Jumat, Desember 14, 2007

MEMAKNAI KEBERANIAN !!!

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan(Q.S Hud :112) .

Keberanian adalah energi jiwa untuk bergerak dan sanggup melakukan pengorbanan dalam kehidupan yang serba tidak menentu ini. Keberanian adalah api yang membara.Keberanian adalah ombak yang berdebur. Keberanian adalah petir yang menggelegar. Keberanian adalah kilat yang menyambar. Keberanian adalah lembutnya semilir angin. Keberanian adalah teriakan yang meninggi. Apakah menurutmu keberanian itu? Menurut saya keberanian itu adalah … ayo jawab dengan cepat dan tanggap. Tunggu dulu Saudaraku keberanian itu memerlukan pemikiran dan bukan gegabah.

Keberanian adalah ungkapan yang mengetarkan dunia. Keberanian adalah gemerincing wawasan yang melahirkan karya yang berguna. Keberanian adalah Perencanaan yang penuh perhitungan. Keberanian adalah deruan semangat yang mengegelorakan perlawanan total terhadap segala kebatilan. Keberanian adalah kakuratan analisis yang akan memberikan hasil sintesa yang memuaskan. Keberanian adalah produk dari perencanaan yang matang dan kenekatan yang terencana. Apakah ada kenekatan yang direncanakan ? Lalu apa hubungan kenekatan dengan perencanaan? Ini seperti menghubungkan impian dengan kenyataan. Juga laksana hubungan antara dunia dengan akhirat. Hubungan antara yang nyata dan yang ghaib.

Keberanian adalah seni menata dan menstabilisasikan suatu unit-unit kecil menjadi unit yang kompak dan kokoh. Keberanian adalah sebuah pelita yang memberikan cahaya penunjuk jalan dalam kegelapan. Keberanian memberikan banyak inspirasi yang menggelindingkan perubahan-perubahan yang akan membawa perubahan bukan hanya dalam bentuk ilusi dan halusinasi. Tetapi perubahan yang hakiki, mumpuni dan mempunyai akar yang menghunjam kesetiap derap langkah penggerak perubahan itu sendiri. Keberanian adalah wajah lain dari meditasi yang menghasilkan solusi kongkrit dari centang perenangnya peradaban. Bukan meditasi yang hanya memberikan rasa aman dan ketenangan bagi pribadi-peribadi. Tetapi ketenangan kepada komunitas yang lebih luas.

Dari keberanianlah lahirnya berbagai karya monumental yang menyejarah dan selalu menjadi kenangan kemanusiaan. Dengan keberanian sebuah keputusan akan menjadi kebijaksanaan. Dengan keberanianlah perangkat hukum akan menjadi pedang ampuh dalam mengadili segala kemaksiatan dan pelanggaran hukum. Keberanianlah yang memberikan pencerahan kepada hati-hati yang goyah menjadi kokoh. Keberanianlah yang mampu merubah dunia menjadi penuh dinamika. Keberanianlah yang memupuk semangat dan cita-cita. Keberanianlah yang membawa kekakuan menjadi kekukuhan. Keberanianlah yang menjadikan kelembutan menjadi ketegasan.

Keberanian adalah proses pematangan jiwa yang akan melahirkan begitu banyak asa. Membentuk pribadi selalu mengevaluasi diri dalam suatu keyakinan dan independensi. Bukan indepedensi yang rapuh dan tidak jelas juntrungannya. Independensi semu tak punya landasan idiologi serta penuh manipulasi. Pragmatisme materialis yang munafik dan hipokrit dengan keadaan sekitarnya. Akan terlihat sangat menjijikkan seperti seekor anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Keberanian yang sucilah yang akan mengamankan jiwa-jiwa merdeka dan ruh-ruh suci tidak ternoda oleh debu, kotoran serta najis dunia yang nampak selalu manis.

Kesucian keberanian akan terasah dengan asahan tantangan yang didapati dalam perjalanan panjang perjuangan. Perjalanan yang kadang mendatangkan kebosanan, rasa tidak percaya, rendah diri, malas dan kefuturan. Namun kadang kala ada sesuatu yang tidak terduga dalam perjalanan menggapai keberanian tersebut. Keberanian terus menapaki jalan tersebut seakan menjadi kekuatan untuk terus dan terus berlari. Membawa semua beban yang masih terbawa. Kesucian itulah yang akan mengatur kembali desahan nafas yang tadinya sudah terengah-engah. Mengembalikan kelunglaian menjadi semangat. Keletihan menjadi tenaga untuk bergerak. Disaat inilah kesucian keberanian mengajak kita untuk berhenti sesaat. Diam sejenak. Untuk mengatur kembali langkah-langkah perjuangan yang mulai tertatih. Untuk mencari celah perjalanan agar tidak selalu mendaki keterjalan yang terasa mengiris hati. Menghabiskan segala perbekalan yang semakin hari semakin menipis.

Keberanian juga adalah kecipak air saat mengalir dan menentukan arah untuk kembali ke Muara. Keberanian adalah usaha yang selalu mengalir dalam diri hamba yang selalu mendamba kehadiran Rabbnya. Keberanian seperti ini akan melahirkan suatu bentuk kerinduan dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang akan sangat membahagiakan.Pertemuan yang akan mendatangkan sederet kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan melupakan,melenakan semua penderitaan yang pernah menghunjam jiwa, menusuk raga dan menggelisahkan hati para hamba. Pertemuan yang akan melahirkan kesejukan, kedamaian , ketentraman dan keabadian. Sebuah pertemuan yang hanya ada dalam impian dan akan menjadi kenyataan bila keberanian menuju kesana tetap dipertahankan.

Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah dimanakah kita menemukan keberanian. Dimanakah kita perlu menjelajahi dan mendapatkan keberanian. Gunung mana dan hutan mana serta gurun mana yang harus kita jelajahi agar kita mendapatkan keberanian yang akan membawa kita kepada kesucian perjuangan ? Perjuangan yang akan memberikan perubahan dan entitas yang mulia pada para pengembannnya. Menjadi aktor-aktor sejarah yang memberikan sumbangsih bagi perbaikan peradaban.

Mencari keberanian rupanya tidak mudah. Namun, yang lebih sulit adalah mempertahankan keberanian, mempertahankan kesucian keberanian. Karena boleh jadi keberanian adalah pisau yang bermata dua yang akan menusuk empunya sendiri. Yaitu keberanian yang sudah hilang kesuciaannya. Maka sekarang yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mencari keberanian dan keberanian untuk mempertahankan kesucian keberanian. Memang keberanian sebenarnya adalah sikap diri yang berani dan mempunyai nyali untuk melakukan pergerakan dengan nyali yang tidak bisa disembunyikan. Sekali lagi kita butuh keberanian untuk menumbuhkan keberanian. Agar hidup kita selalu berarti. (Akhir dari sebuah perenungan).

KEPEMIMPINAN DAN AMAL JAMAI

JIWA KEPEMIMPINAN : 1. Mengetahui prinsip dasar kepemimpinan

Kemampuan dalam menjalankan program bukan

Sekedar memerintah.

2. Kepemimpinan situasional

Pemahaman mengenai posisi dalam amal

3. Pemimpin kerja

Mampu membangun motivasi kerja pada anggota

Amal

4. Gaya kepemimpinan

Mengetahui gaya otoriter, Kharismatik dan gaya

Operasional.

KARAKTER PERSONAL AMAL : 1. Memiliki prilaku positif

2. Keterampilan komunikasi

3. Memiliki jiwa kepemimpinan.

KETERAMPILAN KOMUNIKASI :

1. Memahami konsep dasar komunikasi, yaitu komunikasi visual (66%), vokal (25%), verbal (7%)

2. Sikap komunikasi asertif (proaktif dan sinergis), bukannya agresif (mau menang sendiri) dan bukan pula submasif (inferior dan introvert)

3. Negosiasi

Kemampuan untuk melahirkan kesepakatan dengan saling percaya

4. Prinsip persaudaraan, dibangun dari kesamaan visi dan misi kehidupan dengan melalui proses pengenalan identitas partner, memahami karakternya dan bekerjasama dengan nilai-nilai ketulusan dan kesungguhan.

KIAT MEMBANGUN AMAL :

1. Starting : Idealis dan mengutamakan persamaan

2. Storming : Adanya perbedaan karena latar belakang, karaater dan gaya

bekerja.

3. Norming : Kesepakatan untuk membangun saling pengertian

4. Stabilizing : Adanya prestasi dengan berjalannya semua aturan dengan

Hubungan kerja harmonis.

5. Conforming : Proses penyesuaian diri sehingga apakah tetap stabil ,

Stagnan atau manurun.

PILAR-PILAR AMAL JAMA’I : 1. Iman yang mendalam

2. Ketajaman visi perjuangan

3. Spesialisasi dan kejelasan tugas

4. Tsigah yang timbal balik

5. Membina kemesraan berukhuwah.

A M A L J A M A I

MEMBINA KEMESRAAN BERUKHUWAH :

1. Di bangun diatas Ta’aruf, Tafahum dan Takaful

2. Ta’aruf yang baik akan meminimalisir kekeringan dan keretakan hubungan dan membuat hati lembut dan mampu melenyapkan bibit perpecahan

3. Tafahum akan menjaga kesegaran kebersamaan dan memiliki pola pikir yang sama

4. Takaful akan menumbuhkan jiwa mendahulukan saudara daripada diri sendiri.

TSIQAH (PERCAYA) YANG TIMBAL BALIK :

1. Ketsiqohan anggota terbentuk dari sentuhan dan interaksi secara langsung sehingga tumbuh kebersihan niat, kualitas moral, kapasitas pemikiran dan keluasan wawasan pemimipin

2. Tsiqoh pemimpin setelah mengetahui secara jelas keikhlasan, kapasitas, kualitas, dan komitmen anggota.

FILOSOFI BERAMAL JAMA’I :

1. Falsafah sambungan kayu *............. Saling mengerti posisi

2. Falsafah air mengalir * .................... visi dan misi beramal

3. Falsafah pohon pisang * .................. etos kerja

4. Falsafah semut * ............................. kinerja dan pembagian tugas

5. Falsafah roda berputar * .............. dinamika beramal jama’i

6. Falsafah sambungan tali * ............ spesialisasi.

HIKMAH

Perjalanan Kehidupan senantiasa dilalui dengan kebimbangan. Kebimbangan dalam mengambil dan memberikan segala sesuatu dari dan kepada orang lain. Sering kali kita dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat kita harus berpikiran jeli dan bijaksana. Sikap ini mengharuskan kita bisa memuaskan banyak orang terhadap apa yang mereka tanyakan. Sehingga tidak terjadi benturan dan salah persepsi orang tersebut terhadap apa yang telah kita sampaikan dan jelaskan.

Pernyataan diatas adalah salah satu dari sifat dakwah yaitu” Mauizho hasanah”yaitu tindakan dan perbuatan yang baik. Hal ini sangat besar relevansinya dengan hikmah. Hikmah ini sendiri mempunyai pengertian yang sangat banyak dari berbagai ulama. Namun intinya, semua sepakat dengan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya sehingga semua orang menyenanginya.

Ada sebuah kisah yang menarik dari dialog Dr. Hamka Rahimahullah. Beliau pernah kedatangan tamu. Tamu tersebut menceritakan bahwa ia mempunyai dua orang tetangga. (cari lagi bahasnnya pada dialog-rasulullah). Pertama, seorang kiai yang gampang marah dan keras kepala. Kedua, seorang dokter yang baik, suka menolong, sayang sesama tetapi jarang sholat. Intinya kedua orang itu muslim.

Sang tamu lalu bertanya, “ Manakah yang lebih baik diantara keduanya?” . Setelah merenung sejenak, Dr. Hamka tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan beliau balik bertanya,” Shalat itu baik atau jelek?”. Spontan tamunya menjawab,” baik!” . “Maka kiai itu akan lebih baik kalau ia baik hati, penyabar, penyayang dan suka menolong. Lalu dokter itu akan lebih baik apabila ia mau sholat.” Kata Beliau. Mendengar jawaban ini tamu tadi lalu pulang.

Acapkali kita sebagai seorang yang telah mengaku dan memproklamirkan diri sebagai anak shohwah dan afna’ Harokah mendapatkan pertanyaan yang kontroversi sebagai layaknya diatas. Pemikiran umat Islam sering terjebak pada tataran plus-minus, hitam –putih, halal-haram atau yang paling sadis surga-neraka. Maka diperlukan hikmah yang mendalam dari kita afna’ harokah ini menyikapi hal tersebut. Ingatlah kita seorang dai’ dan bukanlah seorang hakim.

Ada sebuah kisah lagi mengenai hikmah ini dalam memoar Hasan al-Banna. Suatu waktu Imam Hasan dihadapkan pada pertanyaan mengenai pendapat beliau mengenai tawassul. Beliau sangat paham bahwa pertanyaan ini adalah untuk menjebak beliau termasuk di kelompok manakah pada waktu itu. Beliau menyatakan bahwa, “ Saya hanyalah seorang guru biasa yang menyampaikan yang saya tahu.Namun, kalau ingin lebih jelas tanyalah pada orang yang lebih tahu dari saya.”

Beliau lalu memanggil dua orang yang berbeda mazhab. Mereka seorang dari mazhab Hanafi dan seorang lagi dalam mazhab Syafi’I. Beliau lalu menanyakan, apakah perbedaan mensyirkan dan menzaharkan basmalah akan membatalkan sholat? Semuanya menjawab dengan argumentasinya masing-masing. Lalu Imam Hasan menjelaskan kedua-duanya benar. Karena keduanya mempunyai dalil-dalil yang mendukung pendapatnya. Beliau akhirnya mengajak semua orang hanya kembali kepada Islam bukan golongan.

Sebagai afna’ harokah maka kewajiban kitalah untuk menyamakan persepsi dari ummat ini pada tujuan utama yaitu Allah. Dengan berteladan pada rasul yang mulia yang merupakan Al-Qur’an berjalan. Maka untuk mencapai tingkat bagaimana memberikan hikmah dengan penuh hikmah, diperlukan kembali meredefinisi kembali firman Allah mengenai iqra’. Ahmad Syafi’I Ma’arif menyatakan bahwa umat Islam jaya pada abad I-VI karena mengagungkan budaya Iqra’. Tetapi jauh tertinggal pada abad berikutnya, karena meninggalkan spirit Iqra’ . Nah bagaimana dengan kita sekarang ? Iqra’lah ya akhi! Iqra’lah Ya Ukhti! Sesungguhnya kejayaan Islam Insya Allah di tangan Kita! Allahu Akbar!!!! Wallahu’alam.

SATU KOMANDO SATU PERJUANGAN

Perjalanan itu sangat melelahkan. Panasnya gurun pasir yang menguning menguji milisi kecil itu. Milisi kecil pimpinan Thalut itu terus bergerak. Kerongkongan mereka telah kering. Panasnya matahari waktu itu telah menguapkan sisa-sisa uap air yang ada dikerongkongan mereka. Bahkan, keringat seperti enggan untuk menetes. Tiba-tiba mereka menemukan sebuah sungai yang sangat bening dan kelihatannya sangat segar sekali airnya. Sang panglima mengeluarkan perintahnya:” Ambillah hanya seteguk saja, sekedar untuk menghilangkan harus janganlah kalian berlebihan, ini hanyalah ujian ALLAH semata!”

Namun, apa yang terjadi ? kaumnya banyak yang tidak sabar dengan ujian air bening yang menyegarkkan. Akibatnya sebagian besar mereka tertahan di sungai tersebut.Disungai itu mereka telah menggadaikan imannya. Mereka berpikir apa ruginya meminum 2 teguk air atau lebih. Toh, kita sudah kehausan dan kelelahan dengan perjalanan yang menyusahkan ini, sebentar lagi kita akan bertemu dengan musuh.

Disinilah mereka menggadaikan kesabarannya. Saat perjalanan terasa mencekam, berat dan melelahkan mereka banyak bertanya. Saat pasukan musuh sudah dihadapan masih banyak yang butuh argumentasi. Mereka hanya ingin dakwah penuh dengan kesenangan. Menikmati air suangai dengan tenang. Mereka menggadaikan keindahan surga dengan segala kesenangan dan kemudahannya dengan kecipak air sungai yang kelak membawa petaka.

Wahai saudara seperjuangan sekali lagi kuingatkan pada diriku sendiri dan kita semua bahwa kemenangan hanya diberikan kepada orang yang beriman dan bersabar. Dakwah hari ini sudah mencapai kondisi yang lebih baik. Wajihahnya sudah beragam, manhajnya sudah sangat jelas dan selalu disempurnakan. Namun, sekarang belum waktunya menepuk dada perjuangan masih panjang. Latihan dan penegakan disiplin harus terus dibangun.

Jargon satu komando satu perjuangan jangan hanya dalam demonstrasi saja. Dalam keseharian seorang kader kedisiplinan terhadap perintah pemimpin harus selalu terpatri.hingga barisan ini menjadi rapi dan kokoh. Pertanyaan-pertanyaan mengapa begini dan begitu itu wajar. Namun sekali lagi kuingatkan diriku dan kita semua. Seaneh apapun perintah itu tetaplah perintah. Tidak layak seorang kader mempertanyakan sebuah perintah seaneh apapun perintah itu. Selagi masih dalam kondisi yang syar’iyah.

Akhirnya milisi kecil yang sudah sangat berkurang jumlahnya karena menolak perintah aneh dari Thalut itu dimenangkan ALLAH. Dan diababdikan di dalam Al-Qur’an :

“ Berapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan seizin ALLAH. Dan ALLAH beserta orang-orang yang sabar (Q.S Al-Baqarah:249)”

ALLAH telah menetapkan dakwah ini misi abadi. Sunnahnya tidak begitu banyak orang yang sanggup menanggung bebannya. Inilah misi yang abadi. Kapanpun, dimanapun, kondisi damai atau perang. Perintah ALLAH, Rasulullah dan pemimpin yang kita pilih diantara kita selalu harus ditaati dengan sabar dan perintah itu memang memerlukan konsekuensi dan pengorbanan. Baik jasad, harta, waktu, jiwa dan bahkan kehidupan kita. Wallahu’alam

Ruqyah Syar’iyyah

Ruqyah Syar’iyyah
Solusi Islami terhadap Gangguan Kejahatan Jin dan Syaithan
_____________________________________________________________________________
Andree
Jaringan Mahasiswa Anti Pemurtadan (JAMAAT) Riau


Pengertian Jin, Syaithan dan Iblis
• Jin adalah nama yang dinisbatkan bagi bangsa salah satu makhluk ghaib yang merupakan mukallaf (yang dikenai beban hukum/syariat sebagaimana juga manusia). Rasulullah SAW juga diutus bagi mereka(QS Ad dzaariyat(51); 56)

“Jin itu ada 3 kelompok; kelompok pertama berupa ular, kalajengking dan serangga, kelompuk kedua seperti angin di udara, dan kelompok ketiga adalah kelompok yang akan dihisab dan mungkin diberi siksaan” (HR Tirmidzi)

“”Jin itu ada 3 kelompok, yang pertama mempunyai sayap, dengannya mereka terbang. Kelompok kedua berupa ular dan anjing, dan kelompok ketiga datang dan pergi” (HR Al Hakim)

• Syaithan adalah sebutan untuk sifat membangkang kepada Allah SWT. (QS Al Baqarah; 14)

• Iblis adalah nama jin yang menolak sujud kepada Adam as (QS Al Kahfi; 50)


Berbagai bentuk gangguan Jin dan Syaithan
- Gangguan al-Qarin (jin pendamping). Jin ini tidak menyebabkan kesurupan atau sakit, ia hanya berusaha untuk menggoda manusia supaya berpaling dari ketaatan dan suka kepada kemaksiatan. Nama jin ini adalah khannas (QS An Naas; 4). Jin ini tidak bisa dibunuh atau ditundukkan oleh manusia tersebut, namun ia bisa diperkecil atau dimiimalkan pernnya dengan ketaatan kepada Allah SWT, memperbanyak zikir yang disyariatkan. Bila manusia meninggal dunia, jin pendampingnya belum tentu meninggal pula, jin itulah yang sering dianggap roh gentayangan oleh sebagian orang. Katanya orang yang sudah meninggal bisa dibangkitkan, padahal kemungkinan besar itu adalah qarin orang yang meninggal atau orang lain. Kepercayaan akan “roh gentayangan” ini adalah aqidah yang bathil.
- Jin atau syaithan yang di luar tubuh manusia. Mereka bisa mengganggu manusia baik dengan cara menyusup ke dalam tubuh manusia, maupun tanpa menyusup.
Di antara ciri-ciri yang bisa diketahui dari orang yang terkena gangguan jin atau syaithan itu adalah:
a. Gangguan terhadap pikiran:
o menjadi sangat pelupa dan linglung
o Pikiran menjadi kacau dan susah berkonsentrasi
o adanya bisikan-bisikan jahat dan membahayakan
o Bisikan-bisikan pada pikiran yang menyebabkan keraguan terhadap Islam, adanya Tuhan, Al Qur’an, dsb
o dll
b. Gangguan terhadap perasaan :
o Menjadi sangat benci pada orang-orang yang disayangi, atau sebaliknya
o Menjadi sangat cinta pada seseorang sehingga rela menyerahkan apa saja padanya
o Menjadi sangat marah (emosi meledak-ledak)
o Sangat bersedih dan suka menyendiri
o Menjadi sangat penakut
o Merasa ditemani orang lain
o Selalu curiga pada orang lain
o Merasa dikejar-kejar atau akan dibunuh
o Merasa dibabtis menjadi Nasrani
o suka maksiat berlebihan dan sangat berat malaksanakan ketaatan
o Terjadi perubahan orientasi seksual
o dll
c. Gangguan terhadap fisik :
o Sakit kepala terus-menerus, atau terkadang seperti ada yang menusuk-nusuk, namun tidak dapat disembuhkan secara medis
o Sering merasa panas pada anggota tubuh (kepala, dada, punggung, tengkuk, dll)
o Sakit pada anggota tubuh (tangan layu, perut seperti panas perih dan seperti diiris-iris)
o Bengkak yang tidak wajar
o Selalu ada gangguan ketika beribadah atau majelis ta’lim (ngantuk yang bersangatan, susah khusyu’, buang angin berulang-ulang setelah berwudhu, tidak betah di masjid, dll)
o Mendengar bisikan-bisikan di telinga
o Tidak bisa kenyang walau makan banyak, atau kuat tanpa makan dan minum
o Buang air terus menerus
o dll
d. Gangguan pada waktu tidur:
o Susah tidur
o Cemas, yakni seing terbangun pada waktu malam
o Mimpi buruk (abus), yaitu mimpi melihat sesuatu yang mengancamnya, lalu ingin berteriak tetapi tidak bisa
o Mimpi menyeramkan
o Mimpi melihat berbagai binatang
o Bunyi gigi geraham pada waktu tidur
o Tertawa, menangis, merintih atau berteriak pada waktu tidur
o Berdiri dan berjalan pada waktu tidur
o Mimpi seolah-olah jatuh pada waktu tidur
o Mimpi berada di kuburan, tempat sampah atau jalan yang mengerikan
o Mimpi melihat orang aneh 9tinggi sekali, kecil sekali, atau sangat hitam)
o Mimpi melihat hantu
o Mimpi berhubungan intim (diganggu jin pecinta)
e. Gangguan terhadap tempat tinggal/ rumah:
o Suasana rumah menjadi panas, sehingga anggota keluarga meras tidak betah
o Mudah terjadi pertengkaran antara anggota rumah tersebut
o Jin memperlihatkan diri denagn berbagai bentuk menyeramkan, seperti; hanya tangan atau kepalanya saja
o Anggota rumah tersebut diganggu pada waktu tidur; dicolek, ditampar, dsb


Sebab-sebab Jin dan Syaithan masuk ke tubuh manusia:
1. Karena keinginan Jin atau syaithan itu sendiri:
• Untuk balas dendam karena balas dendam disakiti atau diganggu tempat tinggalnya
• Untuk menggoda
2. Jin atau Syaithan tersebut dimasukkan:
o atas kemauan atau sepengetahuan orang tersebut:
• Berbagai aliran ilmu tenaga dalam
• Dengan memasang susuk
• Mewarisi ilmu hitam dengan ijazah
o Tidak menurut kehendak dan sepengetahuan orang tersebut:
• Sihir (untuk perceraian, pengasihan /pelet, penyakit, gila, lesu, ikatan, termasuk sihir untuk PEMURTADAN)
• seseorang diturunkan ilmu hitam tanpa sepengetahuan dan kehendaknya
o Karena bid’ah yang dilakukan orang tersebut :
• Bid’ahnya niat (mis: meniatkan zikir untuk kebal atau telepati)
• Bid’ah lafalnya (zikir atau shalawat yang mengandung kesyirikan, minta kepada selain Allah, tidak jelas lafalnya, atau bersumpah atas nama jin)
• Bid;ah cara dan bilangannya (Seperti tahlilan dengan berteriak dan menggeleng-gelengkan kepala, atau membaca Bismillah 21 kali sambil menahan nafas, dll)

Ruqyah untuk mengatasi gangguan Jin dan Syaithan:
 Pengertian Ruqyah
Ruqyah secara bahsa berarti jampi. Menurut istilah berarti lafazh2 al qur’an serta do’a dan dzikir Ma’tsur yang dijadikan mantera atau jampi untuk menyembuhkan orang yang terkena penyakit seperti; demam, kesurupan, sengatan binatang berbisa, dan penyakit ‘ain (akibat mata kedengkian atau jahat)
Syarat-syarat ruqyah yang disepakati ulama, antara lain:
• Jampi-jampi itu harus menggunakan ayat-ayat al Qur’an, nama atau sifat Allah, dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW
• Hendaknya menggunakan bahasa Arab, atau dengan bahsa yang maknanya dipahami. Diberikan baqi orang a’jam )non arab) untuk menterjemahkan ke dalam bahasanya.
• Hendaknya berkeyakinan bahwa yang menyembuhkan bukanlah ruqyah-nya, melainkan takdir Allah SWT
 Syarat mu’allij / peruqyah
• Harus beraqidah bersih sesuai aqidah salaffus sholeh (jauh dari syirik, khurafat, tawassul syirkiyyah)
• Harus merealisasikan tauhid yang murni dalam ucapan dan perbuatan
• Harus mengetahui ihwal jin dan syaithan dan pintu masuknya bagi manusia
• Sebaiknya sudah menikah
• Ta’at beragama, terhindar dari yang diharamkan
• Harus senantiasa berzikir membentengi diri dan keluarganya dari serangan jin dan syaithan
 Cara melakukan Ruqyah :
• Sebelum melakukan ruqyah :
o Meminta pasien berpakaian sesuai syari’at Islam, kalau pasien perempuan harus didampingi muhrimnya
o Memberikan taushiyah tentang keimanan, tauhid, dan ibadah
o Membersihkan pasien dan rumahnya dari jimat, patung-patung, gambar, lonceng dan anjing dan berbagai bentuk kemaksiatan
• Saat melakukan ruqyah :
o Kalau meruqyah satu orang, pasien bisa berbaring dan peruqyah meletakkan tangan dikepalanya sambil membaca ruqyah. Tapi jika massal, semua pasien duduk dan peruqyah embaca ruqyah
o Kalau terjadi dialog, tanyakan nama dan alasannya masuk ke tubuh pasien. Jika kafir ajak masuk Islam. Jika Muslim suruh bertaubat kemudian keluar satelah diambil sumpahnya
o Jika reaksi pasien bukan kesurupan, tapi hanya sekedar panas, dingin, gemetaran, mau muntah, sakit kepala dsb, maka peruqyah bisa meletakkan tangan pada bagian yang sakit lalu mencabutnya dengan bacaan zikir dan do’a
• Setelah melakukan ruqyah :
o Jika sekali ruqyah tidak tuntas, maka sebelum terapi ruqyah berikutnya pasien bisa diterapi dengan mendengarkan kaset ruqyah atau tartil Qur’an
o Pasien harus menjaga stabilitas emosi dan meningkatkan ibadahnya
o Anjurkan pasien untuk senantiasa menjaga sunnah yaumiah/ harian seperti memakai siwak, celak mata, minyak wangi tanpa alkohol, wirid ma’tsur, tilawah, mengkonsumsi makanan yang dianjurkan seperti kurma dan habbatussauda.


Ayat-ayat Ruqyah :
1. Al Fatihah
2. Al Baqarah 1-5
3. Al Baqarah 102-103
4. Al Baqarah 163-164
5. Al Baqarah 255-257
6. Al Baqarah 285-286
7. Ali “imran 1-10
8. Ali ‘Imran 18-20
9. Ali ‘Imran 26-27
10. An Nisa’ 56
11. Al Maidah 72-76
12. Al A’raf 54-56
13. Al A’raf 117-122
14. Yunus 79-82
15. Thaha 65-70
16. Al Mu’minun 115-118
17. As Sajadah 12-14
18. As Shaffat 1-10
19. Ad Dukhkhan 43-56
20. Qaaf 16-35
21. Ar Rahman 33-35
22. al waqi’ah 41-56
23. Al Hasyr 21-24
24. Al Jin 1-28
25. Al Kafirun
26. Al Ikhlas
27. Al Falaq
28. An Naas


Daftar Referensi :
1. Al Qur’an Al Karim
2. Wahid Abdus Salam Bali; Sihir dan Pengobatannya secara Islami
3. Wahid Abdus Salam Bali; Kesurupan dan Pengobatannya secara Islami
4. Muhammad As Shayyim; Dialog dengan Jin Kafir
5. Muhammad As Shayyim; Rumah yang tidak dimasuki setan
6. DR. Yusuf al Qardhawy; Sikap Islam terhadap Ilham, kasyaf, mimpi, jimat, perdukunan dan jampi
7. Yazid bin Abdul Qadir Jawas; Do’a dan wirid mengobati guna-guna dan sihir menurut Al Qur’an dan As Sunnah
8. Hasan Bisri, Lc; 53 Penjelasan Lengkap tentang Ruqyah
9. Fadhlan Abu Yasir, Lc; Terapi gangguan jin dengan Ruqyah dan do’a
10. Fadhlan Abu Yasir, Lc; Terapi gangguan sihir dengan Ruqyah dan do’a
11. Jalaluddin As Suyuthi; Jin Makhluk Penakut
12. WAMY; Gerakan Keagamaan dan Pemikiran
13. Abu Ja’far al Warraq Ath Thahawi; Al Aqidah At Thahawiyah
14. Sa’id Ali bin Wahfi Al Qahtani; Ad Du’a min Kitab wa Sunnah Wailihil ‘ilaj bir Ruuqiy minal-kitabi wa sunnah
15. ‘Umar Sulaiman Al Asyqar; ‘Alimul Jin was Sayathin
16. ‘Abdul Aziz ibn ‘Abdullah bin Baaz; Al Fatawa Az Zahabiyah fii Ruuqiy Syar’iyyah
17. ‘Abdul Aziz ibn ‘Abdullah bin Baaz; Hukmus sihru wa Kahanah
18. Ust. Jon Pamil, M.A.; Makalah Ruqyah Syar’iyyah: Solusi Islam terhadap berbagai bentuk kejahatan dan gangguan Jin dan Syaitan

Semuanya Belum Terlambat

Ketika hujjah tak terasa lagi tajam, menyentuh tembok kesadaran. Di saat nilai-nilai longgar tak terbantahkan kini kita semua hadir dalam ruang dan waktu yang bukan seperti dulu lagi. Saat kemunafikan-kemunafikan tumbuh dan berkembang mengitari kepala kita, semua terdiam saling bertanya kemana jati diri saya yang dulu ? siapa saya , kok seperti ini ??

Allah Maha Penyayang itu saja sudah cukup. Kita tak boleh menyerah, kuatkan kembali pegangan tangan-tangan kita agar hadir kemesraan cinta dan ukhuwah seperti sedia kala. Lupakan kekerdilan jiwa yang pernah ada atau mungkin akan terus ada, tolong ingatkan kami saudaraku semua.

Berda’wah di dunia yang bergetah kadang menjadikan kita kambing-kambing congek yang tidak lagi punya rasa malu. Padahal sementara adik-adik kecil kita menangis di rumah sederhana yang kita miliki : ALKAMIL-FMIPA Hari ini terlalu banyak luka, perih, compang-camping tetapi tetap kita akan terus berlari, sambil menggerakkan bibir ini untuk senantiasa mengalirkan getaran asma Allah. Dalam semua keterbatasan … dalam semua kekurangan … Ya Allah ampuni kami …

Beberapa waktu yang lalu kami yakin, kami telah terlalu jauh berjalan, percayalah adikku semua kakak rindu bila duduk satu majelis bersama mu kembali. Mengulang indah masa dulu … saat kita bersama , rindu dengan riak gelombang keributan kecil yang selalu menghiasi hari-hari kita.

Ikhwa fillah, mujahid fii da’wah !!! Sesungguhnya kita adalah pilihan-pilihan Allah , tentara-tentara-Nya yang tiada pernah gentar menggoreskan tinta-tinta keteladanan. Kita telah menunjukkan paling tidak, kita mampu menyingkirkan kaum oportunis sampai waktu ini.

Adik kecil ku tercinta … maafkan kami, hapus air mata bening mu . Tidak boleh, tidak boleh ada yang bersedih dalam barisan tentara Allah.Bahagiakanlah perasaan mu … tidak boleh, tidak boleh ada yang murung diantara kita. Karena kami tidak memiliki harta yang banyak , atau material duniawi yang banyak untuk meneruskan risalah ini, selain kami hanya memiliki mu. Oleh sebab itu kami sangat mencintai mu. Berharap kelak kamu menjadi kuat, tegar, sabar, ikhlas dan terjaga. Menjadi garda terdepan penerus risalah ini.

Ya Allah … berikan kekuatan kepada kami, kekuatan dari-Mu untuk menghadapi semua masalah yang menghambat cita-cita tentara-Mu. Ya Allah … rengkuh diri kami dalam dekapan cinta-Mu, sungguh dahaga kami hanya ada pada-Mu penyegarnya. Ya Allah … sadarkan kami sebelum semuanya terlambat, kemudian kuatkan kami dalam kesadaran itu , kesadaran untuk mencintai-Mu di atas segalanya.

Mari pulang saudara ku, kita tata kembali rumah sederhana kita, jangan bersedih adik manis ku , kamu generasi yang kuat, hebat dan taat. Insya Allah … semuanya belum terlambat Insya Allah …. Allahu akbar !!!

KAKAK MU YANG ZHALIM

Optimis Bagian dari Kemenangan

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh As-shalatu was salamu ala Rasulillah saw.
Ikhwati fillah…

Dalam kelelahan, ketegangan dan kekalutan kaum muslimin masih memiliki secercah harapan meraih kemenangan. Itulah yang terjadi pada saat kaum muslimin dikepung oleh pasukan Ahzab. Bahkan dalam situasi yang menegangkan dan jauh dari perhitungan untuk menang itu mereka masih berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Tidaklah bertambah dalam diri mereka kecuali keimanan dan kepasrahan pada Allah SWT.” Dalam kesiapan penuh, menghadapi kepungan musuh dan kondisi medan yang begitu berat, Rasulullah SAW. Memompa semangat dengan menjanjikan bahwa mereka akan dapat menundukkan Romawi, Persia, Iskandariyah dan negeri-negeri lainnya. Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan pada perang Ahzab tersebut tanpa pecahnya peperangan lazimnya dan Allah SWT. membuktikan janji-Nya menaklukkan negeri-negeri besar pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA.

Lihatlah pula nasihat yang teduh bagai air di padang pasir, taujih dan janji Rasulullah SAW. yang amat menyejukkan hati keluarga Ammar bin Yasir. ‘Sabarlah wahai keluarga Yasir tempat yang dijanjikan Allah bagimu adalah syurga’. Seuntai kalimat dari seorang murabbi akan mampu meredam sakitnya penderitaan, menahan gejolak kesakitan dan membangkitkan semangat berbuat meski tidak dapat merayakan kemenangan.

Wahai saudaraku yang kucintai di jalan Allah.
Perjalanan hidup umat teladan hendaknya menginspirasi aktifitas yang kita lakukan saat ini. Betapa banyak pengalaman mereka dapat kita jadikan cermin hidup agar rambu-rambu perjalanan menjadi jelas dan terang. Seperti jelasnya perjalanan generasi terbaik dalam sejarah umat ini sehingga mereka mendapatkan harapannya di dunia dan akhirat tanpa takut kerugian sedikit pun.

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah.
Kemenangan umat terdahulu banyak kita temukan bermula dari optimisme yang tinggi untuk meraih kemenangan. Optimisme yang stabil menghantarkan mereka cepat atau lambat menuju kegemilangan. Karena optimisme bagian dari kemenangan itu sendiri. Baik kemenangan di dunia ataupun di akhirat.

Optimisme orang-orang beriman sangat melekat pada jiwanya karena mereka yakin bahwa mereka bersama Allah SWT. Dengan kebersamaannya bersama Allah itulah mereka meyakini perbuatannya, proses dan prosedurnya serta keberhasilannya mencapai kesuksesannya. Dengan optimisme itu segala yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana.

Ketika optimisme sudah merasuk ke jiwa maka dorongan besarlah yang muncul, dorongan untuk melakukan sebuah cita-cita agar meraih kejayaan. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW. ‘Bagaimana nasib saya bila maju ke medan peperangan yang sedang berkecamuk itu’, beliau menjawab: ‘kamu akan mendapatkan syurga’ maka sahabat itu segera maju ke depan bahkan membuang kurma yang sedang dikunyahnya seraya bergumam: ‘ini akan memperlambat saya mendapatkan syurga’. Subhanallah begitulah sebagian dari kisah generasi teladan.

Saat optimisme membumbung tinggi dalam sanubari seorang mukmin ia akan bergerak, bersikap, berjalan dan berkorban meskipun ia belum tentu dapat merasakan nikmatnya kemenangan. Karena sesungguhnya dengan jiwa optimis itu mereka sudah mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Paling tidak ia terdorong untuk memberikan sumbangsih mulianya demi keyakinan yang ia imani.

Wahai saudaraku seiman.
Saat ini hal-hal yang menghadang perjalanan kita menuju kejayaan amatlah banyak. Rintangan, gangguan cobaan datang silih berganti. Baik yang datang dari luar ataupun yang ada dalam diri sendiri. Sepertinya mereka tidak pernah lelah dan berhenti. Mereka tidak menghendaki kemenangan ada di tangan kita. Apabila kita pun lelah dan jenuh menghadapinya maka selamanya kita tidak akan pernah mencicipi rasa kemenangan itu. Tatkala kita lelah muncul bisikan-bisikan nista sambil mengatakan untuk apa berkorban apakah pengorbanan yang kamu lakukan akan kamu dapati hasilnya. Apakah pengorbanan itu akan kita rasakan. Jangan-jangan kita yang berkorban malah orang lain yang menikmatinya. Dan sedihnya lagi apa yang sudah kita lakukan akan dipungkiri dan digugat. Mereka juga akan menutup mata pada apa yang kita perbuat. Bisikan-bisikan ini sering kali mampir di telinga kita. Seakan-akan mereka ingin menyetop lajunya langkah kaki-kaki kita.

Wahai saudaraku yang kukasihi karena iman.
Gangguan yang menggelayuti kita mesti kita lawan, karena kita mempunyai iman, kita mempunyai keyakinan dan kita bersama keberkahan Allah SWT. Dan itu berangkat dari jiwa optimis yang ada dalam diri kita. Marilah kita hayati dan yakini sabda Rasulullah SAW. Di saat menghantarkan para sahabat dalam perang ahzab:
‘Fasiruu bi barakatillah wa antum fa’izuun, Berangkatlah kalian dengan keberkahan Allah dan kalian akan menang’.
Allahu akbar… walillahilhamd. Amien.

Motivasi Beramal

Menanam pohon amal dengan pondasi yang kokoh
Wahai mujahid muda atau Kepada siapa saja yang selalu merasa masih muda
Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa kita: Ya Allah berikan keberkahan di dunia dan di akhirat kepada kami. Bahagia adalah buah dari sebuah amal dan keridhaan Allah, namun sebelum memetik buah atau hasil kebahagiaan tersebut orang harus mulai menanam. Tanam itu adalah tanaman amal kebaikan. Tanaman yang baik akan menghasilkan buah yang baik, tanaman yang memiliki akar yang kuat maka akan membuat tanaman lebih subur.

Setiap amal memiliki motif

Akhi fillah,
Semua petani amal dapat memetik buah yang sama, yaitu seperti setiap akhir bulan orang mendapatkan gaji. Namun kalau kita lihat lebih jauh, maka motif kenapa seseorang mau bekerja dan berusaha untuk mendapatkan gaji memiliki motif, alasan dan nilai-nilai keyakinan yang berbeda-beda.

Ada orang ingin mendapatkan gaji dengan berbagai motif. Kemungkinan motif kenapa orang bekerja, pertama karena untuk mencari makan semata, kedua ada yang ingin membeli HP baru setelah mendapatkan uang lebih, ketiga ada yang ingin membeli sesuatu, keempat ada yang lain untuk berfoya-foya mengumbar nafsu, tetapi ada orang yang rela bekerja dan berkorban karena penuh kepahaman, kesadaran dan tumbuhnya tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang harus bekerja untuk menghidupi keluarga sebagaimana diperintahkan Allah.

Akhi fillah, camkan: ‘innam al ‘amalu bin niyati’. Ini pentingnya dalam beramal memiliki sihhatun niyah dan sihatul ghoyah.
Kekokohan niat

Akhi fillah,
Dalam kondisi tidak ada halangan dan cuaca baik, maka pohon tidak memiliki akar yang kuat pun akan tetap tumbuh dengan baik. Namun jika dalam kondisi lingkungan buruk dan banyak angin maka hanya pohon yang kuat akan tetap tumbuh.

Akhi fillah. Semakin kuat akan motivasi seseorang dalam bekerja, maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. Memang akar dalam pohon, atau motif dalam beramal tidak terlihat. Namun kita akan dapat menerka bagaimana niat dari kondisi pohon atau ketika pohon itu harus beradaptasi dengan cobaan. Ketika ada angin besar datang, maka kita baru melihat apakah akan pohon kuat atau tidak. Jika akarnya kuat maka pohon tidak akan tumbang apalagi tercabut akarnya. Jika akar pohon kuat, sementara ujian dari luar sangat kuat, maka sering pohon akan patah rantingnya dan tidak sampai pohon roboh karena tercabut akarnya.

Dalam kondisi yang sulit dan antum masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan niat antum dan kekokohan akar antum.
Pada umumnya jika orang beramal kurang kuat niat dan prinsipnya, maka dalam kondisi sulit cenderung orang akan pasif dan hanya menunggu. Mari kita kuatkan niat kita untuk mencari keridhaan Allah.

Menguatkan akar pohon

Akhi fillah
Pohon tidak tiba-tiba kuat akarnya, itu merupakan suatu proses. Untuk itu dalam rangka menguatkan akar tersebut, maka pohon harus mendapatkan nutrisi dari dalam tanah yang sangat mengandalkan pohon itu sendiri untuk terus mencari makanan baru dan bantuan dari pihak eksternal berupa cahaya matahari sebagai fungsi control.

Akhi fillah, untuk menguatkan motivasi amal kita, maka kita membutuhkan keterbukaan diri, selalu belajar dari pengalaman pribadi, menajamkan kecerdasan fitrah diri, kecerdasan spiritual melalui penelusuran sumber nilai-nilai kebenaran yang abadi kitab Allah dan sunah Rasul. Nilai ini dapat kita cari melalui apa yang telah bertebaran di muka bumi sebagai ayat kauniyah maupun ceramah para alim ulama atau kita dapat membukanya sendiri dari buku sumbernya. Ini mengandalkan mutabaah dakhiliyah kita kepada hati nurani dan kekuatan hubungan kita dengan Allah.

Namun cahaya matahari adalah bagian dari control yang sangat kita butuhkan untuk menguatkan akar. Ini merupakan kekuatan mutabaah kharijiyah kita dari ikhwah yang lain untuk mengontrol aktivitas amal kita.

Pesan ikatan amal dan amal

Akhi fillah, jangan biarkan jika antum melihat ikhwah kita bagaikan pohon yang tidak tumbuh amalannya, tidak berbuah pohonnya. Jadilah antum seperti sinar matahari yang selalu memberikan kebaikan kepadanya sebagai fungsi control. Ikatan kita adalah ikatan kebaikan yang saling menutup kekurangan dan bukan mencari kekurangan.

Untuk sukses kerja pribadi, maka camkan berikut ini
  • Bekerjalah dengan kekuatan spiritual kita dengan penuh kerja ikhlas (miliki kekuatan aqidah –salimul aqidah (arkanul Islam), kekuatan ibadah – shahihul ibadah (arkanul Islam) dan kekuatan diri (mati’nul khuluq)
  • Bekerjalah dengan kekuatan emosional kita dengan penuh kerja mawas (serius, sungguh-sungguh – munazham fii syu’nihi)
  • Bekerjalah dengan kekuatan intelektual dan skill kita dengan penuh kerja cerdas (kreatif, cerdik dan mampu memecahkan kesulitan hidup – mustaqoful fikr, qodirun ‘ala kasbi)
  • Bekerjalah dengan penuh kekuatan fisik kita dengan penuh kerja keras (qowiyul jism)
  • Bekerjalah dengan penuh kekuatan idari dan teknologi yang dibutuhkan (manajerial) kita dengan penuh kerja tuntas (munazham fii syu’nihi –manajemen aktifitas, harisun ‘ala waqtihi – manejemen waktu).

SEMOGA ANDA MENJADI POHON YANG BANYAK BERMANFAAT DAN MEMBERIKAN KEBERKAHAN BAGI ORANG LAIN (nafi’un li ghoirihi).
Selamat beramal agar dapat membuahkan hasil yang diridhai oleh Allah SWT. Sukses selalu. Dan kepada Allah kita semua dikembalikan.

Siapakah yang layak di sebut Teman Perjuangan ?

Pernahkah engkau wahai sahabat berpikir untuk menjadi orang biasa saja ? Disaat beban datang begitu bertubi-tubi. Tekanan menambah kesesakan di dada. Pernahkah engkau ingin menjadi orang biasa saja ? Tinggal di tempat yang hijau, dekat dengan sebuah oase yang subur ? lalu menikmati kehidupan yang bahagia tanpa gangguan seorang pun? Menikmati hembusan semilir angin setiap pagi dan sore. Menyambut sinaran mentari yang hangat tetapi tidak membakar. Langkah indahnya. Bahagia. Inilah yang pernah diungkapkanoleh seorang sahabat sepulang dari perang tabuk. Namun Syurga lebih indah dari semua itu. Yah syurga lebih indah dari semua itu. Syurga beraada di bawah kilatan pedang.

Kadangku ku membayangkan bagaimanakah syurga itu ada di bawah kilatan pedang. Imajinasiku bermain dan seakan semua itu tergambar dengan jelas dihadapan mataku. Pemandangan permainan pedang yang indah. Menampakkan kilatan-kilatan cahaya dan percikan bunga api. Indah sekali.

Kita membutuhkan seorang teman, bahkan lebih dalam perjalanan panjang ini. Kita berjuang bersama bukan hanya untuk menghancurkan pasungan egoisme yang membelenggu kita. Sehingga kita merasa kokoh dengan kesendirian kita. Karena kita dapat berbuat apapun sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita inginkan. Tapi ingatlah wahai para saudara seperjuangan.Kita hanya akan berjalan-jalan di tempat saja. Seperti seekor keledai yang sedang memutar penggilingan gandum atau penggilingan tebu. Apakah engkau bisa membayangkannya.
Karena selain sebagai seorang hamba yang terikat dengan ketentuan ALLAH kita juga adalah makhluk sosial. Kalau kita berputar hanya di suatu tempat sampai membuat empat yang kita buat pijakan menjadi becek dan berlumpur. Sesungguhnya kita tidak kemana-mana. Walaupun keringat sudah membanjir dan engkau merasakan sudah melakukan perjalanan panjang. Engkau masih jalan di tempat. Pengetahuan kita tidak sebanding dengan pengetahuan ALLAH. Rasa pengangungan kepada ALLAHlah yang akan membuat jiwa kita didomonasi oleh ketenangan berada di hadapan ALLAH. Beribadah untuk-Nya seperti apa yang disebutkan oleh Abu Faras :

Biarlah Engkau Bahagia
Sekalipun kehidupan ini begitu pahit
Biaralah engkau Ridha
Sekalipun semua orang marah
Biarlah antara Aku dan Engkau ada kemesraan
Sekalipun saya dan lainnya berjauhan
Asalakan engkau cinta
Maka segala sesuatunya akan enteng
Dan segala sesuatu yang ada di bumi adalah debu

Kalau mendapatkan seorang teman dalam perjuangan ini ingatlah apa yang diungkapkan oleh syair Hatim at –Thayib berikut ini :

Bila anda mengendarai seekor Unta
Jangan biarkan kawan anda yang berada di belakang hanya bisa berjalan
Rendahkanlah untamu dan naikkan dia
Bila unta itu sanggup naikilah berdua
Bila tidak maka saling bergantianlah

Namun apabila engkau meragukan ketulusan seseorang tanyakanlah dengan bijak kepadanya dan berlemah-lembut seperti syair Mustaqib al-“abdi berikut ini :

Jadilah saudaraku dalam arti sesungguhnya
Sehingga aku bisa membedakan keburukanku dan kebaikanku
Bila tidak
Jauhilah aku dan jadikan aku musuhmu
Sehingga aku mewaspadaiku
Dan engkau mewaspadaiku
Manfaat seorang teman adalah memberikan pilihan di saat kita membutuhkannya. Walaupun yang mereka berikan itu bukan pemecahan masalah tetapi itu membuat kita berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah. Jadi teman bukanlah setiap orang yang sepakat dengan apapun yang kita inginkan. Itulah seorang teman yang sejati. Orang yang selalu dapat mengingatkan kita di saat lupa. Teman sejati adalah orang-oraqng yang mengingatkan kita bahwa kita adalah hanya manusia biasa. Bahwa kita semua dalah hamba.

Siapa yang sepakat silahkan saya tidak memaksa. Siapa yang tidak sepakat tidak mengapa karena saya dan anda adalah orang-orang yang sedang mencari siapakah yang layak untuk dijadikan teman. Sehingga saling belajar untuk saling memahami. Tulisan ini adalah hanya tulisan hasil perenungan. Dan refleksi setelah saya membaca buku syaikh yusuf al-Qaradhawi yang berjudul : “ Syaikh al-Ghazali Kamaa Araftuhu : Rihlatu Qarnin “ ( ini judul aslinya : siapa yang ingin baca ada kok yang edisi Indonesia) Ini adalah tulisan apa adanya. Jadi marilah jangan berpikir jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Wallahu ‘alam.

Kamis, Desember 13, 2007

Menjadilah Penjaga Dan Pemelihara



Membangun konsepsi perjuangan

Ahmad Syauqi pernah bersayair :
Janganlah ikuti langkah-langkah orang yang tergoda/ menganggap segala yang lama adalah mungkar/ sekiranya mereka berkuasa di tengah masyarakat/ niscaya mereka akan mengingkari nenekmoyang mereka yang sudah tiada/ setiap karya lama hendak di robohkan semua/ namun untuk membangun mereka tiadalah mampu/ peradaban menciptakan karya yang usang bagi mereka/ ilmunya dangkal, keterangannya tidak berdasar/ sungguh demi Tuhan yang menciptakan keenaran/ kebenaran itu sungguh sebuah kepahitan/ ia akan membiarkan masa menjadi sunyi/ dari janji dan darah para penegak kebenaran.

Marilah menjadi penjaga dan pemelihara ! Bangunan perjuangan ini sudah sempurna. Konsepsinya dan tujuannya sudah jelas. Sarana dan Juklaknya juga sudah dipaparkan secara paripurna. Mana yang yang tsawabit dan mana yang mutghayirat juga sudah didedahkan dengan nyata. Pohonnnya sudah mulai besar dan menampakkan keindahan bunga dan buahnya. Inilah pohon perjuangan itu. Pohon perjuangan menajdi pemimpin dan mengelola kepemimpinan.

Dunia saat ini dalam sklala global dan tatanan wilayah yang lebih kecil membutuhkan konsepsi-konsepsi yang aplikatif dan membumi. Bukan hanya brilian dari segi opini dan wacana. Tidak dibutuhkan janji muluk yang melenakan. Tetapi tindakan yang bisa dibuktyikan secara nyata. Karena perjuangan kita, ummat yang kita perjuangkan butuh bukti bukan janji.

Setiap konsesi yang kita bukan hanya disesuaikan dengan kondisi, situasi dan realita zaman. Sudah saatnya situasi, kondisi dan realita zaman mengikuti konsesi yang kita buat. Bukankah kita sudah menyatakan sebagai direct of change ? karena idealis menurut kamus saya adalah : ”bukan mengikuti apa yang terjadi pada zaman kita hidup. Tetapi membuat zaman itu berprilaku dengan keyakinan yang kita yakini kebenarannya.”

Karena kalau berperilaku sebaliknya itu bukan idealis. Lebih tepat disebut sebagai orang yang lemah,pragmatis dan oportunis. Sebagai penjaga dan pemelihara bangunan dakwah ini, seharusnya kita tidak hanya membangun tataran konsep yang terfokus pada proyeksi sisi-sisi tertentu saja Sebagaimana yang dipahami oleh orang awam. Cakupannya harus melampaui pranata-pranata politis kehidupan..

Fathi Yakan pernah mendiagnosa penyakit yang dialami oleh umat manusia saat ini adalah krisis identitas, kurangnya referensi, keterbelakangan di semua bidang, pembangunan masyarakat yang pincang, pemerintah yang otoritarian, isu gender dan moralitas serta keimanan. Sehinga Eric Fromm mengatakan bahwa masyarakat modern tidak bisa lagi memimpin diri mereka sendiri. Mereka dipimpin mode dan model.
Oleh karena itu, sebagai penjaga dan pemelihara bangunan perjuangan ini, kita harus bisa menciptakan berbagai konsepsi pergerakan yang integral, komprehensif dan gradual. Kita harus mendorong terciptanya konsepsi yang tidak hanya indah dalam opini dan wacana. Konsisten dalam prakteknya menjadi lebih penting.

Kekuatan Aktualisasi

Inti kekuatan diri adalah keyakinan. Keyakinan yang bersumber dari perasaan. Perasaan yang melahirkan pengharapan. Tepat sekali Ibnu Qoyyim menyatakan manusia adalah jiwa itu sendiri. Sehingga Imam syafii bahkan menyebutkan tubuh yang ringkih itu tidak akan sanggup mengikuti kehendak jiwa yang bergelora.

Kita butuh perasaan yang melahirkan pengharapan. Kehancuran perasaan adalah awal kelemahan. Bagiku dunia politik adalah dunia pertarungan psikologis. Siapa yang paling tenang dan cermat akan mendapatkan kemenangan. Harapan ini akan melahirkan cinta dan tanggungjawab. Kehancuran perasaan akan mengakibatkan porakporandanya inti kekuatan. Maka berhati-hatilah menjaga perasaan.

Tepat sekali pemecahan yang diberikan umar Ibnul Khattab ketika seorang suami datang mengadu sudah tidak mencintai istrinya lagi. Umar dengan filosofi kepemimpinan yang luar biasa menyatakan , rumah tangga dibangun dengan tiang cinta dan tiang tanggungjawab. Apakah tidak mungkin rumah itu bertahan hanya dengan satu tiang. Tiang itu adalah tanggungjawab. Karena keluarga adalah organisasi kepemimpinan paling kecil dalam membangun.

Keyakinan harus banyak diuji. Karena cinta butuh pemahaman, pengertian dan pengorbanan. Karena tanggungjawab butuh keikhlasan, kasihsayang dan kesabaran. Ingat hari ini tidak dimulai pagi tadi. Sehingga dengan mengabadikan ungkapan Rasyid Ridha, Asy-syahid Hasan Al-banna menyatakan; realita hari ini adalah mimpi hari kemarin. Mimpi hari ini adalah realita masa depan. Makanya jangan berhenti bermimpi !

Semua kita punya cinta yang sama. Namun punya amanah dan tanggungjawab yang berbeda. Maka percayalah pada diri sendiri. Karena kita dilahirkan bukan untuk bertahan. Tapi untuk bertarung. Maka jadilah pejuang. Pejuang dalam arti sejatinya seorang pejuang kebenaran. Ingat keyakinan adalah produk dari cinta dan tanggungjawab. Sungguh ia akan menjadi cahaya dan melahirkan cahaya.

Sentuhan Cinta dan Kesabaran

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “ Tuhan kami adalah ALLAH,” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka , maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan) : “ janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; Dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh ) sorga yang telah dijanjikan ALLAH kepadamu ( Q.S 41 Al-Fushshilat : 30)

Sabar adalah kata yang sangat berat aplikasinya. Entah mengapa akhir-akhir ini saya sangat berkeinginan menuliskan semua apa yang saya dengarkan. Saya sangat berharap semua yang saya dengar juga dapat dinikmati oleh orang yang lain. Terutama sekali orang-orang yang saya cintai di jalan dakwah ini. Semoga semua yang saya tuliskan dapat menambah ladang amal, dianggap ALLAH sebagai amalan yang baik yaitu menyebarkan ilmu di hadapan para manusia. Amien.

Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah.

Tidak dipungkuri lagi dalam pandangan kita sebagai kader dakwah bahwa tabiat seorang mukmin sejati adalah berbuat, berbuat dan terus berbuat. Sehingga seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Ia tidak akan pernah diam karena diam tanpa amal menjadi aib bagi orang beriman. Seorang mukmin akan terus mencermati peluang-peluang untuk selalu berbuat. Maka perlu kita ingat dalam sanubari yang paling dalam bahwa 'nganggur' dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan banyak ayat maupun hadits yang memotivasi agar selalu berbuat dan berupaya untuk menghindari diri dari sikap malas dan lemah. Malas dan lemah berbuat dianggap sebagai sikap dan sifat buruk yang harus dijauhi orang-orang beriman. Jangan Pernah Lelah Beramal

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain". (Q.S. Al Insyirah: 7)

Mengingat tugas dan tanggung jawab yang kita emban sangat besar dan masih banyak agenda yang menanti untuk diselesaikan maka segeralah untuk menyiapkan diri menunaikannya. Rasanya perlu dicamkan dalam benak pikiran kita akan nasehat syaikh Abdul Wahab Azzam:

'Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukan dengan hal-hal besar maka kamu akan disibukkan dengan hal-hal kecil'.

Sangat mudah untuk dipahami bila setiap waktu ada tuntutannya maka kita mesti menyelaraskan diri agar sesuai dengannya. Tuntutan ini selaras dengan amanah yang diembankan kepada kita saat ini. Dan dalam pandangan Islam setiap amanah merupakan sesuatu tugas yang tidak boleh dikhianati atau diabaikan hingga tidak dapat menunaikannya dengan baik. Inilah kesempatan emas bagi kita untuk mengukir ukiran terindah dalam hidup kita secara personal maupun kolektif agar kita mampu memberikan cermin indah bagi orang lain ataupun generasi berikutnya. Inilah saat yang tepat bagi kita mengukir prestasi. Pergunakanlah sebaik-baiknya agar kita memiliki investasi besar dalam dakwah ini.

Maka disaat itulah kita membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bulan mulia ini adalah bulan tarbiyah. Tarbiyah untuk membentuk kesabaran yang paripurna. Ustadz Yusuf al- Qaradhawi pernah mengatakan :

“ Kesabaran dalam peperangan adalah keberanian
kesabaran dalam kesulitan adalah ketabahan
kesabaran dalam kekurangan adalah merasa cukup
kesabaran dalam kelapangan adalah kesyukuran ….


Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah.

Orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “ Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un “ ( Sesungguhnya kami adalah milik 4JJI, dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya akan kembali) (Q.S al-Baqarah : 155-156)

Disaat musibah datang menerpa. Mimik airmuka segera berubah. Ada kegelapan bagaikan kepingan malam disana. Ada mendung seperti awan hitam yang menggantung. Seakan sebentar lagi kilat akan menyambar dan petirpun menggelegar di dalam jiwanya. Menyambut hujan airmata yang akan tertumpah ruah. Sehingga banjirlah dadanya dengan kesedihan. Terasa sempitlah dunia dengan segala isinya. Seakan sudah kehilangan segalanya.

Ayyuhal Ikhwah rahimakumullah

Maukah engkau merasakan dengan tenang, mengikuti dengan lembut sebuah perjalanan kehdupan manusia-manusia yang penuh kesabaran? Ada Rasulullah Muhammad Saw. ….!!! Bercerita tentang Muhammad Saw, bagai bercerita tentang samudera yang luas membentang. Bagaikan bercerita tentang langit dengan gugusan bintang-bintangnya.

Bagaikan bercerita tentang taman bunga dengan aneka kembang yang indah di dalamnya. Harum mewangi membawa kesegaran. Petiklah setangkai tempatkan di pajangan bunga jiwa sehingga mata hati kita menjadi tenang saat memandangnya, dengan penuh kerinduan untuk bertemu dengannya.

Perasaannya selembut angin pesisir yang semilir. Tubuhnya kokoh bagaikan batukarang di tengah hantaman ombak dan badai cobaan kehidupan. Kehidupan yang mulia dan penuh perjuangan. Kehidupan yang dihiasi birunya rindu dan hitam pekatnya kedukaan. Kehidupan yang penuh dengan kesabaran dan tawakkal. Betapa mempesonanya kalau kita bisa menyelami mutiara keindahan perilakunya. Ucapan dan sikapnya bagaikan air yang menghidupi tanah yang kering. Menumbuhkan bibit-bibit pengharapan. Membawa buah keberkahan dan cinta. Sehingga sampai melewati batas waktu dan keturunan.

Pernah Umar Ibnu Khattaab dan beberapa sahabat menunggunya di suatu tempat. Ia menangis tersedu-sedu. Lupa dengan keadaan sekelilingnya. Sehingga angin seakan diam melihatnya. Pasir-pasir muram karenanya. Tumpah ruah airmatanya. Para sahabatnya seakan tidak percaya, seorang panglima yang gagah itu menangis. Muhammad menghapus airmatanya lalu menghampiri para sahabatnya yang telah lama menunggunya.” Mengapa engkau menangis! “Tanya umar penuh curiga. “ Sehingga sampai-sampai kami ketakutan dan ikut menangis pula.” Sambut Umar sambil mengusap airmatanya.
“Kalian takut mendengar tangisanku?” para sahabat mengangguk dengan serta merta. “Itulah makam ibuku, aku sangat mencintainya.” Kehilangan dan kerinduan terhadap orang yang kita cintai boleh saja. Tapi jangan sampai merusak jiwa. Karena itu adalah kewajaran sebagai seorang insan yang lemah. Namun setelah itu Rasulullah tampak sangat ganas kepada musuh-musuhnya bagaikan badai dengan gelombang yang menggulung. Disinilah terletak jejak-jejak kesabaran itu. Akan meninggalkan guratan keindahan ukirannya bagi tapak sejarah kehidupan. Kehidupan dalam perjalanan panjang perjuangan, menyusuri jalan yang mendaki, berduri dan berat. Wallahu’alam

Bencana Itu Bernama Cinta Yang Membara

Saudara dan Saudari Yang menghendaki dimuliakan ALLAH ! Maukah engkau menyimak apa yang dituliskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya “ Mukhtashar Zadul Ma’ad Bab ke IV dengan tema Mengobati Cinta Yang Membara.

“ Ini termasuk penyakit hati, yang berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, baik wujud, sebab dan cara penyembuhannya. Jika cinta yang membara ini benar-benar telah mencapai puncaknya, maka dokter dan obat apapun tidak akan mampu menyembuhkannya. Ada dua golongan Manusia yang dijelaskan ALLAH di dalam kitabNya tentang cinta yang membara ini, yaitu istri Al-Aziz terhadap Yusuf As dan kaum Luth yang mencintai anak laki-laki yang tampan.

Ada sebagian orang yang berpendapat, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga terhinggapi cinta yang membara terhadap Zainab bin Jahsy, sehingga mereka menjadikannya sebagai topik kajian buku tentang cinta yang membara, maka ini merupakan kebodohan tentang Al-Qur’an dan diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta hikmah Ilahi yang terkandung dalam kisah pernikahan beliau dengan Zainab, yang sebelumnya menjadi istri anak angkat beliau Zaid bin Haritsah. Memang tidk dipungkiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat mencintai para Istri beliau. Dan yang paling beliau cintai adalah Aisyah.

Cinta yang membara adalah gambaran dua perkataan : menganggap bagus orang yang dicintai dan keinganan berhubungan dan berinteraksi dengannya. Cinta itu sendiri bermacam-macam. Yang paling utama dan paling agung adalah cinta karena 4JJI dan bagi ALLAH. Cinta ini mengharuskan cinta terhadap apa yang dicintai 4JJI, mengharuskan cinta kepada ALLAH dan RasulNya.

Ada juga cinta karena kesamaan jalan, agama, madzhab, kerabat, keahlian, tujuan dan lain sebagainya. Ada pula cinta yang ingin mendapatkan keinginan tertentu dari orang dicintai, entah kedudukan, harta, tuntunan atau pengajaran. Yang demikian hanya cinta yang tampak dipermukaan yang terlalu cepat sirna karena sirnanya sebab.

Karena cinta yang membara adalah merupakan suatu penyakit hati, maka ia masih dapat disembuhkan, entah dengan cara apapun. Jika orang yang dilanda cinta yang membara mendapatkan jalan untuk berhubungan dengan orang yang dicintai menurut syariat dan ketetapan, maka itulah cara penyembuhannya.

Jika tidak mendapatkan jalan untuk berhubungan dengan orang yang dicintainya, maka ini merupakan penyakit yang berat. Cara penyembuhannya adalah dengan menimbulkan keputusasaan tentang apa yang hendak diinginkannya, sehingga dia benar-benar putus asa.”

Marilah menggapai cinta sejati kepada ALLAH! Mari lah kita gapai bidadari wahai saudaraku ! Marilah menjadi bidadari dunia wahai Saudariku ! Sesungguhnya cinta kepada ALLAH diatas segalanya. Allahu Ghoyatuna !


Bencana Berikutnya Gangguan Perasaan

Rasa sakit dan kehilangan adalah penghubung kita. Rasa sakit menghubungkan kita dengan sang pencipta. Sakit bisa mengingatkan akan kematian. Sedangkan rasa kehilangan menghubungkan sesama kita dalam keindahan nostalgia persaudaraan dalam perjuangan.

Teman… masa yang kita lalui penuh dengan gangguan perasaan. Masa itu kini merupakan suatu pemandangan yang tidak normal. Kalau kita melihat dalam konteks kekinian dan keyakinan yang kita perjuangkan. Sungguh sungai kehidupan ini terasa semakin keruh dan keruh. Bangsa-bangsa, sesama anak bangsa berselisih, saling memukul, cakar-mencakar dan injak-menginjak untuk menjaga kepentingan pribadi dan golongannya. Mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Kita ketahui secara seksama, khutbah-khutbah moral hanya ditujukan kepada oranglain, bukan untuk rakyat dan diri sendiri. Walau bagaimanapun kejahatan yang telah mereka lakukan. Sehingga benarlah yang sudah dinyatakan oleh Abul a’la Al-Maududi; kesadaran kemanusian sudah dibunuh.


Tugas Penjaga Dan Pemelihara Bangunan Perjuangan

Kini bangunan perjuangan ini memerlukan penjaga dan pemelihara. Penjaga yang akan menghadang gangguan dan ancaman dari luar. Pemelihara yang menjaga kemurnian visi perjuangannya. Sesungguhnya membangun itu sulit. Sehingga ada ungkapan apabila ada seribu pembangun dan ada satu yang menghancurkan, sudah cukup untuk menghancurkan bangunan tersebut. Apalagi perjuangan kita saat ini ada seorang pembangun diantara seribu penghancurnya. Hasilnya sudah bisa ditebak. Hancur dan luluhlantak!

Jadilah penjaga dan pemelihara wahai jiwa yang mengembara! Sesungguhnya kita mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri. Karena setiap zaman pasti ada tantangan yang khas dan ada tokoh yang unik untuk menghadapi tantangan tersebut.
Penjaga dan pemelihara dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman ini. Menjadi ruh perjuangan. Memerdekakan penderitaan ummat dari penghambaan pada manusia, kepada penghambaan kepada pencipta saja.

Memang rasa sakit dan kehilangan adalah penghubung kita. Kadangkala mimpi-mimpi besar kita juga mengharuskan kita mengambil jeda sejenak. Menarik nafas dengan tenang. Mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjuangan yang masih panjang. Karena kalau kita hanya memperturutkan kepedihan pribadi. Maka kita akan kehilangan akal sehat dan hati nurani. Karena perbedaan setiap kematian hanyalah ketakutan dan ketenangan saat menghadapinya.

Ini adalah perjalanan waktu. Perjalanan cahaya. Perjalanan kehidupan yang kelana kembara. Menggapai hakikat kehidupan yang penuh pengabdian. Pengabdian dalam tuntunan ilahi. Sampai kematian datang menjelang.

Telaga Kekuatan Itu

Kita adalah pemuda karena masih sangat muda. Menjadi pemimpin akan mmengakibatkan banyaknya kehilangan kearifan bagi pemuda. Kata Imam Syafi’I. perpindahan estafet kepemimpinan ke generasi yang lebih muda pasti ada sedikit gejolak. Karena orang muda selalu bergelora.

Ada ungkapan yang sangat indah dari asy-syahid Hasan al Banna mengenai hal ini ; “ada sebuah risalah masa lalu, penuh kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan, sebuah bekal yang hari ini menjadi tuntutan. Untuk masa depan yang penuh cahaya. Wahai para pemuda! Wahai yang punya cita-cita luhur ! wahai kalian yang rindu kemenangan ! wahai semua yang turun ke medan juang ! menyerahkan nyawa dihadapan Rabbnya. Di sinilah petunjuk itu, disinilah bimbingannya, di sinilah pengorbanannya, dan kenkmatan perjuangannya … “
Inti dari seruan ini adalah jadikanlah perjuangan ini menjadi madrasah kehidupan. Hiruplah air kekuatan itu dari berbagai telaga. Baik itu musuh sendiri. Karena musuh yang cerdas lebih berharga dari teman yang bodoh dan konyol. Karena kita akan lebih mengetahui kelemahan diri kita.

Hidup ini adalah pilihan dan setiap pilihan punya resiko. Takut resiko jangan hidup. Inilah telaga kekuatan tersebut. Karena orang yang sukses adalah orang yang bersabar melewati kesulitan demi kesulitan dengan hati lapang, ikhtiar dan doa. Karena bumi selalu berputar dan alam selalu berubah.


Standar Keberhasilan Kepemimpinan Seorang Pemimpin

Masa transisi memimpin adalah tikungan tajam. Karena kepemimpinan dan pemimpin tidaklah sesederhana sebuah parody orkestra dalam panggung kehidupan yang serba terbatas. Terbatas ruangannya. Terbatas waktu pertunjukannya. Terbatas personilnya. Terbatas kursi pengunjungnya. Terbatas juga perangkat alat musiknya. Lalu apakah tepukan tangan dari penonton itu tanda kesuksesan ?

Tepukan tangan bukan tanda harga mati sebuah kesuksesan. Karena Luqman al Hakim pernah membuktikannya. Dalam sebuah perjalanan luqman al Hakim mengajak salah seorang anaknya melakukan perjalanan. Membawa seekor keledai sebagai tunggangan.
Ketika memasuki sebuah perkampungan Luqman menaiki keledainya dan meminta anaknya yang masih kecil itu menuntunnya. Orang-orang kampung itu berkata;” sungguh ayah yang zhalim terhadap anaknya”.

Ketika memasuki perkampungan berikutnya Luqman meminta anaknya yang menunggangi keledai dan ia menuntunnya. Orang-orang kampung itu berseru;” Dasar anak tidak berbakti dan durhaka kepada orangtuanya.”

Perjalanan berlanjut memasuki perkampungan yang ketiga. Kali ini mereka menaiki keledai bersama-sama. Komentar pemduduk kampung adalah;” Ayah dan anak sama saja, masa keledai yang begitu kecil dan lemah itu dinaiki berdua.”

Sesampainya di kampong yang keempat. Luqman dan anaknya menuntun keledainya bersama-sama. Komentar penduduk kampung adalah;” Alangkah bodohnya ayah dan anak ini, punya kendaraan malah jalan kaki.”

Memang manusia hanya bisa dipuaskan kalau mulutnya disumbat dengan tanah. Mati sendiri atau kita bunuh. Namun pemimpin menghidupi rakyatnya tidak mungkin membunuh rakyatnya. Karena itu ia harus memegang ruh rakyatnya bukan ketakutan rakyatnya.

Rahasia Kesuksesan

Rahasia kesuksesan seorang pemimpin adalah seperti yang dinyatakan asy-syahid Hasan al Banna berikut ini. “ Dari seorang pemimpin pejuang, anda dapat membaca pada raut wajahnya dan kilauan matanya dan mendengar dari gerakan lidahnya, semua yang bergelora dalam hatinya, kesengsaraan dalam batinnya. Semua tujuannya benar dan sungguh-sungguh pelaksanaannya. Sasarannya tinggi dan sasarannya juga jauh memenuhi jiwanya.”

Maka kesadaran yang akan dapat kita ambil adalah pemimpin memang dilahirkan bukan untuk menuntut banyak, tapi dituntut banyak. Bukan meminta banyak tetapi memberi banyak. Keadaan ini mengharuskan kita untuk memahami banyak hal.
Memahami kekuatan adalah kesakitan itu sendiri. Motivasi adalah kepayahan yang kita dapatkan. Kesyukuran adalah wujud kesabaran yang panjang. Keteguhan adalah tempaan penderitaan. Kebijaksanaan adalah produk amarah yang tertahan. Lapang dada adalah rasa bosan dan jenuh yang senantiasa kita bendung.

Keberanian adalah ketakutan yang kita kendalikan. Keramaian hati adalah hasil renungan dalam kesendirian. Ketenangan adalah karena terbiasa kesepian. Kesepian adalah waktu mengharap pada pencipta kita. Karena wujud perjuangan ada dalam alunan sendu doa kita.

Maka marilah kita lalui perjalanan kehidupan yang menakjubkan. Membuka lebar-lebar mata dan pikiran. Tentang aroma rumput yang basah. Tentang belukar yang mengakar. Tentang pohon yang menjulang. Bahkan tentang sosok mungil pipit diantara batang padi. Dihembus angin pesisir yang semilir. Karena memimpin itu adalah seni. Dan seni itu indah…! Wallahu’alam