Selasa, Januari 24, 2012

Catatan Hati 24 Januari 2012

Kehidupan ini adalah perjuangan. Inilah yang saya rasakan pada hari-hari terakhir ini.Berbuat kebaikan juga harus mempunyai jalur yang profesional dan proporsional. Karena banyak pertolongan yang akhirnya dianggap sebagai suatu keburukan yang membuat banyak manusia tersinggung. Sungguh ya Allah aku adalah hamba-Mu yang masih perlu banyak belajar. Apa daya waktu yang disediakan sangat terbatas, akalku juga mempunyai batas. Hanya kepada-Mu kami mengembalikan semua persoalan. Terima Kasih atas semua Tempaan pada 28 hari belakangan ini yang membukakan mata akal, batin dan mata qalbuku. Alhamdulillah.

Selasa, Oktober 18, 2011

Wara Wiri

Dengan sepenuh hati saya sampaikan permohonan maaf blog ini sedang dikocok ulang sehingga agak kurang nyaman bagi para pembaca. Blog ini ke depan hanya akan berisi Catatan Perjalanan, Renungan, dan ruang untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan ketika saya mengisi kajian atau diskusi.

Untuk tulisan yang sudah ada saat sekarang ini secara bertahap akan kita buatkan blognya tersendiri, akan kami tampilkan di link yang ada di sebelah kanan. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon doanya sehingga proyek ini akan selesai dalam waktu yang cepat.

salam takzim untuk kita semua
Eddy Syahrizal
General Manager Qolbu Re-Engineering Foundation (QRF) For Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Selasa, Juli 05, 2011

Izinkan Aku Bertutur Jilid I (01)Tarbiyah Seni Membentuk Manusia


Tarbiyah adalah  seni membentuk manusia. Itu yang dikatakan al-Ustadz Nashih ‘Ulwan. Tarbiyah bukanlah proses untuk menghomogenitaskan manusia. Hari ini adalah hari ke dua puluh sembilan Bulan Juni 2004 M. Bertepatan dengan hari ke Sebelas Jumadil ‘Ula 1425 H. Pagi tadi seorang al-Akh datang dan meminta maaf bahwa bulan-bulan terakhir ini mungkin tidak akan dapat intens di KAMMI Daerah. Karena ingin fokus menyelesaikan kuliah dan merancang masa depan … begitu ceritanya … . Akh … Ghuroba …. Kulangsung melantunkan nasyid ini di dalam hati. Nasyid kesayanganku setelah Ribathul ukhuwah. Ane langsung ingat Murabbiku Pertama di UNRI.  Beliau pernah berkata,” Ane melihat antum lain. Antum akan berjalan tertatih menjalankan amanah sendirian atau dengan sangat sedikit rekan seperjuangan. Dan Antum akan terlalu cepat menjadi orang tua dan orang yang dituakan.” 

Apa Ya, Hadiah Pernikahan Yang Cocok?



Saya ingat pengalaman unik ketika akan digelar walimahan ursy (Pesta pernikahan) al-Akh Muhammad Fauzan Fathoni. Kami n de Gank diskusi cocoknya memberikan apa Ya? Terinspirasi dari kisah ust. Sofyan siroj yang memberikan tikar permadani kepada salah saudara, saya mengajukan usul memberikan barang yang bermanfaat. Alasan ust. Sofyan meberikan Tikar permadani sebagai kado karena saudara tersebut banyak kelompok pengajiannya. “antum bayangkan setiap ia memimpin pengajian setiap itu pula pahala mengalir kepada kita, sampai hari kiamat.”

Saudara yang lain manggut-mangut saya ceritakan ini. “yah, kita belikan permadani saja, akh Fauzankan juga banyak binaaannya.” Tapi ada celetukan,” sepertinya tak bisa deh, rumah beliau itu kecil....(Maaf akh Fauzan,tapi memang bilang begitu kok) nanti ndak muat kan rugi, di kasihnya keorang  lain yah, kurang dong berkahnya.”

“Eh, waktu kecil, saya nonton film Ateng, dia sama teman-temannya, ngasih closet ke dosennya. Karena di rumah dosennya tak ada WCnya. Itu juga setelah mereka survey rumahnya. Gimana kalau kita survey rumahnya, mana tahu memang tak ada closetnyaa (he...he.... ada dunk)” canda saya. Semua pada ketawa. Dan melemparkan segala sesuatu yang bisa dilempar.

Akhirnya semua pandangan tertuju ke rak buku yang ada disekretariat Mesjid Ar-Faunnas UR (Universitas Riau), tempat kami sering mangkal dan diskusi. “yap, kita kasih rak buku saja.” Kata saya.  “Wah, gimana bawanya Bang Eddy?” saya jawab,”Masukkan saja dalam amplop”. Semuanya tercengang. “Maksud saya Bonnya masukkan dalam amplop, habis itu kita minta tokonya ngantarkan ke rumahnya Akh Fauzan, lalu kita kasih tahu akh Fauzannya, tunggu di rumahnya. Masa’ kita gotong ke pestanya kan malu?
Akhirnya rencana berjalan sempurna. Kami beli rak bukunya di Giant dekat Kampus UR. Hikmah yang dapat kami ambil adalah berikanlah hadiah yang menyenangkan bagi saudara kita dan bisa mendatangkan ladang pahala bagi kita.
(Sekretariat KAMMI Wilayah Riau, Selasa, 03 Sya’ban 1432 H/ 05 Juli 2011 M, 11:19:48 WIB)

Izinkan Aku bertutur II (01): Malam Mingguan di Gramedia



oleh Eddy Syahrizal pada 03 Juli 2011 jam 16:55
Sore menjelang Magrib (Sabtu 02/07/11) saya menyibukkan diri dengan laptop ini surfing dan searching bahan-bahan bacaan.Sebuah tepukan ringan tanpa saya sadari mendarat di pundak saya, "Wah, lagi asyik Bang Eddy." "Yah begitulah, cari kesibukan di sore ini," kata saya. Saya tidak menyadari kedatangannya. ini penyakit lama. kalau saya baca, saking seriusnya saya tidak akan sadar dengan kondisi sekelling. Saya jadi rindu Bunda. Biasanya Bunda akan mencubit kecil saya kalau sudah terlalu serius. sekedar lewat saja. Semoga beliau selalu sehat dengan kesibukannya.

"Kalau tidak ada agenda malam ini, saya ajak ke Gramedia, saya mau beli buku Ayah karya Tere Liye." katanya. "Tere Liye ya kata saya. saya juga punya koleksi beberapa Ebooknya. kalau tidak salah yang paling saya suka yang menceritakan soerang anak buta yang berjuang untuk memahami hidup dan lingkungannya, tapi kalau ke Gramedia tak beli buku rasanya tak enak saja, asal antum tahu dana beli bukuku sudah minus 47.800." kata saya panjang lebar.

Ia tersenyum, "Survey saja dulu, tapi pakai motor Abang ya," katanya." Sebaiknya berangkat Shalat ba'da Shalat Maghrib, kita shalat Isya dekat Masjid Ar-Rahman saja", jelasnya lagi. "Ok, antum tunggu saja di rumah", tutup saya.

Sosok itu adalah adalah Wamdi ketua FLP Riau.Teman diskusi yang enak. singkat cerita kami berangkat. wuih jalannya macet karena jl. Sudirman ada proyek jalan layang untuk PON. lama juga di sana sampai tutup lagi Gramedianya. Kami searching buku, saya selalu bawa buku catatan kecil untuk mencatat buku yang bagus. Sehingga kalau ada pitih nanti bisa langsung beli.

bukunya Ayah itu kami dapatkan dengan cepat sekali. Minta tolong sama Mas-Mas di sana. Kami lihat banyak buku baru lho. Hm... saya sengaja cuma bawa dana 50.000 biar tidak habis. Biasalah wiraswasta seperti kita ini pendapatannya tidak tetap. sekali dapat bisa untuk 5 bulan. setelah itu tak dapat apa-apa sampai berbulan-bulan. Maka segala pencatatan pengeluaran saya ketat sekali. Sifat ini warisan Bunda sebenarnya. Tahu tidak sodara-sodara saya lebih mudah minta duit sama Aba dari Bunda. Kalau Aba butuh berapa, langsung di kasih. Tapi sama Bunda. Untuk keperluan apa. penting nggak. hm... bisa lebih kecil tak.

akhirnya saya juga tidak tahan beli buku juga satu yang harganya 32.500. Setelah itu kami malah diskusi mengenai buku-buku itu di tengah ramainya pengunjung. Saling menilai dan merekomendasikan buku ini bagus. ini kekurangnnya ini dan itu. pokoknya kami setengah berdebat. pengunjung yang lain mungkin heran. memangnya sedang ada acara bedah buku.Kami tidak peduli. cuek.

Akhirnya kita diusir secara halus, oleh suara-mbak-mbak Gramedia, bahwa Gramedia segera tutup. Baru saya nyadar saya belum makan malam. Kami Pulang. Macet. Beli Bensin. Makan.Ke rumah Wamdi. (tepatnya rumah Bibinya). sudah jam 10.30 Malam. Tidak Ada orang di rumah. Kami diskusi lagi sampai jam 12 malam.

yang kami diskusikan Buku Totto-Chan. Gadis Cilik di Jendela. kisah Sekolah Tomoe Gosen yang sangat luar biasa. Saya janji nanti saya akan ceritakan. Saya membacanya seringkali berkaca-kaca. (lebih banyak berembunnya, lalu hujan deh) bukan menangis cuma mengeluarkan air mata. sangat Inspiratif, lucu dan polos. (Not Novel, but True Story).

Ok, Sohib sekalian setelah ini kemungkinan saya akan tuliskan Resensi Totto-Chan versi saya sendiri. doakan saya istiqomah menulis untuk saling berbagi. Wassalam

Sabtu, November 06, 2010

Kebenaran Islam di Jurnal Ilmiah Kedokteran Internasional


Jumat, 23/04/2010 11:12 WIB | email | print | share

Oleh DR. Rinto Anugraha, Dosen UGM Yogyakarta

Baru-baru ini, sebuah jurnal kedokteran ilmiah kedokteran Internasional di bidang jantung, International Journal of Cardiology, mempublikasikan sebuah paper yang berjudul "The heart and cardiovascular system in the Qur'an and Hadeeth" (Jantung dan sistem jantung dalam Al Qur'an dan Hadits). Ini termasuk sebuah paper yang langka.

Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.

http://www.sgu.edu/research/research-investigators-loukas.html

Pencarian dengan menggunakan portal ISIWeb Knowledge menyebutkan sekitar 280 paper ilmiah yang pernah ditulis oleh Marios Loukas di bidang jantung. Ini menunjukkan kredibilitas beliau sebagai pakar yang berkompeten untuk berbicara soal jantung, termasuk tulisannya yang membicarakan jantung di dalam Al Quran dan Hadits.

International Journal of Cardiology itu sendiri termasuk jurnal ternama di bidang jantung. Nilai Impact factor jurnal tersebut sekitar 3. Paper yang diterbitkan itu dapat dilihat di
http://www.internationaljournalofcardiology.com/article/S0167-5273(09)00566-X/abstract

Bagi pembaca yang tertarik dengan paper tersebut, silakan mendownload file pdfnya di
http://www.4shared.com/document/tsQIFQ4J/heart-cardiovascular-quran-had.html

Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata "heart" dalam dunia kedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati" dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata "qalb" dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi "heart", yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.

Ada sejumlah hal menarik dari paper tersebut.

Paper tersebut dikirim dan sampai (received) ke jurnal tersebut pada tanggal 7 Mei 2009. Ternyata, hanya dalam 5 hari kemudian tanggal 12 Mei 2009, paper tersebut langsung disetujui (accepted) oleh editor jurnal tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, proses ini sangat-sangat cepat. Rata-rata sebuah paper membutuhkan waktu satu hingga beberapa bulan untuk dapat disetujui oleh editor jurnal. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Lamanya proses itu salah satunya karena adanya diskusi panjang dengan reviewer atau pihak ketiga yang memberikan penilaian layak tidaknya sebuah paper untuk dapat diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah. Dugaan saya, proses yang hanya lima hari sejak proses received hingga accepted ini disebabkan karena editor langsung setuju dengan isi paper tersebut sehingga tidak diperlukan lagi proses pengecekan oleh pihak ketiga.

Paper itu sendiri terbit secara online pada 25 Agustus 2009. Kemudian dicetak dalam edisi kertas baru-baru saja, pada 1 April 2010.

Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Padahal beliau menyebut deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah, karakteristik fisiologi dan pengobatan medis, "Found within the Qur'an and Hadeeth are accurate descriptions of anatomical structures, surgical procedures, physiological characteristics, and medical remedies." Paper itu ditulis sebagai review atau rangkuman untuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus pada sistem jantung "to accurately present the anatomical and medical contributions of the Qur'an and Hadeeth, with specific focus on the cardiovascular system."

Setelah menyebutkan sejarah singkat Al Quran dan Hadits, Marios Loukas menjelaskan perbedaan kontras dalam Islam dan Kristen mengenai hubungan antara agama dan sains. Dalam sejarah Kristen di abad pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan (stifle) perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains tersebut sebenarnya didukung oleh perhitungan dan pemikiran rasional. Sementara, sains di era kejayaan Islam berkembang luas disebabkan ajaran Islam mendorong (encourage) dan mendukung riset sains. Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah kepada Tuhan (an act of worship to God).

Paper itu menjelaskan tentang pandangan umum tentang pengobatan dalam Al Qur'an dan Hadits. Diantaranya, Allah SWT yang menciptakan penyakit, dan setiap penyakit itu selalu ada obat dan metode penyembuhannya. Sebuah penyakit yang sembuh terjadi karena adanya ijin dari Allah SWT (permission of God). Ada dua macam perlakuan (treatment) untuk proses penyembuhan suatu penyakit, yaitu secara spiritual dan fisik. Sebab, Al Quran menyebut penyakit tidak hanya berupa penyakit fisik, namun juga penyakit yang "tersembunyi" seperti keragu-raguan (doubt), kotoran keimanan (impurity), kemunafikan (hypocrisy) dan tidak beriman (disbelief) dan dusta (falsehood).

Selain penyakit batin tersebut, Al Quran dan Hadits juga mendiskusikan beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), and penyakit mental. Diantara obat yang manjur adalah madu karena mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Selanjutnya Al Quran berbicara tentang makanan apa saja yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, darah, daging babi serta yang disembelih tidak atas nama Allah.

Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, penulis menyebut tentang sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (Qaaf 16). Ini menunjukkan relasi antara Allah SWT dengan hamba-Nya, sekaligus mengisyaratkan pentingnya pembuluh darah di leher dan hubungannya dengan jantung.

Panjang lebar, penulis paper tersebut juga mengupas jantung, penyakit yang berkaitan dengan jantung, serta kontribusi Al Qur'an dan Hadits bagi dunia medik. Seperti, pembuluh darah aorta, diskusi seputar darah pada penyembelihan binatang. Al Quran juga menyebut ada tiga kelompok manusia berdasarkan keadaan "heart", yaitu orang yang beriman (believers) yang memiliki heart yang hidup, orang kafir (rejecters of faith) yang memiliki heart yang mati, dan orang munafik (the hypocrites) yang ada penyakit dalam heart. Karena itu Marios Loukas menyatakan bahwa heart memiliki dua tipe, yaitu spiritual heart dan physical heart. Tiga kategori itu termasuk ke dalam spiritual heart. Ia juga menyebutkan bahwa ulama (scholars) membagi dua jenis penyakit dalam spiritual heart, yaitu syubuhat dan syahwat.

Bagin yang juga menarik, ketika secara tidak langsung gaya hidup manusia yang dikehendaki oleh Allah SWT, membuat kemungkinan terkena penyakit jantung menjadi lebih kecil, seperti melakukan aktivitas spiritual, makan secukupnya, bekerja secara fisik, tidak marah dan iri hati, menjauhi keserakahan, serta menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang dilarang. Termasuk dibahas pula gerakan-gerakan shalat (berdiri, sujud duduk) yang berhubungan dengan kesehatan, sampai-sampai gerakan orang shalat yang malas seperti yang dilakukan oleh orang munafik dikecam dalam Al Quran. Hingga dibahas pula, larangan Islam untuk mengkonsumsi alkohol untuk khamar yang bisa ditinjau dari segi kesehatan. Sebab, alkohol berpengaruh pada seluruh organ tubuh, seperti liver, lambung, usus, pankreas, jantung dan otak dan dapat menyebabkan sejumlah penyakit, seperti liver cirrhosis, pancreatic insufficiency, cancer, hypertension dan heart disease.

Di bagian kesimpulan, penulis menyatakan bahwa Al Qur'an dan ucapan Nabi Muhammad merupakan teks agama, spiritual dan sekaligus saintifik, serta memberikan pengaruh (influence) bagi ilmu medik dan anatomi. Setelah panjang lebar menjelaskan, penulis menyatakan bahwa jantung (heart) sesungguhnya berisi unsur hati, kecerdasaan dan emosi, sebagaimana juga unsur fisik tubuh yang dapat mengalami sakit, seperti pembekuan darah dll. Penulis juga menyatakan bahwa saintis Eropa di abad pertengahan gagal dalam mengambil manfaat dari Islam, disebabkan oleh beberapa kemungkinan diantaranya proses penterjemahan yang buruk.

Menurut hemat saya, Al Quran memang bukan kitab sains, namun petunjuk hidup bagi manusia. Bagi orang yang beriman, Al Quran juga tidak butuh bukti untuk kebenaran isinya. Namun demikian, adanya sejumlah isyarat-isyarat ilmiah yang belakangan terbukti sesuai dengan perkembangan sains modern semakin menunjukkan bahwa Al Quran bukanlah sebuah kitab yang biasa, tetapi sebuah mukjizat dari Allah SWT. Inilah domain yang dimasuki oleh Marios Loukas dan partnernya. Orang seperti Marios Loukas dengan kepakarannya di bidang jantung sangat tepat untuk membahas masalah ini. Tentu, usaha ini patut mendapat apresiasi dari kita, kaum muslimin. Salah satunya, beberapa saintis Turki menulis paper di jurnal tersebut yang berjudul "Islamic legacy of cardiology: Inspirations from the holy sources", sebagai kelanjutan dari paper Marios Loukas tersebut.

http://www.internationaljournalofcardiology.com/article/S0167-5273(09)01393-X/abstract

Disamping itu pula, sudah menjadi sunnatullah jika gembong anti Islam selalu menampakkan kebenciannya terhadap setiap upaya untuk memajukan Islam. Kalangan anti Islam dari kelompok faithfreedom.org misalnya, mereka sangat tidak suka ketika jurnal Cardiology itu menerbitkan paper tersebut. Bahkan salah satunya seperti Syed Kamran Mirza sampai menulis surat kepada jurnal tersebut agar menarik paper tersebut. Tentu saja permintaan itu ditolak.

Semoga informasi ini bisa menjadi tambahan inspirasi untuk kaum muslimin, untuk selalu menjadi yang terbaik di bidang masing-masing, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan juga menjadi tambahan keimanan bagi kita, kaum muslimin.

DR. Rinto Anugraha
Dosen UGM Yogyakarta
rinto@athena.ap.kyushu-u.ac.jp

Pasted from <http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/dr-rinto-anugraha-dosen-ugm-yogyakarta-kebenaran-islam-di-sebuah-jurnal-ilmiah-kedokteran-internasional.htm

Selasa, Januari 12, 2010

ISU DA’WAH DAN REALITAS SOSIAL


Da’wah membawa manusia kepada kehidupan sebagai sebuah jaminan terhadap perlindungan fisik ataupun berlakunya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam masyarakat yang bersumber dari ajaran Islam. Jika da’wah ditinggalkan maka kehancuran akan menimpah manusia tanpa pandang bulu

Para pemuda aktivis lslam kadang kala limbung dalam menentukan arah perjuangan yang akan dikhidmatinya. Tarikan dari sana-sini muncul dan kesemuanya menjajnjikan sebuah sebuah langkah menuju pemecahan masalah umat. Bagaimanakah kita menimbang dan menentukan langkah yang tepat? Bagaimana kita memandang dan menempatkan masalah-masalah ummat itu secara syar’I dan manhaji? Waqfah? Waqfah menurunkan pembahasan ini dalam tiga tulisan berikut

Da’wah adalah sebuah upaya merubah sesuatu relitas social yang tidak sesuai dengan ajran Allah SWT (al waqi’ al ijti ma’iya al jahily) kepada realitas social yang islami (al waqi’ al ijtima’iy al islamy) dengan cara-cara yang telah di gariskan oleh Al-Qur’an dan sunnah (manhajy).

“serulah (manusia) kepada jalan tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (An Nahl ayat 125)

Dengan demikian da’wah memiliki arti sangat penting dalam kehidupan manusia. Macetnya roda da’wah berarti berhantinya control terhadap gerakan masyarakat kea rah kondisi yang lebih baik. Islam menekankan kepada setiap pengikutnya dalam aspek tanggung jawab da’wah(mas’uliyah da’wah) ini dengan suatu peringatan yang bersifat mendasar.

“hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kamu dan ketahuilah sesungguh nya Allah mendinding antara manusia da hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan dipelihara dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaa-Nya.” (al Anfal ayat 24-25)

Kehidupan dalamayat ini di artikan imam bukhary sebagai kemaslahatan. Mujahid mengartikan al haq. Qatadah memahaminya sebagai kehidupan dibawah bimbingan Al-Qur’an yang didalam nya mengandung kesuksesan, kekekalan dan kehidupan. As sudy mengartikan sebagai kehidupan di bawah naungan lslam sebaliknya kekufuran adalah sebuah kematian (Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir Muhammad Ali Ash Shobuny, Juz ll Halaman 95).

Da’wah membawa manusia kepada kehidupan sebagai sebuah jaminan terhadap kehidupan fisik ataupun berlakunya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam masyarakat yang bersumbar dari ajaran Islam. Jika da’wah ditinggalkan maka kehancuran akan menimpa manusia secara umum tsnps psndsng bulu.

Ibn Abbas RA berpendapat bahwa dengan ayat ini Allah memerintahkan kaum mukminin untuk tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah dan di sekeliling mereka. Jika ini terjadi maka Allah akan menimpakan azab yang bersifat umum. Mujahid juga berpendapat bahwa ayat ini bersifat umum menganai seganap kaum muslimin, tidak para sahabat Nabi SAW saja. Dalam kaitan ini terdapat sebuah hadits yang meriwayatkan imam Ahmad (dan menurut ibn katsir tidak dikeluarkan oleh kitab yang enam) yang menyitir perkataan Rasulullah SAW:

“sesungguhnya Allah SWT tidak mengazab secara umum dengan amal yang khususus sehingga mereka( kaum muslimin) melihat kemungkaran di antara mereka padahal mereka mampu untuk mencegahnya. Jika mereka berbuat demikian maka berlakulah azab Allah secara khusus dan umum.” (Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir, Muhammad Ali Ash Shobuny, Juz ll halaman 96).

Dimanakah batas-batas kemampuan umat islam sehingga mereka terkena kewajiban da’wah? Batas kemampuan itu terdapat pada seluruh rentang potensi dari kondisi yang paling lemah sampai dengan komdisi yang paling kuat.

“maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan berjihatlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihat yang besar.”

(Al Furqan ayat 95).

Ibnu Qayyum al jauziayah menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat makiah. Oleh karenanya kewajiban jihad terhadap orang kafir telah berlaku sejak saat itu. Dan ia memerinci bahwa yang dimaksud dengan jihad(yang merupakan bagian integral dari da’wah islam) pada masa ini adalah jihad dengan hujjah, bayan dan tablig Al-Qur’an (zaadul Maad, Ibnu al Jauziyah, Juz lll halaman 5).

Aspek terpenting dari da’wah adalah perubahan social (at tagyir al ijtima’iy) karena obyek da’wah adalah masyarakat manusia, bukan masyarakat lainnya. Ukuran-ukuran terdapatnya sebuah perubahan social tidak akan dapat ditemukan kecuali dengan mengetahui kondisi yang berlaku pada saat da’wah digulirkan maupun setelah berjalan pada rentang masa tertentu.

Perubahan social

Aspek terpenting dari da’wah adalah perubahan social (at tagyir al ijtima’iy) karena obyek da’wah adalah masyarakat manusia, bukan masyarakat makhluq lainya. Ukuran-ukuran terkadapnya sebuah perubahan social tidak akan dapat ditentukan kecuali dengan mengetahui kondisi realitas social yang berlaku pada saat da’wah digulirkan maupun setelah berjalan pada rentang masa tertentu. Metode perubahan social juga tidak akan dapat di tentukan dan di rancang tanpa adanya pengenalan terhadap karakteristik realitas social yang terjadi.

Perubahan social terjadi dari waktu ke waktu mengikuti arah kekuatan Islam telah merubah masyarakat jahili kepada masyarakat Islam. Sebaliknya , degradasi yang terjadi pada diri kaum muslimin serta berhasilnya syaitan meniupkan misi da’wahnya menyebabkan terjadinya kemunduran pada masyarakat muslim itub sendiri.

Hudzaifah bin yaman berkata: “ dan aku pernah berada dalam suatu masa, tidak usah memilih orang dalam jual beli. Jika pertepatan seorang muslim maka ia baik karena takut hokum agamanya. Jika ia seorang nasrani maka ia takut dari hukuman perintahnya. Adapun masa kini maka aku tidak dapat mempercayai kecuali satu atau dua orang yaitu fulan dan fulan.” (Bukhary dan Muslim, Al Lu’lu Wal Marjan,M. Fuad Abdul Baqi,hadis nomor 87)

Huzaifah sendiri hidup sampai dengan masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di madinah pada tahun 36 H. beliau adalah seorang ahlus sirri (pemegang rahasia) Nabi Muhammad SAW, daftar nama kaum munafiqin hanya di serahkan kepada beliau (Al Khulafaur Rasyiduun min Tarkhil Islamy, Adz Dzahaby, halaman 190). Dengan demikian hudzaifah sadar betul telah terjadi perubahan social pada masyarakat islam sekalipun. Ia yang pernah hidop bersama Rasul SAW sampai beliau wafat (tahun 12H) melihat perubahan terjadi secara perlahan-lahan dalam kurun wakt7u 24 tahun.

Arah perubahan social sangat bergantung pada kekuatan-kekuatan yang berlaku di dalam masyarakat dan sekaligus merupakan cerminan dari arah pertarungan kekuatan-kekuatan tersebut. Arah tersebut juga dapat berubah-ubah. Diantara para sahabat Nabi SAW Hudzaifahlah yang dikenal sangat perhatian terhadap masalah-masalah dinamika perubahan masyarakat baik yang menyangkut ruang maupun zaman. Ia berkomentar: “ kebanyakan manusia bertanya kepada Rasullullah SAW mengenai dimensi kebaikan semata. Tetapi aku bertanya tentang dimensi keburukan, karena aku khawatir akan menemui ( masyarakat dengan corak demikiandalam masa hidupku).”
dari pertanyaan hudzaifah inilah kemudian Rasulullah SAW menggambarkan pola-pola masyarakat masa depan yang sesungguhnya merupakan penggambaran terhadap perubahan-perubahan social yang akan terjadi. Ada tiga tipe masyarakat yang ditemukan Rasulullah SAW, yaitu masyarakat jahiliyah wa syarr (masyarakat bodoh dan buruk) masyarakat khoir (masyarakat yang baik) dan masyarakat khoir wa fiihi dakhon (masyarakat yang baik namun terpolusi oleh nilai-nilai kejahatan). Rasulullah SAW menggambarkan sifat-sifat masyarakat tersebut serta aikap-sikap yang perlu ditujukan kaum muslim dlam menaggapi keadaan tersebut (hadist tentang ini lihat shahih Muslim, kitabul Imarah, bab 13, hadist nomor 1847).

Pengenalan masyarakat kini menurut tipe-tipe tersebut tidaklah mudah. Pengkasifikasian yang hati-hati barangkali akan membawa pada kesimpulan bahwa masalah zaman ini berkisar diantara syaar dan khoir wa fiihi dkhon. Hal ini disebabklan beragamnya masyarakat islam di dunia ini dari satu tempat ketempat yang lainnya. Namun belum kembali kepada puncaknya yaknin kembali pada masyarakat khoir.

pengenalan terhadap realitas sosial yang berlaku merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan oleh para juru da’wah, karena merekalah yang akan menjadi unsure perubah dalam masyarakat. Buta terhadap realitas berarti buta terhadap jalan yang akan ditempuh dalam rangka memperbaiki keadaan yang

realitas sosial ummat

pengenalan terhadap realitas social yang berlaku merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan oleh para juru da’wah, karena merekalah yang akan menjadi unsure perubahan dalam masyarakat. Buta terhadap realitas berarti buta terhadap jalan yang akan ditempuh dalam rangka memperbaiki keadaan yang terjadi.

Beberapa Negara atau wilayah di bagian dunia ini pada saat ini memang tengah mengalami pergeseran menuju nilai-nilai Islam yang dicita-citakan. Namun hal itu tidak mudah karena membangun sistem islam di tengah-tengah sistem global sekularisme dan bagaikan mengayuh sampan melawan ombak-ombak besar di tengah lautan. Belum lagi luka-luka lama akibat penjajahan bangsa-bangsa Barat selama seabad sampai tiga abad belakangan ini masih belum sembuh benar.

Sebagai kaum besar dari kaum muslimin di dunia ini dapat kenyataanya masih berada dalam berbagai kemelut yang melingkupi aspek-aspek internal (masyakil dakhiliyah) dan eksternal (masyakil khorijiyah).

Kemelut internal terjadi dari pertama, kemelut yang bersifat pribadi(fardiy) ya itu rendahnya kesadaran akan identitas keperibadian sebagai seorang muslim yang ideal (syakhshiyah islamiyah). Penyebabanya ialah rendahnya kapasitas sumber daya manusia baik terkait dengan kapasitas spiritual (maqdirah imaniyah), kapasitas fisik (maqdirah badiniyah), kapasitas propesional(maqdirah mihniyah). Kedua, kemelit yang bersifat social (jama’iy) yang melingkupi kepemimpinan umat (qiyadiyah), perekonomian dan kemakmuran (iqtishadiyah), kesadaran politik (siyasiya), manajemen dan perencanaan perjuangan da’wah (idariyah wa takhthithiyah).

Kemelut eksternal pada hakekatnya adalah terdapatnya suatu konspirasi regional dan internasional dari kekuatan kaum munafiqin dan kafirin (mu’amarah kafirin wal munafiqin).

Beberapa keperihatinan

Sebagai pribadi, banyak diantara ummat Islam masa kini yang kehilangan jejak identitasnya sebagai muslim. Penjajahan peradaban yang panjang, pesatnya laju era informasi dan globalisasi serta maneuver-manuver penjajahan supra modern menyebabkan kaum muslimin te4rcabut dari akar ajarannya sendiri. Lembaga-lembaga pendidikan resmi kurang memperhatikan aspek ini, malahan banyak yang terpana pad aide sekularisasi sebagai langkah menujui kemajuan bangsa. Rasulullah SAW bersabda:

“Mulanya Islam itu asing, kelak akan kembali asing sebagai mana mulanya.maka banggalah dengan keterasingan itu.” (shahih muslim, kitab iamn hadits nomor 232)

Kamis, Juni 04, 2009

Apa beda antara Induksi dan Mesomeri ?




-->

Saya selalu menyukai professor yang satu ini ketika kuliah. Ada saja yang dapat di jadikan inspirasi dari pemaparan kuliahnya. Biasanya kita kuliah kalau tiga sks hanya dua pertiganya membahas materi kuliah. Sepertiganya lagi mengenai semangat motivasi. Waktu itu ada beberapa mahasiswa yang mengambil kuliah kimia organic II masih sering lupa membedakan mana yang induksi dan mana yan mesomeri dalam suatu senyawa organic. Beliau langsung menanyakan kami,” kalau anda terluka pasti seluruh bagian tubuh anda merasakan sakit bukan?” ya kata kami serempak. “Itulah mesomeri. Tapi jika ada teman anda yang ikut melihat peristiwa itu juga merasa ikut sakit dan prihatin itu namanya induksi”, sambungnya.

Kamis, Mei 07, 2009

APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGHADAPI KEGAGALAN?


Calon wirausahawan harus siap gagal. Fahamilah makna kegagalan. Tanpa faham filosofi itu, jangan berpikir mau mengambil jalan menjadi wirausaha. Alasannya, ada yang sukses dalam usahanya, ada yang belum berhasil. Pengusaha mengetahui bahwa ”kegagalan” bukan akhir permainan dan tidak boleh takut mengalaminya. Ia menyadari dengan keberanian, bahwa bisa saja mengatasi sesuatu yang tidak mungkin untuk berhasil.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausahawan. Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental menghadapi kegagalan. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!

Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong pengusaha untuk mencoba pendekatan baru yang belum pemah dicoba sebelumnya. Bagi pengusaha sejati, “Berani Gagal” berarti “Berani Belajar”. Dengan gagal dan dengan belajar, pengusaha bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan belajar bagaimana menciptakan kekayaan sejati. Walaupun pengusaha kehilangan kekayaan materi yang telah mereka peroleh, mereka tahu bagaimana menciptakan semua kekayaan itu lagi. Pelajarannya tidak pemah hilang. Sebaliknya, mereka yang tidak pemah mengalami perjalanan yang sulit dan menemukan kekayaan dengan mudah, tidak akan tahu bagaimana menciptakan kekayaan ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka yang tidak gagal tak akan tahu kekayaan sejati.

Gemerlap materi, pada komunitas bahkan kehidupan sosial yang serba benda (materialistis), lebih banyak memperoleh penilaian tinggi. Sebaliknya, siapa pun mengalami kegagalan, sudah mendapat stempel sosial sebagai manusia yang kehilangan harga. The looser dunia usaha, sering menjadi figur yang menghadapi titik balik sikap sosial terhadapnya. Dulu, saat masih jaya, ia banyak rekan dan kolega, setelah gagal dalam usahanya, hampir semua rekan dan kolega yang dulu mendukungnya, menebar senyum ramahnya, bahkan mengajak bermitra, hilang sudah! Akibat cara pandang seperti ini, banyak wirausahawan yang traumatik terhadap kegagalan. Ini, “awal kematian” benih-benih kewirausahaan. Semua pihak harus mengubah sikapnya: doronglah masyarakat menjadi pihak yang turut membangun keberanian banyak orang untuk respek terhadap ikhtiar orang meraih keberhasilan dalam bisnis. Gagal atau keberhasilan, bukan menjadi satu-satunya alasan menghargai atau meremehkan wirausahawan. Tentu, sembari tetap mentransfer sikap-sikap arif, bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran berharga. Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga kegagalan.”

Kita perlu menggalakkan orang untuk berani mengambil resiko. Hal ini membutuhkan pola pikir yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti mengabaikan peraturan yang telah berlaku baik selama 30 tahun lebih.

Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura

Yang Diperlukan Untuk Menghadapi Kegagalan

Ada banyak pembahasan tentang tips menghadapi kesuksesan. Tetapi bagi kami, sama pentingnya, menyiapkan sejumlah hal untuk menghadapi kegagalan! Billy P.S. Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di Malaysia, pernah menanyakan kepada peserta trainingnya tentang satu masalah menarik. ”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?”

Berbagai jawaban diberikan tetapi yang paling sering ialah ”Dia tak dapat berenang.” Yang hadir heran, karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang hadir mengira, Lim bercanda. Untuk menyakinkan mereka, Lim memberi contoh kejadian orang tenggelam di air sedalam tiga inci. Akhirnya, ia memberitahu jawabannya, yang akan ia berikan kepada Anda sekarang. Kami kutip pendapat Lim: ”Orang tenggelam karena dia menetap disitu dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

So? Berapa kali orang jatuh tak jadi soal. Yang penting kemampuannya untuk bangkit kembali setiap kali jatuh.

Ukurannya, Bangkit Lagi

Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan, mendengar bahwa banyak orang seperti mereka, setelah sekali dua kali gagal, memilih untuk menetap di situ dan akhirnya mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.

Apakah kualitas diri kita akan membantu bangkit kembali setelah kita terjatuh? Kualitas diri sendiri adalah sesuatu yang mesti saya sebutkan, karena kalau tidak, makna buku ini tidak sempuma.

”Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakatpun tidak; Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusanpun tidak; Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan. Pendidikanpun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya, ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dan batu, air sungai senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi dengan ketabahan. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering Anda bangkit kembali.

Apabila Anda dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, Anda dapat mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan Anda sekarang. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda. Seperti Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini menjawab,

”Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Sungai Colorado mengalir tabah terus-menerus, melahirkan Grand Canyon. Charles Goodyear yang tekun, membuahkan ban yang memungkinkan kendaraaan melaju kencang. Tabahnya Wright bersaudara membuahkan pesawat terbang. Bethoven, mengisi dunia dengan musik inspiratif, John Milton membuahkan karya puisi indah yang menyejukkan hati, perempuan tuna netra yang tegar Helen Keller, memberikan harapan kepada semua orang cacat, ketabahan Abraham Lincoln membuatnya terpilih menjadi presiden. Dan, tentu, Thomas Alfa Edison, memberi kita cahaya listrik. Kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan. Kurang tabah merupakan salah satu alasan orang gagal dalam bisnis, politik, dan kehidupan pribadi.

Setiap orang sukses menyatakan bahwa kesuksesan hanya berada di luar ketika mereka yakin idenya akan berhasil.”

Dr. Napoleon Hill

Menarik Hikmah, Jangan Menyerah

Anda tumbuh menjadi semakin dewasa dan bijaksana. Dulu Anda menanggung kegagalan secara pribadi. Ketika kulit Anda mulai berkerut sejalan dengan perjalanan usia, Anda cenderung belajar dari kesalahan - kesalahan Anda

Cheong Chonng Kong

Secara sederhana, kegagalan adalah situasi tak terduga yang menuntut transformasi dalam sesuatu yang positif. Jangan lupa bahwa Amerika Serikat merupakan hasil dari kegagalan total. Karena Columbus sebenarnya ingin mencari jalan ke Asia.

Eugenio Barba.

Mengantisipasi bencana sejak dini, karakteristik seorang entrepreneur. Jangan biarkan kebanggaan dan sentimen mempengaruhi keputusan-keputusan Anda. Sebuah gagasan gagal, adalah pelajaran ada saat untuk bangkit kembali untuk mengejar target-target Anda berikutnya.

Babe Ruth, pemain baseball terkenal, tidak hanya mencetak 714 home run, namun dia juga pernah luput (strike out) 1330 kali.

Ray Meyer, pelatih bola basket legendaris di DePaul University telah memimpin timnya memenangkan 37 musim, kompetisi. Saat timnya kalah, setelah kemenangannya yang ke-29, dia ditanya bagaimana perasaannya. “Luar biasa!” katanya. “Sekarang kami dapat mengkonsentrasikan diri bagaimana memenangkan permainan daripada memikirkan kekalahan ini.”

Kegagalan, jangan biarkan sebagai sesuatu yang final. Entrepreneur sejati, memandang kegagalan sebagai awal, batu loncatan untuk memperbaharui kinerja bisnis mereka di masa mendatang. Pemimpin tidak menghabiskan waktunya memikirkan kegagalan.

Untuk memicu kesiapan mental Anda, kita belajar dari cerita tentang seorang eksekutif IBM yang memiliki prospek cerah. Ia baru saja melakukan kesalahan transaksi yang merugikan perusahaan jutaan dollar. Thomas J. Watson, pendiri IBM, memanggil eksekutif muda itu ke kantornya. Spontan eksekutif itu berkata.

“Saya tahu Anda pasti meminta saya mengundurkan diri, bukan?”

”Anda tidak perlu cemas. Kami baru saja mengeluarkan jutaan dolar untuk mendidik Anda!” Begitu jawab Watson.

***

Perusahaan seperti milik kami harus menciptakan suasana di mana orang-orang tidak takut mengalami kegagalan. Ini berarti kami menciptakan sebuah organisasi dimana kegagalan tidak hanya ditoleri tetapi ketakutan dikritik karena menyampaikan gagasan bodoh juga dihilangkan. Jika tidak, maka banyak orang yang merasa cemas dan tidak nyaman. Dan gagasan-gagasan brilian yang sangat potensial tak akan pemah terucapkan dan tak akan pemah terdengar. Kegagalan masih bisa ditolerir selama itu tidak menjadi kebiasaan.

Michael Eisner, Walt Disney Corp.

Jadi? Ya, gagal bukan kiamat bisnis, tapi jangan kelewatan. Apalagi menjadi “kebiasaan”. Kerjakan yang mampu dilakukan, semakin terbatas sumber dana, Anda patut semakin bijaksana. fahami, kapan harus meminimalisasi kerugian.

Bila Jatuh, Cepatlah Bangkit

Di dunia kerja, yang disebut masalah sesungguhnya adalah kesempatan yang menunggu, dipungut.

Henry J. Kaiser

”Bagi saya pribadi, krisis Asia telah berakhir pada saat dimulainya persaingan untuk mendapatkan hotel Regent Bangkok pada bulan Maret 1999. Setelah melewati masa-masa sulit selama dua tahun sebelumnya, mendadak saya memutuskan mengikuti lomba balap Ferari di Perancis serta bersaing di ring dengan Goldman Sachs Co., salah satu bank investasi terbesar dunia.”

William E. Heinecke, konglomerat Thailand

Pembaca, saat banyak konglomerat bangkrut dan bank-bank mengalami kegagalan di Thailand, tujuh hotel milik Heinecke, restoran siap saji dan perusahaan lainnya terus berusaha keras keluar dari krisis serta berusaha mendulang keuntungan di tahun 1998. Meskipun banyak analis meramalkan tentang pertumbuhan ekonomi pada tahun 1999 dan menguji Baht Thailand, tidak banyak perusahaan yang bisa menandingi kemampuan kerja kelompok bisnis Heinceke.

Fantastis, hotel Heinecke mengalami kenaikan 24%, 246 restoran kelompok bisnisnya menarik lebih dari tak kurang dari lima juta pelanggan! Pada tahun 1997 kelompok perusahaan Heineke mengalami kerugian 1 milyar baht, tetapi setahun kemudian tiga perusahaannya yang telah go public, mendapatkan keuntungan bersih 500 juta baht, pada triwulan pertama tahun 1999, keuntungannya lebih banyak lagi.

Belum yakin, kegagalan, hanyalah sebuah tikungan tajam yang menuntut ”kendaraan” usaha, sedikit mengurangi kecepatan, lalu di depan, begitu melihat ”jalan mulus peluang”, Anda bisa menebusnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bisnis Heinecke di Thailand, saat ini benar-benar telah pulih.

Regent Bangkok, salah satu hotel terbesar di Asia, tingkat huniannya tetap tinggi. Saat itu, Regent di bawah kontrol beberapa perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan manajerial seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya di Thailand sehingga mereka berusaha untuk menjual saham Regent. Regent dimiliki oleh Rajadamri Hotel Company yang kemudian 32% sahamnya dimiliki oleh sebuah perusahaan Jepang yang telah bangkrut yang diwakili oleh sebuah bank Jepang yang cukup besar.

Masih ada lagi faktor lain yang lebih penting. Rajadamri Hotel Company juga memiliki 26% saham hotel bintang lima milik Heinecke, di Thailand Utara, Regent Chiang Mai. Heineke enggan menjualnya pada orang asing karena ia tak ingin ada orang asing menguasai tanah keramat itu. Bagi Heinecke, ikut ambil bagian dalam kepemilikan saham Regent Bangkok yang dijual pada awal tahun 1999 merupakan tindakan yang tepat, setelah sebelumnya ia sudah memiliki saham Regent hampir 29%.

Apa kata Heineke tentang pelintasan bisnisnya yang penuh tikungan di masa krisis ini?

“Ini adalah persaingan dimana saya harus mengeluarkan segala strategi dan kemampuan yang telah saya pelajari : mempercayai intuisi, menggunakan jaringan kerja kontrak yang mapan, menggunakan sejumlah pakar dan merencanakan strategi-strategi dalam situasi yang selalu berubah cepat jika diperhatikan, persaingan ini merupakan mikrokosmos semua strategi. Saya berusaha menguji kemampuan saya dengan lawan-lawan yang benar-benar tangguh. Goldman Sachs, salah satu grup investasi terkuat di dunia ini, merupakan pemegang saham individu terbesar Regent Bangkok, tapi itu tidak berarti bahwa mereka bisa berbuat sesuka hatinya. Saya kira bagi seorang yang tidak lulus perguruan tinggi, hasil seperti ini sudah cukup memuaskan”.

Bila Semuanya Gagal

Tekun, mengerahkan segenap daya, dan masih gagal juga. Apa yang harus kita lakukan?

Saat gagal menimpa, kendati lelah dan kecewa berat, jangan matikan energi kreatif Anda. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk yang ada, atau hasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan.

Jangan terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut.

Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat daripada yang lain. Sebagian kurang berisiko tetapi lebih lambat daripada yang lain.

Saran kami, janganlah terlalu kaku mengatakan bahwa Anda tidak bisa berubah. Kami sendiri, kerap berubah seiring dengan perkembangan in put dan stimulasi kondisi di sekitar kami. Tanpa itu, bagaimana mungkin kami menyusun sebuah buku, memberi pencerahan bagi banyak orang?

Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan dan kita mesti menyesuaikan segala keterampilan dan bakat yang tidak kita peroleh dari bidang-bidang usaha di masa lalu. Lalu? Salurkan kekuatan itu di bidang usaha yang baru. Mungkin, kita dipaksa mempelajari keterampilan baru, sebagai konsekuensi menghadapi tantangan serba-baru itu.

Pernahkah Anda bertanya bagaimana orang Jepang bangkit kembali dari kehancuran PD II untuk menjadi pengusaha ekonomi yang unggul saat ini? Dulu, produk Jepang sempat dinilai murahan, tidak berkualitas, dan stigma jelek lainnya. Tapi sekarang, sulit bagi kita untuk hidup tanpa barang-barang buatan Jepang di dalam rumah kita. Ini tidak hanya berlaku di Negara kita saja, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Orang-orang Jepang tidak menciptakan mobil. Tidak juga kamera, kulkas, televisi, AC, mesin cuci, penghisap debu, film atau system perangkat audio berkualitas tinggi. Mereka tidak menciptakan banyak benda. padahal yang mereka lakukan ”hanyalah” meniru.

Hakikat :peniruan ala Jepang”, sarat pesan penting bagi calon entrepeneur. Di sana ada proses penyempumaan tanpa kenal lelah, sampai akhirnya ”tiruannya” lebih baik dari aslinya! Mereka menggunakan ”kreativitas” untuk menyempumakan barang yang sudah ada. Tak ada yang membantah, Jepang meraih suksesnya. Kultur entrepreneurship tumbuh subur di sana, menyebar menguasai dunia.

Jika Anda menyadari bahwa Anda tidak berhasil mencapai tujuan Anda pada suatu pekerjaan di mana Anda telah dilatih untuk melakukannya, latihlah atau lengkapi diri Anda dengan pekerjaan yang memberi peluang meraih yang lebih baik di masa depan. Janganlah gantungkan diri Anda pada satu keterampilan saja. Sebagai manusia, Tuhan memberi kita kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru dan menerjuni bidang usaha lain. Jangan ”hidup-mati” Anda gantungkan pada satu bidang saja. Orang lain bisa sukses. Anda tentu juga bisa. hanya saja, ada yang lekas tercapai, ada yang masih berliku.

”Jangan malu karena gagal, …seperti Christopher Colombus.”

”Ketahuilah apa yang akan Anda lakukan, lakukanlah dan jangan menunda kembali. Jika Anda membuat kesalahan, buatlah kesalahan yang hebat. Seperti orang yang sampai di persimpangan jalan dan bertanya,”Arah manakah yang perlu saya tuju, arah sana atau sini?” Pergi saja! Pilih satu arah dan pergilah. Unsur masa itu pasti ada. Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempat yang wajar.”

Gum Rutt

Tengok kiri-kanan Anda. Produk Cina, membanjiri negeri ini. Bayangkan, seperti apa sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang? Akankah ini kita terima sebagai ”keharusan ekonomi”? Tidakkah Anda mulai berpikir hal yang sebaliknya? Anda bisa!