Senin, November 10, 2008

Orang Hebat Pandai Bersyukur


Untuk mencapai tujuan kebermaknaan hidup, keterampilan dan kepandaian mensyukuri, baik nikmat maupun musibah, mempunyai porsi khusus dalam laku kehidupan setiap orang. Syukur adalah amal yang terlaksana di balik keikhlasan setiap orang dalam memaknai perolehan (hasil) yang telah diusahakannya serta kejadian yang menimpanya. Amalannya berupa: Pertama, amal kesadaran dan ucapan untuk memuja-muji Rabbi, Sang pemilik hidup dan penggenggam nasib setiap manusia. Kedua, amal komitmen dan perbuatan untuk memaksimalkan sumber daya dan potensi diri. Ketiga, amal perbuatan untuk berbagi dengan sesama - berbagi kesuksesan dan kebahagiaan. Jika syukur adalah pusatnya, maka cabangnya adalah kerendahan hati (tawadlu), kesederhanaan (qana'ah), dan kesungguhan (ijtihad).

Syukur. Inilah salah satu kualitas insani yang paling tinggi, yang sekaligus menandakan kedewasaan seseorang dalam pilihan-pilihan sikapnya. Keterampilan dan kemampuan bersyukur menempati puncak tujuan hidup yakni transendensi diri (spiritual/hidup bermakna). Orang yang pandai bersyukur berarti memiliki kemampuan dalam mengambil jarak (the ability to detach) atas berbagai kejadian: susah-senang, duka-bahagia, nikmat-musibah, sukses-gagal, pujian-makian, dll. Sehingga hati dan pikiran mereka jernih, pertimbangan mereka rasional dan objektif, yang berbuah penyikapan positif atas kejadian-kejadian yang menimpa mereka tersebut.

Orang yang bersyukur membingkai cara pandang mereka terhadap berbagai hal dengan pandangan yang positif dan optimis. Mereka sadar, susah-senang, duka-bahagia, nikmat-musibah, sukses-gagal, pujian-makian adalah kekayaan kehidupan yang sama-sama berguna. Ketika sukses beroleh nikmat, senang dan bahagia temannya. Tatkala gagal dan menerima musibah jangan lupa kita sedang diproduksi jadi dewasa. Karna senang kita tertawa, tapi susah membuat kita semakin giat berusaha. Bahkan, musibah dan kesulitan sering membuka mata hati kita yang kadang tak terketuk oleh kegembiraan dan suka cita. Sementara itu, pujian adalah sumber motivasi. Dan makian adalah palu godam yang membuat sang kepribadian menjadi kuat.

Mereka yang telah sampai pada kesadaran di atas merasakan hidupnya demikian berharga. Hidupnya kian bermakna. Hingga tanpa harus dipaksa meluncurlah ucapan syukur alhamdulillah, puji Alloh atas karunia hikmah di balik setiap nikmat ataupun musibah. Kekuatan hamdalah memancar dalam sikap hidup mereka. Awalnya terbersit dalam hati, terpatri dalam pikiran, terucap dengan lisan, lalu terbiasa, berbuah sikap, dan terbentuklah karakter. "Aha! alhamdulillah, ini menjadikanku semakin kuat dan teruji!" Demikian kira-kira ungkapan mereka ketika menerima kesulitan atau kesusahan. "Alhamdulillah, aku jadi teringat, jarang sekali diri ini bersedekah." Begitu mereka tersadar tatkala menerima musibah, kecurian atau kecopetan, misalnya, dll.

Selain mengambil jarak, syukur menjadikan mereka punya waktu luang untuk mengevaluasi diri. Evaluasi yang berbuah komitmen. Komitmen memperbaharui diri dan melejitkan potensi menjadi prestasi terbaik. Terbaik dalam setiap aktivitas di berbagai peran yang dimainkan. Terbaik menjadi suami atau istri. Terbaik menjadi ayah atau ibu. Terbaik menjadi anak. Terbaik di kantor. Terbaik di kampus. Terbaik di organisasi, dan seterusnya. Motto mereka kira-kira begini: Better is not enough, when the best is expected. Dan inilah bukti syukur yang terlaksana.

Selanjutnya, para ahli syukur menyadari bahwa apa yang mereka peroleh bukan semata-mata kerja individual mereka. Selalu ada peran dan kontribusi orang lain di dalamnya. Ini menjadikan mereka selalu tawadlu atau rendah hati. Sehingga, ketika sukses, ketika beroleh nikmat dan kebahagiaan, tidak lantas menjadikannya sombong dan besar kepala. Bahkan, ada semacam desakan untuk segera membagi kesuksesan dan kebahagiaan itu kepada orang lain.

Berbagi. Orang yang pandai bersyukur tak pernah betah berlama-lama menikmati kesuksesan dan kebahagiaan sendirian. Segera mereka panggil orang-orang yang membutuhkan. Menikmati bersama kesuksesan dan kebahagiaan itu. Cukuplah si ahli syukur dengan itu. Dan ia bersiap-siap kembali menggali potensi, mengejar prestasi dan mimpi-mimpi. Demikian siklus itu terus berputar memproduksi kebahagiaan si ahli syukur setiap saat dalam situasi dan kondisi apapun.

Orang yang pandai bersyukur adalah orang hebat. Mereka memaknai berbagai peristiwa melampaui sekat-sekat egosisme diri yang konon punya keinginan tak terbatas. Mereka pandai bersyukur karena mereka berlatih setiap saat. Mereka selalu membuat daftar pertanyaan, apa yang membuat mereka harus bersyukur hari ini? Hasilnya? Fantastis! Mereka menemukan banyak sekali! Bahkan, termasuk di dalamnya: musibah, kesusahan, kesulitan, kegagalan, dan makian.

Sekarang coba Anda buat daftar serupa! Apa yang membuat Anda harus bersyukur hari ini? Saya yakin Anda akan merasa malu dan kecil sekali di hadapan-Nya seraya berseru segala puji milik Alloh, Rabb alam semesta.

Tidak ada komentar: