Jumat, Mei 01, 2015

006 Getar-Getar Pesan Peradaban Azan



Panggilan Allah ini berkumandang dari masjid-masjid yang merupakan poros peradaban. Panggilan dari poros peradaban. Panggilan kasih dari sang kekasih. Panggilan instruksi dari sang pemimpin. Panggilan kehormatan pada seorang hamba yang hina dina. Panggilan kerinduan yang senantiasa dinantikan hamba yang sibuk dengan dirinya, melupakan Rabbnya. Panggilan pulang pada hati dan jiwa yang kelana kembara. Sahutilah pesannya dan jawablah keinginan jiwa yang selalu ingin mendekat Rabb-Nya.

Jumat, April 24, 2015

005 Kembalikan Mesjid Men’jadi Poros Peradaban



Seorang aktivis dakwah bertanya kepada Murabbinya,”Kapankah saatnya kita bisa mengalahkan dominasi tirani Yahudi atas dunia Islam ya Syeikh?” Syeikh itu menarik nafas dalam-dalam, lalu menegakkan kepalanya, memandang tajam kepada Mutarabbinya, lalu berkata tenang namun sangat tegas,” Ketika Jumlah Jamaah Shalat Jum’at sudah sama banyak dengan jama’ah shalat subuh!” kata-kata ini akhirnya juga menjadi ikrar para dedengkot Zionis Yahudi yang menyatakan,”Jangan biarkan mereka umat Islam mendekati Masjid, terutama saat shalat subuh dan shalat ashar. Karena di dalam shalat itu mereka mendapatkan kekuatan.”

Jumat, April 17, 2015

004 I’tikaf Cahaya Penerang Peradaban



Manusia peradaban disaring Allah melalui I’tikaf. Mereka Mendahulukan Allah dari segala sesuatu. Maka Allah akan mendahulukan mereka dari semua manusia. Doa mereka mustajab diijabah langsung oleh Allah dan diaminkan oleh para malaikat.

Mereka merubah dunia melalui mihrab. Mihrab mereka adalah masjid-masjid. Hati mereka thawaf bersama Allah. Indah… luarbiasa… dahsyat. Doa mereka tanpa hijab di hadapan Allah. Kerja dan amal mereka berkah dan membawa keberkahan. Cahaya yang bertingkap-tingkap. Tidak ada tempat yang tidak mendapatkan cahaya. Merata di segala tempat. Menyinari peradaban sepanjang zaman.

Jumat, April 10, 2015

003 Thawaf Semesta



Lelaki itu termangu memandang langit. Langit biru diatas kakbah . Burung-burung merpati itu beterbangan dan meluncur diatas langit Masjidil Haram. Namun, ketika mereka hampir melintasi Kakbah ia berputar mengikuti arah berputarnya manusia yang thawaf. Subhanallah, merpati-merpati itu ikut thawaf menghormati bangunan yang ditegakkan oleh manusia-manusia yang sudah di sucikan Allah.

Minggu, Mei 19, 2013

ICMI Riau Perkenalkan Konsep Pesantren Digital (IDBS)


Pekanbaru (18/05). Pada pelantikan dan Rapat Kerja Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sabtu (18/05) Periode 2012-2017 yang  dilangsungkan di Ballroom Hotel Arya Duta Pekanbaru, Ibu Marwah Daud Ibrahim Menekankan Peran penting Invovasi teknologi dalam pembelajaran. "Indonesia saat sekarang ini sedang di tunggu oleh seluruh dunia untuk kembali memimpin dunia Islam. Maka  dari itu sangat penting untuk untuk selalu berinovasi baik dalam penguasaan teknologi, terutama sekali teknologi pembelajaran." tegas marwah dengan sangat yakin. 



Jumat, Desember 28, 2012

002 Menata Dunia Melalui Mihrab


Tugas utama manusia diatas muka bumi adalah menjadi Hamba Allah dan kemudian menjadi Khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. Bumi ini hanya akan diwariskan kepada hamba yang benar-benar terpaut kepada majikannya. Menjadikan pegawai Allah. Menjadikan Allah sebagai Big Boss.

Yah, kalau kita ingin menata dunia tidak ada jalan lain selain berhubungan erat dengan Allah yang mempunyai dan menguasai dunia. Dimana tempatnya? Di mihrab-mihrab. Di mihrablah kejernihan itu dimulai. Disanalah awal bangkitnya mujahadah. Perpaduan azam dan mahabbah. Di sanalah tapak langkah pertama di mulai. Di mihrab.

Jumat, Februari 10, 2012

001 Tumbuh Laksana Benih



Membangun peradaban, persis laksana tumbuh berkembangnya sebuah benih tanaman menjadi tanaman yang akan berpohon kokoh, akar yang kuat menghunjam, cabangnya rindang dan berdaun lebat. Semua dimulai dari benih yang kecil. Benih adalah blue print kehidupan sebuah pohon itu sendiri. Semua informasi bentuk daun, lingkar pohon dan berapa besar serta tinggi pohon akan bisa tumbuh semuanya ada di dalam benih.

Selasa, Juli 05, 2011

Izinkan Aku bertutur II (01): Malam Mingguan di Gramedia



oleh Eddy Syahrizal pada 03 Juli 2011 jam 16:55
Sore menjelang Magrib (Sabtu 02/07/11) saya menyibukkan diri dengan laptop ini surfing dan searching bahan-bahan bacaan.Sebuah tepukan ringan tanpa saya sadari mendarat di pundak saya, "Wah, lagi asyik Bang Eddy." "Yah begitulah, cari kesibukan di sore ini," kata saya. Saya tidak menyadari kedatangannya. ini penyakit lama. kalau saya baca, saking seriusnya saya tidak akan sadar dengan kondisi sekelling. Saya jadi rindu Bunda. Biasanya Bunda akan mencubit kecil saya kalau sudah terlalu serius. sekedar lewat saja. Semoga beliau selalu sehat dengan kesibukannya.

"Kalau tidak ada agenda malam ini, saya ajak ke Gramedia, saya mau beli buku Ayah karya Tere Liye." katanya. "Tere Liye ya kata saya. saya juga punya koleksi beberapa Ebooknya. kalau tidak salah yang paling saya suka yang menceritakan soerang anak buta yang berjuang untuk memahami hidup dan lingkungannya, tapi kalau ke Gramedia tak beli buku rasanya tak enak saja, asal antum tahu dana beli bukuku sudah minus 47.800." kata saya panjang lebar.

Ia tersenyum, "Survey saja dulu, tapi pakai motor Abang ya," katanya." Sebaiknya berangkat Shalat ba'da Shalat Maghrib, kita shalat Isya dekat Masjid Ar-Rahman saja", jelasnya lagi. "Ok, antum tunggu saja di rumah", tutup saya.

Sosok itu adalah adalah Wamdi ketua FLP Riau.Teman diskusi yang enak. singkat cerita kami berangkat. wuih jalannya macet karena jl. Sudirman ada proyek jalan layang untuk PON. lama juga di sana sampai tutup lagi Gramedianya. Kami searching buku, saya selalu bawa buku catatan kecil untuk mencatat buku yang bagus. Sehingga kalau ada pitih nanti bisa langsung beli.

bukunya Ayah itu kami dapatkan dengan cepat sekali. Minta tolong sama Mas-Mas di sana. Kami lihat banyak buku baru lho. Hm... saya sengaja cuma bawa dana 50.000 biar tidak habis. Biasalah wiraswasta seperti kita ini pendapatannya tidak tetap. sekali dapat bisa untuk 5 bulan. setelah itu tak dapat apa-apa sampai berbulan-bulan. Maka segala pencatatan pengeluaran saya ketat sekali. Sifat ini warisan Bunda sebenarnya. Tahu tidak sodara-sodara saya lebih mudah minta duit sama Aba dari Bunda. Kalau Aba butuh berapa, langsung di kasih. Tapi sama Bunda. Untuk keperluan apa. penting nggak. hm... bisa lebih kecil tak.

akhirnya saya juga tidak tahan beli buku juga satu yang harganya 32.500. Setelah itu kami malah diskusi mengenai buku-buku itu di tengah ramainya pengunjung. Saling menilai dan merekomendasikan buku ini bagus. ini kekurangnnya ini dan itu. pokoknya kami setengah berdebat. pengunjung yang lain mungkin heran. memangnya sedang ada acara bedah buku.Kami tidak peduli. cuek.

Akhirnya kita diusir secara halus, oleh suara-mbak-mbak Gramedia, bahwa Gramedia segera tutup. Baru saya nyadar saya belum makan malam. Kami Pulang. Macet. Beli Bensin. Makan.Ke rumah Wamdi. (tepatnya rumah Bibinya). sudah jam 10.30 Malam. Tidak Ada orang di rumah. Kami diskusi lagi sampai jam 12 malam.

yang kami diskusikan Buku Totto-Chan. Gadis Cilik di Jendela. kisah Sekolah Tomoe Gosen yang sangat luar biasa. Saya janji nanti saya akan ceritakan. Saya membacanya seringkali berkaca-kaca. (lebih banyak berembunnya, lalu hujan deh) bukan menangis cuma mengeluarkan air mata. sangat Inspiratif, lucu dan polos. (Not Novel, but True Story).

Ok, Sohib sekalian setelah ini kemungkinan saya akan tuliskan Resensi Totto-Chan versi saya sendiri. doakan saya istiqomah menulis untuk saling berbagi. Wassalam

Selasa, Januari 12, 2010

ISU DA’WAH DAN REALITAS SOSIAL


Da’wah membawa manusia kepada kehidupan sebagai sebuah jaminan terhadap perlindungan fisik ataupun berlakunya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam masyarakat yang bersumber dari ajaran Islam. Jika da’wah ditinggalkan maka kehancuran akan menimpah manusia tanpa pandang bulu

Para pemuda aktivis lslam kadang kala limbung dalam menentukan arah perjuangan yang akan dikhidmatinya. Tarikan dari sana-sini muncul dan kesemuanya menjajnjikan sebuah sebuah langkah menuju pemecahan masalah umat. Bagaimanakah kita menimbang dan menentukan langkah yang tepat? Bagaimana kita memandang dan menempatkan masalah-masalah ummat itu secara syar’I dan manhaji? Waqfah? Waqfah menurunkan pembahasan ini dalam tiga tulisan berikut

Da’wah adalah sebuah upaya merubah sesuatu relitas social yang tidak sesuai dengan ajran Allah SWT (al waqi’ al ijti ma’iya al jahily) kepada realitas social yang islami (al waqi’ al ijtima’iy al islamy) dengan cara-cara yang telah di gariskan oleh Al-Qur’an dan sunnah (manhajy).

“serulah (manusia) kepada jalan tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (An Nahl ayat 125)

Dengan demikian da’wah memiliki arti sangat penting dalam kehidupan manusia. Macetnya roda da’wah berarti berhantinya control terhadap gerakan masyarakat kea rah kondisi yang lebih baik. Islam menekankan kepada setiap pengikutnya dalam aspek tanggung jawab da’wah(mas’uliyah da’wah) ini dengan suatu peringatan yang bersifat mendasar.

“hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kamu dan ketahuilah sesungguh nya Allah mendinding antara manusia da hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan dipelihara dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaa-Nya.” (al Anfal ayat 24-25)

Kehidupan dalamayat ini di artikan imam bukhary sebagai kemaslahatan. Mujahid mengartikan al haq. Qatadah memahaminya sebagai kehidupan dibawah bimbingan Al-Qur’an yang didalam nya mengandung kesuksesan, kekekalan dan kehidupan. As sudy mengartikan sebagai kehidupan di bawah naungan lslam sebaliknya kekufuran adalah sebuah kematian (Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir Muhammad Ali Ash Shobuny, Juz ll Halaman 95).

Da’wah membawa manusia kepada kehidupan sebagai sebuah jaminan terhadap kehidupan fisik ataupun berlakunya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam masyarakat yang bersumbar dari ajaran Islam. Jika da’wah ditinggalkan maka kehancuran akan menimpa manusia secara umum tsnps psndsng bulu.

Ibn Abbas RA berpendapat bahwa dengan ayat ini Allah memerintahkan kaum mukminin untuk tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah dan di sekeliling mereka. Jika ini terjadi maka Allah akan menimpakan azab yang bersifat umum. Mujahid juga berpendapat bahwa ayat ini bersifat umum menganai seganap kaum muslimin, tidak para sahabat Nabi SAW saja. Dalam kaitan ini terdapat sebuah hadits yang meriwayatkan imam Ahmad (dan menurut ibn katsir tidak dikeluarkan oleh kitab yang enam) yang menyitir perkataan Rasulullah SAW:

“sesungguhnya Allah SWT tidak mengazab secara umum dengan amal yang khususus sehingga mereka( kaum muslimin) melihat kemungkaran di antara mereka padahal mereka mampu untuk mencegahnya. Jika mereka berbuat demikian maka berlakulah azab Allah secara khusus dan umum.” (Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir, Muhammad Ali Ash Shobuny, Juz ll halaman 96).

Dimanakah batas-batas kemampuan umat islam sehingga mereka terkena kewajiban da’wah? Batas kemampuan itu terdapat pada seluruh rentang potensi dari kondisi yang paling lemah sampai dengan komdisi yang paling kuat.

“maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan berjihatlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihat yang besar.”

(Al Furqan ayat 95).

Ibnu Qayyum al jauziayah menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat makiah. Oleh karenanya kewajiban jihad terhadap orang kafir telah berlaku sejak saat itu. Dan ia memerinci bahwa yang dimaksud dengan jihad(yang merupakan bagian integral dari da’wah islam) pada masa ini adalah jihad dengan hujjah, bayan dan tablig Al-Qur’an (zaadul Maad, Ibnu al Jauziyah, Juz lll halaman 5).

Aspek terpenting dari da’wah adalah perubahan social (at tagyir al ijtima’iy) karena obyek da’wah adalah masyarakat manusia, bukan masyarakat lainnya. Ukuran-ukuran terdapatnya sebuah perubahan social tidak akan dapat ditemukan kecuali dengan mengetahui kondisi yang berlaku pada saat da’wah digulirkan maupun setelah berjalan pada rentang masa tertentu.

Perubahan social

Aspek terpenting dari da’wah adalah perubahan social (at tagyir al ijtima’iy) karena obyek da’wah adalah masyarakat manusia, bukan masyarakat makhluq lainya. Ukuran-ukuran terkadapnya sebuah perubahan social tidak akan dapat ditentukan kecuali dengan mengetahui kondisi realitas social yang berlaku pada saat da’wah digulirkan maupun setelah berjalan pada rentang masa tertentu. Metode perubahan social juga tidak akan dapat di tentukan dan di rancang tanpa adanya pengenalan terhadap karakteristik realitas social yang terjadi.

Perubahan social terjadi dari waktu ke waktu mengikuti arah kekuatan Islam telah merubah masyarakat jahili kepada masyarakat Islam. Sebaliknya , degradasi yang terjadi pada diri kaum muslimin serta berhasilnya syaitan meniupkan misi da’wahnya menyebabkan terjadinya kemunduran pada masyarakat muslim itub sendiri.

Hudzaifah bin yaman berkata: “ dan aku pernah berada dalam suatu masa, tidak usah memilih orang dalam jual beli. Jika pertepatan seorang muslim maka ia baik karena takut hokum agamanya. Jika ia seorang nasrani maka ia takut dari hukuman perintahnya. Adapun masa kini maka aku tidak dapat mempercayai kecuali satu atau dua orang yaitu fulan dan fulan.” (Bukhary dan Muslim, Al Lu’lu Wal Marjan,M. Fuad Abdul Baqi,hadis nomor 87)

Huzaifah sendiri hidup sampai dengan masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di madinah pada tahun 36 H. beliau adalah seorang ahlus sirri (pemegang rahasia) Nabi Muhammad SAW, daftar nama kaum munafiqin hanya di serahkan kepada beliau (Al Khulafaur Rasyiduun min Tarkhil Islamy, Adz Dzahaby, halaman 190). Dengan demikian hudzaifah sadar betul telah terjadi perubahan social pada masyarakat islam sekalipun. Ia yang pernah hidop bersama Rasul SAW sampai beliau wafat (tahun 12H) melihat perubahan terjadi secara perlahan-lahan dalam kurun wakt7u 24 tahun.

Arah perubahan social sangat bergantung pada kekuatan-kekuatan yang berlaku di dalam masyarakat dan sekaligus merupakan cerminan dari arah pertarungan kekuatan-kekuatan tersebut. Arah tersebut juga dapat berubah-ubah. Diantara para sahabat Nabi SAW Hudzaifahlah yang dikenal sangat perhatian terhadap masalah-masalah dinamika perubahan masyarakat baik yang menyangkut ruang maupun zaman. Ia berkomentar: “ kebanyakan manusia bertanya kepada Rasullullah SAW mengenai dimensi kebaikan semata. Tetapi aku bertanya tentang dimensi keburukan, karena aku khawatir akan menemui ( masyarakat dengan corak demikiandalam masa hidupku).”
dari pertanyaan hudzaifah inilah kemudian Rasulullah SAW menggambarkan pola-pola masyarakat masa depan yang sesungguhnya merupakan penggambaran terhadap perubahan-perubahan social yang akan terjadi. Ada tiga tipe masyarakat yang ditemukan Rasulullah SAW, yaitu masyarakat jahiliyah wa syarr (masyarakat bodoh dan buruk) masyarakat khoir (masyarakat yang baik) dan masyarakat khoir wa fiihi dakhon (masyarakat yang baik namun terpolusi oleh nilai-nilai kejahatan). Rasulullah SAW menggambarkan sifat-sifat masyarakat tersebut serta aikap-sikap yang perlu ditujukan kaum muslim dlam menaggapi keadaan tersebut (hadist tentang ini lihat shahih Muslim, kitabul Imarah, bab 13, hadist nomor 1847).

Pengenalan masyarakat kini menurut tipe-tipe tersebut tidaklah mudah. Pengkasifikasian yang hati-hati barangkali akan membawa pada kesimpulan bahwa masalah zaman ini berkisar diantara syaar dan khoir wa fiihi dkhon. Hal ini disebabklan beragamnya masyarakat islam di dunia ini dari satu tempat ketempat yang lainnya. Namun belum kembali kepada puncaknya yaknin kembali pada masyarakat khoir.

pengenalan terhadap realitas sosial yang berlaku merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan oleh para juru da’wah, karena merekalah yang akan menjadi unsure perubah dalam masyarakat. Buta terhadap realitas berarti buta terhadap jalan yang akan ditempuh dalam rangka memperbaiki keadaan yang

realitas sosial ummat

pengenalan terhadap realitas social yang berlaku merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan oleh para juru da’wah, karena merekalah yang akan menjadi unsure perubahan dalam masyarakat. Buta terhadap realitas berarti buta terhadap jalan yang akan ditempuh dalam rangka memperbaiki keadaan yang terjadi.

Beberapa Negara atau wilayah di bagian dunia ini pada saat ini memang tengah mengalami pergeseran menuju nilai-nilai Islam yang dicita-citakan. Namun hal itu tidak mudah karena membangun sistem islam di tengah-tengah sistem global sekularisme dan bagaikan mengayuh sampan melawan ombak-ombak besar di tengah lautan. Belum lagi luka-luka lama akibat penjajahan bangsa-bangsa Barat selama seabad sampai tiga abad belakangan ini masih belum sembuh benar.

Sebagai kaum besar dari kaum muslimin di dunia ini dapat kenyataanya masih berada dalam berbagai kemelut yang melingkupi aspek-aspek internal (masyakil dakhiliyah) dan eksternal (masyakil khorijiyah).

Kemelut internal terjadi dari pertama, kemelut yang bersifat pribadi(fardiy) ya itu rendahnya kesadaran akan identitas keperibadian sebagai seorang muslim yang ideal (syakhshiyah islamiyah). Penyebabanya ialah rendahnya kapasitas sumber daya manusia baik terkait dengan kapasitas spiritual (maqdirah imaniyah), kapasitas fisik (maqdirah badiniyah), kapasitas propesional(maqdirah mihniyah). Kedua, kemelit yang bersifat social (jama’iy) yang melingkupi kepemimpinan umat (qiyadiyah), perekonomian dan kemakmuran (iqtishadiyah), kesadaran politik (siyasiya), manajemen dan perencanaan perjuangan da’wah (idariyah wa takhthithiyah).

Kemelut eksternal pada hakekatnya adalah terdapatnya suatu konspirasi regional dan internasional dari kekuatan kaum munafiqin dan kafirin (mu’amarah kafirin wal munafiqin).

Beberapa keperihatinan

Sebagai pribadi, banyak diantara ummat Islam masa kini yang kehilangan jejak identitasnya sebagai muslim. Penjajahan peradaban yang panjang, pesatnya laju era informasi dan globalisasi serta maneuver-manuver penjajahan supra modern menyebabkan kaum muslimin te4rcabut dari akar ajarannya sendiri. Lembaga-lembaga pendidikan resmi kurang memperhatikan aspek ini, malahan banyak yang terpana pad aide sekularisasi sebagai langkah menujui kemajuan bangsa. Rasulullah SAW bersabda:

“Mulanya Islam itu asing, kelak akan kembali asing sebagai mana mulanya.maka banggalah dengan keterasingan itu.” (shahih muslim, kitab iamn hadits nomor 232)

Kamis, Juni 04, 2009

Apa beda antara Induksi dan Mesomeri ?




-->

Saya selalu menyukai professor yang satu ini ketika kuliah. Ada saja yang dapat di jadikan inspirasi dari pemaparan kuliahnya. Biasanya kita kuliah kalau tiga sks hanya dua pertiganya membahas materi kuliah. Sepertiganya lagi mengenai semangat motivasi. Waktu itu ada beberapa mahasiswa yang mengambil kuliah kimia organic II masih sering lupa membedakan mana yang induksi dan mana yan mesomeri dalam suatu senyawa organic. Beliau langsung menanyakan kami,” kalau anda terluka pasti seluruh bagian tubuh anda merasakan sakit bukan?” ya kata kami serempak. “Itulah mesomeri. Tapi jika ada teman anda yang ikut melihat peristiwa itu juga merasa ikut sakit dan prihatin itu namanya induksi”, sambungnya.