Jumat, Desember 14, 2007

HIKMAH

Perjalanan Kehidupan senantiasa dilalui dengan kebimbangan. Kebimbangan dalam mengambil dan memberikan segala sesuatu dari dan kepada orang lain. Sering kali kita dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat kita harus berpikiran jeli dan bijaksana. Sikap ini mengharuskan kita bisa memuaskan banyak orang terhadap apa yang mereka tanyakan. Sehingga tidak terjadi benturan dan salah persepsi orang tersebut terhadap apa yang telah kita sampaikan dan jelaskan.

Pernyataan diatas adalah salah satu dari sifat dakwah yaitu” Mauizho hasanah”yaitu tindakan dan perbuatan yang baik. Hal ini sangat besar relevansinya dengan hikmah. Hikmah ini sendiri mempunyai pengertian yang sangat banyak dari berbagai ulama. Namun intinya, semua sepakat dengan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya sehingga semua orang menyenanginya.

Ada sebuah kisah yang menarik dari dialog Dr. Hamka Rahimahullah. Beliau pernah kedatangan tamu. Tamu tersebut menceritakan bahwa ia mempunyai dua orang tetangga. (cari lagi bahasnnya pada dialog-rasulullah). Pertama, seorang kiai yang gampang marah dan keras kepala. Kedua, seorang dokter yang baik, suka menolong, sayang sesama tetapi jarang sholat. Intinya kedua orang itu muslim.

Sang tamu lalu bertanya, “ Manakah yang lebih baik diantara keduanya?” . Setelah merenung sejenak, Dr. Hamka tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan beliau balik bertanya,” Shalat itu baik atau jelek?”. Spontan tamunya menjawab,” baik!” . “Maka kiai itu akan lebih baik kalau ia baik hati, penyabar, penyayang dan suka menolong. Lalu dokter itu akan lebih baik apabila ia mau sholat.” Kata Beliau. Mendengar jawaban ini tamu tadi lalu pulang.

Acapkali kita sebagai seorang yang telah mengaku dan memproklamirkan diri sebagai anak shohwah dan afna’ Harokah mendapatkan pertanyaan yang kontroversi sebagai layaknya diatas. Pemikiran umat Islam sering terjebak pada tataran plus-minus, hitam –putih, halal-haram atau yang paling sadis surga-neraka. Maka diperlukan hikmah yang mendalam dari kita afna’ harokah ini menyikapi hal tersebut. Ingatlah kita seorang dai’ dan bukanlah seorang hakim.

Ada sebuah kisah lagi mengenai hikmah ini dalam memoar Hasan al-Banna. Suatu waktu Imam Hasan dihadapkan pada pertanyaan mengenai pendapat beliau mengenai tawassul. Beliau sangat paham bahwa pertanyaan ini adalah untuk menjebak beliau termasuk di kelompok manakah pada waktu itu. Beliau menyatakan bahwa, “ Saya hanyalah seorang guru biasa yang menyampaikan yang saya tahu.Namun, kalau ingin lebih jelas tanyalah pada orang yang lebih tahu dari saya.”

Beliau lalu memanggil dua orang yang berbeda mazhab. Mereka seorang dari mazhab Hanafi dan seorang lagi dalam mazhab Syafi’I. Beliau lalu menanyakan, apakah perbedaan mensyirkan dan menzaharkan basmalah akan membatalkan sholat? Semuanya menjawab dengan argumentasinya masing-masing. Lalu Imam Hasan menjelaskan kedua-duanya benar. Karena keduanya mempunyai dalil-dalil yang mendukung pendapatnya. Beliau akhirnya mengajak semua orang hanya kembali kepada Islam bukan golongan.

Sebagai afna’ harokah maka kewajiban kitalah untuk menyamakan persepsi dari ummat ini pada tujuan utama yaitu Allah. Dengan berteladan pada rasul yang mulia yang merupakan Al-Qur’an berjalan. Maka untuk mencapai tingkat bagaimana memberikan hikmah dengan penuh hikmah, diperlukan kembali meredefinisi kembali firman Allah mengenai iqra’. Ahmad Syafi’I Ma’arif menyatakan bahwa umat Islam jaya pada abad I-VI karena mengagungkan budaya Iqra’. Tetapi jauh tertinggal pada abad berikutnya, karena meninggalkan spirit Iqra’ . Nah bagaimana dengan kita sekarang ? Iqra’lah ya akhi! Iqra’lah Ya Ukhti! Sesungguhnya kejayaan Islam Insya Allah di tangan Kita! Allahu Akbar!!!! Wallahu’alam.

Tidak ada komentar: