarga juga adalah target utama dari gerakan pensesatan iblis dan setan. Sehingga hubungan laki-laki dan perempuan itu terpecah, hancur dan berantakan. Setelah hubungan ini pecah, hancur dan berantakan maka soal mudah untuk menyesatkan keduanya. Karena menikah dan berkeluarga adalah setengah dari penegakan agama.

Ust Ibrahim Sholah Hudhud menyatakan inilah bentuk moderasi (Washatiyah) dalam Islam. keluarga adalah inti masyarakat dan peradaban. Ketika keluarga-keluarga itu kokoh maka masyarakat dan peradaban itu akan kokoh dan menjadi rahmatan lil “alamin. Beliau mengakhiri kebaikan dari tuan rumah cukup diwakili dengan kalimat “ Kuntum Khairu Ummah”

Hmm... diakhir penjelasan Ust Sofyan Siroj saya cuma bisa membatin, Subhanallah  dahsyat sekali pemaparan dari Ust Ibrahim Sholah Hudhud ini. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan Ibrah.

(Diselesaikan penulisannya Sabtu, 14 Dzulqo’idah 1439 H/ 28 Juli 2018 M, Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat , 06:26  WITA)
Eddy Syahrizal
https://eddysyahrizal.blogspot.co.id

Keterangan Gambar: 
- Ust Sofyan Siroj Bersama Ust Profesor, DR, Ibrahim Sholah Hudhud (Mantan Rektor Al Azhar University, Kairo Mesir) pada acara Konferensi Ulama Internasional dengan Tema Moderasi Islam Perspektif, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jum'at 13 Dzulqo'idah 1439 H, 27 Juli 2018 M. di Aula Islamic Center Masjid Hubbul Wathan. 


Tidak ada komentar: